Sepak bola, sihir yang menyatukan miliaran jiwa, tak sepenuhnya berjalan di bawah panji semangat dan rivalitas sehat. Olahraga paling populer ini juga menjadi panggung bagi manifestasi paling buruk hasrat politik: fasisme, rasisme, dan ekstremisme sayap kanan.
Di balik gemuruh sorak sorai massa, tersembunyi ideologi terstruktur yang secara sistematis meracuni tribun, merusak citra klub, bahkan memengaruhi karier pemain.
Fenomena ini bukanlah sekadar letupan amarah hooliganisme sesaat. Ini adalah cerminan akurat dari konflik ideologis yang mengakar dalam masyarakat global, yang mencari legitimasi di arena publik. Dan, stadion dengan puluhan ribu penonton adalah panggung yang sempurna atas pertunjukan ideologi ini. Salah satunya, fasisme.
Fanatisme anti-Arab Maccabi Tel Aviv
Hari-hari ini, di tengah solidaritas global untuk menentang genosida Israel di Palestina, ada satu klub dan suporternya yang justru mempromosikan anti-Arab dan anti-Palestina.
Klub itu bernama Maccabi Tel Aviv. Klub yang berdiri sejak 1906 ini adalah salah satu klub tertua di Israel. Sialnya, klub ini banyak mewakili Liga Israel di turnamen Eropa. Ideologi ekstrem yang diusung klub sangat diwakili oleh kelompok ultras mereka, La Familia.
Ideologi yang dianut La Familia berakar kuat pada ultranasionalisme Yahudi yang keras, yang secara langsung dipengaruhi oleh konflik panjang Israel-Palestina. Dalam pandangan mereka, Maccabi Tel Aviv harus mencerminkan “kemurnian” identitas Yahudi Israel. Konsekuensi langsung dari pandangan ini adalah sentimen anti-Arab dan anti-muslim yang sangat kuat. Banyak fans mereka adalah bekas tentara dan peserta wajib militer, yang baru kembali dari Gaza, Tepi Barat, maupun Lebanon.
Pandangan ekstrem ini sering diwujudkan dalam slogan-slogan yang mengerikan. Pada 2013, dalam pertandingan melawan Maccabi Haifa, para pendukung membentangkan spanduk besar bertuliskan “Kematian bagi Orang Arab”, sebuah seruan kebencian etnis yang tak tersembunyikan.
Pada 2020, ketika protes anti-Netanyahu meningkat di Israel, fans Maccabi Tel Aviv datang dan menyerang mereka dengan tongkat dan pecahan kaca. Mentalitas fasis para ultras ini juga mereka bawa saat bertandang ke kota-kota lain, dari Malta hingga Athena. Misalnya, pada Maret tahun ini di Yunani, ultras Maccabi memukuli seorang pria Mesir hingga masuk rumah sakit hanya karena ia membawa bendera Palestina.
Kasus yang paling terkenal adalah ketika mereka bertandang ke Amsterdam, Belanda, pada 2024. Mereka menurunkan bendera Palestina yang dikibarkan oleh warga yang bersolidaritas pada Palestina dan meneriakkan slogan-slogan anti-Arab – seperti “F*** you Palestine” dan “No children left in Gaza”.
Irriducibili di Italia
Di Italia, klub SS Lazio telah menjadi simbol paling menonjol dari penetrasi ideologi ekstrem kanan di Eropa Barat. Titik fokusnya adalah kelompok ultras mereka, Irriducibili (yang tak terkalahkan), yang muncul pada 1987. Irriducibili bukanlah anomali, melainkan sayap neo-fasis yang terstruktur dalam komunitas Lazio. Kekuatan mereka terletak pada koreografi kebencian yang terencana dan termanifestasi di Curva Nord Stadio Olimpico.
Target utama kebencian mereka adalah rival sekota, AS Roma. Rivalitas Derby della Capitale telah diracuni oleh anti-Semitisme karena Roma secara historis didukung oleh kelas pekerja dan komunitas Yahudi di kota itu.
Bukti kebencian mereka sangat mengerikan. Pada akhir 1990-an, mereka membentangkan spanduk kolosal yang berbunyi: “Auschwitz Adalah Tanah Airmu; Oven Adalah Rumahmu.” Ini adalah seruan Nazi secara terang-terangan.

