Tatkala Buku Dianggap Lebih Berbahaya dari Senjata

Aparat Polda Metro Jaya menggeledah apartemen keluarga Direktur Lokataru Foundation, Delpedro Marhaen, belum lama ini. Penggeledahan dilakukan setelah polisi menetapkan Delpedro sebagai tersangka penghasutan dalam demonstrasi. Dari aksi penggeledahan itu, tiga buku disita sebagai barang bukti.

Kakak kandung Delpedro, Delpiero Hegelian mengungkapkan, salah satu buku yang disita petugas berjudul Negeri Pelangi karya Ras Muhamad, duta reggae Indonesia. Buku itu mengulas peran musik reggae dalam menyatukan perbedaan dan mempromosikan perdamaian.

Terus terang, penyitaan buku sangat mengganggu pikiran, menuntun pada hal yang lebih besar: apa yang membuat gagasan begitu menakutkan bagi sebagian orang?

Buku tidak berbahaya karena kertas atau tintanya, tapi karena pikiran dan gagasan yang tersimpan di dalamnya. Membaca buku kadang membuat kita bertanya, bahkan ketika seharusnya kita diam. Mengapa kita patuh? Apakah yang berlaku benar-benar adil? Adakah cara lain yang lebih manusiawi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu cukup untuk mengguncang tatanan kekuasaan yang tampak kuat.

Kekuasaan yang otoriter tidak takut pada jawaban, tapi pada pertanyaan. Saat orang mulai bertanya, sadar, dan menimbang, kendali kuasa yang mereka genggam begitu ketat akan terancam. Peluru bisa melumpuhkan tubuh, tapi buku membangkitkan kesadaran, membuka mata dan pikiran yang sulit dibungkam. Karena itu, gagasan sering dianggap lebih berbahaya daripada senjata.

Gagasan yang mengancam: Dari filsuf hingga buku modern

Sejak zaman kuno, gagasan selalu menimbulkan rasa takut bagi mereka yang ingin mengontrol segalanya. Kaisar Qin Shi Huang membakar naskah Konfusianisme pada 213 SM. Ia takut pada ajaran yang bisa mengguncang kekuasaannya. Di Yunani Kuno, pada 399 SM, Socrates diawasi ketat, bahkan dihukum mati, karena pertanyaannya dianggap membahayakan tatanan sosial. Di Roma, tulisan kritis politik dan filsafat sering disensor jika menentang kaisar.

Ketakutan itu berlanjut ke era modern. Di Indonesia, sejak 1965, ribuan buku dilarang, terutama karya para sastrawan yang dianggap kiri seperti Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, dan Utuy Tatang Sontani. Beberapa buku bahkan dibakar massal oleh pemiliknya sendiri untuk menghindari risiko dituduh mendukung PKI. Membaca Bumi Manusia bisa membawa seseorang ke penjara, seperti yang dialami Bonar Tigor Naipospos pada 1989.

Bayangan itu belum hilang di era reformasi. Pada 2007, ribuan buku pelajaran sejarah disita dan dimusnahkan di berbagai daerah karena dianggap menyimpang dari versi sejarah resmi. Meski kemudian Mahkamah Konstitusi menegaskan pelarangan buku tanpa pengadilan adalah inkonstitusional.

Di dunia, pola serupa terlihat berulang. Nazi Jerman membakar ribuan buku karya Freud, Marx, dan Einstein. Juga All Quiet on the Western Front karya Erich Maria Remarque yang dianggap anti-perang oleh Nazi. Chile menyaksikan rezim Pinochet membakar buku-buku kiri pada 1973 untuk menyingkirkan jejak pemerintahan Allende.

Uni Soviet melarang The Gulag Archipelago karya Solzhenitsyn, juga 1984 dan Animal Farm karya George Orwell. Iran melarang The Satanic Verses karya Rushdie dan Persepolis karya Marjane Satrapi.

Bahkan di Amerika Serikat, buku seperti To Kill a Mockingbird atau The Bluest Eye ditarik dari sekolah dengan alasan moral. Jangan lupakan Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe yang dilarang di beberapa negara bagian Amerika Serikat sebelum Perang Saudara karena menentang perbudakan.

Potongan berita Kompas tentang pelaranan buku Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.

The Communist Manifesto karya Marx dan Engels sempat dilarang di banyak negara kapitalis, karena dikhawatirkan menimbulkan gejolak sosial.

Ironisnya, larangan-larangan itu justru menimbulkan rasa penasaran.

Pemerintahan macam apa takut pada buku

Pola pelarangan buku ternyata selalu mirip. Rezim totaliter dan otoriter seperti Nazi Jerman, Uni Soviet, dan Orde Baru menutup akses terhadap gagasan yang menantang narasi resmi. Buku menjadi saingan ideologi mereka, suara yang tak bisa dikontrol.

Negara berbasis agama dengan tafsir tunggal, misalnya Iran atau Arab Saudi, menempatkan buku dalam daftar pantauan ketat. Sensor dilakukan atas nama “kesucian iman”, tapi sesungguhnya untuk menjaga posisi dan pengaruh kekuasaan.

Bahkan di negara demokrasi, rasa takut itu tetap ada. Amerika Serikat tetap menolak beberapa buku di tingkat lokal dengan alasan moral atau perlindungan anak. Di balik alasan itu, terlihat ketidaknyamanan menghadapi perbedaan dan pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

Pelajarannya jelas: larangan buku lahir dari ketakutan. Takut kehilangan kendali, takut berbeda, takut rakyat berpikir di luar garis.

Razia buku-buku “kiri” pada awal 2019. Kredit: JEKA KAMPA/DETIKCOM

Api bisa membakar kertas, tapi tidak pikiran

Fenomena penyitaan buku hari ini hanyalah gema dari masa lalu. Zaman boleh berubah, tapi ketakutan terhadap gagasan tetap sama. Buku selalu diperlakukan seolah berbahaya. Padahal, sejarah membuktikan: meski kertas terbakar, ide tetap hidup. Dari Kaisar Qin Shi Huang hingga Orde Baru, dari Nazi hingga sensor modern, gagasan selalu menemukan jalannya.

Membaca menjadi tindakan keberanian. Saat membuka buku, kita melatih ketajaman pikiran, mempertanyakan, dan melihat dunia dari sudut lain. Cara ini paling damai, tapi juga paling subversif untuk mempertahankan kebebasan. Buku dianggap berbahaya bukan karena merusak, melainkan karena membangkitkan kesadaran.

Dan, bagi mereka yang takut kehilangan kuasa, tumbuhnya kesadaran adalah ancaman paling nyata.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Mengunjungi Wina, Kota dengan Konsep Perumahan Sosial Terbaik

Mengunjungi Wina, Kota dengan Konsep Perumahan Sosial Terbaik

Siapa sangka, perjalanan ke Wina, Austria, kota yang selalu saya bayangkan penuh

Next
Kisah Nestapa di Jawa Barat: Potret Luka Kolektif Bangsa

Kisah Nestapa di Jawa Barat: Potret Luka Kolektif Bangsa

Meninggalnya R, bocah perempuan berusia empat tahun di Rumah Sakit Umum Daerah

You May Also Like
Total
0
Share