Luiz Inácio Lula da Silva resmi mencatatkan sejarah baru dalam panggung politik Amerika Latin. Pemimpin Partai Buruh atau Partido dos Trabalhadores (PT) tersebut berhasil memenangkan pemilihan Presiden Brasil putaran kedua menundukkan pesaing utamanya, Flávio Bolsonaro dengan 51,79 persen suara, 25 Oktober 2026. Kemenangan ini mengantarkan sang mantan pemimpin serikat buruh itu menuju masa jabatan kepresidenan keempatnya.
Kembalinya Lula ke Istana Planalto menegaskan daya tahan politiknya yang luar biasa, sekaligus menandai babak baru bagi stabilitas ekonomi, agenda sosial, dan otonomi diplomasi Brasil di kancah internasional. Hal itu tak lepas dari dukungan kaum buruh Brasil.
Dari pabrik logam ke puncak kekuasaan
Perjalanan politik Lula mencerminkan pasang surut demokrasi Brasil. Berawal dari seorang pekerja logam di kawasan industri ABC Paulista pada 1970-an, Lula memimpin pergerakan buruh massal yang menjadi salah satu pendorong tumbangnya rezim diktator militer. Pada 1980, ia mendirikan Partai Buruh (PT) sebagai wadah konsolidasi gerakan sosial kaum pekerja.
Masa keemasannya tercatat pada periode 2003–2010 saat ia menjabat presiden dua periode berturut-turut. Di bawah kepemimpinannya, lonjakan harga komoditas global dimanfaatkan untuk membiayai program-program pengentasan kemiskinan massal.
Meski sempat diterjang badai skandal korupsi Lava Jato yang berujung pemenjaraannya pada 2018, pembatalan seluruh dakwaan oleh Mahkamah Agung pada 2021 membuka jalan bagi kebangkitan Lula. Kemenangannya kali ini membuktikan bahwa basis dukungan rakyat terhadap figurnya tetap solid di tengah polarisasi yang tajam.
Dalam ranah domestik, kepemimpinan Lula periode keempat ini diprediksi mempertahankan pendekatan neodevelopmentalism—kombinasi antara kedisiplinan fiskal dan intervensi sosial negara. Langkah itu antara lain:
Pertama, penguatan jaring pengaman sosial. Program prioritas seperti Bolsa Família dan kebijakan peningkatan upah minimum riil akan diperkuat untuk menjaga daya beli kelas pekerja dan menekan angka ketimpangan.
Kedua, tantangan fiskal dan parlemen. Berhadapan dengan Kongres yang didominasi blok konservatif (Centrao), pemerintahannya dituntut jeli melakukan kompromi politik guna meloloskan reformasi anggaran serta menjaga rasio utang publik.
Ketiga, pengembangan sektor industri. Negara akan mengoptimalkan peran bank pembangunan dan BUMN energi seperti Petrobras untuk menggerakkan investasi di sektor energi terbarukan dan manufaktur hijau.
Sementata di kancah internasional, kemenangan Lula akan mempertegas posisi Brasil dalam menerapkan doktrin Active Non-Alignment (Ketidakberpihakan Aktif), yakni:
-Konsolidasi BRICS. Brasil dipastikan kembali menjadi jangkar utama BRICS di Amerika Latin, mendorong penggunaan mata uang lokal dlm perdagangan antaranggota serta memperkuat peran New Development Bank (NDB).
-Kemitraan Strategis dengan Tiongkok. Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama Brasil. Kerja sama kedua negara akan diperluas ke sektor teknologi tinggi, kecerdasan buatan, dan rantai pasok kendaraan listrik.
-Hubungan pragmatis dengan AS. Menolak gagasan Amerika Latin sebagai “halaman belakang” Washington, Lula menjaga jarak diplomasi yang terukur dengan AS sambil tetap membuka ruang kerja sama di bidang transisi energi dan isu iklim.
Terpilihnya kembali Lula da Silva tidak hanya mengokohkan arah pembangunan sosial-ekonomi Brasil, tetapi juga memperkuat posisi bargaining negara-negara berkembang (Global South) dalam tata kelola dunia yang kian multipolar.









