Ada narasi umum setiap kali isu Palestina dibicarakan, bahwa cerita penindasan di sana bermula pada 1948. Tahun itu seolah dijadikan garis awal dari seluruh tragedi yang kita kenal hari ini.
Pada 14 Mei 1948, Israel berdiri sebagai negara. Dan, setelah itu, lebih dari 700 ribu warga Arab Palestina diusir dari rumah dan kampung halamannya. Peristiwa itu dikenang oleh bangsa Palestina sebagai “nakba” atau malapetaka.
Namun, jika serius membaca sejarah Palestina, penindasan Palestina tidak bermula dari nakba. Film Palestine 36, yang dirilis pada akhir Oktober 2025, berusaha menyuguhkan perspektif lain. Disutradarai oleh sutradara Palestina, Annemarie Jacir, film ini menyuguhkan banyak fakta menarik.
Konteks film
Sebelum membahas filmnya, kita telusuri sejenak konteks historis yang menjadi latar film ini, Palestina 1930-an. FIlm ini dimulai dengan footage berwarna kehidupan di kota-kota Palestina, seperti Yerusalem, Jaffa, dan kota-kota lainnya, yang berdenyut dengan kehidupannya. Jalanan yang sibuk, pasar yang ramai, unta yang menyeberang jalan, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang.
Namun, di balik kehidupan itu, warga Palestina sedang dijangkiti perasaan was-was. Pada 1917, Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur James Balfour, mengirim surat kepada seorang tokoh terkemuka Yahudi di Inggris, Lord Walter Rothschild. Isinya, Inggris mendukung proyek “tanah air kaum Yahudi” di Palestina.
Padahal, dua tahun sebelumnya, melalui korespondensi Hussein-McMahon, Inggris berjanji mendukung kemerdekaan Arab jika mereka membantu melawan Ottoman. Orang Arab menuruti keinginan Inggris. Namun, setelah perang usai, orang-orang Arab dikhianati.

Pada 1920, setelah perang dunia pertama dan kekalahan Ottoman, Liga Bangsa-Bangsa memberikan mandat kepada Inggris untuk mengelola wilayah Palestina, tanpa konsultasi dan persetujuan dari bangsa Palestina. Salah satu isinya, implementasi dari janji Balfour.
Dalam film Palestine 36, kita menyaksikan implementasi mandat itu secara brutal. Ekspansi pemukim Yahudi difasilitasi langsung oleh militer Inggris. Imigrasi Yahudi yang semula mengalir perlahan berubah menjadi banjir besar ketika Hitler berkuasa di Jerman. Pada 1935, jumlah orang Yahudi di Palestina sudah mencapai hampir 400 ribu jiwa, atau sekitar 30 persen dari total populasi.
Bersamaan dengan itu, pemberian lahan kepada Yahudi berlipat ganda antara 1933 dan 1935, baik dari segi jumlah transaksi maupun luasnya. Banyak petani Palestina, Fellahin, terdesak dan terusir paksa. Banyak fellahin terjerat dalam utang dan terjerembap dalam kemiskinan. Menurut satu estimasi tahun 1930 dari Haifa, 64 persen keluarga petani memiliki setidaknya satu anggota yang pernah menerima surat perintah penangkapan atau penyitaan akibat jeratan utang.
Alur film
Sosok utama dari film ini adalah Yusuf (Karim Daoud), seorang pemuda desa yang berprofesi sebagai sopir untuk sebuah keluarga kelas menengah Palestina di Kota Yerussalem.
Yusuf berdiri dalam dua ketegangan sekaligus. Pertama, sebagai pemuda desa dari Al-Bassa, ia menyaksikan kehidupan petani dan warga desa yang terdesak oleh pemukim Yahudi. Kedua, ketika di kota, ia menyaksikan kelas menengah dan lapisan elite Palestina yang tak begitu peduli dengan ekspansi zionisme.
