Razia imigrasi besar-besaran yang dilakukan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai mendapat perlawanan sengit di Los Angeles. Aksi aparat penegak hukum imigrasi dari Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang terkenal bengis, kini dilawan secara terbuka. Gerakan ini tak hanya meluas ke kota-kota lain, tapi juga bisa jadi momen penting yang menandai perlawanan serius dan aktif terhadap agenda sayap kanan Trump.
Per 9 Juni 2025, saat kota itu bersiap memasuki hari keempat, bentrokan antara warga dan agen imigrasi serta polisi yang melindungi mereka, masih diwarnai razia yang masih terus berlangsung. Trump telah mengerahkan 2.000 personel Garda Nasional untuk menekan perlawanan masyarakat. Ini adalah pertama kalinya kekuasaan presiden digunakan untuk mengambil alih kendali Garda Nasional sejak 1992, dan pertama kalinya dilakukan tanpa permintaan dari gubernur negara bagian sejak 1965.
Yang lebih mengejutkan lagi, dilaporkan sekitar 700 Marinir telah dimobilisasi ke Los Angeles. Kini mereka dalam posisi siaga—sebuah langkah yang oleh banyak pihak disebut sebagai “eskalasi otoriter yang ilegal.”
Sebuah laporan dari Economic Times menggambarkan betapa kuat dan gigihnya respons masyarakat terhadap razia imigrasi mendadak di seluruh Los Angeles. Ketika orang-orang turun ke jalan, udara di sekitar Home Depot di Paramount, tempat unjuk rasa pertama kali meletus, penuh dengan gas air mata dan asap. Ledakan flashbang terdengar di seluruh jalanan ketika polisi LA County menembakkan peluru demi peluru untuk membubarkan para demonstran yang menolak pergi. Para pengunjuk rasa sempat tercerai-berai, lalu berkumpul lagi. Banyak dari mereka menutup wajahnya dari udara yang panas menyengat.
The Guardian juga melaporkan bahwa polisi menggunakan gas air mata dan senjata lainnya untuk membubarkan massa. Dalam gelombang penangkapan yang terjadi, polisi bahkan menangkap David Huerta, Presiden Serikat Pekerja Service Employees International Union (SEIU) di California. Ia terluka saat ditangkap dan harus dirawat di rumah sakit.
Bentrok di banyak titik
American Civil Liberties Union (ACLU) juga menggelar unjuk rasa lagi di pusat kota pada Senin. Mereka menuntut perlakuan manusiawi dan akses terhadap pengacara bagi seluruh tahanan, serta menyerukan penghentian razia ICE yang menghancurkan keluarga dan komunitas imigran.
Bentrok terus terjadi di banyak titik kota, seiring warga berupaya menghentikan kerusakan yang ditimbulkan razia ini di komunitas mereka. Pada hari Minggu, ribuan warga Los Angeles membanjiri jalanan di sekitar balai kota, pengadilan federal, dan pusat penahanan tempat para pengunjuk rasa sebelumnya ditahan. Mereka bahkan sempat memblokir jalan tol.
Warga di wilayah ini sangat marah atas masuknya aparat Trump dan kebijakan imigrasi rasis yang mereka bawa. County Los Angeles adalah rumah bagi 3,5 juta imigran—sepertiga dari total penduduk. Maka tak heran jika California bagian selatan menjadi pusat perlawanan terhadap razia-razia ini.
Tidak bisa dibantah bahwa kebijakan Trump yang memperluas penegakan hukum imigrasi lewat penahanan massal di fasilitas penuh sesak, larangan perjalanan baru, pengetatan terhadap pelajar internasional, dan deportasi kilat tanpa proses hukum telah memunculkan ketakutan dan kemarahan besar. Ledakan sosial di Los Angeles adalah respons yang sah dan wajar dilakukan. Eskalasi ini mencerminkan upaya serius dari pemerintahan Trump untuk memperkuat serangan terhadap para imigran. Pada 29 Mei, The Guardian melaporkan bahwa pemerintahan Trump menetapkan target baru dalam agenda anti-imigran mereka, menuntut agar agen federal menangkap 3.000 orang per hari—atau lebih dari satu juta dalam setahun.
Frustrasi karena kesulitan mempercepat proses penangkapan dan deportasi, pemerintah mulai mencari cara-cara yang lebih agresif, seperti memerintahkan agen penegak hukum federal di luar ICE untuk membantu dalam penangkapan dan transportasi, memperbanyak pelibatan polisi negara bagian dan lokal yang patuh, serta melakukan penangkapan di lokasi-lokasi yang sebelumnya dianggap zona aman, seperti pengadilan.
Namun, seiring meningkatnya represi, dukungan publik terhadap agenda imigrasi Trump justru menurun. Survei menunjukkan dukungan terhadap kebijakan imigrasi Trump terus menurun, karena warga mulai sadar bahwa deportasi massal berarti penangkapan terhadap tetangga dan teman sendiri, kehadiran agen bertopeng di tengah komunitas, dan ketakutan orang-orang untuk pergi kerja atau sekolah—semuanya ini justru melemahkan ekonomi lokal. Kenyataan ini kini terbukti jelas di jalan-jalan Los Angeles.
