17 Agustus 2025, kita memperingati hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia. Dalam suasana penuh rasa syukur dan khidmat ini, penting untuk mengingat kembali peran besar yang dimainkan para pemuda dari kelompok kiri.
Mereka adalah para kader komunis dan sosialis yang tanpa lelah memperjuangkan kemerdekaan. Tanpa andil mereka, jalannya proklamasi mungkin tidak berjalan semulus, bahkan bisa jadi tidak terjadi pada 17 Agustus 1945.
Sejarawan Soe Hok Gie dalam bukunya, “Orang-orang Kiri di Persimpangan Kiri Jalan,” menyimpulkan bahwa banyak kader komunis yang bekerja keras untuk memperlancar proses proklamasi. Gie secara khusus menyebutkan Wikana dan Mr. Subardjo sebagai tokoh krusial. Sayangnya, karena sejarah sering kali ditulis oleh pemenang dan rezim Orde Baru yang anti-komunis menjadi pemenangnya, kontribusi pemuda-pemuda kiri ini sering kali disamarkan dalam narasi sejarah perjuangan kemerdekaan.

Gerakan bawah tanah jelang proklamasi
Di bawah pendudukan Jepang, para aktivis kiri membentuk berbagai organisasi bawah tanah anti-fasis, seperti Gerakan Anti-Fasis (Geraf) yang dipimpin oleh Widarta dan Amir Sjarifuddin, Gerakan Indonesia Merdeka (Gerindom) yang dipimpin Aidit, serta Gerakan Indonesia Baru yang dipimpin oleh Wikana. Terdapat juga gerakan bawah tanah yang digerakkan Sjahrir.
Gerakan bawah tanah ini banyak berpusat di Asrama Menteng 31, Jakarta. Tokoh-tokohnya antara lain Wikana, Aidit, Soebadio, Adam Malik, Chaerul Saleh, AM Hanafie, Darwis, Djohar Nur, dan Sukarni. Kelompok inilah yang memainkan peran penting dalam mendesak percepatan proklamasi kemerdekaan. Secara ideologi, mereka memiliki beragam pemikiran: ada pengikut sosialis Sjahrir seperti Soebadio, pengikut Tan Malaka seperti Adam Malik dan Sukarni, serta Aidit dan Wikana yang kelak menjadi bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pada Agustus 1945, Jepang semakin terdesak dalam Perang Asia Timur Raya. Berita kekalahan Jepang mulai menyebar, terutama di kalangan pemuda. Pada malam 14 Agustus 1945, Wikana dan Aidit mendengar berita penyerahan Jepang kepada Sekutu. Mereka dengan cepat menyebarkan kabar ini dan berinisiatif mengorganisir rapat pemuda untuk menentukan langkah selanjutnya.

Rapat pemuda dan Peristiwa Rengasdengklok
Pada 15 Agustus 1945 sekitar pukul 19.00, sebuah pertemuan besar berbagai kelompok pemuda diselenggarakan di Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur, Jakarta. Rapat ini dihadiri tokoh-tokoh kunci seperti Aidit, Wikana, Chaerul Saleh, dan lainnya. Hasil dari rapat tersebut adalah satu keputusan bulat: proklamasi kemerdekaan Indonesia harus segera dilakukan. Mereka juga mengusulkan agar proklamasi dibacakan oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Untuk menyampaikan hasil rapat ini, empat utusan pemuda—Wikana, Aidit, Subadio, dan Suroto Kunto—diutus untuk bertemu Sukarno di kediamannya di Pegangsaan Timur 56. Namun, Sukarno menyatakan tidak bisa mengambil keputusan sendiri dan ingin berunding dengan tokoh-tokoh pemimpin lainnya. Setelah berunding dengan Hatta dan Subardjo, para tokoh menolak inisiatif pemuda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, dengan alasan khawatir akan bentrokan dengan Jepang.
Tidak puas dengan penolakan itu, para pemuda kembali mengadakan rapat di Cikini 71. Pertemuan ini melibatkan lebih banyak kelompok, termasuk dr. Muwardi (Barisan Pelopor) dan Yusuf Kunto (PETA). Rapat ini memutuskan untuk mengamankan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok guna menghindari pengaruh Jepang.
Pada dini hari 16 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta dijemput dari rumah mereka dan dibawa ke Rengasdengklok. Di sana, perundingan antara Sukarno-Hatta dengan pemuda terus berlangsung, namun tanpa kesepakatan. Sementara itu, di Jakarta, pemuda lainnya mulai mempersiapkan aksi proklamasi dan mengagitasi massa. Kabar hilangnya Sukarno-Hatta akhirnya diketahui oleh Ahmad Subardjo, yang kemudian menjemput keduanya pada sore hari. Di Rengasdengklok, setelah perundingan yang alot, akhirnya tercapai kesepakatan bahwa proklamasi kemerdekaan akan dibacakan malam itu juga.

Detik-detik proklamasi
Malam harinya, rombongan Sukarno-Hatta kembali ke Jakarta. Persiapan proklamasi dilakukan di rumah Laksamana Maeda, seorang perwira Angkatan Laut Jepang yang bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia, yang dianggap aman dari pengawasan militer Jepang. Awalnya, proklamasi direncanakan akan dilangsungkan di Lapangan Ikada, namun Sukarno khawatir akan memicu bentrokan. Akhirnya, diputuskan proklamasi akan dibacakan di halaman rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56.
Pada 17 Agustus 1945, pukul 10.00 pagi, proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pun dilangsungkan. Dalam suasana yang sangat sederhana—tanpa musik, tanpa protokol resmi, dengan mikrofon curian, bendera hasil jahitan Fatmawati, dan tiang bendera dari bambu seadanya—Sukarno mengumumkan pernyataan kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia.
Mempertahankan kemerdekaan
Setelah proklamasi, peran pemuda kiri tidak berhenti. Mereka berjibaku menyebarluaskan berita proklamasi ke seluruh penjuru negeri dan dunia melalui berbagai media, seperti radio, koran, mural di trem, dan pamflet.
Mereka juga membentuk organisasi-organisasi perjuangan seperti Barisan Pelopor dan Angkatan Pemuda Indonesia (API) untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan. API dipimpin oleh Wikana dan beranggotakan tokoh-tokoh penting seperti Chaerul Saleh, Aidit, Darwis, AM Hanafie, dan lain-lain.
Para pemuda ini jugalah yang mengorganisir rapat umum di Lapangan Ikada pada 19 September 1945, yang dihadiri oleh hampir 200 ribu orang, untuk membela kemerdekaan. Di tengah massa yang memadati lapangan, Aidit naik ke panggung memimpin massa menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Darah Rakyat” sambil menunggu kedatangan Sukarno.
Begitulah, kontribusi pemuda kiri sangatlah besar dan tak terpisahkan dari sejarah perjuangan dan proklamasi kemerdekaan Indonesia.










