Awal April 1982, pasukan komando Argentina mulai mendarat di Malvinas. Dalam waktu singkat, mereka berhasil melumpuhkan segelintir tentara Inggris di pulau tersebut.
Inggris, yang mengklaim pulau itu dengan nama Kepulauan Falkland sejak 1833, langsung bereaksi. Perdana Menteri Inggris masa itu, Margaret Thatcher, langsung memerintahkan militer Inggris untuk merebut kembali pulau tersebut.
Setelah pertempuran 74 hari, Argentina menyerah. La Albiceleste mengalami kekalahan telak: 650 tentara Argentina gugur dan 11,3 ribu orang ditangkap. Satu kapal perang Argentina, ARA General Belgrano, turut ditenggelamkan militer Inggris.
Berebut klaim Malvinas
Kepulauan Malvinas terdiri dari gugusan kepulauan yang terletak di Samudera Atlantik Selatan. Jarak Malvinas ke pantai terdekat Argentina (Provinsi Tierra del Fuego atau Patagonia) hanya berkisar antara 480 hingga 500 kilometer. Secara geologis, kepulauan ini berada di atas landas kontinen (continental shelf) Benua Amerika Selatan.
Sebaliknya, jarak kepulauan ini ke London, Inggris, mencapai sekitar 12.900 hingga 13.000 kilometer. Transportasi logistik dan militer dari Inggris memerlukan perjalanan melintasi Samudra Atlantik dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan. Secara geografis, kepulauan ini sepenuhnya terisolasi dari daratan Eropa.
Klaim penemuan Malvinas saling tumpang-tindih antar orang-orang Eropa: Spanyol, Prancis, dan Inggris. Esteban Gómez, pelaut Portugis, diyakni sebagai orang pertama yang melihat pulau ini pada 1520. Disusul John Davis, pelaut Inggris, sekitar 70 tahun kemudian.
Pada 1600, Sebald de Weert, seorang kapten dari kongsi dagang Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), menjadi orang pertama yang berhasil memetakan pulau ini secara akurat.
Pada 1690, John Strong, seorang pelaut Inggris, menjadi orang pertama yang mendarat di Malvinas. Ia menamai perairan di antara pulau-pulau tersebut dengan nama “Falkland Channel” (sekarang Falkland Sound) untuk menghormati salah satu donatur pelayarannya, Viscount Falkland.
Pemukiman pertama di pulau ini justru dipelopori orang Prancis, Louis Antoine de Bougainville. Orang-orang Prancis menyebut kepulauan ini Les Îles Malouines. Kelak, nama ini yang diadopsi oleh orang Spanyol dengan menyebutnya Islas Malvinas.
Hanya berselang satu tahun, pada 1765, kapten Inggris John Byron mendarat di Pulau Saunders (lepas Pantai Malvinas Barat) dan mendirikan pemukiman bernama Port Egmont, tanpa mengetahui keberadaan orang Prancis di sisi pulau lainnya. Inggris mengklaim seluruh kepulauan atas nama Raja George III.
Karena menghindari gesekan, Prancis menyerahkan pemukiman Port Louis kepada Kerajaan Spanyol pada tahun 1767, setelah menerima kompensasi. Spanyol, yang saat itu menjajah Argentina, menunjuk gubernur militer untuk mengontrol wilayah itu. Spanyol kemudian mengusir pemukim Inggris.
Setelah merdeka dari Spanyol, Argentina mengklaim wilayah Malvinas. Pada tahun 1820, Argentina mengirim kapal perang Heroína untuk menegaskan klaim mereka. Namun, ekspedisi ini berbenturan dengan kepentingan Amerika Serikat. Mereka pun terusir.
Pada 1833, Inggris mengirim kapal perang HMS Clio ke Malvinas. Begitu tiba di sana, militer Inggris memaksa militer dan warga sipil Argentina itu menurunkan bendera dan pergi dari pulau tersebut. Sejak itu, Inggris bersikukuh bahwa Malvinas (yang mereka sebut sebagai Falkland) sebagai wilayahnya.
