Ada film yang biasa saja, alur ceritanya datar, visualnya pun tak memukau. Namun, karena menautkan kita dengan masa lalu, sebuah era yang penuh jerit-pedih, mata kita terasa sembap saat menontonnya.
Itu yang saya rasakan setelah menonton film ”The Children’s Train” (2024). Film karya Cristina Comencini ini berusaha membawa kita mengengok Italia pasca Perang Dunia II, setelah negeri itu menjadi palagan yang mengerikan antara sekutu dan partisan versus fasisme Jerman dan Italia.
Menariknya, tidak terjebak dengan romantisme pasca perang, film ini mengambil sudut pandang rakyat jelata yang nasibnya tetap terempas pasca perang. Saat itu, pada 1946, setelah perang beringsut, Italia benar-benar porak-poranda. Infrastruktur hancur, ekonomi lumpuh, dan kemiskinan merayap di setiap sudut kota.
Bagian selatan Italia, yang sering disebut Mezzogiorno, mengalami kehancuran terparah. Selatan adalah tempat pendaratan sekutu sekaligus palagan perang yang mengerikan. Setelah perang, karena struktur ekonominya kurang terindustrialisasi, wilayah selatan sangat miskin. Sementara Italia bagian utara (Settentrione), sekalipun pernah menjadi basis bangkitnya fasisme, relatif terindustrialisasi, sehingga lebih cepat bangkit pasca perang.
Film ini menaruh kameranya di Kota Napoli, kota terbesar Mezzogiorno. Di kota inilah hidup seorang ibu tunggal dengan seorang anak laki-lakinya. Antonietta (Serena Rossi). Sang ibu harus berjuang mengais remah-remah di tengah puing-puing perang. Di tengah cekikan kemiskinan dan ketidakpastian, ia khawatir dengan masa depan buah hatinya, Amerigo (Christian Cervone).

Dalam situasi penuh nelangsa dan ketidakpastian, muncullah inisiatif dari kaum perempuan komunis yang berhimpun dalam Unione Donne Italiane (UDI), sayap perempuan dari Partai Komunis Italia (PCI). Teresa Noce, sang pemimpin UDI, punya misi sosial yang disebut ”Treni della Felicità” atau Kereta Kebahagiaan.
Intinya, melalui program ini, UDI/PCI mengirim anak-anak dari keluarga miskin dari Selatan, terutama mereka yang yatim-piatu, kurang gizi, dan miskin ekstrem, untuk mendapatkan keluarga angkat di Italia bagian utara. Program ini dianggap sebagai bentuk solidaritas. Di utara, anak-anak miskin ini mendapat kehidupan lebih layak: makanan, pakaian, hingga pendidikan.
Amerigo bersama 70 ribu anak dari selatan menjadi bagian dari program ini. Kamera Comencini menggambarkan kesedihan para orang tua, termasuk Antonietta, merelakan anak-anaknya mencari orang tua baru di utara ketimbang direnggut oleh kemiskinan. Di titik itu, film ini mengingatkan bahwa kemiskinan bukan hanya ketiadaan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi ketiadaan pilihan.
Ketika kereta mulai meraung pergi, Antonietta masih disergap cemas lantaran hoaks yang beredar, bahwa anak-anak hendak dikirim ke Siberia dan bakal dimangsa oleh kaum kanibal.
Kereta kebahagiaan akhirnya tiba di Modena, Emilia-Romagna, salah satu kota paling makmur di utara. Anak-anak dijemput oleh orang tua asuhnya masing-masing. Namun, Amerigo, anak selatan yang bertubuh kurus itu, harus menunggu paling terakhir sampai seorang partisan komunis, Derna (Barbara Ronchi), bersedia mengasuhnya.
Derna, seorang perempuan muda, berpendidikan, dan seorang aktivis kiri, tak hanya menyambut Amerigo dengan makanan, pakaian, dan sebuah kamar yang nyaman. Ia memberi Amerigo ruang untuk tumbuh: pendidikan dan keterampilan. Derna mengenalkan buku dan Cello, dua simbol budaya kelas menengah-atas, kepada Amerigo.
Meskipun terlihat mulia, tetapi program ini menciptakan kompleksitas. Anak-anak seperti Amerigo dibesarkan oleh dua orang tua dengan kultur yang berbeda. Gereja Katolik dan Partai Demokrasi Kristen (DC) menentang keras program ini. Mereka menuduh PCI melakukan “penculikan ideologis.” Bagi gereja, program ini tak hanya merampas hak suci orang tua atas anaknya, tapi juga menjadi sarana indoktrinasi ideologi komunis.
Dan kontradiksi itu tersingkap ketika Amerigo dan puluhan ribu anak-anak kembali ke keluarganya di selatan. Ia kembali sebagai anak yang berbeda: lebih terdidik, lebih bersih, lebih dewasa, dan dengan cello di tangannya. Namun, perubahannya ditolak oleh Antonietta. Ia merasakan anaknya sudah berbeda, dari tampilan hingga perasaan.
Lalu kemarahan Antonietta pada Amerigo tertumpa pada cello, sebuah benda mahal, yang bagi kaum miskin, harganya bisa memenuhi kebutuhan beras dan pakaian untuk beberapa bulan. Cello itu akhirnya berakhir di tempat gadai.
Dalam kesalahpahaman dan kesedihan, Amerigo mengambil keputusan menyakitkan: kembali ke orang tua angkatnya di utara. Kelak, berkat asuhan Derna, ia tumbuh dewasa sebagai pianis terkemuka dengan nama Amerigo Speranza.
Film ini adalah pengingat bahwa dalam sejarah pasca perang, di bawah narasi besar tentang rekonstruksi dan ideologi, selalu ada kisah-kisah orang-orang kecil dengan keterbatasan pilihan. Antonietta dan Amerigo mewakili wajah-wajah mereka.










