Sejak 2023 lalu, beriringan dengan eskalasi serangan Israel ke Gaza, yang memicu praktik genosida dan krisis kemanusiaan, aksi solidaritas untuk Palestina menggema di berbagai belahan dunia.
Di beberapa tempat, terutama di Eropa dan Amerika Serikat (AS), gelombang solidaritas itu menjadi panggung bagi gerakan politik kiri. Ketertarikan pada politik kiri, terutama di kalangan kaum muda, menguat. Bahkan, banyak politisi progresif meraih kemenangan elektoral dari situasi itu.
Namun, di dalam Israel sendiri, suara kaum kiri nyaris tak terdengar. Hanya sayup-sayup, seperti angin malam yang lewat tanpa meninggalkan jejak nyata. Ironi ini bukan kebetulan belaka. Sejak tahun 2000-an, gerakan kiri di Israel terus mengecil. Pada pemilu November 2022, Partai Buruh tertatih-tatih dengan hanya memperoleh empat kursi Knesset (parlemen Israel), sementara Meretz (partai kiri moderat) gagal melewati ambang batas parlemen.
Puncaknya, sejak serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel, opini publik Israel bergeser secara drastis ke arah kanan. Survei yang dilakukan Channel 12, salah satu stasiun televisi swasta terbesar di Israel, pada November 2023 menunjukkan bahwa 36 persen warga Israel bergerak lebih jauh ke kanan secara politik, sementara hanya 6 persen yang bergeser ke kiri. Pada awal 2025, hanya 12 persen orang Yahudi Israel yang masih berani mengidentifikasi diri sebagai “kiri”. Angka tersebut turun tajam dari sekitar 20 persen pada tahun 2019.

Harapan akan perdamaian permanen dengan Palestina jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah, yaitu hanya 13 persen (data Gallup). Keyakinan pada solusi dua negara, yaitu berdirinya negara Palestina yang merdeka berdampingan dengan Israel, hanya dianut 21 persen warga Yahudi Israel (Pew Research, Juni 2025). Di Knesset, yaitu parlemen Israel yang beranggotakan 120 orang, resolusi pada Juli 2024 menolak pembentukan negara Palestina dengan suara telak 68 berbanding 9—hanya partai-partai Arab yang menentang.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang telah memimpin Israel selama total lebih dari 16 tahun dan dikenal dengan kebijakan kerasnya terhadap Palestina, memanfaatkan momentum ini untuk membangun narasi “Israel melawan seluruh dunia”.
Sementara itu, polisi Israel semakin agresif menekan demonstrasi anti-perang. Penolak wajib militer seperti Tal Mitnick, seorang pemuda yang menolak bertugas di Gaza karena alasan moral, dijebloskan ke penjara militer. Di sini, kiri Israel bukan lagi sekadar lawan politik; ia sudah dianggap sebagai pengkhianat bangsa.
Padahal, jika kita melihat sejarahnya, negara Israel justru lahir dengan nuansa kiri yang sangat kuat. Ketika negara ini diproklamasikan merdeka pada 14 Mei 1948, Partai Mapai—pendahulu Partai Buruh (Labor) yang merupakan partai sosialis-Zionis—mendominasi sepenuhnya. Kibbutzim, yaitu komunitas pertanian kolektif yang berbasis kepemilikan bersama tanah dan hasil panen, serta Histadrut, yaitu serikat buruh raksasa yang mengendalikan sebagian besar ekonomi Israel pada masa awal, menjadi simbol “sosialisme Zionis” yang dibawa oleh imigran Yahudi dari Eropa Timur.
Kemudian, di sisi pinggir lapangan yang sama, lahir juga kiri radikal yang lebih konsisten dan anti-Zionis. Partai Komunis Palestina (PCP), yang berdiri pada tahun 1923, menentang Zionisme sebagai proyek kolonial Inggris dan menyerukan kesetaraan penuh antara Yahudi dan Arab. Setelah berdirinya Israel tahun 1948, PCP berubah nama menjadi Maki (Partai Komunis Israel). Maki menentang pemerintahan militer yang diberlakukan terhadap warga Arab Israel antara tahun 1949 hingga 1966, serta mengungkap pembantaian Kufr Qasem tahun 1956 di mana 49 warga Arab tak bersenjata dibunuh oleh pasukan Israel, dan menjadi satu-satunya partai yang secara terbuka menolak Perang Suez tahun 1956. Puncak popularitas Maki terjadi pada pemilu 1955. Saat itu partai ini meraih 4,5 persen suara dan enam kursi di Knesset.
Namun perpecahan terus menggerogoti gerakan kiri. Perang Enam Hari pada 1967 yang membuat Israel menduduki Tepi Barat, Gaza, dan Dataran Tinggi Golan memperlebar jurang etnis di dalam kiri itu sendiri. Faksi Yahudi Maki akhirnya lenyap pada tahun 1975, sementara faksi Arab yang lebih kuat bernama Rakah melanjutkan perjuangan dan kemudian membentuk Hadash pada tahun 1977. Hadash, yang berarti “baru” dalam bahasa Ibrani, adalah aliansi komunis yang hingga kini masih aktif dan menjadi suara paling konsisten menuntut kesetaraan warga Arab.

