Tahun 1945, di sebuah desa di utara Kerala, India, bayi laki-laki lahir ke dunia yang keras. Namanya Pinarayi Vijayan. Ia adalah anak ke-14 yang lahir dari rahim ibunya. Namun, angka “14” itu menyimpan tragedi yang lazim pada masanya: dari 13 kakak yang lahir sebelum Pinarayi, hanya dua yang berhasil bertahan hidup melewati masa bayi. Sisanya, meninggal ditelan gizi buruk, sanitasi yang payah, dan absennya tangan medis.
Keluarga Pinarayi adalah potret kasta rendah yang terpinggirkan. Ibunya seorang buruh tani, ayahnya penyadap nira. Di bawah sistem kasta India yang kaku saat itu, mereka dianggap sebagai kelompok yang “tak boleh disentuh” (untouchable). Kematian bayi di keluarga seperti mereka bukanlah sebuah anomali, melainkan statistik yang dianggap biasa di pertengahan abad ke-20.
Roda kehidupan berputar, bayi laki-laki itu kini menjabat sebagai Kepala Menteri Kerala. Dan di bawah kepemimpinannya, Kerala mencatatkan sejarah yang membuat dunia terbelalak: Angka Kematian Bayi (IMR) di wilayah ini menyentuh angka 5 kematian per 1.000 kelahiran hidup.
Angka ini bukan sekadar statistik, tapi kemenangan kemanusiaan. Sebagai perbandingan, rata-rata nasional India berada di angka 25. Di Indonesia, angka kematian bayi masih 16 per 1.000 kelahiran hidup. Jakarta, kota terbesar di Indonesia, angka kematian bayi masih 10.38 per 1.000 kelahiran hidup.
Bahkan, pencapaian Kerala ini telah melampaui negara-negara maju di belahan bumi Utara, termasuk Amerika Serikat yang mencatat angka 5,6. Kerala bersaing dengan New York yang IMR-nya 4 per 1.000 kelahiran hidup. Bagaimana mungkin sebuah negara bagian di “negara berkembang” bisa memberikan jaminan hidup bagi bayi lebih baik daripada negara adidaya?
Akar radikal: Demokrasi di meja makan
Transformasi Kerala tidak terjadi secara ajaib dalam satu malam. Benihnya ditanam pada tahun 1956, ketika Kerala dibentuk sebagai negara bagian berdasarkan kesamaan bahasa. Setahun kemudian, sejarah dunia tercipta: untuk pertama kalinya, Partai Komunis berkuasa melalui kotak suara dalam pemilu demokratis yang jujur.
Pemerintahan sayap kiri ini datang dengan agenda yang radikal untuk zamannya: reformasi agraria. Mereka menghapus sistem tuan tanah dan memberikan kepastian kepemilikan tanah bagi buruh tani dan petani penggarap.
Apa hubungannya tanah dengan nyawa bayi? Jawabannya, sangat erat. Dengan memiliki tanah, keluarga buruh tani memiliki ketahanan pangan. Mereka punya rumah yang layak dan tak lagi diperas oleh uang sewa tanah yang mencekik. Dana yang tadinya habis untuk membayar tuan tanah, kini bisa dialokasikan untuk nutrisi anak dan perawatan kesehatan.
Selain tanah, mereka menggenjot literasi massal dan pendidikan publik. Di Kerala, kesehatan bukan sekadar urusan rumah sakit, tapi urusan “meja makan” dan “meja sekolah”. Hingga tahun 1990, ketika angka kematian bayi di India masih merayap di angka 83, Kerala sudah melesat jauh ke angka 17,10.
Melawan arus neoliberalisme
Pada akhir abad ke-20, ketika India mulai memeluk kebijakan neoliberal dan memotong anggaran jaminan sosial, Kerala memilih jalur yang berbeda. Di saat sektor kesehatan di wilayah lain mulai dikomersialisasi secara agresif, pemerintahan sayap kiri di Kerala tetap teguh menjaga sektor publik.
Ini bukan perkara mudah. Namun, Kerala memiliki satu senjata rahasia: rakyat yang sadar politik. Serikat pekerja dan organisasi massa di sana begitu kuat sehingga ide untuk melakukan privatisasi kesehatan secara total menjadi sesuatu yang mustahil secara politik. Siapapun yang berani menyentuh layanan kesehatan publik akan berhadapan dengan kemarahan massa di jalanan.
Fenomena ini menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai “ratchet effect” atau efek roda gigi. Begitu sebuah kemajuan sosial dicapai, kemajuan itu terkunci rapat. Sulit bagi pemerintahan berikutnya, bahkan yang beraliran liberal sekalipun, untuk menarik kembali layanan tersebut karena standar hidup rakyat sudah terlanjur tinggi.