Kekalahan memalukan
Sejak pertengahan 1960-an, militer silih-berganti melancarkan kudeta dan mendirikan junta di Argentina. Setelah sempat disela oleh pemerintahan sipil, Juan Peron dan istrinya Isabel Perón, militer kembali melancarkan kudeta pada 1976.
Jorge Videla, seorang jenderal militer, tampil di tampuk kekuasaan. Ia memerintah dengan tangan besi. Kelompok oposisi, baik nasionalis peronis maupun sosialis dan komunis, menjadi sasaran represi. Ada operasi militer yang disebut “perang kotor” (guerra sucia) untuk menangkapi aktivis, seniman, akademisi, buruh, petani, bahkan ibu rumah tangga yang dicap “kiri”.
Lebih dari 30.000 warga sipil, aktivis, mahasiswa, dan penentang politik “dilenyapkan” secara paksa (desaparecidos). Ada yang diculik, dibunuh, disekap, bahkan tak sedikit yang diculik dan dibuang ke Samudera Atlantik.
Terpojok dengan isu pelanggaran HAM, rezim Videla mencoba memperbaiki citra ketika Argentina menjadi tuan rumah Piala Dunia 1978. Ada banyak catatan sejarah yang menyebut bahwa pertandingan Piala Dunia hanya berjarak sekitar 1 kilometer dengan kamp penyiksaan di Escuela Superior de Mecánica de la Armada (ESMA).
Setelah rezim militer silih berganti berkuasa, pada 1981, seorang jenderal naik ke tampuk kekuasaan. Namanya, Leopoldo Galtieri. Namun, seperti jenderal-jenderal yang berkuasa sebelumnya, mereka tak becus mengurus ekonomi.
Krisis ekonomi mencekik Argentina. Angka inflasi melonjak drastis menembus 140 persen hingga 600 persen per tahun. PDB anjlok. Industri manufaktur kolaps. Pengangguran dan kemiskinan merangkak naik.
Namun, rezim militer kesulitan untuk mengemis ke Barat. Kasus perang “kotor” (guerra sucia) mencoreng muka mereka.
Menjelang April 1982, protes atas kondisi ekonomi yang memburuk semakin meluas. Dalam kondisi terpojok, rezim militer di bawah Leopoldo Galtieri berusaha menjadikan Malvinas sebagai pengalihan isu. Mereka menduga, Inggris yang tengah memangkas anggaran pertahan lautnya tidak akan repot-repot mengirim bala tentara ke Malvinas.
Pada 2 April 1982, Argentina meluncurkan Operasi Rosario. Pasukan komando amfibi Argentina mendarat di Stanley, mengepung rumah gubernur, dan memaksa garnisun kecil marinir Kerajaan Inggris untuk menyerah. Kemenangan kecil ini memicu euforia di Buenos Aires dan kota-kota Argentina lainnya. Rezim militer merasa berhasil mencapai tujuannya.
Ternyata cerita selanjutnya berbeda. Perdana Menteri Inggris kala itu, Margaret Thatcher, langsung mengerahkan angkatan laut untuk merebut kembali Malvinas. Setelah bertempur 74 hari, tentara Argentina terpojok. Kapal penjelajah Argentina, ARA General Belgrano, berhasil ditenggelamkan. Ada 323 pelaut Argentina, mayoritas anak muda dan kaum miskin, tewas.
Kejadian itu benar-benar memalukan bagi orang-orang Argentina. Rakyat Argentina marah. Demonstrasi anti rezim militer meledak di Buenos Aires dan kota-kota besar lainnya. Jenderal Jenderal Galtieri terpaksa lengser. Tahun 1983, Argentina kembali ke jalan demokrasi.
Reaksi Maradona
Diego Maradona, yang namanya sudah berkibar di masa itu, menyaksikan kejadian tersebut ketika baru saja menginjakkan kaki di Spanyol. Hari itu, Maradona resmi bermain untuk Barcelona.