Hadash berhasil memimpin Hari Tanah tahun 1976, yaitu demonstrasi massal menentang perampasan tanah Arab yang menewaskan enam warga Arab dan kini diperingati sebagai hari peringatan nasional bagi warga Palestina di Israel. Pada pemilu 2020, aliansi Joint List (daftar gabungan partai-partai Arab yang termasuk Hadash) pernah mencapai rekor 15 kursi di Knesset, termasuk dukungan dari sekitar 20 ribu pemilih Yahudi progresif. Sayangnya, setelah pemilu 2022, aliansi itu pecah karena perbedaan strategi dan ego antartokoh.
Hari ini, kiri Israel dapat dikelompokkan dalam tiga lapisan yang sering saling curiga dan sulit bersatu. Pertama, kiri tengah atau yang biasa disebut “peace camp” (kamp perdamaian) moderat, saat ini diwakili oleh partai The Democrats, yang merupakan hasil merger antara Partai Buruh (Labor) dan Meretz yang dilakukan pada tahun 2024 dan dipimpin oleh Yair Golan, mantan jenderal yang dikenal dovish (mendukung perdamaian). Mereka masih tetap Zionis, mendukung solusi dua negara, tetapi tetap berbicara dalam bahasa keamanan nasional. Golan bahkan sempat menyerukan invasi darat ke Lebanon untuk menghancurkan Hizbullah.
Kedua, kelompok progresif seperti Standing Together (Berdiri Bersama), organisasi akar rumput yang dipimpin Sally Abed, seorang warga Arab Israel, dan Alon-Lee Green, aktivis Yahudi. Mereka menekankan solidaritas Yahudi-Arab, perlawanan terhadap korupsi, dan isu sosial-ekonomi, tetapi masih menghindari label anti-Zionis. Sally Abed pernah mengeluh dalam wawancara: “Tak ada yang bicara soal pendudukan, tak ada yang bicara soal perdamaian. Sikap mayoritas sekarang hanya ‘siapa peduli?’”

Ketiga, kiri radikal yang paling vokal meski jumlahnya paling kecil. Hadash (dipimpin Amjad Shbita) secara terbuka menuntut akhir pendudukan wilayah Palestina dan kesetaraan penuh bagi warga Arab. Ada pula Radical Bloc, kelompok kecil yang berani menyebut perang di Gaza sebagai “genosida” dan menolak narasi resmi “pertahanan diri”. Tokoh legendaris yang menjadi panutan mereka adalah almarhum Reuven Kaminer, yang sering disebut sebagai “godfather-nya gerakan kiri Israel”.
Kaminer, imigran asal Amerika Serikat yang tiba tahun 1951, dikeluarkan dari Kibbutz karena pandangan pro-Soviet-nya, mendirikan Siach (1968) dan Shasi (1975), membangun jembatan solidaritas dengan mahasiswa Palestina di Universitas Birzeit, dan bertemu perwakilan PLO di Rumania tahun 1986. Cucu-cucunya kini menjadi refusenik, sebuah istilah untuk warga Israel yang menolak wajib militer karena alasan moral dan politik. Kaminer mengajarkan bahwa kiri harus berani memecah tabu Zionisme, meski harus hidup di pinggiran masyarakat.
Tantangan terbesar kiri Israel adalah perpecahan internal yang kronis dan trauma kolektif masyarakat pasca 7 Oktober. Oposisi Yahudi-Arab sering retak karena perbedaan ego dan strategi. Kiri Yahudi hampir tidak mampu menembus basis Mizrahi, yaitu kaum Yahudi keturunan dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara yang selama ini dimonopoli oleh kanan melalui populisme ekonomi dan nasionalisme.
Pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, represi semakin keras: demonstrasi dicekal, aktivis kiri dicap pengkhianat negara. Di tengah apa yang disebut aktivis Yahav Erez sebagai “frenzy fasis” (kegilaan fasis), sangat sulit meyakinkan orang bahwa mengkritik pemerintah bukan berarti mendukung Hamas.

Namun peluang masih ada di ufuk pemilu 2026. Jika perang Gaza berlarut-larut tanpa kepastian, ditambah kekecewaan publik atas reformasi pengadilan di bawah rezim Netanyahu, opini publik bisa berbalik. Partai The Democrats diproyeksikan meraup 5-9 kursi. Jika berhasil bersekutu dengan Benny Gantz atau Yair Lapid, dua tokoh sentris yang juga mantan jenderal, mereka bisa terbentuk blok “Ben-Gurionis” yang menggabungkan pendekatan keamanan dengan semangat demokrasi sosial seperti era pendiri Israel David Ben-Gurion.
Hadash-Ta’al tetap menjadi oposisi paling konsisten di parlemen. Tekanan global berupa boikot, sanksi, dan putusan Mahkamah Internasional bisa memberi amunisi tambahan. Yang paling penting, tugas kiri bukan lagi sekadar protes di jalan, melainkan membangun “perjuangan bersama” antara Yahudi dan Palestina yang menghubungkan perlawanan terhadap pendudukan dengan keadilan kelas dan etnis, terutama bagi warga Mizrahi dan pinggiran yang selama ini terabaikan.
Suara kiri Israel memang masih samar dan lemah. Tapi sejarah membuktikan bahwa suara yang paling kecil sering kali menjadi benih perubahan terbesar. Reuven Kaminer dan rekan-rekannya pernah diusir dari Kibbutz, dianggap gila, dan dicap pengkhianat, namun tabu tentang pendudukan dan refusenik kini menjadi bagian dari percakapan publik. Di tengah masa depan yang masih tertutup kabut, kiri Israel menghadapi pilihan berat: tetap sayup dan akhirnya lenyap, atau berani memperkeras suara hingga dunia dan bangsanya sendiri terpaksa mendengar.