Meski ketegangan sangat tinggi di California selatan, tak diragukan lagi potensi perlawanan terhadap razia ini menyebar ke seluruh AS sangat besar. Newsweek melaporkan bahwa unjuk rasa anti-ICE mulai bermunculan di berbagai kota [dan] serikat SEIU menyatakan anggotanya akan menggelar aksi di lebih dari selusin kota setelah penangkapan salah satu anggotanya, David Huerta, dalam kerusuhan di LA … Lebih dari selusin kota, termasuk New York City, Philadelphia, Seattle, dan Atlanta, akan menggelar aksi dalam beberapa hari ke depan.

Kebijakan Trump yang ugal-ugalan
Ketika kelas pekerja turun ke jalan menentang razia rasis ini, jelas bahwa di kalangan elite penguasa AS sendiri juga muncul keraguan dan perpecahan terkait kebijakan Trump yang sembrono. Pew Research Center mencatat bahwa populasi imigran tidak berdokumen di AS pada 2022 diperkirakan sekitar 11 juta orang, dengan sekitar 8,3 juta dari mereka bekerja. Deportasi satu juta orang per tahun jelas menimbulkan kekhawatiran besar bagi banyak kapitalis AS.
Dalam artikel Newsweek bulan lalu, sebuah survei yang dilakukan firma hukum ketenagakerjaan Littler menemukan bahwa mayoritas eksekutif bisnis di AS memandang kebijakan imigrasi sebagai masalah utama. “Sebanyak 75 persen responden menyebut kebijakan imigrasi pemerintahan saat ini sebagai salah satu kekhawatiran utama mereka…”
Para pengusaha khawatir bahwa pengusiran ribuan pekerja tak berdokumen akan mengacaukan rantai pasok, memperparah kekurangan tenaga kerja, dan menaikkan harga bagi konsumen. Bahkan, menurut Koalisi Bisnis Imigrasi Amerika (ABIC), sektor pertanian bisa kehilangan produksi sebesar USD 30 miliar hingga USD 60 miliar jika kebijakan deportasi Trump diterapkan.
Tentu saja, para pengusaha AS juga mengambil untung dari posisi rentan para pekerja tak berdokumen—ancaman deportasi membuat mereka patuh dan bisa dieksploitasi. Tapi rasisme mentah dan fanatisme berlebihan yang dipertontonkan Trump justru bisa merugikan kepentingan sebagian kapitalis, dan seperti kebijakan perangnya terhadap perdagangan, ini menimbulkan ketegangan yang besar.
Serangan Trump ke Los Angeles juga memicu konflik dengan lawan-lawan politiknya dari Partai Demokrat. CNBC melaporkan bahwa Gubernur California dari Partai Demokrat, Gavin Newsom, dan Jaksa Agung Negara Bagian, Rob Bonta menyatakan, mereka akan menggugat Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth atas pengerahan Garda Nasional. Sementara itu, Trump menyatakan bahwa ia mendukung penangkapan Newsom karena dianggap menghalangi operasi penegakan hukum imigrasi federal di Los Angeles.
Meskipun bertentangan dengan Trump dalam soal razia imigrasi dan penindasan terhadap perlawanan rakyat, Partai Demokrat tetap menjadi hambatan utama untuk membangun gerakan perlawanan yang tahan lama terhadap agenda sayap kanan Trump.
Demokrat akan dengan senang hati mengutuk razia Trump dan berpura-pura membela komunitas yang terdampak, tapi mereka juga akan menjaga jarak dari bentuk perlawanan yang militan. Mereka akan mencoba mengarahkan gerakan ini agar tunduk pada agenda elektoralnya. Ini sudah menjadi pola lama mereka, dan kita bisa menduga hal yang sama akan terjadi sekarang.
Selama masa jabatan Trump sebelumnya, pembunuhan George Floyd oleh polisi telah memicu mobilisasi besar-besaran Black Lives Matter. Seperti ditunjukkan David McNally dan Charles Post, Partai Demokrat—dengan Barack Obama sebagai tokoh sentralnya—berhasil meredam gerakan itu demi memenangkan pemilu untuk Joe Biden. Peristiwa ini patut dijadikan pelajaran saat ini.
Sudah banyak terjadi aksi besar-besaran menentang Trump di seluruh AS. Pada Hari Buruh (May Day), National Public Radio melaporkan bahwa para pengunjuk rasa turun ke jalan di seluruh negeri untuk menentang pemerintahan Trump … mengecam apa yang mereka anggap sebagai serangan terhadap kelas pekerja dan imigran.
Kini, di Los Angeles, salah satu bagian paling brutal dari agenda Trump—razia imigrasi rasis—sedang dilawan langsung oleh komunitas yang menjadi targetnya. Ini adalah perjuangan yang menggugah dan kuat, yang berpotensi menyebar ke seluruh AS, mendapatkan dukungan luas, dan menyulitkan kerja para algojo imigrasi yang dibenci itu.
Lebih jauh lagi, perlawanan terhadap razia ini bisa memainkan peran penting dalam membangun gerakan terpadu antara pekerja dan komunitas. Di jalan-jalan dan garis-garis piket, gerakan ini bisa mengganggu pelaksanaan agenda Trump dan menciptakan krisis politik bagi pemerintahannya. Dan perlawanan di Los Angeles telah menunjukkan arah ke depan.
John Clarke, organisator di Ontario Coalition Against Poverty (Koalisi Ontario Melawan Kemiskinan) sejak kelompok ini dibentuk pada tahun 1990, dan sejak saat itu ia terus terlibat dalam upaya mengorganisir komunitas miskin yang berada di bawah tekanan dan serangan.
Diterjemahkan dari sumber aslinya di Counterfire.org.










