“Sepak bola dan politik jangan dicampur aduk,” kata salah satu legenda sepak bola Belanda, Ruud Gullit. Namun, kata-kata Ruud Gullit itu tak relevan bagi legenda Brasil era 1980-an, Socrates.
Sepanjang karier profesionalnya yang merentang dari 1974 hingga 1989, Socrates tak hanya menjadikan sepak bola sebagai permainan yang indah dan ajang perebutan gelar, tetapi juga menjadi senjata melawan tirani.
Jalan hidup pemilik nama Sócrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira ini memang penuh warna. Ia tak hanya dikenal sebagai bintang sepak bola, namun juga seorang dokter, aktivis politik, penulis kolom-kolom politik, dan pundit.
Lahir dari keluarga pemikir
Socrates lahir pada 19 Februari 1954 di Belém of Pará, negara bagian Pará, Brasil. Ia dan keluarganya pindah ke Ribeirão Preto, São Paulo, saat berusia 5 tahun.
Di kota itu, ayahnya mendapat pekerjaan lumayan, sehingga bisa menyekolahkannya di sekolah terbaik. Namun, di kota terbesar di Brasil itu, Socrates juga bertemu sepak bola.
Meski dari keluarga sederhana, ayah Socrates, Raimundo Vieira, sangat mencintai ilmu pengetahuan, terutama filsafat. Nama Socrates muncul karena terinspirasi oleh filsuf Yunani kuno: Socrates.
Di rumah kecilnya, Raimundo membangun perpustakaan kecil berisikan buku-buku filsafat, politik, dan ekonomi. Socrates tumbuh sebagai anak kutu buku.
Berbeda dengan anak-anak Brasil pada umumnya, yang menekuni sepak bola sejak kanak-kanak, Socrates baru menekuni sepak bola di usia remaja.

Dia memulai karier profesionalnya di klub kecil di kota kelahirannya, Botafogo SP. Namun dengan gaya bermainnya yang khas—passing cerdas, kontrol bola elegan, dan backheel passes yang ikonik, dipadukan dengan visi bermain yang cerdas, membuat karier Socrates cepat melejit.
Kudeta militer
Pada 1964, Brasil diguncang kudeta militer. João Goulart, Presiden Brasil dari Partai Buruh (PTB) yang berhaluan kiri, digulingkan oleh segerombolan militer yang didukung oleh AS.
Saat itu, usia Socrates baru 10 tahun. Namun, ia menyaksikan langsung dari dampak kudeta militer. Saat itu, khawatir dengan pemberangusan bacaan-bacaan kiri, ayahnya terpaksa membakar buku-buku dan menutup perpustakaan.
“Pada 1964, saya melihat ayah saya merobek banyak buku karena kudeta. Saya pikir itu sangat absurd, karena perpustakaan adalah hal yang paling disukainya. Saat itulah saya merasa ada yang tidak beres. Tapi saya baru mengerti sepenuhnya, saat di kuliah,” kenang Socrates.
Socrates tumbuh dalam gelap-gulita Brasil di bawah rezim militer. Kemerdekaan berekspresi diberangus, pers dibredel, tayangan berita hanya satu sumber: penguasa militer. Pendidikan juga dikontrol ketat ala militer, sementara kemiskinan dan upah murah ditutup rapat agar tak terpotret media dan publik.
Situasi itulah yang membentuk sikap politik Socrates yang anti-militer. Beranjak remaja, selain berkarier sebagai pemain sepak bola, ia menjelma sebagai aktivis anti-rezim militer.
Gerakan “Democracia Corinthiana“
Pada 1978, karena karier cemerlangnya di lapangan hijau, Socrates ditarik oleh klub besar di Kota Sao Paulo, Corinthians.
Klub ini punya sejarah menarik. Didirikan pada 1910 oleh para pekerja kereta api dan imigran, cita-cita mereka sangat sederhana: menjadi klub sepak bola yang mewakili kelas pekerja dan kaum marginal. Tak heran, klub ini mendapat julukan “Time do Povo” atau “Klub Rakyat”.
Begitu Socrates bergabung dengan Corinthians, atmosfer politik di dalam klub semakin menguat. Bersama bek kiri, Wladimir, dengan persetujuan Presiden Klub, Waldemar Pires, Socrates memulai sebuah gerakan politik dalam sepak bola: Democracia Corinthiana.

