Aktivisme dan Gaya Hidup: Belajar dari Sukarno dan Hatta

Memilih jalan sebagai aktivis pergerakan berarti memilih jalan hidup penuh onak. Tak hanya terancam represi politik, tiap hari juga diteror represi ekonomi.

Aktivis pegerakan adalah manusia biasa. Tentu saja, mereka butuh makan-minum, tempat tinggal, dan pakaian. Berhak untuk ngopi dan nongkrong, juga berhak untuk menikmati hiburan maupun liburan.

Di sisi lain, karena hidupnya ditumpahkan di gelanggang pergerakan, entah sebagai aktivis full-timer atau part-timer, mereka berjibaku dengan persoalan biaya hidup.

Saya tak perlu mengumbar jerit-pedih kehidupan aktivis, terutama yang memilih berjuang di jalur persimpangan kiri jalan. Nanti artikel ini malah menjadi mimbar curhat, hehehe…

Singkat cerita, menjadi aktivis memang tidak enak. Bermimpi ideal memperbaiki kehidupan rakyat banyak, tetapi nasib sendiri terkatung-katung di dalam lembah penderitan. Kadang berpuasa, meski belum memasuki puasa bulan Ramadhan.

Tidak mengherankan, banyak yang menjadi aktivis di kala masih kuliah, ketika biaya hidup masih ditanggung oleh orangtua di kampung halaman. Banyak yang berteriak revolusi ketika urusan dapur dan susu anak belum memanggil.

Lantas, bagaimana aktivis seharusnya menghidupi dirinya?

Ini sebetulnya cerita lama. Dahulu kala, ketika Sukarno dan Hatta beserta kawan-kawan tengah berjuang, persoalan begini sudah muncul ke permukaan. Bahkan berkali-kali tersuarakan lewat artikel di koran.

“Di zaman PNI ini, orang telah mengangkatku sebagai pemimpin, akan tetapi keadaanku masih tetap melarat,” kata Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adams.

Sukarno, Hatta, dan Sjahrir di Pegangsaan Timur 56, 1945. Fotografer: John “Johnny” Florea (koleksi majalah Life)

Tahun 1933, Bung Hatta menulis artikel berjudul Pemimpin dan Penghidupannya di koran Daulat Rakyat. Melalui artikel pendek itu, Hatta menjawab polemik soal bertahan hidup tanpa harus bertukar haluan perjuangan.

Dia berpendapat, soal kehidupan aktivis, terutama pemimpin pergerakan, adalah soal prinsipil. Tidak bisa dianggap enteng. Tidak bisa dijawab dengan sekadar bilang, “diurus masing-masing aja.” Sebab, daya tahan seseorang dalam perjuangan kadang ditentukan oleh daya dukung ekonomi.

Menurut Hatta, syarat utama seorang aktivis adalah punya ketetapan hati dan keteguhan iman. Ia menyebutnya conditio sine qua non; keharusan mutlak. Dengan begitu, si aktivis akan tahan sakit dan cobaan. Hanya dengan begitu, seorang aktivis bisa tetap teguh-kukuh berlapis baja, tidak gampang menukar perjuangannya dengan uang.

Namun, sekeras dan seteguh apa pun semangat juang seseorang, jika di hadapkan dengan kesulitan hidup terus-menerus, pelan-pelan tentu bisa terkikis. Karena itu, bukanlah hal yang haram bagi aktivis untuk mencari penghidupan.

Hanya saja, Hatta mengingatkan lewat pepatah Jerman: Sikap (perangai) manusia sepadan dengan caranya mendapat makan. Artinya, mereka yang mencari makan dengan cara yang baik, tidak menipu atau mengorbankan pihak lain, tentu juga punya perangai yang baik. Sebaliknya, mereka yang cari makannya jorok, tentu perilakunya juga jorok.

Nah, bagaimana dengan aktivis?

Di masa lalu, sebagian besar aktivis pergerakan, terutama jajaran pengurusnya, hidup dari iuran organisasi. Ini berlaku pada Sarekat Islam (SI), Partai Komunis Indonesia (PKI), hingga Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

Namun, sebagai organisasi pergerakan, apalagi yang memiliki keberpihakan pada rakyat jelata, tentu sulit berharap banyak pada iuran. Jangankan bayar iuran, membiayai hidup keluarganya saja susah.

Bung Hatta punya solusi. Menurutnya, tidak semua anggota organisasi terlibat penuh sebagai aktivis harian organisasi. Ada yang sifatnya pasif, hanya terlibat saat ada kegiatan penting organisasi.

