Pada 1 Juni 1978, Piala Dunia kedua resmi dihelat. Di Stadion El Monumental, Buenos Aires, Argentina, di bawah sorot mata 70 ribu penonton, acara pembukaan berlangsung sangat megah dan meriah.
Ribuan burung merpati dilepas ke udara sebagai simbol perdamaian. Di tengah lapangan, ribuan muda-mudi berlari membentuk formasi huruf “Argentina 78”. Sebagai puncak acara, Jenderal Jorge Videla berpidato.
“Saya memohon kepada Tuhan, agar ajang ini benar-benar menjadi kontribusi bagi penguatan kedamaian, kedamaian yang sama yang kita semua harapkan bagi seluruh dunia dan bagi semua manusia di dunia. Kedamaian di mana manusia dapat diwujudkan sepenuhnya sebagai pribadi yang memiliki martabat dan kebebasan,” katanya.
Pidato itu menyimpan kebohongan besar. Sekitar 3 kilometer dari Stadion El Monumental, di sebuah tempat bernama Escuela Superior de Mecánica de la Armada (ESMA), kekejian tiada tara sedang berlangsung. Ribuan orang aktivis mahasiswa, buruh, jurnalis, dosen, seniman, bahkan ibu rumah tangga, disiksa hingga meregang nyawa.
Dulunya ESMA adalah sekolah pelatihan bagi bintara Angkatan Laut Argentina. Namun, setelah kudeta militer berdarah pada 1976, tempat itu berubah menjadi pusat penahanan, penyiksaan, dan eksekusi bagi orang-orang yang dicap kiri.

//
Pada 1966, setelah pengunduran diri Meksiko, Argentina terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 1978. Hari-hari itu, politik Argentina penuh gonjang-ganjing.
Sebulan sebelum penetapan itu, tentara yang dipimpin Jenderal Juan Carlos Onganía melancarkan kudeta. Sang jenderal naik ke tampuk kekuasaan. Namun, di bawah kekuasaan presiden yang antimusik barat dan rok mini ini, ekonomi Argentina semakin terjun bebas. Ketidakpuasan pun membuncah. Di atas gelombang ketidakpuasan itu, kelompok gerilyawan kiri bermunculan. Salah satunya, Montoneros, yang mengambil jalan gerilya kota.
Memasuki tahun 1970-an, rezim militer semakin tak sanggup mengendalikan inflasi dan kemerosotan ekonomi. Dalam kondisi terpojok, militer mulai melunak dan menyetujui pemilu. Pada pemilu 1973, kandidat Peronista, Héctor Cámpora, menang. Namun, ia hanya berkuasa sebentar untuk memberi jalan pada Juan Peron, Presiden Argentina (1946-1955) sekaligus Bapak Peronista, untuk kembali ke tampuk kekuasaan.
Juan Peron berhasil memenangkan pemilu 1973. Namun, setahun kemudian, Juan Peron wafat. Jabatannya digantikan oleh istri ketiganya, Isabel Perón. Di bawah Isabel Peron, Argentina kian karam. Krisis ekonomi tak terkendali. Situasi politik lebih-lebih tak terkendali. Di tengah kekacauan, pada 24 Maret 1976, tentara di bawah Jenderal Jorge Videla melancarkan kudeta.
//
Begitu berkuasa, Jorge Videla memerintah dengan tangan besi. Pendekatan pasar bebasnya justru menggiring ekonomi Argentina semakin mendekati tepi jurang. Utang luar negeri melonjak signifikan.
Berhadapan dengan potensi radikalisme kiri, Jorge Videla melancarkan apa yang disebut “perang kotor” (guerra sucia). Puluhan ribu orang kiri, dari mahasiswa, buruh, seniman, petani, intelektual, wartawan, dokter, hingga orang biasa, diculik, ditangkap, dan disiksa. Perang paling berdarah dalam sejarah Argentina itu didukung sepenuhnya oleh Amerika Serikat.

Pada masa itu, ada yang disebut penerbangan maut (Vuelos de la Muerte). Aktivis diculik, dibius, ditelanjangi, dimasukkan dalam karung, lalu diangkut pesawat militer dan dibuang dalam kondisi hidup di Samudra Atlantik atau Sungai Río de la Plata. Sungguh keji rezim militer itu.
