Dunia kini bergetar di gerbang zaman baru: revolusi industri 4.0. Sebuah era yang ditandai gemuruh kecerdasan buatan, tenaga kerja robot, lautan data raksasa, cloud computing, otomatisasi, dan teknologi nanoteknologi.
Tak diragukan lagi, gelombang kemajuan ini membawa berkah yang melimpah. Ekonomi menjadi lebih produktif, alur kerja kian efisien, dan manusia terbebas dari pekerjaan berisiko. Lebih penting dari itu, inovasi terus bermekaran, menjadikan hidup kita serba lebih mudah. Revolusi ini membuka lini usaha, lapangan, dan profesi yang sama sekali baru. Ia bukan sekadar mengubah cara kita bekerja, melainkan juga cara hidup, memandang dunia, dan berelasi sosial.
Namun, di balik kemilau kemajuan, tersembunyi sisi gelap yang reflektif: mesin dan robot akan mengambil alih banyak profesi. Menurut laporan World Economic Forum tahun 2020, AI dan otomatisasi diprediksi akan menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan pada 2025. Namun, laporan itu juga menyebut AI akan menciptakan 97 juta pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan era digital.
Fenomena ini, ironisnya, telah dibaca dan dikupas tuntas oleh Bung Hatta 86 tahun silam. Tepatnya melalui artikel di Daulat Rakjat (20 September 1932) berjudul Krisis Dunia dan Nasib Rakyat Indonesia.
Hatta membaca gerak sejarah
Awalnya, wakil presiden pertama Republik Indonesia ini menyinggung pemikiran Karl Marx tentang perjuangan kelas sebagai lokomotif sejarah. Intinya, dalam corak produksi yang syarat akan eksploitasi—di mana satu kelas menghisap kelas lain—maka perjuangan kelas tak terhindarkan.
Dalam kapitalisme, medan pertarungan adalah antara kaum buruh versus kaum kapitalis. Untuk menjaga proses akumulasi keuntungan, para kapitalis terus memperkuat kedudukannya.
Namun, Bung Hatta mengingatkan, selain dengan buruh, kapitalis juga harus bersaing dengan sesama kapitalis. Dan di sinilah inovasi didorong.
“Persaingan itu menimbulkan akal dan tenaga baru,” kata Bung Hatta.
Agar tak tergilas dalam perebutan untung dan pasar baru, kaum kapitalis dipaksa memperbaiki perusahaannya: menyempurnakan mesin dan mencari teknik-teknik baru yang lebih efisien. Inilah yang memunculkan “zaman rasionalisasi”, sebuah upaya sistematis mengurangi tenaga kerja manusia dalam produksi. Tenaga manusia digantikan oleh mesin.
“Senantiasa mesin dimajukan ke muka dengan alat yang senantiasa diperbarui. Senantiasa orang diganti dengan mesin,” tulis proklamator kemerdekaan ini.
Bung Hatta mencontohkan inovasi pabrik kendaraan Ford America. Sebelumnya, pabrik yang berdiri sejak 1903 itu butuh satu bulan untuk merampungkan satu mobil. Setelah rasionalisasi, Ford hanya butuh lima menit per unit! Bahkan, di industri percetakan surat kabar, hampir semua pekerjaan, termasuk melipat dan membungkus, sudah dikerjakan mesin, hingga membuat manusia tak lagi punya pekerjaan.
Kini, di era 4.0, bukan hanya urusan percetakan yang direbut mesin. Profesi wartawan pun perlahan diserahkan pada robot. Sejak 2016, The Washington Post misalnya, telah membiarkan robot mengambil alih penulisan beberapa artikel pendek mereka.
Di sini, kita selipkan sedikit catatan reflektif. Bagi Bung Hatta, revolusi industri dipacu oleh desakan gerakan buruh dan persaingan antar kapitalis yang melahirkan rasionalisasi. Tentu Bung Hatta benar. Namun, jauh sebelum kapitalisme lahir, inovasi dan penemuan baru sudah inheren dalam tenaga-tenaga produktif—karena kerja produksi melibatkan pengetahuan dan kesadaran manusia, bukan hanya otot dan alat.
Jawaban sederhana Hatta
Lantas, apa esensi terdalam dari revolusi industri?
Bung Hatta menjawabnya dengan sederhana, namun menggugah: “…dahulu manusia, kaum buruh, yang bekerja dan dibantu oleh mesin; sekarang mesin yang bekerja dan dibantu oleh manusia.”
Bagaimana pun, tergantikannya tenaga kerja oleh mesin menciptakan persoalan eksistensial: semakin banyak manusia yang terusir dari dunia kerja alias menganggur.
Jika merujuk teori Marx, situasi di mana banyak orang tak memiliki pekerjaan—sementara satu-satunya jalan untuk hidup adalah memiliki upah—akan memperhebat perjuangan kelas, yang pada akhirnya menuntut agar alat-alat produksi dimiliki secara sosial. Inilah, menurut Hatta, basis yang akan melahirkan masyarakat masa depan: sosialisme.
Dalam artikelnya, Bung Hatta juga mengaitkan revolusi industri dengan pergerakan buruh. Untuk mencegah huru-hara akibat pengangguran, para kapitalis memberikan sogokan berupa jaminan sosial dan sejenisnya.
“Tetapi uang bantuan itu datangnya dari sebagian keuntungan mereka,” tegas Bung Hatta.
Dalam logika kapitalisme, tak ada makan siang gratis. Lubang dari keuntungan yang berkurang itu harus ditutup. Caranya, makin memperhebat eksploitasi di tanah jajahan. Dengan kata lain, kemudahan hidup yang dinikmati di Eropa sebagai hasil revolusi industri harus dibayar mahal oleh keringat dan darah di negeri-negeri terjajah. Sebuah gambaran yang tajam dan menghunjam.