“Kami, sebagai orang Argentina, tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh militer. Mereka memberitahu kami bahwa kami memenangkan perang. Namun kenyataannya, Inggris menang 20-0. Itu sangat berat,” kata Maradona.
Ia pun mengecam rezim militer yang mengirim anak-anak muda, sebagian besar dari keluarga miskin, ke perang Malvinas. Baginya, tindakan itu seperti mengirim anak-anak Argentina ke pembantaian.
“Kami tahu mereka telah membunuh banyak anak-anak Argentina di sana, membunuh mereka seperti burung,” ujarnya.
Rasa malu sekaligus marah atas kejadian di Malvinas terus membekas dalam ingatan Maradona. Hingga datanglah momentum Piala Dunia 1986.
Kepahlawanan Maradona
Maradona datang ke Piala Dunia 1986 di Meksiko sebagai bintang besar. Namanya sudah berkibar di sepak bola Eropa, tepatnya di Napoli. Ia berhasil membawa klub semenjana itu menjuarai Seri-A sebanyak dua kali dan Piala Eropa (UEFA) satu kali.
Di Piala Dunia 1986, setelah lolos dari fase grup dan menyingkirkan Uruguay di babak gugur, Argentina bertemu dengan Inggris di perempat final. Karena hanya berjarak empat tahun dari tragedi Malvinas, pertandingan itu berubah menjadi politis.
“Bagi kami, sebelum pertandingan 1986, yang kami pikirkan hanyalah tahun 1982. Rasa sakit karena kekalahan itu masih sangat baru. Di lapangan, kami ingin bertarung demi mereka yang kehilangan nyawanya di Malvinas,” kata Maradona.
Dan Maradona mengubah pertandingan itu sebagai panggung pembalasan atas Malvinas. Pada menit ke-51, memanfaatkan bola hasil sapuan pemain Inggris, Steve Hodge, yang melambung ke dekat gawang, Maradona berduel di udara dengan kiper Inggris, Peter Shilton. Saat itu, Maradona menggunakan tangan kirinya untuk mengarahkan bola ke gawang. Dan, gol.
“Ini sebuah keajaiban, bahwa bumi ini tidak miring dari sumbunya ketika ada jutaan orang meloncat kegirangan memuji gol Maradona,” kata Emir Kusturica, sutradara Serbia pembuat film “Maradona”. Ia turut menyaksikan pertandingan itu dari rumahnya di Sarajevo, Serbia.
Empat menit kemudian, Maradona melakukan aksi yang lebih gila. Ia menggiring bola dari tengah lapangan, melewati lima pemain bertahan Inggris, lalu menceploskannya ke gawang.
“Golll. Diego! Manusia dari planet mana kau berasal, yang mengubah seluruh negeri jadi kepalan tangan dan berteriak untuk Argentina,” begitu teriakan komentator TV saat merayakan gol Maradona ke gawang Inggris.
Gol kedua Maradona itu dinobatkan sebagai “Goal of the Century”. Dalam sekelebat mata, Stadion Azteca bergemuruh. Suporter Argentina tak hanya merayakan sebuah gol, tetapi juga sebuah pembalasan atas Malvinas.
“Itu seperti mengalahkan sebuah negara, bukan hanya tim sepak bolanya,” kata Maradona.
Tidak hanya menyingkirkan Inggris, Maradona juga membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986, setelah La Albiceleste mengalahkan der Panzer di final.
Gol tangan Tuhan memang menjadi kontroversi selama bertahun-tahun. Namun, bagi rakyat Argentina, “gol tangan Tuhan” bukan cheating biasa, melainkan pertunjukan viveza criolla, kecerdikan khas Amerika Latin yang digunakan untuk melawan kekuatan besar.
Kemenangan 1986 mengubah Maradona menjadi dewa hidup. Ia membawa Argentina juara dunia, meraih Ballon d’Or turnamen, dan menjadi simbol kebangkitan nasional setelah trauma perang.