Ini adalah gerakan demokratisasi lewat sepak bola. Dimulai dengan mendemokratiskan klub: semua orang, dari pemain hingga suporter, punya suara untuk menentukan nasib klub. Manajemen klub sepenuhnya di bawah kendali pemain. Sebelum pertandingan, pemain berdiskusi. Semua keputusan diambil lewat diskusi dan diputuskan secara adil.
Gerakan ini menentang model pengelolaan klub yang hirarkis, otoriter, dan militeristik. Di bawah Socrates dengan Democracia Corinthiana-nya, Corinthians menjadi klub pertama di Brasil yang menentang praktik concentração (pemain dikurung di sebuah hotel selama 1-2 hari jelang pertandingan).
“Klub-klub ingin memiliki kontrol penuh, sementara kami merasa pemain harus dilibatkan dan tidak diperlakukan seperti anak-anak. Kami tidak hanya menentang masalah sederhana, tetapi juga gambaran politik yang lebih besar,” ujarnya.
Gerakan anti-kediktatoran
Gerakan demokratisasi ala Socrates tak berhenti di dalam klub. Ia mengekspresikan sikap politiknya di lapangan hijau. Dalam banyak laga bersama Corinthians, ia kerap mengenakan jersey yang dibubuhi tulisan Democracia.
Socrates sadar, sebagai seorang pemain bola, ia menjadi pusat perhatian banyak orang. Dengan pesan politik yang ia tampilkan di jersey, semakin banyak orang Brasil yang berani bersuara untuk demokrasi dan kebebasan.
Tahun 1982, saat rezim militer ditekan untuk menggelar pemilu secara bebas, Socrates aktif bergerak. Di lapangan, ia memakai jersey bertuliskan “Dia 15 Vote”, sebuah ajakan kepada rakyat Brasil untuk memilih pada pemilu 15 November 1982. Pemilu ini merupakan pemilu bebas pertama untuk proses transisi yang disebut “abertura” (keterbukaaan politik).
Tahun 1983, saat Corinthians akan bertanding di laga puncak Campeonato Paulista, Sócrates dan para pemain Corinthians membentang spanduk besar bertuliskan: “Ganhar ou perder, mas sempre com democracia” (Menang atau kalah, tapi selalu bersama demokrasi).

Namun, protes tak hanya di lapangan hijau. Pada 1984, ia menjadi bagian dari gerakan pro-demokrasi, Diretas Já, yang menuntut pemilihan bebas dan langsung. Dalam sebuah aksi yang diikuti dua jutaan orang, Socrates bilang, ia akan meninggalkan sepak bola Brasil jika tuntutan pemilu langsung ditolak.
Kenyataannya, usul itu ditolak rezim militer. Socrates memenuhi kata-katanya, ia pindah ke klub seri-A Italia, Fiorentina. Di sana, ia bermain 25 kali dan mencetak gol. Di Italia, Socrates menolak hidup mewah dan mapan. Ia justru menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku marxis Italia, Antonio Gramsci. Ia juga belajar tentang gerakan buruh di Italia.
Tahun 1986, di Piala Dunia di Italia, Socrates gagal mengeksekusi penalti ke gawang Prancis. Brasil tersingkir di perempat final. Sejak itu ia mengenakan ikat kepala berwarna putih yang menjadi ciri khasnya. Bendana putih itu kerap bertuliskan pesan-pesan politik.
Saat Meksiko diguncang gempa bumi berskala besar, ia memakai ikat kepala bertuliskan: México Sigue En Pie (Meksiko masih berdiri). Pesan itu merupakan ungkapan solidaritas bagi rakyat Meksiko.
Ia juga sering memakai ikat kepala bertuliskan: “The People Need Justice”, “Yes to Love, No to Terror”, dan “No Violence”.

Namun, Socrates bukan ronin yang berjuang sendirian. Ia memilih berhimpun secara politik. Ketika Partai Buruh didirikan oleh Lula da Silva dan aktivis kiri lainnya, ia langsung menjadi anggotanya. Socrates berkawan akrab dengan Lula da Silva.
Socrates adalah pengagum berat Fidel Castro, Che Guevara, dan John Lennon. Anaknya pertamanya diberi nama Fidel Castro.
Akhir rezim militer
Tahun 1974, karena menguatnya gerakan pro-demokrasi dan kerasnya tekanan internasional, rezim militer memulai apa yang disebut proses ‘Abertura’ (pembukaan politik).
Proses ini berjalan lamban, karena militer sejatinya tak menghendaki demokrasi dan tak ingin dominasinya berakhir. Hingga, pada awal 1980-an, gerakan pro-demokrasi semakin membesar. Selain gerakan menuntut hak-hak sipil, partai politik alternatif (Partai Buruh) juga berdiri.
Jelang 1985, Brasil diguncang krisis ekonomi, yang membuat rezim militer terpuruk. Inflasi yang tinggi, kemiskinan, dan korupsi membuat banyak orang kehilangan kepercayaan pada kemampuan rezim militer. Akhirnya, pada 1985, di bawah pemerintahan José Sarney, Brasil mengakhiri rezim militer dan mulai memulihkan demokrasi.
Dalam proses panjang itu, Socrates dan sepak bola punya andil yang sangat besar.










