Marjinal dan Suara Rakyat Biasa

Di Indonesia, musik protes bukan sekadar hiburan. Sejak era Orde Baru, lagu-lagu seperti karya Iwan Fals, Leo Kristi, atau Benyamin S telah menjadi senjata diam yang menggugah kesadaran rakyat kecil.

Awal 1990-an, ketika gelombang kritik terhadap rezim Orde Baru semakin nyaring, genre punk muncul sebagai suara paling keras dari pinggiran. Di tengah gelombang itu, Marjinal muncul sebagai penyalur kegelisahan anak muda di masanya.

Sejak kelahirannya, Marjinal sudah mengusung musik protes. Lagu-lagunya menjadi penyambung lidah bagi rakyat biasa. Tidak hanya bergema di radio dan panggung-panggung, tapi juga di tengah aksi mahasiswa dan rakyat miskin. Liriknya menyuarakan keresahan dan kemarahan atas kondisi negeri yang menjauh dari keadilan sosial.

Lahir dari keresahan

Marjinal lahir ketika rezim Orde Baru memasuki senja. Saat itu, tahun 1990-an, banyak anak muda yang tak lagi puas hidup dalam pengapnya udara kediktatoran. Kebebasan berekspresi dibatasi, suara dibungkam, tetapi kehidupan ekonomi juga kian memburuk.

Mikail Israfil, yang lahir pada 1975, mewakili cerita itu. Ia lahir tanpa kehadiran bapaknya, seorang anggota ABRI, karena dikirim untuk menginvasi Timor Leste.

“Gue anak kolong berpangkat rendah, yang secara ekonomi kurang,” kenang Mike, sapaan Mikail, seperti ditulis Raka Ibrahim dalam “Mereka yang Menjadi Marjinal”, dimuat di Jurnal Ruang (2017).

Karena bapaknya berpangkat rendah, Mike pernah merasakan masa kecil yang sulit. Sebelum ke sekolah, ia menemani ibunya berjualan gorengan. Dan setelah pulang sekolah, ia harus jualan kantong plastik di pasar minggu untuk tambahan uang jajan. Ia berjuang keras hingga bisa melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pelayaran Menengah (SPM) Cawang, Jakarta.

“Gue harus ngambil gitar dan harus ngamen untuk menyambung hidup gue,” katanya.

Di sudut yang lain, ada anak muda bernama Bob aka Bobby Adam Firman, juga terperangkap dalam keresahan yang sama. Di usia muda, ia harus meninggalkan rumahnya di Cimanggis, Depok, setelah 12 kawan sepermainannya meninggal satu per satu karena narkoba.

Kaset dan sampul album pertama Anti Military, Satu Bumi Tanpa Penindasan, 1999. Kredit: Instagram/jrx.the.bangor

Seolah takdir sejarah mempertemukan dua anak muda ini. Setelah lulus dari SPM, Mike melanjutkan pendidikan di Akademi Teknologi Grafika Indonesia (ATGI) di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di kampus ahli percetakan inilah Mike bertemu dengan Bob dan kawan-kawan lainnya.

Saat itu, gerakan mahasiswa sedang bersemi. Bacaan-bacaan kiri, yang masa itu terlarang, beredar dari tangan ke tangan di bawah tanah. Selain melingkar dalam bentuk kelompok-kelompok diskusi di kampus, generasi baru aktivis ini juga mulai menggelar aksi protes.

“Mereka mengundang orang ke lingkaran itu atas dasar kepercayaan. Kami juga saling pinjam buku yang menurut kami layak dibaca,” kenang Mike.

Di antara buku yang mereka baca adalah Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno, Madilog karya Tan Malaka, dan tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Bacaan-bacaan Marxis, kiri baru, maupun anarkis juga banyak beredar.

Terkadang diskusi itu lintas kampus. Anak-anak ATGI sering bertemu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang dipisahkan jarak tak lebih dari 2 kilometer. Dari diskusi-diskusi mereka yang mengerucut dan menuntut aksi, aktivis kedua kampus ini sepakat melahirkan komite aksi bernama Forum Study Aksi Informasi untuk Demokrasi (Forsaid).

