Berkaca dari Program Makan Gratis di India

Juli 2013 menjadi noktah hitam dalam sejarah pendidikan India. Di sebuah sekolah dasar di negara bagian Bihar, tawa riang anak-anak saat jam istirahat seketika berubah menjadi jeritan pilu. Tercatat 23 nyawa anak-anak melayang setelah mengonsumsi makan siang yang terkontaminasi pestisida.

Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan sanitasi, tapi menjadi lonceng pengingat akan kerentanan dalam Midday Meal Scheme, program makan siang gratis terbesar di dunia.

Kala itu, media internasional dan domestik menghujani program ini dengan kritik tajam. Korupsi, manajemen yang bobrok, dan pengawasan yang nihil dituding sebagai penyebab utama dari peristiwa ini. Namun, di balik awan gelap tragedi Bihar, tersimpan narasi yang jauh lebih kompleks.

Program makan siang gratis di India, atau Mid-Day Meal Scheme (MDMS), dimulai secara nasional pada Agustus 1995 di bawah nama National Programme of Nutritional Support to Primary Education (NP-NSPE), meskipun akarnya sudah ada sejak tahun 1920-an di Madras, dengan perluasan besar pada tahun 2001 menjadi makanan siap saji untuk semua anak sekolah dasar negeri. Program yang memberi makan 120 juta anak setiap harinya ini bukan sekadar soal mengisi perut yang lapar, melainkan sebuah eksperimen sosial masif yang sedang mengubah wajah India dari akar rumput.

Meruntuhkan sekat kasta

Di sebuah desa di Bawani Khera, negara bagian Haryana, pemandangan sehari-hari di sekolah setempat menawarkan refleksi yang mendalam. Di sana, dua gadis berusia 12 tahun, Sumit dan Mohit, duduk bersila di atas tikar. Mereka berbagi satu piring plastik berisi kadhi (kari kuning) dan nasi, sembari sesekali tertawa kecil.

Pemandangan ini mungkin terlihat biasa bagi mata awam, namun di India, ini adalah sebuah revolusi. Sumit adalah putri dari seorang juru masak sekolah bernama Shakuntala, yang berasal dari kasta Dalit—kelompok yang secara historis dianggap “haram untuk disentuh” (untouchables). Sementara itu, Mohit berasal dari kasta Jat, kasta yang lebih tinggi dan dominan di wilayah tersebut.

Ram Niwas Jangra, seorang guru yang telah mengabdi selama 14 tahun, mengenang betapa sulitnya memulai program ini satu dekade lalu. “Awalnya, anak-anak dari kasta tinggi menolak makan. Mereka bilang juru masaknya kotor,” kenang Jangra. Prasangka kasta yang mengakar kuat selama berabad-abad membuat ide berbagi makanan menjadi tabu. Namun, pihak sekolah tidak menyerah.

Mereka menjadikan para juru masak sebagai model peran, menekankan kebersihan sebagai standar utama, dan perlahan-lahan, ego kasta luluh oleh rasa lapar dan kebersamaan.

Jean Dreze, seorang ekonom terkemuka dari Universitas Ranchi, menyebut fenomena ini sebagai “pengalaman sosialisasi”. Di negara yang begitu terfragmentasi oleh hierarki sosial, ruang kelas dan piring makan menjadi satu-satunya tempat di mana kesetaraan dipraktikkan secara nyata. Jika anak-anak belajar bahwa makanan yang dimasak oleh tangan seorang Dalit tidak membunuh mereka, maka pondasi kebencian kasta di masa depan sedang diruntuhkan, suapan demi suapan.

Diskriminasi yang belum usai

Namun, refleksi ini tidak boleh menutup mata terhadap kegagalan. Di negara bagian seperti Uttar Pradesh dan Bihar, program ini sering kali justru menjadi panggung diskriminasi baru.

Penelitian oleh ekonom Sukhadeo Thorat menemukan bahwa di banyak wilayah, juru masak dari kasta rendah sering ditolak oleh komunitas. Jika pun mereka bekerja, anak-anak Dalit sering kali dipaksa duduk terpisah atau dilayani paling terakhir. Ada laporan mengerikan tentang juru masak yang menuangkan sup panas ke tangan seorang anak Dalit hanya karena ia berani meminta makanan lebih awal.

Suasana yang tidak ramah ini membuat anak-anak dari komunitas marginal memilih untuk bolos atau putus sekolah.”

Jayshree Bajoria, peneliti dari Human Rights Watch

Ini adalah paradoks yang pahit: program yang dirancang untuk menarik anak-anak ke sekolah justru bisa menjadi alasan mereka pergi, tergantung pada siapa yang memegang sendok besar di dapur sekolah.

Pemberdayaan perempuan miskin

Di sisi lain, program makan siang gratis ini telah menjadi sekoci penyelamat bagi dua juta wanita miskin di India yang dipekerjakan sebagai juru masak. Salah satunya adalah Saroj, seorang perempuan di Haryana dengan rahang tegas dan tatapan berani.