Ada juga penculikan bayi-bayi, terutama anak aktivis dan mereka yang lahir di penjara perempuan. Bayi-bayi itu diganti identitasnya, lalu diserahkan untuk diadopsi oleh keluarga lain. Sejak 1977 hingga hari ini, ibu-ibu dari anak ini, yang kelak menamai diri Madres de Plaza de Mayo, menggelar aksi rutin setia Kamis untuk mencari tahu keberadaan anak-anaknya.
Yang terakhir, ada 5.000-an aktivis itu yang ditangkap, ditahan, dan disiksa di pusat penyiksaan di Sekolah Mekanik Angkatan Laut (ESMA). Mereka disekap di atas loteng bangunan yang sempit, dipaksa berbaring di lantai beton, dirantai pada kaki dan tangan, tanpa diizinkan mandi dan berbicara. Mereka tidur bersama air kencingnya.
//
Sayup-sayup berbagai kekejaman rezim militer terdengar di luar negeri. Karena itu, rezim Videla berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan Piala Dunia 1978 sebagai plester untuk menutupi luka-luka kekejaman itu.
Menyelenggarakan Piala Dunia dengan pembukaan yang megah dan meriah, rezim militer hendak menunjukkan ke seluruh dunia bahwa Argentina baik-baik saja. Bahkan sangat aman dan jauh dari kekacauan. Ia bahkan menuding segala tudingan soal pelanggaran HAM di Argentina sebagai “plot anti-Argentina” yang digerakkan oleh antek-antek asing.
Selain itu, secara internal, rezim militer hendak menggunakan Piala Dunia untuk menjahit persatuan nasional. Dengan segala kemeriahan Piala Dunia, ditambah penampilan apik La Albiceleste di lapangan hijau, rakyat Argentina akan lupa dengan segala desas-desus penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan keji para aktivis. Semua tujuan itu akan sempurna jika Argentina merebut trofi pertama Piala Dunia.
Segala cara pun dihalalkan. Mulai dari pengaturan skor, intimidasi psikologis, pengaturan jadwal, hingga suap. Di babak penyisihan, Argentina hanya menjadi runner-up. Di babak kedua, agar bisa lolos langsung ke final menyalip Brasil yang di puncak grup, Argentina butuh minimal empat gol kemenangan atas Peru.
Di sinilah rezim militer bekerja. Di babak penyisihan, Peru tampil perkasa. Namun, saat bertemu Argentina di babak kedua, Peru tiba-tiba tampil melempem. Sebelum kick-off, Jorge Videla ditemani Henry Kissinger mendatangi ruang ganti Timnas Peru. Konon, Videla berpidato tentang persaudaraan Amerika Latin. Namun, bagi Timnas Peru, kehadiran Videla dan Kissinger adalah tekanan.
Kejanggalan lainnya adalah pergantian José Velásquez. Gelandang bertahan Peru itu sebetulnya roh dari tim. Namun, saat babak kedua, ia mendadak diganti paksa. Padahal, ia tidak cedera dan merupakan leader Timnas Peru. Kiper Peru yang keturunan Argentina, Ramón Quiroga, juga dimainkan meski mendapat penolakan.

Selain itu, isu suap juga berembus kencang. Presiden FIFA saat itu, João Havelange, diduga kuat menerima suap dari rezim militer. Selain itu, dugaan suap juga menyasar sejumlah pemain Peru. Tidak hanya itu, Jorge Videla sudah membuat deal-deal dengan Presiden Peru, Morales Bermúdez. Hasil investigasi media Inggris, The Sunday Times, menemukan bahwa pemerintah diktator Argentina mengirimkan 35 ribu ton gandum secara cuma-cuma ke Pelabuhan El Callao, Peru, hanya beberapa minggu setelah turnamen selesai.
Di final, saat Argentina bertemu Belanda, kejanggalan tak berhenti. Bus Timnas Belanda sengaja dibawa memutar dan menerobos kemacetan. Pertandingan juga sempat ditunda beberapa menit karena protes penggunaan gips pelindung pergelangan tangan oleh pemain Belanda. Tidak hanya itu, ribuan tentara juga dihadirkan di sekitar stadion atas perintah Videla.
