AI Membuatnya Frustrasi, Tejo Ungkapkan Lewat Lagu Ini

Apa yang berharga dari laguku
yang kutulis memakan waktu
berbulan-bulan
lalu Suno datang sederhanakan semua
hu.. huu.. huu.. nasib

Bait di atas adalah penggalan lirik dari single berjudul “Apa yang Berharga dari Laguku” yang ditulis Tejo Priyono. Lagu ini dirilis 7 November 2025 di semua platform musik digital dan YouTube musik. Tejo sendiri telah menghasilkan tiga album: Zaman Ganti Rupa (2024), Semper Kemayoran (2024), Anak-Anak SuPer (2025).

Apa yang Berharga dari Laguku seperti ungkapan gamang ketika seorang penulis lagu, yang terbiasa memproduksi sebuah karya dengan cara konvensional, melalui proses yang lama, mengutak-atik melodi dan akord, bongkar pasang lirik, semua dikerjakan secara manual, lalu tiba-tiba datang Suno, sebuah platform Artificial Intelligence (AI), teknologi yang bisa mengatasi hal-hal rumit selesai dalam sekejap!

“Ini mungkin senjalaka bagi penulis lagu, seperti ratapan penulis lagu di era AI sekarang,” ujar Tejo.

AI memang telah merambah di industri dan produksi musik. Kecerdasan buatan ini telah membawa dampak yang signifikan dalam penciptaan, produksi, distribusi, dan pengalaman mendengarkan musik. AI mengubah cara musisi dan produser dalam bekerja.

“Saya mungkin telat menyesuaikan kemajuan zaman, hingga ketika hadir teknologi kecerdasan buatan, kaget melihat orang sekarang bisa bikin lagu dalam hitungan detik. Tinggal buka Suno, ketik lirik, atur genre, klik, jadi deh,” ujar Tejo.

Tapi tidak semua pemusik merespons kehadiran AI sebagai momok, karena ketakutan eksistensinya akan terganggu atau merasa tersaingi. Justru banyak pemusik terbantu dan semakin kreatif menciptakan karya dengan bantuan AI. Seperti Agus Hardiman, seorang kreator digital sekaligus pendiri sekolah recording, Art Sonica.

“Buat musisi yang anti AI, sadarlah! Karena apa yang terjadi sekarang tak ada bedanya dengan dulu di awal digital merambah dunia produksi analog, wkwkwkwk,” kata Agus dengan nada bercanda.

Beberapa juga merespons candaan postingan Agus Hardiman di media sosial tadi dengan menulis di kolom komentar.

“Saya akhirnya pake Suno sebagai alat bantu terjemah isi pikiran om—emotion terbahak—ngulik pake bank audio sendiri mentok! Pas ngeprompt lah..malah bener. Tapi ya itu nantinya hasil generate cuma buat guide aja, musiknya tetep nanti bikin lagi sendiri,” kata Sefa Prasetia.

Sementara Hadi Djuhartono juga memberi beberapa contoh kasus, dan menuliskannya di kolom komentar. “DAW menggantikan pita analog. Visual Studio Technology Instrument (VSTI) menggantikan tumpukan koleksi alat musik konvensional. Messaging apps menggantikan fungsi surat fisik, kantor pos. Jangan tolak AI cuma karena khawatir kerjaannya direbut. Orang akan tetap mencari Hammond B3, Yamaha DX7, Roland D50, Fender Rhodes, biola Stradivarius asli meskipun koleksi VSTI nya udah lengkap melimpah.”

Yang lain, Edo EmpStudio menulis, “Wah saya ngga tau deh harus seneng apa kesel… Sejak ada AI tidur saya kurang banget—emotion tertawa—Libur ama keluarga dibatalin semua. Keluarga mulai ngomel karena saya kerja terus.”

Kembali ke Tejo, mungkin ada benarnya komentar-komentar di atas tadi. Musisi zaman sekarang tidak lagi “memusuhi” keberadaan AI, tapi justru memanfaatkan teknologi itu untuk mengeksplorasi genre, menganalisa gaya dari ribuan lagu, hingga mendapat ide atau perspektif baru, tetapi keputusan kreatif finalnya tetap si musisi yang menentukan.

Mengutip perkataan Herbie Hancock, musisi jazz legendaris, “Musik tidak hanya tentang nada dan ritme. Itu tentang pengalaman hidup, yang mana tidak bisa dirasakan oleh mesin.”

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Operasi Senyap Israel di YouTube

Operasi Senyap Israel di YouTube

Platform digital kini menjelma menjadi senjata baru di bawah slogan: rekam dan

Next
Warisan Pembangunanisme dan Utang Najis Soeharto

Warisan Pembangunanisme dan Utang Najis Soeharto

Ada sebuah frasa yang sering menggema, menjadi momok yang menghantui ruang

You May Also Like
Total
0
Share