Tiga Serangkai (Hatta, Sukarno, dan Sjahrir) di Yogyakarta, Desember 1946. Kredit: Kompas.id

Terhadap anggota organisasi semacam ini, Hatta mengusulkan agar mereka bekerja atau membuat usaha. Nantinya, kelebihan gaji atau hasil usaha mereka bisa disumbangkan ke partai. Jika memang mereka mencintai organisasinya, mendukung perjuangan organisasinya, harusnya dia menyumbang.

“Kalau tidak, kecintaannya itu tidak lebih Platonik, percintaan yang tidak sampai ke dasar,” tulis Hatta.

Ia juga menegaskan, kalau sebuah organisasi mau punya semangat yang kuat dan murni, yang teguh-kukuh berlapis baja, maka harus ada pengorbanan dari seluruh anggotanya.

“Di bagian sini berkorban tenaga dan otak untuk mengatur organisasi, di bagian lain korban yang tidak sedikit, supaya pekerjaan berjalan baik,” kata Hatta.

Tetapi, terkadang iuran organisasi tidak cukup untuk membiayai kehidupan pengurus. Alhasil, pengurus organisasi harus mencari sumber penghidupan yang lain.

Nah, di masa lalu, salah satu jurusnya adalah menulis di koran komersial. Dengan menulis di koran, tentu si penulis akan mendapat honor. Dahulu kala, generasi Sukarno dan Hatta mendapat tambahan uang dari cara ini.

Tetapi ini pun masih jadi perdebatan. Misalnya, ada yang mempersoalkan, bisakah seorang aktivis menulis di koran yang berbeda haluan atau pandangan politik dengan organisasinya?

Hatta menjawab: boleh. Justru itu positif bagi pergerakan. Sebab, menulis di media komersial, yang jangkauan pembacanya lebih luas, justru akan membuat gagasan si penulis bisa ikut meluas ke khalayak umum. Ibarat pepatah: sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Sekali menulis, propogandanya dapat, honornya juga dapat.

Sukarno kerap melakukan itu. Bahkan, kalau keadaan ekonominya sangat terjepit, dia rela menulis dengan bayaran yang sangat murah. Asalkan bisa mentraktir istrinya atau kawan seperjuangannya dengan kopi dan peuyeum.

Darimana lagi para aktivis zaman dulu kala itu membiayai hidupnya?

Satu lagi: dari donasi. Dalam perjuangan, selalu ada orang-orang berkecukupan, bahkan pengusaha yang bersimpati pada perjuangan.

Dalam perjuangan Hatta, ada sosok donatur bernama Ayub Rais. Dalam memoirnya, Hatta kerap memanggilnya “Mak Etek”. Ia pengusaha hasil hutan.

Deliar Noer, dalam bukunya Mohammad Hatta, Hati Nurani Bangsa, 1902–1980, menyebut Ayub Rais inilah yang menyokong sebagian besar pendidikan Hatta di Hindia maupun di Belanda. Tak hanya itu, ia juga memberi Hatta uang saku 75 gulden per bulan.

Sementara dalam perjuangan Sukarno, ada sosok Agoes Moesin Dasaad, seorang pengusaha besar di zamannya. Dasaad merupakan donatur perjuangan Sukarno.

Dalam bukunya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno menceritakan ketika dirinya baru keluar dari penjara. Pada 31 Desember 1931, Dasaad menjemputnya dan memberinya segepok uang.

“Di pagi hari aku keluar dari penjara sebagai seorang bebas, seorang laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya, menggenggamkan kepadaku dengan begitu saja uang empat-ratus rupiah, lain tidak karena aku tidak mempunyai uang,” kenang Sukarno.

Sejak itu, kalau Sukarno terjepit, Dasaad kerap membantu. Tak hanya Sukarno, Dasaad juga kerap memberi donasi ke pejuang-pejuang lain.

Begitulah, kisah para aktivis di masa lalu, yang notabene para pendiri bangsa, menjalani dan merasakan kecut-manis hidupnya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Protes Jalanan Melawan Otoritarianisme Trump

Protes Jalanan Melawan Otoritarianisme Trump

Per 9 Juni 2025, saat kota itu bersiap memasuki hari keempat, bentrokan antara

Next
Refleksi Kekalahan Indonesia dari Jepang

Refleksi Kekalahan Indonesia dari Jepang

Nike, salah satu raksasa produsen sepatu abad ke-20, dulunya cuma distributor

You May Also Like
Total
0
Share