Sosok lainnya adalah Khalid (Saleh Basri), buruh di pelabuhan yang siap bekerja keras demi sesuap nasi untuk keluarganya. Namun, apa daya, buruh-buruh Arab-Palestina justru diupah murah. Uang lembur tak dibayar. Hak-hak buruh diinjak-injak. Ia akhirnya menjadi pejuang setelah dipukuli hanya karena menuntut upah lembur.

Sosok lainnya adalah Khouloud (Yasmine Al Massri), seorang perempuan Palestina terpelajar, dengan latar kelas menengah yang makmur, tetapi bersikap kritis pada penjajahan. Ia selalu menggunakan nama samaran laki-laki agar tulisannya bisa terbit dan dibaca oleh orang-orang. Tulisan-tulisannya selalu bersimpati pada kehidupan dan perjuangan rakyat Palestina. Namun, suaminya, Amir Atef (Dhaffer L’Abidine), seorang pengusaha kaya, justru menampilkan sebaliknya. Ia bersikap moderat, bahkan rela bekerja sama dengan Inggris dan zionisme.
Ada anak perempuan kecil bernama Afra (Wardi Eilabouni). Ia berjalan di atas pipa minyak milik perusahaan Inggris, sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada ibunya. Afra adalah saksi bagaimana zionisme mengusir dan merampas hak-hak bangsa Palestina.
Dalam film ini, kita disuguhi ironi. Orang-orang Yahudi yang terusir paksa oleh rezim fasis Hitler di Eropa, yang seharusnya punya sentimen sebagai kaum tertindas, justru menjadi penindas ketika tiba di Palestina. Mereka merampas tanah, lalu mendirikan pagar pembatas, tak ubahnya kelakuan Nazi di Eropa.
Pahitnya, dalam setiap konflik antara pemukim Yahudi dan petani Arab, militer Inggris selalu memihak Yahudi. Misalnya, dalam suatu malam, Abu Rabab (Kamel El Basha), bapaknya Yusuf yang juga petani dan pemuka desa Al-Bassa berusaha menemui dan bernegosiasi dengan pemukim Yahudi. Nahas, ia justru ditembak oleh penjaga menara Yahudi, bahkan sebelum berdialog.
Ironisnya, pasca kejadian itu, tentara Inggris justru datang ke desa, menerobos masuk ke rumah-rumah warga, dan melakukan penangkapan. Bukan menangkap pemukim Yahudi yang melakukan pembunuhan, tetapi justru menyerang warga desa yang notabene sebagai korban.
Menariknya, film ini juga menghadirkan peran perempuan Palestina yang kadang jarang terpotret oleh narasi arus utama. Dalam sebuah adegan, para perempuan, termasuk jurnalis Khouloud, berdemonstrasi di kantor Komisaris Tinggi Inggris, banyak perempuan yang mengenakan kostum ala perempuan di Eropa. Selain menunjukkan kontribusi feminisme dalam perjuangan rakyat Palestina, adegan ini menunjukkan pluralisme warga Palestina yang selama ini selalu dipandang monolitik: Arab muslim.
Pemogokan umum rakyat Palestina
Saat kaum Fellahin di desa-desa semakin terdesak oleh pemukim Yahudi, kaum buruh di kota terpuruk oleh upah murah dan kondisi kerja yang buruk, dan teror ekstrimis Yahudi menyasar warga Arab Palestina, buruh-buruh pelabuhan di Jaffa menemukan fakta menyakitkan. Mereka menyaksikan ratusan ribu senjata diselundupkan dalam peti-peti yang dipasok untuk milisi Yahudi, Haganah.
Dalam situasi itulah rakyat Palestina, lintas suku, geografis, dan agama, melancarkan pemogokan umum. Pemogokan dimulai pada 19 April 1936 dan berlangsung hingga 1939. Toko-toko Arab di seluruh Palestina tutup. Buruh-buruh berhenti bekerja. Pelabuhan Jaffa, pintu ekspor utama Palestina, lumpuh total.
