Selamat Jalan Jill Hickson, Filmmaker di Balik Film Perlawanan Rezim Soeharto

Aktivis sosialis dan filmmaker, Jill Hickson meninggal dunia pada 15 Oktober 2025. Ia berpulang dalam usia 70 tahun, setelah berjuang melawan kondisi kesehatannya yang terus memburuk selama berbulan-bulan.

Mengutip artikel Peter Boyle dan Pip Hinman yang dipublikasikan greenleft.org.au, kesehatan Jill menurun secara drastis setelah film terakhir yang dia buat bersama pasangannya, John Reynolds, berjudul “Palestinians Don’t Need Sidewalks,” selesai diproduksi. Namun, meskipun terbaring di tempat tidur, dia menyadari betapa berharganya dokumenter ini bagi gerakan solidaritas Palestina. Terlebih pemutaran film tersebut mendapatkan banyak apresiasi penonton dan membuka mata banyak orang tentang genosida Israel di Palestina.

Jill, lanjut Peter Boyle dan Pip Hinman, akan sangat dirindukan oleh banyak orang dan diingat karena penentangannya yang gigih terhadap segala bentuk penindasan. Ia pun dikenang sebagai sosok yang memiliki komitmen tak tergoyahkan terhadap gerakan sosialis.

Rekan-rekannya di Socialist Alliance dan sebelumnya di Democratic Socialist Party (DSP) mengingat Jill sebagai aktivis yang teguh, organiser di beberapa kota, dan teman yang baik dan setia.

Ia secara luas juga mendapatkan penghormatan dan kasih sayang dari banyak orang di gerakan kiri dan progresif.

Film “Indonesia in Revolt: Democracy or Death (1998)” bisa ditonton di kanal Youtube Green Left.

Jill mendedikasikan dirinya menjadi organiser penuh waktu dalam gerakan solidaritas untuk perjuangan revolusioner di berbagai negara, seperti Amerika Latin dan Karibia, serta di Indonesia dan Timor-Leste. Ia pun dikenal sebagai jurnalis aktivis untuk Green Left.

Pada 1980-an dan awal 1990-an, Jill menghabiskan waktu berjam-jam menulis proposal untuk dana hibah saat pemerintah Australia menerapkan skema pendanaan 50:50. Sebagian besar usulan tersebut berhasil, sehingga Nicaraguan Assistance Fund saat itu mendukung banyak proyek yang dipimpin perempuan di Nikaragua.

Pada 1990-an, Jill mengorganisir acara dan konferensi solidaritas di seluruh Australia terkait kampanye Timor-Leste untuk penentuan nasib sendiri dan gerakan demokrasi di Indonesia. Dia menyadari bahwa kedua sayap gerakan tersebut diperlukan untuk mengalahkan diktator Soeharto yang didukung Australia.

Jill juga meninggalkan jejak dukungan konkret bagi gerakan demokratik di Indonesia. Ia pernah membuat film fenomenal tentang gerakan perjuangan penggulingan kediktatoran Soeharto, There is Only One Word, RESIST (1997) dan Indonesia in Revolt: Democracy or Death (1998).

“Mungkin pekerjaan film paling berbahaya yang dia lakukan adalah di Indonesia pada tahun 1996, pada periode perjuangan rakyat yang intens yang akhirnya menggulingkan kediktatoran Soeharto,” sebut Peter Boyle dan Pip Hinman.

Sampul majalah Pembebasan, terbitan Partai Rakyat Demokratik (PRD), pada Maret 1997.

Dalam film There is Only One Word, RESIST (1997), selain mewawancarai sejumlah tokoh Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang bergerak di bawah tanah, Jill juga menemui Ketua Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), Dita Indah Sari, yang saat itu dijebloskan ke dalam penjara Orde Baru di Jawa Timur. Ia menyelundupkan kamera mini saat mewawancarai Dita Sari. Maklum, film itu dibuat ketika Orde Baru masih berdiri kokoh dan bengis.

Harris “Rizki” Sitorus, mantan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan pimpinan Partai Demokratik Rakyat (PRD), yang bekerja sama dengan Jill dalam pembuatan film itu, mengenang momen tak terlupakan tersebut.

Dia menyebutkan, sebagaimana kaum buruh dan revolusioner Australia di era perjuangan kemerdekaan Indonesia, Jill Hickson dan kawan-kawan DSP dan ASIET Australia berperan penting dalam perjuangan penggulingan Orde Baru.

“Pasca kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli), saya dan kawan-kawan sempat bertemu di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia berkunjung ke Yogyakarta saat membuat film “There is Only One Word, RESIST!” Film dokumenter ini menunjukkan walau sekian banyak pimpinan dan anggota PRD menjadi korban perburuan, ditangkap dan dipenjarakan, namun PRD tidak hancur bahkan terus eksis berjuang secara bawah tanah,” kenang Harris.

