Tom Morello, Dari Musik Perlawanan hingga Gerakan Anti-Trump

Presiden Donald Trump yang mengirim teror ke seantero Amerika Serikat (AS) lewat kebijakan imigrasi fasistik, mendapatkan gelombang perlawanan dari masyarakat. Mereka menentang pengerahan petugas Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang mendatangi pabrik, sekolah, hingga rumah-rumah untuk menangkapi orang-orang yang dianggap imigran ilegal.

Di antara mereka yang berdiri tegak melawan dengan gagah berani adalah Tom Morello. Jika kamu generasi yang besar tahun 1990-an dan telingamu akrab dengan musik cadas, nama Tom Morello seharusnya tidak asing lagi. Dia salah satu pentolan band kiri ngetop pada masanya, Rage Against The Machine (RATM). Majalah Rolling Stones pernah menempatkannya di peringkat ke-18 gitaris terbaik sepanjang masa.

Di tangannya, gitar tak hanya menjadi alat musik. Alat musik itu bermetamorfosis menjadi senjata sonik, sebuah antena yang menyalurkan semua kegelisahan zaman, sebuah lightning rod yang menarik petir ketidakadilan lalu meledakkannya ke wajah dunia. Tulisan “Arm the Homeless” yang tergores di tubuh gitarnya bukanlah slogan, melainkan sebuah seruan pemberontakan.

Lahir dari keluarga aktivis

Tom Morello lahir di Harlem, New York, pada 30 Mei 1964, dari keluarga aktivis. Bapaknya, Ngethe Njoroge, seorang jurnalis yang pernah terlibat dalam gerakan Mau-Mau untuk pembebasan Kenya dari kolonialisme. Sementara ibunya, Mary Morello, seorang guru dan aktivis.

Tidak heran, sejak belia, dinding kamarnya dihiasi foto Jomo Kenyatta, presiden pertama Kenya yang juga pamannya. Rak bukunya diisi oleh karya-karya pembebas Afrika seperti Kwame Nkrumah dan ikon revolusioner Che Guevara. Ia mengaku punya koleksi buku Che Guevara, Guerrilla Warfare.

Tom Morello kecil. Kredit: pitchfork.com

Begitu mulai serius bermusik, kira-kira usia 13 tahun, ia tak pernah memisahkan musik dan perlawanan. Dari band masa kecilnya, Nebula, hingga karier profesionalnya bermula bersama Lock Up dan berpuncak di RATM. Posisi bermusik Tom sudah jelas: musik dan perlawanan harus selalu dalam satu tarikan napas yang sama.

Yang menarik, meski sibuk bermusik, pendidikan Tom Morello tidak keteteran. Bahkan sangat mentereng. Ia adalah alumnus dari kampus ternama di AS, Harvard. Ia mengambil Ilmu Politik.

Berkibar bersama RATM

Tahun 1991, ia bertemu Zack de la Rocha, lalu menginisiasi lahirnya RATM. Mereka kemudian merekrut Brad Wilk sebagai drunmer dan Tim Commerford untuk memainkan bass.

Album pertama mereka, Rage Against The Machine, langsung meledak. Sampulnya bergambar aktivis Budha yang melakukan aksi bakar diri di Saigon, Vietnam, pada 1963. Lagu-lagunya tak kalah meledak: Killing in the Name, Know Your Enemy, Wake Up, Bombtrack, Freedom, dan Take the Power Back.

Album kedua, Evil Empire (1994), semakin ke kiri. Ada lagu Bulls on Parade dan Vietnow. Menariknya, dalam buku kecil CD album kedua ini disertakan gambar tumpukan buku kiri, seperti Capital Vol 1 karya Karl Marx, Guerilla Werfare karya Che Guevara, The Wretched of the Earth dari Frantz Fanon, The Anarchist Cookbook dari William Powell, dan masih banyak lagi.

Kemudian, pada 1999, beiringan dengan pasang gerakan anti-globalisasi dan kapitalisme, RATM merilis album ketiga: The Battle of Los Angeles. Di sini ada lagu Guerilla Radio, Testify, Calm Like a Bomb, dan Sleep Now in Fire.

Album terakhir sebelum bubar, Renegades (2000), mulai berisi banyak lagu cover, seperti The Ghost of Tom Joad (Bruce Springsteen), Maggie’s Farm (Bob Dylan), dan Street Fighting Man (The Rolling Stones).

Rage Against the Machine pada tahun 2007. Kiri ke kanan: Tim Commerford, Zack de la Rocha, Brad Wilk, Tom Morello. Kredit: OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tahun 2000, Morello dan RATM membuat aksi gila. Saat membuat video clip untuk Sleep Now in the Fire, yang disutradarai oleh Michael Moore, di pintu Bursa Efek New York (NYSE), mereka berusaha menerobos masuk gedung itu. Aksi mereka dihentikan polisi, dan sejumlah personel RATM ditangkap.

“Selama beberapa menit, Rage Against the Machine berhasil menghentikan kapitalisme Amerika, sebuah tindakan yang saya yakin akan disambut sorak-sorai oleh puluhan ribu warga yang kehilangan pekerjaan,” kenang Michael Moore.

