Menjelang 20 tahun keluarga Glazer menjadi pemilik Manchester United (MU), sulit rasanya membayangkan perjalanan mereka bisa lebih kacau dari ini.
Utang klub berjuluk Setan Merah itu sudah tembus lebih dari £1 miliar, ruang ganti penuh drama, demo fans nyaris tiap minggu, dan sekarang ada pemilik baru sebagian saham—Jim Ratcliffe—yang kebijakan ngiritnya bisa bikin George Osborne malu. Musim ini bahkan diprediksi jadi musim terburuk MU di liga sejak terakhir kali mereka degradasi tahun 1974. Klub yang dulu jadi ikon sepak bola dunia itu, kini lebih mirip sirkus yang kehilangan arah.
Semua makin parah setelah pengumuman stadion baru yang bentuknya… yah, lebih mirip patung tenda sirkus bikinan Homer Simpson–episode The Simpsons berjudul “Homie the Clown” –daripada visi masa depan yang elegan. Desain atapnya, yang disebut “trident umbrella”, katanya bisa menangkap air hujan dan menyedot energi matahari. Niatnya mulia, tapi kesannya malah kayak gimmick ramah lingkungan yang biasa dipakai perusahaan besar biar kelihatan peduli.
Tapi tunggu dulu, masih ada lagi. Mereka juga mau bikin “plaza publik” yang kabarnya dua kali ukuran Trafalgar Square. Idealnya sih ini diisi toko-toko kecil lokal, bukan restoran franchise dan korporasi besar yang makin hari makin menyesaki Manchester (dan mal-mal baru yang ikut mendorong gentrifikasi kota selama puluhan tahun terakhir). Tapi ini Manchester, tempat di mana semua hal cenderung dilakukan dengan cara lama—asal jadi.

Rencana merobohkan Old Trafford—stadion paling legendaris dalam sejarah sepak bola Inggris—sebetulnya cocok banget dengan tren Manchester sekarang: mengorbankan sejarah demi bangunan-bangunan baru yang kinclong. Padahal meski stadion ini jauh dari kata sempurna (terutama karena diabaikan Glazers selama bertahun-tahun), buat banyak fans United, Old Trafford adalah rumah kenangan paling indah. Abu para suporter yang setia berdiri (dan duduk) di Stretford End, menyaksikan kehebatan Best, Law, dan Charlton, magisnya Cantona, sampai liarnya Rooney, tersebar di tanah yang sebentar lagi akan dihancurkan.
Tapi mungkin bagian paling ngawur dari rencana ini adalah bagaimana caranya MU yang masih megap-megap karena utang bisa ngebangun proyek senilai £2 miliar dalam lima tahun ke depan? Klub tandingan milik fans, FC United of Manchester, belum lama ini bilang kalau sejak 2005, MUFC sudah kehilangan £1,1 miliar cuma buat bayar bunga, dividen, dan fee. Dan, sekarang, klub malah memecat ratusan staf bergaji kecil, sementara pemain dengan gaji paling tinggi tetap aman.
Kita bisa tebak ke mana arah semua ini. Duet maut miliarder Amerika tanpa empati dan juragan petrokimia lokal, Jim Ratcliffe, sepertinya akan melempar tagihan ke pundak para fans yang masih setia datang tiap matchday. Ratcliffe juga sudah menaikkan semua harga tiket jadi £66, tak peduli umur atau kategori penonton. Bayangin deh harga tiketnya kalau permainan MU nanti benar-benar membaik.

Bagi fans MU yang masih punya nurani dan kesadaran kelas, mencintai klub ini sekarang rasanya seperti mencintai sesuatu yang sudah sepenuhnya berubah jadi kebalikannya. Tapi apa daya, kita enggak milih klub sepak bola. Entah karena alasan apa dulu jatuh cinta, tapi hubungan itu sudah keburu mengakar sejak kecil—dan susah banget buat lepas.
Masalah ini juga enggak punya solusi gampang. Manchester United, seperti banyak klub Liga Inggris lain, tampaknya akan terus jadi mainan para oligarki, perusahaan teknologi, atau negara-negara kaya. Memang, makin banyak klub kecil yang sekarang dimiliki dan dikelola oleh suporternya sendiri, tapi buat klub sebesar United, mimpi itu rasanya masih jauh banget.
Untungnya, masih ada secercah harapan. FC United of Manchester—klub alternatif bentukan fans yang muak dengan Glazers—adalah contoh bagus dari semangat warga Manchester yang berani melawan eksploitasi dan memilih jalan sendiri. Mereka berhasil membangun stadion sendiri di Moston, timur laut Kota Manchester.
Bayangin, cuma butuh sekitar 1/2000 dari biaya stadion baru MU buat melunasi utang kecil stadion Broadhurst Park milik FC United. Kalau itu bisa terjadi, FC United bisa terus jadi pusat komunitas yang luar biasa di salah satu area termiskin Manchester. Mungkin itu tempat yang lebih layak buat para “Red” yang kecewa dan bingung harus ke mana menaruh £66 mereka tiap Sabtu sore.
George Baker, salah satu pendiri FC United of Manchester
Diterjemahkan dengan bantuan AI dari Tribune, majalah sosialis di Inggris yang berdiri sejak 1937










