Musik Indonesia tidak pernah kering dengan kritik sosial. Dari Iwan Fals, Franky Sahilatua, Slank, Navicula, Superman is Dead, hingga Efek Rumah Kaca, lagu-lagu mereka lantang menyuarakan kritik sosial.
Dan, untuk Indonesia hari ini, kita mengenal: Feast (ditulis: .Feast). Sejak kelahirannya 2013 lalu, Feast tak pernah berhenti menyalurkan keresahan sosial dan kritik publik lewat lagu-lagu dan performance-nya. Tak bisa dipungkiri, Feast adalah salah satu corong bagi keresahan generasi masa kini terhadap keadaan sosial dan politik negerinya.
Lahir dari anak-anak FISIP UI
Feast lahir dari keresahan beberapa anak-anak Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia. Suatu hari di tahun 2013, lima anak FISIP berusaha mengartikulasikan keresahannya lewat musik. Mereka adalah Baskara Putra (vokal), Adnan Satyanugraha Putra (gitar), Dicky Renanda Putra (gitar), Fadli Fikriawan Wibowo atau Awan (bas), dan Adrianus Aristo Haryo alias Bodat (drum).
Nama Feast dipilih karena dua alasan. Pertama, mereka suka bekerja sama dengan orang lain dalam membuat musik. Kedua, mereka menganggap musiknya adalah suatu perayaan atas kemenangan, suara atas tragedi atau hal lainnya.

Menariknya, ada tanda titik (.) di depan nama band mereka. Kata Awan, sang bassist, tanda titik itu sebagai pembeda dengan band-band bernama Feast yang ada di tempat lain. Namun, bagi Baskara, sang vokalis, tanda titik itu sebagai taktik agar nama band mereka selalu muncul di urutan pertama dalam katalog musik, daftar abjad, atau line-up festival.
Pelantang kritik
Pada 2014, Feast muncul dalam panggung musik dengan single mereka, “Camkan”. Single ini merupakan ekspresi kritik terhadap menyempitnya ruang kebebasan beragama di Indonesia.
Mereka sempat vakum sebentar. Kemudian, pada 2017, mereka meluncurkan album ”Multiverse”. Sesuai judulnya, album ini membawa pesan filosofis, yakni dunia multi semesta. Niatnya mengkritik berlapis-lapis realitas sosial dan politik di Indonesia, tetapi dibungkus dengan fiksi dunia yang pararel. Jadi, setiap semesta, yang disebut ”Earth”, menggambarkan dunia atau realitas tertentu.
Hampir semua lagu di album ini berbahasa Inggris, yang umumnya mengkritik fanatisme agama dan keyakinan, politik kebencian, pertarungan ideologi dalam logika oposisi biner. Secara musikal, Multiverses menolak dikungkung satu genre. Ia mencampurkan rock, blues, stoner rock, doom metal, gospel, motown, hingga hip hop dalam satu napas.
Setahun kemudian, Feast kembali menggebrak dengan album mini “Beberapa Orang Memaafkan”. Kali ini berbahasa Indonesia dan lebih memijak bumi. Album ini muncul hanya beberapa bulan setelah tragedi kelam menyelimuti Indonesia: serangan bom di Surabaya pada 13-14 Mei 2018, yang menewaskan belasan orang tak berdosa.
Lewat lagu ”Perabadan”, Feast menorehkan pesan kuat: aksi terorisme tidak akan pernah menang, karena peradaban tidak akan pernah mati. Pesan itu diperkuat oleh lagu lainnya, “Berita Kehilangan”. Konon, lagu ini terinspirasi dari seorang ibu yang menulis surat untuk anaknya sudah meninggal.
Pada lagu yang lain, “Minggir”, Feast mengkritik pendengung di media sosial yang justru memperkeruh suasana dan menabur konflik di tengah duka.

Pada lagu yang lain, “Apa Kata Bapak”, terselip kritik terhadap situasi pendidikan, tentang pengambil kebijakan dan pemimpin yang gagal memberi contoh seperti dalam slogan Ki Hadjar Dewantara yang menjadi slogan pendidikan nasional: Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.
Sedangkan lagu “Kami Belum Tentu”, berusaha melawan narasi bahwa anak muda apatis. Faktanya, anak muda cukup faham dengan isu-isu sosial dan politik, tetapi suara mereka kerap diabaikan.
Pada album mini “Uang Muka” pada 2020, Feast bicara soal ambisi pada uang memicu korupsi, konsumerisme, komoditifikasi di media sosial, dan komoditifikasi cinta.
Dan tibalah pada 2022, terbit album yang lebih politis, “Abdi Lara Insani”. Jika Iwan Fals punya Bento sebagai personifikasi dari manusia Orde Baru, maka Feast punya sosok Ali. Ia awalnya digambarkan sebagai seorang mahasiswa, lalu menjadi aktivis, terjun ke partai politik, dan akhirnya menjadi presiden.
Dimulai dengan pembuka ”Berhenti di Kotak Suara”, sebuah monolog yang dibacakan oleh Vincent Rompies, berkisah pesan orang tua kepada anaknya yang sedang kuliah. Kemudian lagu “Bintang Massa Aksi”, tentang Ali yang sudah aktivis mahasiswa dan sering turun ke jalan.
Kemudian ”Camkan”, lagu pada 2014 yang didaur ulang, tapi kini diletakkan dalam konteks perjalanan Ali yang mulai bersentuhan dengan isu nyata di lapangan. Lalu, lagu “Kuping Ini Makin Lalai” dan “Gugatan Rakyat Semesta” yang lebih tak ubahnya mars untuk massa yang berbaris dalam aksi protes. Dan terakhir, lagu “Jaya”, ketika Ali sudah menjadi presiden, tetapi tak tahu yang harus dilakukan.
