Peringatan 81 tahun proklamasi kemerdekaan kembali membawa ingatan kita pada sosok Sukarno dan Hatta. Dua proklamator tersebut selama ini menjadi simbol utama dari peristiwa bersejarah yang menandai lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka.
Namun, di balik proklamasi dan hiruk-pikuk persiapan menuju kemerdekaan, terdapat kontribusi besar kaum perempuan yang tak boleh dilupakan. Mereka menjadi bagian penting dari perjuangan, turut menggerakkan roda sejarah, dan menopang berbagai upaya menuju kemerdekaan. Tanpa mereka, kereta perjuangan belum tentu sampai ke gerbang kemerdekaan.
Satu di antara perempuan itu adalah Surastri Karma Trimurti, atau lebih dikenal sebagai SK Trimurti. Dalam foto yang dijepret oleh dua bersaudara, Frans dan Alex Mendur, SK Trimurti hadir langsung saat proklamasi dikumandangkan. Ia memakai kebaya bermotif bintik-bintik kecil dengan bawahan sarung batik. Aktivis perempuan ini berdiri tepat di samping Fatmawati dan berjarak sekitar dua meter dari Sukarno-Hatta.
Namun, kiprah SK Trimurti lebih dari saksi sejarah peristiwa proklamasi. Ia turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sejak 1920-an, sebagai jurnalis, aktivis politik, tokoh gerakan bawah tanah, dan berkali-kali masuk dan keluar penjara karena aktivitas anti-kolonialnya.
Berpena tajam
Lahir pada 11 Mei 1912 di Desa Sawahan, Boyolali, Trimurti berasal dari keluarga abdi dalem di Keraton Kasunanan Surakarta. Ayahnya, R.Ng. Salim Banjaransari Mangunsuromo, adalah seorang asisten wedana, selevel camat saat ini. Sementara ibunya, R.A. Saparinten binti Mangunbisomo, juga berdarah bangsawan.
Namun, meskipun berdarah bangsawan, Trimurti selalu peduli dengan isu kesetaraan. Ia pernah bersekolah di Meisjes Normaal School (Sekolah Guru Perempuan), dan setelah tamat, mengajar di sekolah itu.
Jalan hidupnya berubah total usai menghadiri Rapat Umum Partindo di Purwokerto, Jawa Tengah, pada 1933. Ia terpukau mendengar pidato Sukarno yang tak hanya bak ombak samudera, tetapi juga lantang menghantam kolonialisme. Pasca rapat umum itu, ia bergabung dengan Partindo.
Dalam partai yang berdiri pada 1931 itu, Trimurti mulai tertarik dengan dunia jurnalisme. Terlebih lagi, Sukarno rajin mendorong Trimurti agar berani menulis. Akhirnya, suatu hari pada 1933, Trimurti menulis artikel pertamanya untuk koran yang digawangi oleh Sukarno, Fikiran Ra’jat.
Sejak itu Trimurti menjelma menjadi jurnalis berpena tajam. Tahun 1935, ia mendirikan majalah Bedoeg. Ia terinspirasi oleh suara bedug Masjid, yang berseru-seru memanggil kaum muslimin untuk beribadah. Dia ingin korannya seperti bedug, berseru-seru kepada seluruh rakyat agar mau berjuang.
Tahun 1936, ketika bergabung dengan Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI) di Yogyakarta, Trimurti menjadi pemimpin redaksi majalah “Soeara Marhaeni”. Sejak itulah, supaya aktivitas politiknya tidak tercium oleh orang tuanya, ia menggunakan nama pena: S.K. Trimurti. Belakangan orang lebih mengenal nama penanya, Trimurti, ketimbang nama aslinya, Surastri.
Bersama aktivis-aktivis PMI, Trimurti aktif menyebarkan pamflet gelap. Terbitan yang isinya menyerang kolonialisme Belanda itu disebar dan ditempel secara sembunyi-sembunyi. Tetapi aksi itu akhirnya ketahuan juga. Trimurti ditangkap dan dipenjara selama sembilan bulan.
Keluar dari penjara, Trimurti tidak kapok. Dia bekerja di sebuah percetakan kecil, sembari ikut menerbitkan majalah Suluh Kita. Ia juga bekerja untuk koran lain, Sinar Selatan. Di situlah ia bertemu Sayuti Melik, suaminya kelak.
Suatu hari, lewat Sinar Selatan, Sayuti Melik, yang bekas Digulis itu, menerbitkan artikel. Isinya seruan untuk tidak memihak Belanda maupun Jepang dalam perang yang bakal terjadi. Lantaran tulisan itu, Sayuti Melik diincar Belanda.
