Cornel Simanjuntak, Pemuda Siantar dalam Gelanggang Revolusi Indonesia

Lagu “Maju Tak Gentar” selalu berkumandang dalam peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Lagu heroik ini tak bisa dilepaskan dari sosok penting penciptanya, Cornel Simanjuntak.

Cornel Simanjuntak, demikian ia lebih dikenal, bukan saja pencipta lagu-lagu nasional. Pemuda kelahiran Pematangsiantar, Sumatera Utara ini juga turut “maju tak gentar” dalam gelanggang revolusi Indonesia demi mempertahankan kemerdekaan.

Pada saat itu, semua orang memang bisa terbakar api revolusi. Cornel, yang saat itu masih berumur 20-an tahun, termasuk golongan pemuda yang terbakar semangat revolusi Agustus itu. Soe Hok Gie menyebut Cornel sebagai arketipe “pemuda revolusioner”.

Orang zaman sekarang memang lebih mengenal Cornel sebagai komponis lagu-lagu nasional. Sedangkan kontribusinya yang lebih besar, berkorban untuk kemerdekaan negerinya, hampir tidak ditulis dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah kita.

Anak cerdas pencinta musik

Cornel lahir di Pematangsiantar pada 1921. Ayahnya, Tolpus Simanjuntak, adalah seorang polisi. Sedangkan, ibunya bernama Rumina Siahaan. Dengan latar belakang keluarganya, Cornel berkesempatan untuk berkenalan dengan dunia yang lebih luas.

Bakat musiknya sudah muncul saat ia bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Saat itu, Cornel sudah pandai bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu barat yang didengarnya dari radio dan nonton film.

Pada 1937, Cornel dikirim orang tuanya bersekolah di HIK Xaverius College di Muntilan, Magelang. Salah seorang sahabatnya di HIK Muntilan, Binsar Sitompul, menyebut Cornel sebagai murid yang cerdas, pemberani, jujur dan gigih dengan pendiriannya.

Kebetulan, di HIK Muntilan saat itu ada seorang pengajar musik andal, J. Schouten. Berkat usaha Schouten, di sekolah itu terbentuk orkes simfoni yang beranggotakan 60 orang. Kelompok ini sering memainkan karya Beethoven, Bach, Haydn, Strauss (Johan) dan Wagner.

Cornel SImanjuntak, kredit: Historia.id

Cornel saat itu, kata Binsar Sitompul, segera menjadi perhatian Schouten berkat bakat musiknya yang menonjol dan suaranya yang bagus. Cornel pun terlibat dalam kelas musik Schouten. Di situlah Cornel kecil berkenalan dengan komposer-komposer besar dunia, termasuk Beethoven atau Franz Schubert. Salah satu lagu Franz Schubert, Ave Maria, menjadi lagu kesukaan Cornel.

Di sini pula Cornel mengarungi karya-karya pujangga Indonesia: Amir Hamzah, Sanusi Pane, JE Tatengkeng, dan Sutomo Djauhar Arifin. Cornel muda makin larut dalam kecintaan terhadap sastra. Ia mengakrabi karya-karya Goethe, Schiller, Heine, dan Shakespeare.

Pencipta lagu

Pada tahun 1942, menjelang akhir studinya di HIK Muntilan, pasukan fasis Jepang datang menyerang. Berbekal ijazah darurat, Cornel bisa menjadi guru di Magelang, Jawa Tengah. Lagu “Mekar Melatiku” dihasilkannya di sana.

Pada tahun 1943, Cornel pindah ke Jakarta. Di sana, ia bekerja di Kantor Kebudayaan Jepang (Keimin Bunka Shidosho). Di kota ini, ia bergaul dengan seorang komponis Jepang, Nobuo Lida. Ia sempat ditugasi membuat lagu-lagu propaganda. Banyak lagu diciptakannya: “Asia Sudah Bangun”, “Hancurkan Musuh Kita”, “Awaslah Inggris dan Amerika”, dan “Mars Pasukan Sukarela”.

Masa 1943-1945, kata Asrul Sani, adalah puncak kreativitas dari Cornel Simanjuntak. Satu keunggulan Cornel dalam menciptakan lagu adalah lagunya sederhana, mudah dipahami, tetapi sangat agitatif. Dan, satu lagi, Cornel menganggap seorang komponis harus sanggup menangkap perasaan musik ke dalam dada rakyat.

Terjun dalam revolusi

Pada 1945, saat api revolusi membakar dada pemuda dan rakyat, Cornel memilih terjun langsung dalam gelanggang perjuangan.

Asrul Sani, yang sangat akrab dengan Cornel, pernah bertemu pada masa revolusi itu. Saat itu, Cornel berucap kepada Asrul Sani: “Kalau Saudara hendak mencari saya, jangan cari di rumah. Saya ada di markas API, Menteng 31. Buat sementara waktu saya meninggalkan musik. Saya sekarang merasa bebas sebebas-bebasnya. Dan dengan kebebasan yang saya perdapat ini saya tentu akan dapat menghidupi jiwa saya. Saya tidak ingin perasaan kebebasan itu hilang. Kalau kemerdekaan kita diambil orang, ia pun akan turut hilang. Sekarang ada pertempuran untuk kebebasan ini. Saya tersangkut di dalamnya.”

Cornel terjun dalam revolusi. Ia memanggul senapan terlibat dalam pertempuran di daerah Karawang dan Jakarta. Hingga, dalam sebuah pertempuran di daerah Senen–Tangsi Penggorengan Jakarta, pahanya tertembak. Ia kemudian dirawat di CBZ—sekarang bernama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Makam Cornel Simanjuntak di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta.

Belum sembuh total, pasukan sekutu datang melakukan penyisiran di rumah sakit. Cornel pun dibopong pergi oleh kawan-kawan seperjuangannya dan dibawa keluar kota Jakarta.

Dari Karawang ia dikirim ke Yogyakarta. Di kota inilah kemudian lahir lagu-lagu yang heroik dan patriotik. Antara lain: “Tanah Tumpah Darah”, “Maju Tak Gentar”, “Pada Pahlawan”, “Teguh Kukuh Berlapis Baja”, serta “Indonesia Tetap Merdeka”.

Di Yogyakarta, batuk kering yang dideritanya tak berkesudahan. Badannya melemah dan tubuhnya terus menyusut. Ia pun dirawat di di Sanatorium Pakem, Yogyakarta. Sembari diopname, Cornel terus berkarya. Ia terus melahirkan lagu-lagu perjuangan untuk membakar semangat heroik kaum muda.

Pada 15 September 1946, Cornel—yang masih berusia 25 tahun—mengembuskan napas yang terakhir. Ia dimakamkan di Pemakaman Kerkop Yogyakarta.

Cornel, pemuda yang sebetulnya sedang sakit itu, tidak mempedulikan dirinya asalkan bisa berkontribusi bagi pembebasan negeri yang dicintainya. Ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada revolusi. Cornel tidak mau melemah dalam semangat revolusi yang menggelora. Revolusi dan kemerdekaan adalah imannya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Indonesia Belum Merdeka dari Buta Huruf

Indonesia Belum Merdeka dari Buta Huruf

“Sekali kau belajar membaca, selamanya kau akan merdeka

Next
Resonansi Gerakan Rakyat Pati

Resonansi Gerakan Rakyat Pati

Aksi protes rakyat Pati menjelma menjadi gelombang resonansi perlawanan yang

You May Also Like
Total
0
Share