Ia pun mengapresiasi dukungan nyata Jill dan solidaritas kolektif dari Australia yang diberikan dalam gerakan menumbangkan Soeharto. “Solidaritas kolektif kawan-kawan Australia (DSP, ASIET dan Green Left ) atas perjuangan menumbangkan Soeharto dan Orde Baru menunjukkan bahwa solidaritas dan kerjasama revolusioner antarbangsa akan saling menguatkan dan membuka jalan bagi percepatan terjadinya perubahan. Sejarah telah menunjukkannya dan Jill Hickson adalah bagian dari itu,” lanjutnya.

Sementara dalam film “Indonesia in Revolt: Democracy or Death”, yang dibuat sesaat setelah tumbangnya rezim Orde Baru, ia menyingkap kesaksian sejumlah aktivis PRD yang menjadi korban penculikan di masa kelam kekuasaan Soeharto, seperti Faisol Riza dan Mugiyanto. Film itu juga berkisah tentang perjuangan demokratisasi yang tidak mudah pasca lengsernya Soeharto karena bertahannya sisa-sisa Orde Baru.

Jejak langkah Jill sangat merentang panjang. Pada 2010, dia pernah mengunjungi komunitas Ampilatwatja di Wilayah Utara untuk mewawancarai mereka setelah melakukan aksi mogok kerja di Ampilatwatja pada Juli 2009. Pemerintah Partai Buruh di bawah Kevin Rudd melanjutkan kebijakan intervensi kolonialis John Howard di wilayah Utara, dan Jill ingin mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana masyarakat adat melawan kebijakan tersebut.

Jill membantu mendirikan Green Left TV dari Pusat Komunitas Addison Road, tempat dia dan pasangan serta rekan kerjanya John Reynolds bermarkas selama dua dekade.

Beberapa film dokumenter yang dia buat bersama John, antara lain: Palestine Under Siege (2024), Dare to Struggle—the Life and Politics of Jack Mundey (2021), The Women Who Were Never There (2016), Radical Wollongong (2014), Alyawarr walk-off protest vs NT Intervention (2010), Supersize My Pay (2007), APEC 2007—The Activist Film (2007), Pine Gap Exposed (2007), Aceh: The People’s Struggle (2001), M1: People Resist Corporate Globalisation (2001), S11: This is What Democracy Looks Like (2000), Indonesia in Revolt: Democracy or Death (1998), There is Only One Word, RESIST (1997) dan Bougainville: Another Colonial War (1995).

Jill dan John juga mendirikan Actively Radical TV (ARTV), awalnya sebagai bagian dari stasiun televisi komunitas dan kemudian sebagai proyek video online, Art Resistance, serta baru-baru ini membantu mengorganisir Festival Film Dare to Struggle. ARTV melakukan siaran di Channel 31 selama lebih dari 10 tahun hingga lisensinya dicabut dan pemegang lisensi baru membuat sulit untuk melanjutkan produksi program.

Jill adalah feminis yang teguh, meyakini bahwa sistem kapitalisme patriarkal secara sistematis menghambat perempuan, membebani mereka dengan semua pekerjaan tak berbayar yang dibutuhkan masyarakat untuk menciptakan generasi pekerja berikutnya. Pemahaman itu memicu tekadnya untuk menembus semua batasan.

Penghargaan untuk Jill datang dari berbagai belahan dunia, terutama dari negara-negara yang perjuangan pembebasannya mendapat solidaritas berkat dokumenter yang dia buat, bahkan seringkali dalam kondisi berbahaya.

Jill sangat berani, kata Joe Carolan, organiser Serikat Pekerja Unite, yang mengingat dia diserang dan ditangkap di Aotearoa Selandia Baru. Kala itu ia tengah melakukan syuting film Supersize My Pay tentang perjuangan pekerja McDonald’s untuk upah dan kondisi kerja yang lebih baik.

Selamat jalan, Jill Hickson. Rest in power.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Orang-orang Baik di Kekuasaan Jahat

Orang-orang Baik di Kekuasaan Jahat

Dalam kisah Mahabharata, ada tiga nama yang selalu disebut dengan penuh hormat:

Next
Ketika Gen Z Peru Berhasil Menjatuhkan Presiden Otoriter

Ketika Gen Z Peru Berhasil Menjatuhkan Presiden Otoriter

Terinspirasi gelombang protes di berbagai belahan dunia, dari Indonesia, Nepal,

You May Also Like
Total
0
Share