Komite Tinggi Arab (Arab Higher Committee/AHC) dibentuk, dipimpin Mufti Yerusalem Haj Amin al-Husseini, mengkoordinasikan pemogokan nasional. Pemogokan ini membawa tiga tuntutan: penghentian total imigrasi Yahudi ke Palestina, larangan pengalihan lahan Arab kepada pihak Yahudi, dan pembentukan pemerintahan nasional yang bertanggung jawab kepada dewan perwakilan rakyat.
Pemogokan umum itu berlangsung selama enam bulan, yang merupakan pemogokan umum terlama dalam sejarah Palestina dan perjuangan pembebasan nasional di masa itu. Pada 19 Oktober 1936, di bawah tekanan Inggris dan bujukan raja-raja Arab, AHC menyerukan penghentian pemogokan umum.

Pada Mei 1936, merespons keresahan umum warga Palestina yang meletup menjadi pemogokan, Inggris membentuk Komisi yang dipimpin oleh Lord Peel, sering disebut Komisi Peel. Komisi ini bertugas untuk mencari tahu akar konflik. Tiba di Palestina pada November 1936, sebulan setelah pemogokan berakhir, Komisi ini mengumumkan hasil laporan pada 7 Juli 1937. Komisi itu menilai mandat PBB tak efektif lagi dijalankan. Selain itu, mereka menangkap aspirasi Arab untuk mengumandangkan kemerdekaan nasional. Namun, solusi mereka sangat ala Inggris, partisi Palestina menjadi dua negara: Arab dan Yahudi.
Rencana partisi itu akan mengakibatkan pemindahan paksa sekitar 225 ribu warga Palestina, sementara dari pihak Yahudi hanya 1.250 orang. Pembagian teritorialnya juga tak adil, sekitar 56,47 persen untuk negara Yahudi dan sekitar 42 persen untuk negara Arab. Sementara Kota Yerusalem direncanakan menjadi corpus separatum (wilayah terpisah) di bawah pengawasan internasional.
Rakyat Palestina jelas menolak. Orang-orang Arab Palestina, yang sudah bermukim dan melahirkan peradaban sejak ribuan tahun, tak rela disingkirkan begitu saja dari tanahnya. Walhasil, rekomendasi Komisi Peel justru meletupkan pemberontakan bersenjata atau sering dikenang sebagai pemberontakan Arab.
Pemuda desa seperti Yusuf, buruh seperti Khalid, hingga ibu rumah tangga seperti Hanan (Hiam Abbass), memilih mengangkat senjata menentang ekstrimisme Yahudi dan Inggris.
Inggris kewalahan menghadapi pemberontakan ini. Lebih dari 20 ribu pasukan tambahan dikirim dari London ke Palestina. Tidak hanya itu, milisi Israel, Haganah, dipersenjatai dan difasilitasi oleh pejabat militer Inggris.
Para pemberontak berhasil merebut kota tua Yerusalem. Dalam masa itu, mereka membentuk pemerintahan sendiri, membentuk pengadilan, mengadakan pelayanan pos, dan lain sebagainya.
Menariknya, seperti digambarkan dalam film Palestina 36, pemberontakan Arab Palestina ini lintas suku, agama, dan kelas sosial. Ada sebuah adegan di mana pejabat Komisi Tinggi Inggris sangat kaget ketika diperlihatkan foto kelompok pemberontak yang menggunakan salib. “Mereka mengenal Kristus. Ini gambar yang tidak kita inginkan,” katanya. Dalam hal ini, Inggris sengaja merancang persepsi dan gambaran tentang Palestina sebagai orang-orang Arab yang beragama Islam.
Inggris merespons pemberontakan ini dengan sangat keras. Lebih dari 20 ribu pasukan tambahan dikerahkan ke Palestina. AHC dan semua partai politik Palestina dilarang. Ribuan warga Palestina dimasukkan ke “kamp penahanan”. Kawasan permukiman dihancurkan. Sekolah-sekolah ditutup. Desa-desa didenda secara kolektif dan dipaksa menampung tentara serta polisi Inggris.
