Mengapa Musik Kita Makin Sedih?

Musik adalah jendela jiwa manusia. Jika kita menengok ke dalam, kita akan melihat jejak panjang gejolak perasaan zaman. Ia merekam gejolak cinta, pemberontakan pemuda, hingga patah hati kolektif sebuah generasi. Dan jika kita memutar kembali pita sejarah dari tahun 1973 hingga hari ini, ada sebuah pola yang merayap diam-diam: melodi kita mungkin semakin energetik, tetapi kata-kata yang kita nyanyikan justru semakin tenggelam dalam kecemasan.

Sebuah studi monumental yang baru saja diterbitkan di jurnal bergengsi Nature Scientific Reports (2025) mencoba membedah fenomena ini secara matematis. Dipimpin oleh Markus Foramitti bersama rekan-rekannya, Urs Markus Nater, Claus Lamm, dan Maurício Martins dari Universitas Wina (University of Vienna), tim peneliti ini berhasil mengungkap bagaimana lirik lagu mencerminkan kondisi mental masyarakat dunia yang kian rapuh, sekaligus bagaimana musik menjadi alat pertahanan diri yang krusial saat krisis melanda.

Menariknya, kajian itu menggunakan analisis data raksasa yang melibatkan lebih dari 20.000 lagu yang pernah bertengger di tangga lagu Billboard Hot 100 Amerika Serikat dari 1973 hingga 2023.

Narasi kegelapan yang merayap

Apa yang ditemukan oleh Foramitti dan timnya sangat mengejutkan bagi siapa pun yang tumbuh besar dengan lagu-lagu era 70-an yang penuh semangat. Dengan menggunakan teknik Natural Language Processing (NLP), para peneliti mengukur frekuensi kata-kata yang berkaitan dengan stres, sentimen emosional, dan kompleksitas bahasa.

Hasilnya, sejak tahun 1973, frekuensi kata-kata yang berkaitan dengan stres, kecemasan, dan tekanan meningkat tajam: mencapai angka kenaikan hingga 81 persen. Di saat yang sama, sentimen positif dalam lirik perlahan memudar, digantikan oleh nada-nada yang lebih sinis, sedih, dan negatif.

Data ini menceritakan sebuah narasi tentang masyarakat yang perlahan-lahan kehilangan optimisme. “Lirik lagu kita bukan lagi tentang bunga atau sinar matahari, melainkan refleksi dari dunia yang semakin kompetitif, cepat, dan penuh tekanan mental,” tulis studi tersebut.

Temuan ini selaras dengan data kesehatan mental global yang menunjukkan peningkatan angka depresi dan gangguan kecemasan dalam lima dekade terakhir. Musik, dalam hal ini, berfungsi sebagai cermin jujur bagi kondisi psikologis kolektif kita.

Kok lagu-lagu sekarang makin ”dangkal”?

Pernahkah Anda merasa bahwa lagu-lagu di Spotify, YouTube, Apple Music, Joox, atau yang kita dengar dari televisi dan radio, saat ini terdengar jauh lebih repetitif dibandingkan lagu-lagu era Queen, Pink Floyd, Scorpions, atau Fleetwood Mac?

Sains setuju dengan Anda. Studi Foramitti menemukan bahwa tingkat “kompresibilitas” lirik meningkat secara signifikan (r = 0,62). Dalam istilah sederhana: lirik lagu modern mengandung lebih sedikit kosakata unik dan lebih banyak pengulangan kata atau frasa yang sama.

Mengapa hal ini terjadi? Para peneliti menunjuk pada perubahan cara kita mengonsumsi musik. Di era streaming, algoritma adalah raja. Agar sebuah lagu bisa bertahan dalam rentetan playlist yang tak ada habisnya, ia harus segera dikenal oleh otak pendengar dalam hitungan detik. Pengulangan adalah cara paling efisien untuk menciptakan “jangkar kognitif” atau apa yang kita kenal sebagai earworm. Earworm adalah fenomena lagu atau melodi yang “terjebak” dan berulang di kepala tanpa sengaja.

Namun, kesederhanaan ini juga bisa dilihat sebagai bentuk respons terhadap kelebihan informasi (information overload). Di dunia yang setiap harinya membombardir kita dengan ribuan pesan, otak manusia secara naluriah mencari kenyamanan dalam sesuatu yang sederhana dan mudah diprediksi. Lirik yang repetitif memberikan rasa aman dan kendali di tengah dunia yang makin kacau.

Saat dunia hancur, musik jadi penyelamat

Di sinilah letak kesimpulan paling menggugah dari penelitian ini. Jika lirik lagu pop secara konsisten menjadi lebih negatif dan sederhana selama 50 tahun, apa yang terjadi ketika dunia benar-benar berada dalam bahaya? Logikanya, saat terjadi tragedi besar, musik seharusnya menjadi lebih gelap lagi. Namun, data menunjukkan hal yang mengejutkan.