Yang paling menjadi teka-teki adalah absennya bintang Belanda masa itu, Johan Cruyff. Pada 2008, legenda Belanda itu sempat memberi testimoni. Pada akhir 1977, hanya beberapa bulan menjelang Piala Dunia, rumahnya di Barcelona disatroni penjahat bersenjata. Ia ditodong senjata tepat di kepala, sedangkan istrinya diikat di depan anak-anaknya. Banyak yang mengaitkan teror ini dengan rezim Jorge Videla. Targetnya jelas, mencegah Cruyff tampil di Piala Dunia 1978.
//
Saat Mario Kempes berhasil menjebol gawang Belanda di menit ke-105 babak pertambahan waktu, gemuruh penonton di Stadion Monumental terdengar jelas oleh para tahanan di ESMA.
Saat kemenangan itu, penyiksaan memang dijeda. Beberapa tahanan bahkan diberi pakaian layak dan dibawa keluar menggunakan mobil untuk menyaksikan rakyat Argentina dalam lautan euforia dan pesta kemenangan.
“Saya berdiri di tengah kerumunan yang merayakan juara, namun saya ingin berteriak kepada semua orang: ‘Tolong lihat saya, saya adalah tahanan politik yang hilang (desaparecidos)!’ Tapi saya membeku. Saya sadar, jika Argentina menang, maka perjuangan hak asasi kami telah kalah,” kata Graciela Daleo, seorang tahanan perempuan.
Ricardo Julio Villa, mantan pemain Argentina masa itu, mengaku mendengar suara tembakan dari hotel tempat Timnas Argentina menginap saat itu.
“Pada malam hari, kami akan melihat para tentara dan mendengar tembakan. Mereka menggunakan kami untuk menutupi hilangnya orang-orang yang berpikir berbeda. Saya merasa ditipu,” katanya kepada majalah olahraga, Marca.
Jurnalis Belanda yang datang meliput Piala Dunia 1978, Frits Jelle Barend, justru memilih jalan lain. Alih-alih fokus pada kemeriahan dan keriuhan di stadion, ia justru berjalan-jalan menyusuri sudut tersembunyi di Kota Buenos Aires. Hingga pada suatu hari, di sudut alun-alun Plaza de Mayo, ia menyaksikan ibu-ibu yang sedang menggelar aksi protes.

Daniel Garcia/AFP/Getty Images
Ibu-ibu yang kelak dikenal sebagai Madres de Plaza de Mayo (Ibu-ibu Plaza de Mayo), tersebut menggelar aksi setiap Kamis sejak 1977, demi mencari anak-anaknya yang hilang di bawah rezim militer.
Dengan penuh keberanian, Frits Barend mewawancarai mereka. Untuk pertama kalinya, suara Ibu-ibu Plaza de Mayo masuk ke televisi dan menarik perhatian dunia internasional. Akibat aksi beraninya, Frits dan kawan-kawannya sempat tertahan tiga hari di Argentina dalam tekanan karena paspornya tiba-tiba hilang.
//
Piala Dunia 1978 memang memberi piala pertama bagi Argentina. Namun, bagi sejumlah pemain Timnas masa itu, kemenangan itu seperti aib. Muncul foto Daniel Passarella mengangkat trofi Piala Dunia 1978 berdampingan dengan jenderal berdarah Jorge Videla.
“Hari ini saya masih menyesal telah bermain di Piala Dunia ’78. Jika saat itu saya tahu persis apa yang sedang terjadi, jika saya memiliki keteguhan hati seperti yang saya miliki sekarang di usia saya, saya tidak akan sudi memainkan Piala Dunia itu,” kata bek tengah yang dijuluki “El Gran Capitán” itu kepada Pagina12.
Meski Piala Dunia 1978 akhirnya menjadi aib, tetapi keberhasilan Argentina di Piala Dunia 1986 justru dirayakan dengan penuh kebanggaan. Bukan saja karena diraih dengan perjuangan murni, tetapi juga karena gol “tangan Tuhan” Maradona yang mengempaskan Inggris. Kemenangan ini bernilai patriotik karena dianggap balasan atas kekalahan mereka dalam Perang Falklands (Malvinas) pada 1982.
Rezim militer boleh saja menggunakan sepak bola sebagai plester untuk menutup luka dan kebohongannya. Namun, plester itu rapuh. Sorak-sorai di stadion telah lama senyap, para pelaku dan sang diktator telah diadili, dan sejarah akan terus menulis masa kelam itu.