Dalam film Palestine 36, ada adegan yang membuat sesak. Ketika tentara Inggris menangkapi warga desa, terutama laki-laki, lalu menggiring paksa mereka ke atas bus. Jahatnya, jalur bus itu sudah dipasangi ranjau. Selanjutnya bisa ditebak. Bus itu, yang berisi puluhan warga Palestina yang ditangkap, meledak.
Akibat represi Inggris dalam merespons pemberontakan, lebih dari 5.000 orang Arab terbunuh, 15 ribu mengalami luka-luka, dan 5.600 dipenjara selama pemberontakan.
Yang berlanjut hari ini
Berbagai kekejian zionisme maupun militer Israel terhadap bangsa Palestina hanyalah keberlanjutan dari taktik serupa yang pernah diterapkan Inggris selama era mandat.
Pertama, klasifikasi “desa baik” dan “desa buruk”. Taktik kapten Orde Wingate (Robert Aramayo) yang khas kolonial mencakup penggolongan desa-desa Palestina sebagai “baik” atau “buruk”, persetujuan atas hukuman kolektif dan pembalasan yang tidak proporsional, serta kontrol pergerakan melalui izin transit, pos pemeriksaan, dan jam malam. Semua praktik itu yang terus diterapkan negara Israel hingga hari ini.
Kedua, penggunaan human shield. Film menampilkan Wingate melakukan kejahatan perang yang rutin: menggunakan seorang anak Palestina sebagai tameng hidup; menggiring perempuan dan anak-anak untuk dikurung di kamp kawat berduri di bawah terik matahari dan dibiarkan tanpa air; membakar ladang milik warga Palestina; meledakkan bus berisi tahanan Palestina yang ditangkap secara sewenang-wenang.
Ketiga, pembangunan tembok Tegart. Karakter Charles Tegart (Liam Cunningham) dalam film merancang tembok pemisah antara Palestina dan perbatasan utaranya. Ini bukan fiksi, Tegart Wall dibangun antara 1938–1943 sepanjang perbatasan Palestina–Lebanon dan Palestina–Suriah.
Keempat, pengasingan pemimpin perlawanan. Para pemimpin pemberontakan dikirim ke pengasingan di Seychelles, Kenya, dan Afrika Selatan, meskipun beberapa berhasil melarikan diri ke Lebanon. Semua langkah ini telah ditiru secara setia oleh kaum zionis sejak 1948 dan kini hampir menjadi peristiwa harian di Tepi Barat.
Kelima, adu domba dan pelatihan militer bagi ekstrimis Yahudi. Pelatihan yang diberikan Wingate kepada milisi Yahudi dalam strategi militer kolonial Inggris dan perang hibrida kelak menjadi buku pegangan militer Israel.

Prosesp produksi dan respon
Film Palestine 36, yang mulai tayang pada 31 Oktober 2025, melalui proses produksi yang berliku. Pengambilan gambar utama (principal photography) direncanakan berlangsung di Palestina, namun agresi Israel pada 2023 sempat menghentikan produksi. Beruntung, pengambilan gambar bisa dilanjutkan hingga tuntas, dan satu-satunya film yang mengambil lokasi syuting di Palestina dalam dua tahun terakhir.
Setelah tayang di layar lebar, film ini tak luput dari tekanan. Saat diputar di Yerusalem, pada 22 Januari 2026, militer Israel melakukan penggerebekan dan pembubaran. Militer menuding film ini hasil buah tangan teroris.
Secara visual, Palestine 36 cenderung realistis dan minimalis. Tidak banyak musik dramatis. Banyak adegan dibiarkan sunyi, hanya dialog, yang membiarkan penonton merasakan ketegangan dan duka secara perlahan. Pendekatan ini membuat film terasa seperti dokumen ingatan kolektif, bukan propaganda.