Mengingat posisi Sayuti Melik sebagai eks-Digulis, dan tulisannya itu berpotensi mengembalikannya ke Boven Digul, maka Trimurti yang maju ke depan untuk mengambil risiko. Dia mengaku sebagai penulis artikel itu. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Trimurti ditangkap. Ia dijatuhi hukuman enam bulan penjara. Saat itu, karena baru melahirkan anak pertamanya, Trimurti mendekam dalam penjara bersama anaknya.
Keluar dari penjara, Trimurti bergabung dengan Gerindo, sebuah gerakan anti-kolonial yang digawangi oleh dua anak muda Sumatera, Amir Sjarifoeddin dan Mohammad Yamin. Berdiri pada 1937, organisasi ini lebih mirip wadah untuk menampung bekas aktivis dari organisasi yang dilarang pemerintah, dari Partindo hingga Partai Komunis Indonesia (PKI).
Lantaran aktivitasnya dalam Gerindo, Trimurti sering bersinggungan dengan aktivis PKI ilegal. Masa itu, berdasarkan garis Dimitrov yang dianut Komunis Internasional (Komintern), PKI harus membangun front luas dengan kaum demokrat maupun liberal dalam menghadang bahaya fasisme.
Entah mengapa, menjelang kedatangan Jepang, Trimurti tiba-tiba diciduk oleh PID (polisi rahasia Belanda). Ia dituding akan memihak Jepang. Ia awalnya diperiksa di Semarang, lalu ke Ambarawa, kemudian ke Garut. Trimurti tidak sendirian. Beberapa aktivis lain, seperti Sukarni, Asmara Hadi, dan Adam Malik, turut ditangkap. Rencananya, mereka mau diangkut ke Australia. Namun, rencana tersebut belum terlaksana, Jepang sudah mendarat di Hindia. Trimurti pun akhirnya bebas.
Namun, belum lama menghirup udara bebas, Jepang melakukan penangkapan besar-besaran. Jaringan bawah tanah anti-fasis, yang terkait dengan Gerindo dan PKI ilegal, terbongkar. Banyak aktivis yang ditangkap. Trimurti turut diincar.
Trimurti sempat dipanggil dan diinterogasi polisi Jepang. Namun, akhirnya ia hanya menjadi tahanan rumah dan wajib lapor.
Pada 1943, Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera), sebuah organisasi yang dibentuk untuk menghimpun kaum nasionalis agar mau membantu Jepang. Ada empat tokoh nasionalis, yakni Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur, yang disebut empat serangkai, ditunjuk memimpin organisasi baru itu.
Sukarno, yang mendengar Trimurti menjadi incaran Jepang, segera mengajak Trimurti bergabung dalam Putera. Karena panggilan itu, Trimurti akhirnya bisa ke Jakarta. Ia dan keluarganya tinggal dalam sebuah kamar di Asrama Menteng 31.
Sayang, Putera hanya berusia pendek, cuma setahun, lalu digantikan dengan Jawa Hokokai. Organisasi baru ini untuk menghimpun sumber daya manusia maupun materiil yang dibutuhkan Jepang dalam perang Pasifik. Awalnya, Trimurti enggan bergabung. Namun, setelah dibujuk Sukarno, ia pasrah.
“Tapi, apa boleh buat. Saya melihat strategi Bung Karno bahwa ‘kereta’ yang dibuat Jepang itu hanya satu, ya naikilah. Yang penting, kita tetap konsisten terhadap cita-cita,” katanya.
Seputar proklamasi kemerdekaan
Masuk Jakarta, selain bergiat di Jawa Hokokai, Trimurti juga banyak bersinggungan dengan gerakan kaum muda. Bersama kaum muda itu, di antaranya Chaerul Saleh, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, dan S.F. Mendur, ia mendirikan Gerakan Angkatan Muda.
Ketika tanda-tanda kekalahan Jepang mulai tercium, dan pendekatan mereka terhadap Indonesia mulai melunak, Trimurti dkk mendesak Sukarno agar mendirikan Gerakan Rakyat Baru. Wadah ini semacam front yang menyatukan semua tokoh maupun organisasi untuk menyiapkan Indonesia merdeka.
Sayang, ketika rapat persiapan wadah baru itu berlangsung pada awal Juli 1945, perdebatan soal anggaran dasar berujung walk-out barisan pemuda. Akhirnya, wadah ini mati sebelum dilahirkan.
Namun, usaha Trimurti dkk tidak berhenti. Pada 14 Agustus 1945, mereka berkumpul di dekat lapangan Kemayoran, sembari menunggu kepulangan Sukarno, Mohammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat dari pertemuan dengan Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam.