Forsaid rajin menggelar aksi protes. Isu yang mereka angkat menyerukan pencabutan Dwi Fungsi ABRI. demokratisasi, hingga praktik KKN di bawah Orde Baru. Kelak, Forsaid bersama beberapa komite aksi mahasiswa lainnya di Jakarta sepakat melebur menjadi Komite Aksi Mahasiswa bersama Rakyat untuk Demokrasi (Komrad).

Pasca reformasi, tepatnya pada 1999, Komrad dan puluhan komite aksi di berbagai kota di Indonesia sepakat melahirkan organisasi pergerakan mahasiswa tingkat nasional, yaitu Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).

Selain itu, Mike, Bob, dan kawan-kawannya melahirkan jaringan perlawanan yang disebut Anti Facist Racist Action (AFRA), sebuah gerakan otonom yang mengusung ideologi anti-fasisme dan anti-rasisme. Mereka aktif menggelar aksi protes di masa Orde Baru yang represif.

“Kita gunakan media visual, lewat poster dari cukil kayu, baliho dan lukisan yang menggugah kesadaran generasi muda, untuk melawan sistem fasis yang diusung Orde Baru,” cerita Bob.

Untuk menyemangati barisan massa aksi yang sedang melakukan long march, Mike dan kawan-kawan mulai menyanyi di depan barisan massa aksi.

“Kami biasanya main di truk paling depan, sementara di belakang ada demonstran,” kenang Bob.
.
Pada 1996, mereka sepakat membentuk band bernama Anti-ABRI. Formasi awalnya ada Romi Jahat (vokal), Mike (gitar), Bob (bass), dan Stevie (drum). Konon, Anti-ABRI plesetan dari Anti Anak Buah Rhoma Irama. Tidak berselang lama, nama band berganti menjadi Anti-Military.

Personil Marjinal. Kredit: Facebook/Komunitas Taring Babi, 2011

Pada 1999, Anti-Military melahirkan album “Satu Bumi Tanpa Penindasan”. Selain lagu-lagu yang menyuarakan kritik terhadap tentara dan polisi, album ini juga memuat lagu “Darah Juang” yang diciptakan oleh John Tobing dan lagu “Pembebasan” ciptaan Safii Kemamang. Di album ini, lagu “Pembebasan” diberi judul “Buruh Tani”.

Tahun 2001, kelompok ini mengubah lagi namanya menjadi Marjinal. Ihwal nama baru ini, Mike terinspirasi dari nama Marsinah, aktivis buruh yang dibunuh tentara pada masa Orde Baru. Kata Marjinal sendiri mengacu pada kelompok sosial yang terpinggirkan secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Suara kaum marjinal

Boleh dikatakan, Marjinal sesungguhnya adalah anak-anak reformasi. Mereka punya andil dalam perjuangan menentang rezim Orde Baru dan melahirkan reformasi.

Begitu reformasi tidak berjalan sesuai harapan, mereka sangat kecewa. Meskipun militer sedikit terdepak dari wilayah sipil, tapi praktik militerisme masih membudaya. Praktik KKN juga masih menggurita, bahkan Soeharto tak pernah diadili. Pelanggaran HAM juga masih terjadi di mana-mana.

Kekecewaan itulah yang dituangkan di album kedua “Smash Fascist and Racist”. Misalnya lirik lagu “Lawan Diktator: Di bawah kaki penguasa, yang selalu menindas kita semua/ Pengangguran, kriminalitas dan kesenjangan sosial/ Pengekangan, pembantaian lahir dari penguasa.

Tahun 2002, Marjinal kembali meluncurkan album baru: Termarjinalkan. Di album ini, ada satu lagu khusus yang dipersembahkan untuk pejuang buruh sekaligus inspirator band ini: Marsinah. Marsinah mewakili kaum marjinal yang suaranya dibungkam dengan kekerasan hanya karena memperjuangkan hak-hak kaumnya.