Selain itu, fans Irriducibili juga secara terbuka memberikan penghormatan kepada Željko ‘Arkan’ Ražnatović, seorang penjahat perang Serbia yang didakwa atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan memimpin milisi paramiliter yang terlibat dalam pembersihan etnis.
Ekstremisme ini bahkan dikomersialkan. Di bawah kepemimpinan Fabrizio ‘Diabolik’ Piscitelli, Irriducibili menjual merchandise yang mempromosikan pesan fasis, mengubah tribun menjadi etalase ideologi sayap kanan. Meskipun Piscitelli terbunuh pada 2019 dan Irriducibili dibubarkan, warisan fasis tetap hidup, ditandai dengan salam fasis dan simbol-simbol Nazi yang sesekali muncul di tribun Lazio hingga hari ini.
Salam fasis Paolo Di Canio
Fasisme di lapangan hijau tidak terbatas pada tribun. Beberapa figur kunci di lapangan juga secara terbuka merangkul ideologi ini, dan tidak ada yang lebih kontroversial daripada Paulo Di Canio.
Mantan penyerang dan pelatih Lazio ini dikenal memiliki tato diktator fasis Italia Benito Mussolini di bahunya. Selama kariernya, ia berulang kali tertangkap kamera melakukan salam fasis—lengan lurus ke udara—ke arah ultras Lazio. Ketika dikonfrontasi, Di Canio tidak pernah menyangkal label fasis. Baginya, itu adalah masalah identitas pribadi, terlepas dari kritik yang menyebutkan bahwa fasisme tidak dapat dipisahkan dari rasisme dan totalitarianisme.

Kontroversi tersebut berubah menjadi isu global ketika pada 2013, Di Canio ditunjuk sebagai manajer Sunderland di Liga Primer Inggris. Penunjukannya memicu gejolak politik dan moral yang luar biasa. David Miliband, mantan Menteri Luar Negeri Inggris dan Wakil Ketua Sunderland saat itu, segera mengundurkan diri. Miliband menyatakan ia tidak dapat bekerja di klub yang mempekerjakan seseorang yang secara terbuka mengagumi fasisme.
Kasus Di Canio membuktikan bahwa ideologi pemain dapat menembus batas-batas olahraga dan memiliki konsekuensi politik langsung yang memaksa klub dan tokoh publik untuk mengambil sikap moral.
Selain Di Canio, Christian Abbiati, yang sebagian besar kariernya dihabiskan di AC Milan, juga diketahui punya kesepahaman dengan nilai-nilai tertentu dari fasisme.
Pada 2008, Gazzetta dello Sport. Ia secara terbuka menyatakan simpati politiknya: “Saya tidak malu mengakui bahwa saya adalah seorang fasis. Saya tidak berbagi ideologi [fasis] mengenai rasisme atau perang, tetapi saya menyukai rasa nasionalisme, cinta tanah air, dan ketaatan pada aturan.”
Periode Abbiati di AC Milan juga bertepatan dengan masa ketika klub tersebut dimiliki oleh Silvio Berlusconi, seorang tokoh sentral dalam politik sayap kanan-tengah Italia. Meskipun Berlusconi adalah seorang populis, ia memimpin Partai Forza Italia yang bersekutu dengan partai-partai sayap kanan.
Tradisi fasitik Zenit St. Petersburg
Menuju Eropa Timur, kita melihat bagaimana ideologi sayap kanan dapat menggunakan konsep “tradisi” untuk membenarkan rasisme. FC Zenit Saint Petersburg berjuang melawan kelompok pendukung mereka yang paling kuat, Landskrona, yang berpegangan erat pada pandangan ultranasionalis dan rasialis yang mereka klaim sebagai pelestarian budaya lokal.
Ideologi Landskrona berpuncak pada awal 2010-an dengan rilis manifesto terkenal. Manifesto itu secara eksplisit meminta Zenit untuk menghindari perekrutan pemain kulit hitam dan homoseksual, dengan argumen bahwa mereka merusak “tradisi klub.” Semboyan ikonik mereka, “Tidak ada warna hitam dalam warna Zenit,” adalah pernyataan rasial yang terang-terangan.

Mereka mengklaim rasisme adalah bentuk patriotisme lokal. Bagi Landskrona, Saint Petersburg dan Zenit harus mempertahankan homogenitas rasial.
Penolakan rasial ini terlihat jelas pada 2019, ketika Zenit merekrut pemain sayap Brasil, Malcom. Landskrona segera memprotes keras dengan spanduk-spanduk yang merujuk pada manifesto lama mereka, yang mengatakan bahwa pemain kulit hitam tidak diterima.
Kasus Zenit menyajikan pola berbahaya di mana rasialisme ditransformasikan menjadi dogma klub, menjadikan warna kulit sebagai penentu apakah seseorang layak mengenakan jersey klub.
Bukan anomali
Kasus Maccabi Tel Aviv, Lazio, Di Canio, dan Zenit Saint Petersburg bukanlah anomali, melainkan bukti nyata bahwa ekstremisme sayap kanan telah berhasil menanamkan akarnya di dalam sepak bola.
Fasisme di lapangan hijau adalah racun yang terstruktur yang mengancam nilai-nilai inti sepak bola: persatuan, fair play, dan keragaman. Ideologi-ideologi kebencian ini menggunakan klub sebagai platform untuk menyebarkan propaganda, meracuni rivalitas menjadi kebencian etnis dan politik, dan bahkan memaksa pemain serta pelatih untuk berhadapan dengan konsekuensi moral.










