Aksi Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang tengah menuliskan ulang sejarah nasional Indonesia, memantik polemik panjang dan gerakan protes dari masyarakat sipil.
Dalam panggung politik (dan kebudayaan) Indonesia, nama Fadli Zon memang sering mencuat dengan kontroversi yang menyertainya. Beberapa tahun lalu, misalnya, ia pernah menyebut Ratna Sarumpaet yang muncul dengan wajah yang tampak babak belur, akibat dipukuli orang tak dikenal. Padahal, setelah ditelusuri ternyata Ratna habis menjalani operasi plastik.
Terbaru, dalam polemik penulisan ulang sejarah, seperti tragedi Mei 1998, cara Fadli Zon berbicara dan berargumen kembali memunculkan kontroversi. Untuk memahami apa yang dilakukannya, mari kita bedah melalui strategi nalar “ular”. Dalam konteks narasi sejarah bangsa, cara ini berbahaya dan sesat nalar. Dalam hal ini, Fadli Zon menjalankan peran komunikasi strategis, manipulatif, terkesan ngeles, bahkan terasa “licik”. Selain itu, ya itu tadi, ia licin membelit seperti ular.
Sebagai seorang pejabat, ia memainkan elemen retorika Aristoteles, khususnya dalam aspek logos (daya tarik logis) yang terpilah. Dalam karyanya, Aristoteles bilang, retorika adalah kemampuan untuk melihat alat-alat persuasi yang tersedia dalam setiap kasus tertentu. Alat-alat persuasif dalam berbagai jenis itu akan bermakna sesuai kepentingan penggunaanya. Ungkapan ini sangat relevan karena ia menggunakan kemampuan dalam melihat dan menggunakan alat persuasi secara licik dan strategis.
Pernah mempelajari Ilmu Komunikasi di bangku kuliah, jika saya menyebut Fadli Zon tengah memainkan nalar “ular”, tentu ini bukanlah istilah ilmiah, melainkan sebuah metafora. Ia menggambarkan jenis kelicikan, kecerdikan, dan seringkali strategis, namun manipulatif―sebagaimana sering terjadi pada predator-prey interactions di alam liar. Bayangkan seekor ular yang bergerak diam-diam, mencari celah, dan menggunakan setiap kesempatan untuk mencapai tujuannya, baik bertahan atau menyerang, bahkan kadang mengelabui dengan kamuflase tertentu. Begitulah kira-kira gambaran nalar sesat Fadli Zon dalam konteks untuk mencapai tujuannya.
Sesat nalar dalam polemik sejarah
Ketika kita melihat pola komunikasi Fadli Zon terkait isu-isu sensitif seperti kerusuhan Mei 1998, beberapa karakteristik strategi “ular” menjadi sangat kentara:
Pertama, Fadli Zon memiliki kelihaian luar biasa dalam mencari dan merangkai “fakta” atau interpretasi yang mendukung argumennya, sekecil atau seaneh apa pun itu. Misalnya, dalam soal peristiwa Mei 1998, ia kerap mencari perbandingan dengan kejadian di negara lain, seolah-olah ingin mengecilkan skala atau kompleksitas tragedi yang terjadi di Tanah Air. Ini mirip ular yang selalu mencari celah terkecil untuk menyelinap, serta membangun benteng yang sulit ditembus.
Kedua, strategi lain yang sering digunakannya adalah menggeser fokus diskusi. Ketika sebuah isu emosional atau sensitif muncul (seperti penderitaan korban Mei 1998), ia akan membelokkan percakapan ke arah statistik, perbandingan, atau poin lain yang secara langsung tidak relevan dengan inti masalah. Tujuannya untuk menghindari tanggung jawab moral, mengecilkan peristiwa, atau mengalihkan perhatian dari akar masalah sesungguhnya. Ini adalah manuver yang sangat licin, seperti ular yang menggeliat untuk menghindari bahaya.
Ketiga, sejarah seringkali memiliki area abu-abu, yaitu bagian yang terbuka untuk diinterpretasi. Seseorang dengan yang suka memainkan nalar sesat sangat cerdik dalam memanfaatkan area ini. Fadli Zon mungkin tidak secara terang-terangan menyangkal fakta, tetapi ia akan memilih untuk menyoroti bagian-bagian tertentu atau bahkan memperkenalkan “fakta tandingan” yang belum terverifikasi secara luas, demi membentuk opini publik sesuai keinginannya. Ini adalah bentuk manipulasi narasi yang halus, di mana kebenaran objektif bisa menjadi korban dari kepentingan retorisnya.
Jadi, memahami ungkapan nalar “ular” dalam konteks komunikasi publik, khususnya dari figur seperti Fadli Zon, sangat penting. Ini bukan tentang menghakimi karakter personal, melainkan tentang mengenali strategi komunikasi yang digunakan untuk membentuk atau mengubah persepsi publik terhadap isu-isu penting.
Dalam era informasi yang serba cepat, di mana narasi bisa dengan mudah dimanipulasi, mengenali pola nalar Fadli Zon akan membantu kita menjadi warga negara yang lebih kritis. Ini mendorong kita untuk tidak mudah menerima begitu saja sebuah argumen, melainkan untuk menggali lebih dalam, memeriksa fakta dari berbagai sumber, dan memahami potensi motif di balik setiap pernyataan.
Sejarah adalah cermin masa lalu kita. Menceritakannya dengan jujur dan utuh adalah tanggung jawab bersama sebagai bangsa yang besar berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa.
Dengan mengenali taktik nalar “ular”, kita bisa lebih waspada terhadap upaya-upaya yang mungkin bertujuan untuk membelokkan atau bahkan menulis ulang sejarah demi agenda tertentu.