Pada tahun 1996, sebuah eksperimen desentralisasi besar-besaran dilakukan. Anggaran besar diserahkan langsung ke pemerintah tingkat desa. Puskesmas-puskesmas di tingkat akar rumput diperkuat, menjadi garda terdepan yang memastikan tidak ada ibu hamil yang luput dari pengawasan medis. Hasilnya, pada tahun 2015, IMR Kerala turun lagi ke angka 12.
Misi ambisius satu digit
Ketika Front Demokratik Kiri (LDF) kembali berkuasa pada 2016 di bawah Pinarayi Vijayan, mereka memasang target yang dianggap mustahil: menurunkan angka kematian bayi hingga ke satu digit.
Strategi ini dipimpin oleh dua srikandi kesehatan yang luar biasa, K.K. Shailaja dan kemudian Veena George. Mereka meluncurkan Misi Aardram, sebuah upaya modernisasi fasilitas kesehatan tingkat desa agar setara dengan fasilitas modern, namun tetap merakyat.
Dua program unggulan lahir dari misi Hridyam dan Shalabham. Hridyam (berarti “Ketulusan Hati”) fokus pada musuh nomor satu bayi baru lahir: penyakit jantung bawaan. Program ini membekali RS pemerintah dengan alat deteksi canggih bernama pulse oximeter. Dalam waktu kurang dari 48 jam setelah lahir, bayi diperiksa oksigennya. Jika ditemukan kelainan, bayi langsung mendapatkan penanganan—mulai dari ekokardiogram hingga operasi besar—semuanya gratis di RS pemerintah maupun mitra swasta. Lebih hebatnya lagi, pemantauan dilakukan hingga anak berusia 18 tahun. Lebih dari 9.000 bayi telah diselamatkan oleh program ini.
Shalabham (berarti “Kupu-kupu”) adalah program skrining bayi baru lahir yang paling komprehensif. Semboyannya sangat menyentuh: “From survival to healthy survival”—bukan sekadar bertahan hidup, tapi hidup dengan sehat. Karena 99 persen persalinan di Kerala dilakukan di fasilitas medis, program ini memastikan setiap bayi diperiksa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mulai dari cacat fisik, gangguan pendengaran, hingga kelainan metabolisme melalui tes darah.
Pelajaran bagi dunia
Keberhasilan Kerala menunjukkan bahwa kemajuan kesehatan tidak melulu soal secanggih apa alat medis yang dibeli, melainkan seberapa kuat komitmen politik sebuah pemerintahan.
Program teknologi tinggi seperti Hridyam dan Shalabham mungkin bisa ditiru oleh wilayah lain, namun tanpa fondasi politik yang memprioritaskan kepentingan publik di atas keuntungan pribadi, inovasi tersebut hanya akan menjadi eksperimen terisolasi di laboratorium, bukan transformasi sistemik yang menyentuh rakyat jelata.
Kerala merayakan Onam sebagai festival nasionalnya. Onam adalah perayaan tentang legenda Raja Mahabali, seorang penguasa adil yang menciptakan masyarakat ideal tanpa kasta dan kemiskinan. Ada sebuah lirik lagu populer yang sering dinyanyikan saat Onam:
“Tak ada kecemasan maupun penyakit, dan tak terdengar lagi kabar tentang kematian anak-anak.”
Pada 5 September tahun lalu, tepat di hari terakhir perayaan Onam selama 10 hari, Kerala mengumumkan secara resmi bahwa angka kematian bayinya telah turun ke angka 5—terendah dalam sejarah negara bagian tersebut.
Bagi Pinarayi Vijayan, angka “5” ini bukan sekadar statistik di atas kertas, namun penebusan atas masa kecilnya yang kehilangan 11 saudara. Ini adalah bukti bahwa anak dari seorang penyadap nira, melalui jalur politik yang tepat, bisa memastikan bahwa di masa depan tidak boleh ada lagi ibu yang harus kehilangan 11 anaknya hanya karena mereka lahir di sisi sejarah yang salah.
Kerala telah membuktikan kemanusiaan bisa menang, jika kita memiliki keberanian untuk menempatkan nyawa bayi di atas segalanya.
Nabil Abdul Majeed, ahli kesehatan publik yang saat ini bekerja sebagai ilmuwan peneliti di Institut Ilmu Kesehatan dan Teknologi Sree Chitra Tirunal, Kerala
Nitheesh Narayanan, peneliti di Tricontinental Institute for Social Research










