Green Day Menentang Fasisme Trump

Green Day, band punk rock ikonik asal California, Amerika Serikat (AS) yang dibentuk pada 1987, telah lama dikenal sebagai suara anti-fasisme dan anti-perang dalam dunia musik. Dengan frontman Billie Joe Armstrong yang vokal, band ini tidak segan menyuarakan kritik terhadap isu politik, sosial, dan ketidakadilan.

Judul album mereka seperti American Idiot (2004) menjadi manifesto anti-perang dan anti-konservatisme. Dalam beberapa tahun terakhir, fokus mereka semakin tajam pada penentangan terhadap Donald Trump dan agenda Make America Great Again (MAGA).

Mengutuk Trump, ICE, dan KKK

Pada awal 2026, Green Day kembali menjadi sorotan dengan kritik pedasnya terhadap pemerintahan Trump. Saat tampil di iHeartRadio ALTer Ego Festival di Los Angeles pada 17 Januari 2026, Billie Joe Armstrong mengubah lirik lagu “American Idiot” dari “I’m not part of a redneck agenda” menjadi “I’m not part of the MAGA agenda”. Ini bukan pertama kalinya; perubahan serupa telah dilakukan sejak 2019, termasuk di New Year’s Rockin’ Eve 2023 dan Coachella 2025.

Armstrong juga menyatakan dukungan untuk aksi protes anti-ICE di Minnesota, di mana ribuan imigran menjadi korban razia represif dan rasialis rezim fasis Trump. Dia memanggil Stephen Miller, penasihat imigrasi Trump, sebagai “fasis” selama penampilan lagu “Holiday”, lagu yang ia nobatkan sebagai anthem “anti-fasis dan anti-perang”. Kritik ini dilontarkan usai kebrutalan razia ICE di Minneapolis, yang telah membunuh Renee Nicole Good (37) dan Alex Jeffrey Pretti (37).

Selain itu, Green Day mengulang chant legendaris “No Trump, no KKK, no fascist USA” yang pertama kali mereka bawakan di American Music Awards 2016. Chant ini berasal dari lagu MDC tahun 1982, “Born to Die”, yang menentang KKK dan fasisme.

Di 2026, protes-protes Green Day relevan dengan tuduhan bahwa Trump didukung kelompok supremasi kulit putih. Trump sendiri bereaksi terhadap penampilan Green Day di Super Bowl 2026, dengan menyebutnya “pilihan buruk” dan menyatakan dia “anti-Green Day”, yang memicu tawa dari penggemar band.

Dukungan untuk Palestina

Green Day juga aktif dalam isu internasional, khususnya isu Palestina. Sejak Netanyahu kembali berkuasa pada 2022 dan konflik Gaza memanas pada 2023, band ini menunjukkan sikap pro-Palestina.

“Awal munculnya Netanyahu” bisa merujuk pada pengaruhnya yang berkepanjangan sejak 1996, tapi kritik Green Day lebih terlihat sejak eskalasi baru-baru ini. Pada April 2025, di Coachella, Armstrong mengubah lirik “Jesus of Suburbia” dari “Runnin’ away from pain when you’ve been victimized” menjadi “Runnin’ away from pain like the kids from Palestine”.

Di tur dunia 2025, Green Day membawa bendera Palestina di konser Malaysia dan mengubah lirik lagi di Meksiko, dari “From Anaheim to the Middle East” menjadi “From Palestine to the Middle East”. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap kebijakan Netanyahu, yang mereka anggap sebagai pemimpin “genosida” di Gaza.

Armstrong menyatakan Amerika sedang “menuju fasisme” di bawah pemerintahan Trump yang begitu loyal menyokong rezim Netanyahu di Israel melalui agenda Board of Peace (BoP). Meski tidak langsung menyerang Netanyahu sejak awal kariernya, sikap ini selaras dengan aktivisme anti-perang band sejak era Bush.

Pendirian politik Green Day

Secara keseluruhan, pendirian politik Green Day berada di sisi kiri (memihak kaum tertindas) dan progresif (menyokong ide-ide kemajuan) dengan akar punk anti-otoriter, anti-militerisme, dan anti-fasisme. Mereka anti-perang, seperti di album American Idiot yang mengkritik George W. Bush dan Perang Irak.

Band ini juga mendukung hak LGBTQ+, hak aborsi, pro-lingkungan, menyokong kesetaraan gender, berpihak pada kelas pekerja dan rakyat jelata, anti-korporasi, dan anti-korupsi. Armstrong sering menyebut Trump sebagai “fasis” dan memperingatkan perang saudara jika hak sipil terkikis.

Mereka terlibat dalam aktivisme seperti Global Citizen Festival, mendukung imigran dan anti-rasisme. Kritik terhadap Trump dimulai sejak 2016, dengan chant anti-KKK, dan berlanjut hingga hari ini. Meski disebut “sell out” dan “bootlickers” oleh konservatif seperti Elon Musk karena Green Day menentang Trump yang saat itu masih oposisi terhadap Joe Biden, Green Day tetap konsisten: “Kami melawan sistem, bukan melawan orang atau menjadi bagian dari orang.” Para penggemar Green Day juga melabrak Elon Musk dengan membeberkan jejak lagu-lagu protes Green Day yang sudah ada jauh sebelum Trump terjun ke politik.

Green Day bukan hanya musisi. Mereka adalah aktivis yang menggunakan panggung hiburan untuk menyerukan perlawanan terhadap fasisme. Penentangan mereka terhadap Trump dan sekutu fasisnya menginspirasi jutaan orang, mengingatkan bahwa musik bisa menjadi senjata untuk melawan ketidakadilan. Di era polarisasi ini, suara mereka tetap relevan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Pep Guardiola dan Sikapnya atas Palestina

Pep Guardiola dan Sikapnya atas Palestina

Kamis malam, 29 Januari 2026, sehari setelah memimpin Manchester City meraih

Next
Mengapa Arogansi Aparat Sering Berulang di Ruang Publik

Mengapa Arogansi Aparat Sering Berulang di Ruang Publik

Pedagang es gabus bernama Sudrajat ketiban apes, 24 Januari 2026 lalu

You May Also Like
Total
0
Share