Jakarta adalah kota megapolitan yang sesak, dihuni lebih dari 11 juta jiwa. Kota ini dipenuhi lautan gedung pencakar langit, juga kemacetan yang tak berkesudahan.
Di tengah hiruk pikuk dan polusi, kebutuhan akan taman kota bukan lagi sekadar pelengkap estetika dan keindahan kota, melainkan sebuah kebutuhan mendesak yang krusial bagi kelangsungan hidup, kebahagiaan dan kesehatan mental warganya.
Sayangnya, realita Jakarta menunjukkan bahwa persentase ruang terbuka hijau (RTH) kita masih sangat minim—diperkirakan hanya sekitar 5,2 persen dari luas wilayah, jauh di bawah amanat undang-undang sebesar 30 persen.
Kesenjangan inilah yang membuat setiap jengkal ruang hijau di ibu kota menjadi pertaruhan abadi: apakah ia akan menjadi sepetak rumput tempat anak-anak bermain, tempat kaum pekerja melepas penat, dan tempat gratis bagi keluarga untuk berbagi canda-tawa atau beralih fungsi menjadi apartemen, mal, atau gedung perkantoran baru?
Dilema klasik Jakarta
Jakarta adalah contoh sempurna dari dilema klasik perkotaan. Dengan laju pembangunan yang masif, lahan di Jakarta memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Seringkali, ruang terbuka hijau dianggap sebagai “lahan kosong” yang “tidak produktif” sehingga harus dimaksimalkan untuk pembangunan yang mendatangkan keuntungan finansial cepat.
Namun, cara pandang ini adalah sebuah kekeliruan fatal yang mengabaikan manfaat jangka panjang RTH. Kualitas hidup jutaan warga Jakarta, sebuah kota yang juga rentan terhadap banjir dan polusi udara, sangat bergantung pada ketersediaan ruang hijau yang memadai. Taman kota tidak hanya menyerap air dan mengurangi panasnya suhu, tetapi juga berfungsi sebagai katup pelepas tekanan psikologis.
Lantas, bagaimana kita menempatkan nilai yang adil pada sepetak Taman Suropati atau Hutan Kota Srengseng untuk bisa membandingkannya dengan nilai ekonomi sebuah gedung pencakar langit?
Nilai yang tak terukur
Selama ini, pengukuran nilai taman sering dilakukan dengan melihat kenaikan harga properti di sekitarnya, sebuah metode yang memiliki banyak keterbatasan dan terlalu ekonomistik. Untuk kota sepadat Jakarta, kita membutuhkan pendekatan yang lebih jujur dalam mengukur kesejahteraan warga.
Pendekatan revolusioner yang ditawarkan oleh peneliti kesejahteraan, Christian Krekel, memberikan perspektif baru. Alih-alih mengukur harga properti, ia menggunakan data kesejahteraan atau kebahagiaan warga untuk mengukur nilai sejati sebuah taman. Walaupun studi kasus ini dilakukan di Jerman, temuan ini relevan untuk diterapkan dalam konteks Jakarta, kota yang dipenuhi tekanan dan tingkat stres tinggi.
Bayangkan Jakarta di masa ekstrem, seperti saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama pandemi Covid-19. Bagi jutaan warga yang terkurung di rumah, keberadaan sebuah taman di dekat hunian tiba-tiba menjadi jauh lebih berharga. Pandemi menjadi “laboratorium” alami yang menunjukkan fungsi vital taman sebagai benteng pertahanan mental.
Dengan menganalisis data kepuasan hidup warga (sebuah indikator yang valid untuk mengukur kesejahteraan personal) sebelum dan selama pembatasan, penelitian tersebut menemukan tiga hal kunci yang sangat penting bagi konteks Jakarta.
Pertama, kepuasan hidup yang meroket. Warga yang tinggal di dekat ruang hijau melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi secara signifikan selama masa-masa pembatasan. Di Jakarta, di mana banyak hunian sempit dan fasilitas terbatas, taman menjadi satu-satunya pelarian yang aman.
Kedua, benteng pertahanan mental. Tinggal di dekat taman terbukti secara signifikan mengurangi gejala gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, dan perasaan kesepian. Bagi warga Jakarta yang setiap hari dihadapkan pada kebisingan, kemacetan, dan tekanan hidup, taman berfungsi sebagai “penyangga” atau buffer vital yang menjaga kewarasan.
Ketiga, nilai dalam rupiah. Studi tersebut berhasil mengkuantifikasi nilai manfaat taman, yang dihitung dari seberapa besar kompensasi yang dibutuhkan individu tanpa akses taman agar bisa mencapai tingkat kebahagiaan yang sama. Angka ini, bahkan dalam estimasi paling konservatif di masa normal, menunjukkan bahwa nilai taman bagi kesejahteraan mental individu mencapai jutaan rupiah per tahun. Jika dikalikan dengan lebih dari 11 juta penduduk Jakarta, manfaat kolektifnya bernilai triliunan.
Asuransi kebahagian jangka panjang
Nilai uang tersebut mungkin muncul dalam kondisi krisis ekstrem, tetapi ia mengungkap nilai sejati taman sebagai “asuransi” kolektif. Bahkan dengan memperhitungkan probabilitas terjadinya krisis serupa di masa depan, nilai manfaat tahunan dari taman jauh lebih besar daripada sekadar nilai ekonomis lahannya.
Angka ini baru memperhitungkan peran taman sebagai benteng pertahanan mental di masa krisis. Ia belum mencakup manfaat dasar yang sudah kita nikmati sehari-hari: udara yang lebih bersih di tengah polusi Jakarta, ruang berolahraga, tempat bersosialisasi yang aman, hingga peningkatan kualitas tidur.
Intinya, ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berjuang mengejar target RTH publik, kita harus berhenti melihat sepetak lahan hijau di tengah kota sebagai biaya yang harus dikorbankan. Sebaliknya, kita harus melihatnya sebagai investasi krusial untuk kesehatan, kesejahteraan jiwa kolektif, dan kelangsungan hidup jutaan warga Jakarta. Berkat krisis global, kini kita memiliki data kuat yang membuktikan bahwa nilai taman jauh lebih berharga daripada yang pernah kita bayangkan. Membangun banyak taman adalah cara paling bijak untuk memastikan Jakarta bukan hanya kota yang maju secara ekonomi, tetapi juga kota yang sehat dan bahagia bagi warganya.