Keringat dan ketegaranmu mengalir deras tak ternilai
Hanya tetes darah dan air mata yang kau terima
Ooo..Marsinah, kau termarjinalkan
Ooo..Marsinah, matimu tak sia-sia

Selain itu, seperti diungkapkan oleh Mike, lagu-lagunya selalu mewakili cerita kehidupan sehari-hari, ada beberapa lagu yang memotret langsung peristiwa-peristiwa penting pada awal milenium. Misalnya, lagu “Natal Berdarah” untuk mengenang kejadian pahit di Negeri Pancasila pada malam Natal tahun 2000, yaitu serangan bom ke sejumlah gereja di berbagai kota di Indonesia.

Dua pentolan Marjinal, Mike dan Bob. Kredit: lokalwisdom.wordpress.com

Ada juga lagu untuk mengenang tragedi Sampit 2001, yaitu kerusuhan rasial di Kalimantan Tengah yang menyebabkan korban jiwa hingga 1.000 jiwa dan ratusan ribu orang mengungsi.

Di album ini juga ada lagu Marjinal yang hits hingga sekarang, Hukum Rimba. Lagu ini mengkritik sistem hukum pasca reformasi yang masih korup, sehingga hukum bisa dibeli dengan uang atau diperalat demi kepentingan penguasa.

Hukum telah dikuasai oleh orang-orang ber-uang
Hukum adalah permainan tuk menjaga kekuasaan
Maling-maling kecil dihakimi
Maling-maling besar dilindungi.

Pada 2005, Marjinal yang semakin matang meluncurkan album keempatnya: Predator. Ini bisa disebut double album. Dirilis dengan dua kaset dan berisikan 27 lagu. Memuat beberapa lagu dari album sebelumnya, seperti Marsinah dan Cinta Pembodohan part 2, album seperti wajah Indonesia yang begitu banyak masalah sehingga harus dijelaskan dengan banyak lagu.

Di album Predator ini ada lagu “Negeri Ngeri” yang mengkritik realitas Indonesia yang kontradiktif. Alamnya kaya raya, dengan kekayaan sumber daya yang melimpah, tetapi rakyatnya hidup dalam kemiskinan.

Pengangguran merebak luas/ Kemiskinan merajalela
Pedagang kaki lima tergusur/Teraniaya
Bocah bocah kecil merintih/Melangsungkan mimpi di jalanan
Buruh kerap dihadapi/Penderitaan

Di album ini juga ada lagu Masberto, Rencong-Marencong, Do it Yourself, Predator, Boikot, Globalisasi, Aku Mau Sekolah Gratis, Buruh Migran, dan lain-lain.

Pada 2009, di tengah hiruk-pikuk politik menjelang pemilu, Marjinal meluncurkan album “Partai Marjinal”. Berisikan beberapa lagu hits dari album sebelumnya, seperti Darah Juang, Hukum Rimba, dan Luka Kita. Albumnya menyerupai kotak suara dengan gambar politisi yang jadi calon presiden, tetapi berwajah tengkorak.

Di album ini ada lagu “Rakyat Merdeka”, yang merupakan seruan bersatu dan berlawan bagi rakyat tertindas.

Jangan mau ditindas/ Jangan mau diperas
Jiwa dan pikiran kita/ Tuk hari esok yang lebih baik

Pasti menang, harus menang/ Rakyat berjuang
Pasti menang, harus menang/ Rakyat merdeka

Mike Marjinal dengan latar mural Rage Against The Machine (RATM). Kredit: Instagram/Mike Marjinal

Aksi politik langsung

Sesuai latar yang melahirkannya, Marjinal sepanjang perjalannya lebih menonjol sebagai sebuah gerakan. Bukan hanya menciptakan lagu-lagu dan menyanyi dari panggung ke panggung, tetapi juga mengorganisir, mengedukasi, menggerakkan, dan melakukan aksi konkret.

Marjinal sendiri hanyalah corong dari sebuah komunitas perjuangan yang menamai diri Taring Babi. Berdiri sejak 1996, komunitas ini menjadi ruang bersama bagi pergerakan untuk mewujudkan nilai-nilai yang dianut punk, seperti kesetaraan, solidaritas, dan kemandirian. Semua nilai itu bisa diringkas dengan bahasa sederhana: Do It Yourself (DIY).