Kisah Saroj adalah mikrokosmos dari perjuangan perempuan pedesaan India. Menikah di usia 16 tahun, ia melewati dekade demi dekade dengan kekerasan domestik. Suaminya kerap memukulinya dengan kayu saat mabuk, meninggalkan bekas luka sepanjang 15 sentimeter di lengan kirinya. Ketika suaminya menghilang tanpa kabar, Saroj “diwariskan” kepada adik iparnya, sebuah tradisi patriarki untuk menjaga aset keluarga. Kekerasan itu berulang, bahkan lebih parah.

Titik balik Saroj datang pada tahun 2004 saat ia diterima menjadi juru masak sekolah. Meski gajinya kurang dari USD 20 per bulan, pekerjaan itu memberinya sesuatu yang lebih berharga dari uang: identitas dan perlindungan komunitas. Ketika adik iparnya mencoba memukulinya di sekolah, para guru berdiri membela Saroj, mengancam akan menjebloskan pria itu ke penjara.

Puncaknya terjadi enam tahun lalu, ketika pria itu memukul wajah Saroj dengan pipa besi hingga giginya tanggal. Alih-alih diam seperti biasanya, Saroj berjalan tegak ke kantor polisi dengan wajah bersimbah darah dan melaporkannya. Sejak hari itu, pria itu pergi dan tidak pernah kembali.

Kami para perempuan tidak lagi tertinggal! Kami tidak lagi berada di belakang laki-laki.”

Saroj, seorang perempuan miskin juru masak di Haryana

Kini, Saroj bukan sekadar juru masak. Ia adalah pemimpin serikat buruh bagi ribuan juru masak sekolah di Haryana. “Kami para perempuan tidak lagi tertinggal! Kami tidak lagi berada di belakang laki-laki,” serunya di depan rekan-rekannya. Program makan siang gratis, dalam konteks ini, telah menjadi alat emansipasi ekonomi yang mengubah korban kekerasan menjadi aktivis tangguh.

Melampaui soal gizi

Secara makro, data mendukung keberhasilan program ini sebagai jaring pengaman sosial. Dipa Sinha, peneliti dari Centre for Equity Studies, mencatat bahwa bagi 90 persen anak-anak di pedesaan India, makan siang di sekolah adalah makanan lengkap pertama mereka dalam sehari. Di rumah, banyak keluarga hanya mampu mengonsumsi roti (roti gandum) dengan sambal bawang putih dan cabai. Sayuran adalah kemewahan yang hanya muncul sekali seminggu.

Studi jangka panjang “Young Lives” yang melacak 2.000 anak selama 15 tahun menunjukkan hasil yang luar biasa. Meski seorang anak lahir dalam keadaan kekurangan gizi, program makan siang sekolah memungkinkan terjadinya catch-up growth (pertumbuhan kejar).

Dampaknya merembet ke segala arah. Pertama, peningkatan pendaftaran anak sekolah, terutama di kalangan anak perempuan dan komunitas termiskin. Kedua, tingkat kehadiran di sekolah bertambah. Anak-anak lebih termotivasi berangkat sekolah karena jaminan makanan yang enak dan hangat. Ketiga, peningkatan prestasi akademik. Perut yang kenyang memungkinkan konsentrasi yang lebih baik di kelas, yang berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik.

Jean Dreze menekankan bahwa kenaikan pendaftaran siswa kelas satu melonjak drastis sesaat setelah program ini diperkenalkan secara nasional. Ini membuktikan bahwa bagi orang tua miskin, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan tempat di mana kelangsungan hidup anak mereka dijamin.

Pelajaran untuk masa depan

Berkaca pada perjalanan India, program makan gratis adalah sebuah pedang bermata dua. Ia membutuhkan pengawasan yang sangat ketat untuk menghindari tragedi seperti di Bihar, namun ia juga memiliki potensi luar biasa untuk menyembuhkan luka sosial dan gizi sebuah bangsa.

Di sekolah Bawani Khera, Wazir Singh, seorang kepala sekolah dengan pengalaman 30 tahun, memandang jauh ke lapangan sekolah saat anak-anak mencuci piring mereka. “Melihat kebutuhan di lapangan, saya pikir kita tidak boleh berhenti di sini,” ujarnya. “Kita bahkan harus mulai memikirkan sarapan gratis di sekolah.”

India telah membuktikan bahwa memberi makan anak-anak adalah investasi terbaik bagi masa depan sebuah negara. Meski jalannya masih terjal dengan bayang-bayang kasta dan korupsi, setiap piring nasi yang disajikan adalah satu langkah menjauh dari kelaparan dan satu langkah mendekat menuju kesetaraan. Bagi jutaan anak seperti Sumit dan Mohit, piring itu bukan sekadar berisi makanan; ia berisi harapan untuk dunia yang lebih adil.

Rhitu Chatterjee, koresponden kesehatan di NPR yang berfokus pada kesehatan mental dan penerima dana hibah dari Pulitzer Center.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Untuk Perempuan Muda di Jalan Perlawanan

Untuk Perempuan Muda di Jalan Perlawanan

Perempuan muda yang hari ini mulai turun ke ruang publik, mungkin tak ada yang

Next
Misteri Penculikan Si Jalak Harupat

Misteri Penculikan Si Jalak Harupat

Histoire se répète toujours deux fois; sejarah mengulang dirinya sendiri

You May Also Like
Total
0
Share