Tim peneliti memeriksa dua guncangan sosial terbesar dalam sejarah modern: serangan teroris 11 September (9/11) dan awal pandemi Covid-19 pada 2020. Temuan mereka menunjukkan bahwa krisis-krisis ini justru mengganggu tren jangka panjang kegelapan lirik tersebut.

Selama fase awal pandemi Covid-19, alih-alih menjadi lebih stres atau lebih negatif, lirik lagu populer justru mengalami perlambatan dalam tren negatifnya. Masyarakat secara tidak sadar mulai mengonsumsi dan menciptakan musik yang lebih positif, lebih kompleks, dan lebih rendah kadar stresnya dibandingkan yang diprediksi oleh tren 50 tahun terakhir.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai Regulasi Emosi Incongruent atau eskapisme. “Saat realitas eksternal menjadi terlalu pahit untuk ditanggung, manusia tidak lagi mencari musik yang mencerminkan kesedihan mereka (mood-congruent). Sebaliknya, mereka mencari musik yang menawarkan emosi yang berlawanan sebagai bentuk pengobatan mandiri,” jelas tim peneliti.

Saat dunia terkunci di dalam rumah dan dipenuhi ketakutan akan virus, kita tidak ingin mendengar lagu tentang isolasi. Kita ingin mendengar lagu tentang kebebasan, cinta yang rumit (yang menambah kompleksitas lirik), dan harapan. Musik bertransformasi dari sekadar hiburan menjadi “obat penenang” atau benteng pertahanan mental yang melindungi kita dari kehancuran total.

Musik sebagai obat

Data tambahan yang menarik dari studi ini adalah hubungan antara stres dan kompleksitas. Meskipun secara umum lagu menjadi lebih sederhana, para peneliti menemukan bahwa pada periode-periode di mana bahasa stres sangat tinggi, kompleksitas lirik cenderung meningkat.

Ini menunjukkan paradoks yang indah: ketika manusia merasa sangat tertekan, mereka cenderung menggunakan bahasa yang lebih kaya dan rumit untuk mengekspresikan diri. Seolah-olah kesederhanaan lirik pop “biasa” tidak cukup kuat untuk menampung beban emosional yang luar biasa berat. Kita membutuhkan lebih banyak kata, lebih banyak metafora, dan lebih banyak struktur untuk memproses rasa sakit yang mendalam.

Namun, di sisi lain, penelitian ini memberikan rasa optimisme. Kemampuan manusia untuk beralih ke musik yang lebih positif dan kompleks di tengah krisis menunjukkan resiliensi mental yang luar biasa. Kita memiliki mekanisme pertahanan alami yang tertanam dalam preferensi seni kita.

Studi dari Nature Scientific Reports ini tidak hanya berbicara tentang statistik lirik atau algoritma komputer. Ia berbicara tentang perjalanan emosional umat manusia selama setengah abad terakhir. Ia bercerita tentang bagaimana kita bertumbuh menjadi lebih cemas, namun tetap memiliki keinginan bawah sadar untuk mencari keindahan dan kerumitan saat hidup terasa sangat berat.

Seni untuk bertahan hidup

Melalui penelitian Markus Foramitti dan rekan-rekannya, kita belajar bahwa musik pop bukan sekadar komoditas industri. Ia adalah biosensor yang sangat sensitif. Kenaikan angka stres sebesar 81 persen dalam lirik selama 50 tahun adalah peringatan keras bagi kita tentang kondisi sosial-ekonomi dan tekanan hidup modern.

Namun, kemampuan kita untuk beralih ke lagu yang lebih cerah dan rumit saat krisis melanda adalah bukti resiliensi manusia. Kita menggunakan seni bukan hanya untuk meratap, tetapi untuk bertahan hidup.

Bagi para pencipta lagu dan penikmat musik, studi ini memberikan perspektif baru. Jika hari ini lagu-lagu terdengar “galau” atau “sedih”, itu adalah suara zaman. Namun, sejarah membuktikan bahwa di titik tergelap kemanusiaan, musik akan selalu menemukan cara untuk menarik kita kembali ke arah cahaya, menawarkan kompleksitas saat dunia terasa datar, dan memberikan ketenangan saat stres mencapai puncaknya.

Pada akhirnya, melodi kegelisahan yang kita dengar hari ini mungkin adalah cara kolektif kita untuk memproses dunia—dan di ujung setiap lagu, selalu ada harapan bahwa kita akan menemukan harmoni kembali.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Kisah Kudeta Keji terhadap Patrice Lumumba
Next
Boikot Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat

Boikot Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat

Piala Dunia FIFA 2026, yang dijadwalkan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli

You May Also Like
Total
0
Share