Album “Abdi Lara Insani” merupakan kritik terhadap mereka yang menjadi aktivis sebagai jalan meniti karier: menjadi radikal di masa muda, tetapi menjadi pelanjut penindasan ketika sudah berada di dalam sistem.
Terbaru, pada 2024, mereka meluncurkan album ”Membangun dan Menghancuran”. Judulnya mengingatkan kata-kata Sukarno soal pengertian revolusi: menjebol dan membangun. Setelah banyak menembakkan kritik pada album-album sebelumnya, album ”Membangun dan Menghancurkan” lebih reflektif dan otokritik. Uniknya, album ini dibuka dengan lagu berjudul ”Membangun” dan ditutup dengan album ”Menghancurkan”.
Di album ini, ada beberapa lagu hits, seperti “O, Tuan” dan “Nina”. Lagu “O, Tuan” adalah sebuah pengakuan bahwa setiap perjalanan akan punya akhir, begitu juga kehidupan. Sementara lagu “Nina” adalah lagu persembahan Adnan, sang pemetik gitar, untuk anaknya.
Dari lirik menjadi aksi
Album-album Feast selalu muncul di momen yang tepat. Album “Beberapa Orang Memaafkan” muncul tepat ketika bangsa ini sedang dikoyak fanatisme agama, polarisasi politik, dan umbaran kebencian di media sosial.
Kemudian, album “Abdi Lara Insani” lahir di tengah pasang aksi protes yang digelar oleh mahasiswa dan rakyat Indonesia, di mulai dari Reformasi Dikorupsi (2019), protes Omninus Law (2020), Mosi Tidak Percaya (2022), Peringatan Darurat (2024), dan Indonesia Gelap (2025).
Dalam pasang protes itu, Feast tak hanya bersuara lewat lirik lagu, tetapi dengan aksi langsung. Tahun 2019, saat tampil di Synchronize Fest 2019, bertepatan dengan menggelindingnya protes Reformasi Dikorupsi, Feast menyampaikan dukungan. Dari atas panggung, mereka melontarkan pernyataan dukungan.
“Kalian baik-baik saja? Namun sayangnya Indonesia kurang,” ucap Fikriawan, sang bassist, menyapa penonton. Sementara Haryo Bodat, sang penabuh drum, sudah memasang bendera Reformasi Dikorupsi.
Tahun 2024, ketika DPR ngotot mengesahkan RUU Pilkada untuk menganulir putusan MK, Bagaskara hadir bersama puluhan ribu demonstran di depan gedung DPR-RI.
Tahun 2025, ketika RUU TNI hendak disahkan diam-diam, saat tampil di KLBB Festival 2025 di kawasan Parkir Plaza Timur GBK, tulisan “Tolak RUU TNI” dan “Indonesia Gelap” muncul di layar besar sebagai latar panggung Feast.
Saat tampil di RI Fest 2025 di JIExpo Kemayoran, Awan melihat dari panggung ada penonton yang moshing sambil membawa bendera One Piece diduga dipukuli oleh oknum polisi.
“Gila, orang moshing biasa aja bawa bendera One Piece itu enggak usah dipukulin kali, pak. Biarin aja, selama enggak ada yang maling. Kalau maling lu pukulin, kalau moshing jangan. Lu dibayar juga pakai duit-duit mereka,” kata Awan.
Ia kemudian melanjutkan dengan sindiran yang lebih luas: “Gimana? 17-an ya, bentar lagi ya, masih kayak gitu tuh. Pajak aja ditarikin makin gede. Katanya bangsa yang besar, besar pajaknya. Gila.”
Baru-baru ini, saat peringatan aksi Kamisan ke-19 tahun, Baskara hadir di tengah-tengah massa di depan Istana Negara. Ia turut menyampaikan refleksinya soal aksi itu. Dia mengaku mulai mengenal aksi Kamisan sejak duduk di bangku SMP.
Ia menyampaikan rasa kagetnya ketika menemukan komentar di TikTok yang menuding aksi Kamisan hanyalah isu lima tahunan yang “digoreng” tiap kali masa pemilu saja.
“Sumpah gua enggak yang tiap minggu di sini tapi gua yang sakit hati bacanya. Saya enggak kebayang gimana rasanya kalau baca itu sebagai kawan-kawan yang berorganisir ini tiap minggu,” ujar Baskara.
Tentu saja, aktivisme itu kerap ada saja yang menanggapi miring. Ada yang menuding Feast hanya mengambil Bandwagon effect dari pasang aktivisme. Mereka pun membantah.
”Sebenarnya dari dulu kami berlima sudah aktif dalam dunia aktivisme. Sebelum Feast merilis singel pertama, kami juga sudah banyak terlibat dalam komunitas pergerakan dan membantu berbagai bentuk advokasi,” kata Baskara dalam siaran langsung Sounds Rights melalui akun Youtube Amnesty International Indonesia pada 2020 lalu.
Indonesia hari-hari ini memang kurang baik. Ketimpangan semakin melebar, lapangan kerja makin sulit, dan biaya hidup terus merangkak naik. Sementara itu, ruang demokrasi semakin sempit, semakin banyak represi, dan semakin sering suara kritis dibungkam.
Dan Indonesia membutuhkan Feast sebagai pelantang keresahan sosial rakyat Indonesia.