Rencananya, Trimurti dan kawan-kawan hendak mendesak Sukarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan sekaligus menolak janji kemerdekaan dari Jepang. Sayang, ketika mereka menghampiri Sukarno dan Hatta, respons keduanya sangat dingin. Pertemuan pun gagal.
Kita tahu, sehari kemudian, tepatnya 15 Agustus 1945 malam, kaum muda kembali menggelar rapat. Rapat inilah yang memutuskan untuk mengumandangkan proklamasi pada 16 Agustus 1945 sekaligus mengamankan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Trimurti sendiri sudah tidak terlibat dalam rapat ini.
Pada 16 Agustus 1945, saat Sukarno dan Hatta dibawa kaum muda ke Rengasdengklok, Trimurti sedang mengasuh anaknya. Sore harinya, ia diajak oleh kawan-kawan muda berkumpul di Kebon Sirih. Di sana, kaum muda sedang merencanakan aksi perebutan kekuasaan dari tangan Jepang. Namun, hingga tengah malam, Sukarno yang ditunggu tak kunjung datang. Trimurti pulang dengan rasa kecewa.
Pada saat bersamaan, Sukarno, Hatta, dan beberapa kaum muda, termasuk Sayuti Melik, suami Trimurti, sedang menyusun naskah proklamasi di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda di Jalan Meiji Dori (sekarang Jalan Imam Bonjol).
Pagi hari, 17 Agustus 1945, ia diajak ke rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur No. 56 . Hari itu, ia tahu negara yang diperjuangkannya selama bertahun-tahun akan memproklamirkan kemerdekaan.
Trimurti tak mau ketinggalan peristiwa paling penting dalam hidupnya itu. Ia langsung bergegas menuju rumah Sukarno. Di sepanjang jalan, ia menyaksikan rakyat kecil, dengan menenteng klewang dan senjata tajam, juga bergerak ke arah yang sama.
Hari itu, jelang pukul 10.00 pagi, halaman rumah Sukarno sudah disesaki massa. Begitu Trimurti tiba, Sukarno langsung menyambut. “Yu Tri, kerek bendera itu,” pintanya.
Namun, Trimurti menolak. Menurutnya, Latif Hendraningrat, yang anggota PETA, lebih pantas untuk mengerek bendera itu. Latif pun maju, dibantu oleh Suhud yang memegang bendera.
Sementra Trimurti berdiri disamping Fatmawati menyaksikan bendera Merah Putih dikibarkan. Tidak lama kemudian, Sukarno membacakan teks proklamasi. Suaranya perlahan, intonasinya sangat jelas, dan khidmat.
“Waktu proklamasi itu dibaca, hati saya berdebar-debar dan keringat dingin keluar, seakan-akan ada kekuatan magnet yang menyelusuri badan saya,” ujar Trimurti dalam Aku di Dalam Kancah.

Mempertahankan kemerdekaan
Usai proklamasi dibacakan, kiprah Trimurti tak berhenti. Ia ditunjuk sebagai anggota Komite Nasional Indonesia, lalu berubah menjadi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), lembaga yang menyerupai parlemen di masa awal kemerdekaan.
Sebagai anggota KNIP, Trimurti ditugaskan ke Jawa Tengah untuk membentuk organisasi ini di Semarang. Selain itu, ia ditugaskan untuk menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan di Semarang dan sekitarnya.
Ia berangkat ke Semarang dengan mobil sedang bekas milik militer Jepang sudah agak rusak. Saat ban mobil tersebut kempes di tengah jalan, rongga bannya diisi secara darurat menggunakan rumput kering agar mobil tetap bisa menggelinding.
Saat pertempuran lima hari berkobar di Semarang, 15-19 Oktober 1945, Trimurti masih di sana. Ia terus mengabarkan berita proklamasi, mengonsolidasikan kaum muda, dan turut membentuk badan-badan pemerintahan RI di sana.
Kembali ke Jakarta jelang akhir 1945, Trimurti aktif kembali di KNIP. Selain itu, ia mulai sibuk menghidupkan gerakan buruh. Setelah Barisan Buruh Indonesia (BBI) berdiri, Trimurti yang mendirikan sayap perempuannya, Barisan Buruh Wanita (BBW). Ia juga menjadi pengurus Partai Buruh Indonesia (PBI), yang berdiri pada September 1945.
Pada pertengahan 1947, ketika Amir Sjarifoeddin ditunjuk oleh Sukarno untuk membentuk kabinet, Trimurti dipilih sebagai Menteri Perburuhan. Akhirnya, sejarah mencatat: Trimurti adalah Menteri Perburuhan pertama di republik ini. Semasa menjadi menteri, ia aktif memperjuangkan undang-undang perburuhan baru sebagai pengganti undang-undang perburuhan kolonial.










