Orang-orang Baik di Kekuasaan Jahat

Dalam kisah Mahabharata, ada tiga nama yang selalu disebut dengan penuh hormat: Karna, Pandhita Drona, dan Maharesi Bisma. Mereka bukan tokoh jahat. Mereka berilmu tinggi, berbudi luhur, dan sering kali menjadi sumber kebijaksanaan. Namun ketiganya memilih berdiri di kubu Kurawa, membela Duryudana, penguasa yang menolak menyerahkan tahta kepada Pandawa yang lebih berhak.

Kisah itu menimbulkan pertanyaan yang tidak pernah usang: mengapa orang-orang baik bisa bekerja untuk kekuasaan jahat? Jawabannya tidak sederhana. Kadang karena kesetiaan, karena hutang budi, karena rasa takut kehilangan posisi dan lain-lain.

Tapi apa pun alasannya, sejarah selalu menunjukkan pola yang sama, kejahatan besar tidak pernah berjalan sendirian. Ia bertahan karena ada banyak orang baik di sekitarnya yang memilih diam, patuh, atau sekadar menjalankan tugas.

Fenomena itu mudah ditemukan di dunia nyata. Dalam setiap pemerintahan yang menindas, selalu ada pejabat yang berkata “saya hanya menjalankan perintah,” ada intelektual yang membenarkan kebijakan dengan istilah teknokratis, hingga ada tokoh masyarakat yang berkata “yang penting niatnya baik.” Mereka semua tampak rasional, namun keberadaannya justru ikut memperpanjang umur ketidakadilan.

Banyak di antara mereka percaya bahwa dengan bertahan “di dalam sistem,” bisa membuat perubahan kecil. Sebagian lagi percaya bahwa kehadiran mereka bisa menjadi penyeimbang di tengah arus kekuasaan yang menindas.

Sebagian mungkin benar-benar mencoba. Tapi dalam banyak kasus, perubahan yang dijanjikan tidak pernah datang. Mereka justru menjadi bagian dari mekanisme yang membuat kekuasaan jahat terlihat normal. Kebaikan mereka menjadi topeng yang menenangkan bagi penguasa yang kejam.

Pandawa, di sisi lain, menunjukkan bahwa kebaikan membutuhkan keberpihakan. Mereka tidak memusuhi Bisma atau Drona karena benci, tetapi karena tahu bahwa kebenaran tidak bisa dijalankan setengah hati. Menolak tunduk pada kekuasaan yang zalim adalah bentuk tertinggi dari penghormatan terhadap kebenaran itu sendiri. Dalam dunia yang sarat kompromi, ketegasan moral seperti itu menjadi langka.

Di masa kini, kita sering melihat situasi serupa. Orang-orang baik bekerja di pemerintahan yang melanggar hak rakyat. Mereka menulis pernyataan indah tentang reformasi dan moralitas, tetapi tetap setia pada jabatan. Mereka tahu ada ketidakadilan, tapi lebih takut kehilangan kenyamanan daripada kehilangan nurani.

Padahal, kebaikan sejati tidak diukur dari seberapa lembut tutur kata seseorang, melainkan dari keberanian menolak tunduk pada ketidakbenaran. Sejarah membuktikan, dunia berubah bukan karena orang baik menyesuaikan diri, tapi karena orang baik berani berkata “tidak.”

Kisah Mahabharata bukan sekadar legenda. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah zaman. Di balik istana dan kursi-kursi kekuasaan hari ini, kita masih melihat bayangan Duryudana dan juga para Karna, Drona, serta Bisma masa kini. Mereka berpendidikan, terhormat, bahkan mungkin berniat baik. Tapi pilihan mereka tetap membuat kekuasaan yang zalim bertahan lebih lama.

Karena itu, jangan terlalu cepat terpukau oleh pribadi-pribadi yang tampak bijak, namun berdiri di sisi kekuasaan yang menindas. Kebaikan tanpa keberanian hanyalah kesopanan, dan kesopanan yang melayani keburukan hanyalah bentuk baru dari penaklukan moral.

Dunia tidak kekurangan orang baik. Yang langka adalah orang baik yang berani berpihak pada kebenaran, meski harus menentang kekuasaan tempat ia bekerja. Itulah pesan abadi dari Pandawa bahwa dalam setiap zaman, keberpihakan pada keadilan selalu lebih mulia daripada kesetiaan pada kekuasaan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Maba Sangaji Penjaga Bumi: Menolak Vonis Pengadilan Negeri Soasio

Maba Sangaji Penjaga Bumi: Menolak Vonis Pengadilan Negeri Soasio

Hakim Pengadilan Negeri Soasio, Maluku Utara memvonis bersalah 11 warga Maba

Next
Selamat Jalan Jill Hickson, Filmmaker di Balik Film Perlawanan Rezim Soeharto

Selamat Jalan Jill Hickson, Filmmaker di Balik Film Perlawanan Rezim Soeharto

Aktivis sosialis dan filmmaker, Jill Hickson meninggal dunia pada 15 Oktober

You May Also Like
Total
0
Share