Sejak 2002, komunitas Taring Babi menempati sebuah rumah di Gang Setiabudi, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di komunitas itu, mereka tak hanya berdiskusi dan memproduksi zine, tetapi juga membuka ruang untuk kreativitas lainnya, seperti workshop cukil kayu di gigs, membuat sablon, creative-writing, teater, menggambar, melukis, membuat merchandise, membuat tatto temporer, dan lain-lain.

“Semua itu sebagai langkah awal untuk berdialog dengan masyarakat. Tujuannya bukan cuma hal yang politis doang, kita belajar, berkarya, dan bekerja sama-sama. Sehingga masyarakat terlibat dalam proses kreatif kita,” kata Bob.

Sementara lewat Marjinal, mereka tak hanya memproduksi lagu-lagu perlawanan, tetapi juga menggelar aksi. Marjinal lebih sering manggung di tengah aksi massa, pemukiman konflik, atau pemogokan buruh.

Mereka juga pernah berkali-kali menggelar aksi di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menyuarakan dukungan pada pemberantasan korupsi. Misalnya, pada 2016, mereka menggelar panggung musik di KPK untuk menolak revisi UU KPK.

Marjinal di Gedung KPK untuk mendukung gerakan anti-korupsi. Kredit: Okezone

Marjinal juga tampil beberapa kali di Aksi Kamisan. Aksi ini digelar oleh korban maupun aktivis HAM, yang digelar setiap hari Kamis sejak 2007, untuk memperjuangkan nasib mereka yang menjadi korban pelanggaran HAM sejak era Orde Baru hingga sekarang ini.

Untuk isu lingkungan, Marjinal mendukung perjuangan petani Kendeng melawan invasi pabrik semen hingga menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka juga pernah menggalang panggung donasi untuk korban bencana gempa bumi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, pada 2018.

Soal aksi langsung ini, Mike punya cerita pahit. Suatu hari, pada 1998, Marjinal menggelar gigs di Komnas HAM. Saat konser itu, ada yang membuat ulah dengan memukuli seorang penonton. Mike dan kawan-kawan berusaha menghentikan kekerasan itu. Perkelahian pun terjadi. Pasca kejadian, Mike dilarikan ke klinik. Tangannya yang terluka diperban.

Esoknya, ia ikut aksi di depan markas Polda untuk menolak penerapan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Namun, aksi itu mendapat represi. Mike dilempar ke mobil tahanan. Di atas mobil tahanan, seorang tentara melihat tangannya yang diperban. Bukannya bersimpati, si serdadu justru menginjak tangan Mike yang diperban itu dengan sepatu lars.

“Ogut ingat sekali sampai sekarang. Dia tahu ogut terluka. Dia sadar ogut punya luka, dan tangan itu yang sengaja dia injak pakai sepatu lars,” kenang Mike.

Sejak itu, jari tengahnya tidak bisa bergerak, tak bisa dibengkokkan. Mirip dengan kisah burung Si Ajo Kawir dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan. Burung Ajo Kawir tidak bisa berdiri lagi akibat trauma setelah menyaksikan pemerkosaan seorang perempuan depresi oleh dua aparat.

Kini, Marjinal sudah nyaris berusia tiga dekade. Sebuah perjalanan panjang untuk sebuah kelompok musik. Lagu-lagu mereka masih terus menggema. Tidak hanya di panggung musik, radio, atau kanal-kanal digital, tetapi juga di tengah aksi demonstrasi, pemogokan buruh, diskusi-diskusi mahasiswa, dinyanyikan di atas bus kota oleh pengamen jalanan, hingga di balik bilik rumah-rumah sederhana kaum marjinal.

Total
0
Shares
Comments 1
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Maradona dan Pembalasan Malvinas

Maradona dan Pembalasan Malvinas

Inggris, yang mengklaim pulau itu dengan nama Kepulauan Falkland sejak 1833,

Next
Mega-Bintang-Rakyat (MBR): Digagas PDI Mega dan PPP, Diradikalisasi oleh PRD

Mega-Bintang-Rakyat (MBR): Digagas PDI Mega dan PPP, Diradikalisasi oleh PRD

Mendekati pemilu 1997, Orde Baru masih sangat jemawa

You May Also Like
Total
0
Share