Sayang, di puncak kejayaan itu, ketika RATM mulai menjadi ikon musik anti-kapitalisme dan kemapanan, Zack de la Roca mengumumkan penguduran diri. Ia merasa jengah dengan merosotnya proses demokrasi di dalam RATM. Sementara, bagi Tom Morello, personel terlalu banyak berdebat dan berkelahi dalam berbagai hal, sampai hal-hal yang remeh.

Menyanyi solo dan terus berlawan

Setelah RATM bubar, Tom Morello tak memilih menepi. Ia terus melanjutkan bermusik dan berlawan. Bersama pentolan RATM yang tersisa, ditambah Chris Cornell (vokalis Soundgarden), Tom Morello mendirikan Audioslave.

Grup musik ini tak begitu bersinar terang. Lagu-lagunya tak sekiri dan semeledak RATM. Meskipun beberapa lagu mereka juga populer, seperti Like a Stone.

Di sela-sela Audioslave, Tom kerap tampil solo di bawah bendera The Nightwatchman. Lewat panggung solo ini, ia menyanyikan lagu-lagu perlawanan. The Nightwatchman ibarat tempat Tom mengekspresikan suaranya yang tak tersuarakan di Audioslave.

Meskipun The Nightwatchman menelurkan beberapa album, seperti One Man Revolution (2007) dan The Fabled City (2008), dan beberapa lagunya lumayan menarik seperti One Man Revolution, aksi solo ini tak banyak berkibar.

RATM menyanyi di depan Bursa Efek New York (NYSE). Kredit: vinforte.substack.com

Lahirnya Prophet of Rage

Seiring dengan pasang politik kanan di AS dengan arus utamanya adalah Trumpisme, Tom Morello merasakan perlunya sebuah grup musik yang menyerupai RATM.

Akhirnya, pada 2016, ia menyatukan serpihan tiga grup musik yang mulai meredup: RATM, Public Enemy dan Cypress Hill. Tiga pentolan RATM bergabung di sini, yaitu Tom Morello, Tim Commerford dan Brad Wilk. Ditambah DJ Lord dan Chuck D dari Public Enemy, lalu B-Real dari Cypress Hill.

“Kami adalah satgas elite dari musisi revolusioner yang bertekad menghadapi bergunung-gunung kebohongan dalam tahun pemilu ini (pemilu 2016, yang dimenangkan Donald Trump),” tegasnya, seperti dikutip Rolling Stone.

Logo grup band ini pun kiri banget: bintang merah dan tangan terkepal. Mirip-miriplah dengan RATM. Dan tak lekang dari ingatan, gitar warna putih Tom Morello dengan tulisan “Arm the Homeless”-nya masih dibawa dan dipakai manggung bersama Prophet of Rage.

Seakan ingin mengimbangi kampanye Trump, Make America Great Again (MAGA), Prophet of Rage juga mengobarkan kampanye: Make America Rage Again. Slogan ini kemudian diracik menjadi kampanye politik melalui tur musik ke sejumlah kota di Amerika Serikat.

Morello sangat dipengaruhi Joe Hill, seorang aktivis dan penulis lagu perjuangan keturunan Swedia yang menghabiskan hidupnya di AS.

Ada perkataan Joe yang benar-benar terpapar dalam ingatan Morello dan membuatnya sangat percaya pada dahsyatnya kekuatan lirik lagu, “Sebuah pamflet, tidak peduli sebagus apa pun, tidak pernah dibaca lebih dari sekali. Tetapi lagu dipelajari dengan hati dan diulang berkali-kali.”

Lagu-lagu Prophet of Rage banyak mengangkat derita rakyat jelata, terutama pekerja dan kaum miskin. Kadang-kadang diungkapkan dengan alegori kemarahan. Seperti dalam sebait lirik di lagu Unfuck World: poverty hit home like war zone.

Tom Morello menentang kebijakan deportasi paksa Trump. Kredit: Taylor Hill via Getty Images

Terus berlawan

Hari-hari ini, setelah Trump memenangkan pemilu untuk menjabat presiden untuk periode kedua, AS seperti mengalami arus balik. Negeri yang dulu dianggap surga kebebasan, yang tangannya terbuka kepada siapa saja yang hendak mengadu nasib, sekarang dikuasai oleh kampanye kebencian terhadap imigran dan minoritas.

Menghadapi arus reaksioner itu, Tom Morello berdiri di garis depan. Di sinilah keyakinannya pada Joe Hill diuji dan dibuktikan: di tengah “gunung-gunung kebohongan” yang dibangun oleh Trump, pamflet berisi fakta tak lagi cukup. Rakyat butuh suara untuk dinyanyikan bersama, sesuatu yang membakar semangat saat harapan terasa dingin. Itulah peran yang dimainkan Morello. Ia menyediakan soundtrack bagi perlawanan. Riff gitarnya yang menggelegar menjadi suara pengiring perjuangan, dan liriknya yang tajam menjadi mantra bagi mereka yang berbaris di jalanan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Selamat Jalan Elang Portugal, Diogo Jota

Selamat Jalan Elang Portugal, Diogo Jota

Kepergiannya dalam sebuah kecelakaan tragis di Spanyol bukanlah sekadar

Next
Indonesia Butuh “Rent Kontrol”

Indonesia Butuh “Rent Kontrol”

Di media sosial viral video seorang warga memperlihatkan iklan rumah di kawasan

You May Also Like
Total
0
Share