Pasang Surut Pengaruh Kiri dalam Sepak Bola

Perdebatan tentang hubungan antara sepak bola dan politik adalah sebuah diskursus abadi. Ia sudah berkobar sejak olahraga ini lahir, dan mungkin tak akan pernah padam hingga akhir zaman. Banyak yang bersikeras bahwa keduanya harus dipisahkan sejauh mungkin. Namun, tak sedikit pula yang meyakini peran penting sepak bola—dan olahraga pada umumnya—dalam mengubah lanskap politik. Sepak bola, bagi mereka, adalah panggung untuk menyoroti masalah sosial dan memberi suara bagi mereka yang terpinggirkan.

Memang, di era modern, hubungan mesra itu kian memudar. Kekayaan dan gaji pemain yang meroket, globalisasi yang mengubah klub dari representasi komunitas lokal menjadi jenama global, telah menggerus idealisme itu. Namun, di tengah dominasi kapitalisme liar ini, masih ada beberapa kantong perlawanan. Masih ada mereka yang percaya bahwa sepak bola tetaplah kendaraan menuju perubahan sosial, sebuah cara untuk mengibarkan keyakinan politik dengan bangga.

Salah satunya adalah klub Italia yang sering menjadi buah bibir: Livorno. Berasal dari kota pelabuhan di pesisir barat Italia, klub ini secara konsisten menjadi pembawa bendera sayap kiri sejak didirikan hampir seabad lalu. Jika menilik sejarah pendiriannya dan peran penting Kota Livorno dalam politik Italia, kita akan mengerti mengapa itu terjadi.

Salah satu kelompok suporter Livorno, Brigate Autonome Livornesi (BAL), membentangkan koreo palu-arit.

Sebagai kota kelahiran Partai Komunis Italia, Livorno dan politik sayap kiri adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Kebanggaan terhadap komunisme dan akar kelas pekerja industrial telah menyatu dengan DNA komunitas lokal. Kehormatan ini lantas menjadi wajah utama klub dan para pendukungnya. Hasilnya adalah basis penggemar yang dedikasinya pada ideologi kiri sama besarnya dengan kecintaan mereka pada tim. Kredo kelompok ultra mereka yang kini telah bubar, Brigate Autonome Livornesi (BAL), merangkum segalanya: “Perjuangan hidup kami adalah perjuangan kelas pekerja, anti-fasisme, dan anti-kapitalisme. Begitulah selamanya, ke mana pun kami pergi.”

Setiap tim butuh pahlawan, dan Livorno memilikinya dalam diri Cristiano Lucarelli. Seorang mantan striker yang lahir dan besar di kota yang ia puja, Lucarelli menjadi anomali di dunia sepak bola profesional. Ia adalah satu dari segelintir pemain yang menolak bungkam tentang keyakinan politiknya.

Sebagai seorang pendukung komunisme yang terbuka, Lucarelli merayakan gol dengan salam dua kepalan tangan terkepal ke arah para penggemar. Nomor punggungnya, 99, adalah penghormatan untuk Brigate Autonome Livornese (BAL) yang didirikan pada tahun 1999. Keyakinan politiknya pernah membuatnya bermasalah dengan Tim Nasional Italia. Setelah mencetak gol untuk timnas U-21, ia membuka jerseynya dan menunjukkan kaus bergambar Che Guevara di dalamnya. Akibatnya, ia masuk daftar hitam timnas senior hingga akhirnya dipanggil kembali oleh Marcello Lippi pada tahun 2005.

Wajah revolusioner Argentina itu memang pemandangan lazim di spanduk dan bendera di Stadio Armando Picchi, kandang Livorno. Bersanding dengan seruan dukungan untuk perjuangan kiri lainnya seperti Tentara Republik Irlandia (IRA) dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), serta koreografi tahunan untuk menghormati ulang tahun Joseph Stalin.

Tak sekomunis Livorno, tapi punya akar sejarah kiri yang kuat, adalah St. Pauli, klub Jerman asal Hamburg yang saat ini berkompetisi di Bundesliga. Secara tradisional dianggap sebagai perwakilan kaum kiri kota, St. Pauli kini memiliki kelompok suporter dari seluruh dunia. Banyak yang terpikat oleh budaya khas klub sebagai entitas anti-fasis dan radikal yang fokus pada perubahan sosial, bukan hanya sepak bola.

Bendera bergambar Che Guevara dikibarkan oleh fans St. Pauli.

Pada tahun 1980-an, distrik Reeperbahn di Hamburg, dekat markas St. Pauli, adalah pusat pemikiran radikal dan kiri, berpusat di kafe, pub, dan bangunan-bangunan liar yang dihuni para aktivis (squat). Tim sepak bola St. Pauli pun menjadi bagian penting dari komunitas ini. Para penggemar sering terlibat dalam demonstrasi terorganisir, memperjuangkan hak-hak penghuni liar dan perumahan murah, serta tak jarang bentrok dengan hooligan neo-Nazi dari klub lain.

Di tengah era yang bergejolak itu, St. Pauli juga memiliki pahlawan yang, seperti Lucarelli, menolak diam: Volker Ippig. Ia tidak hanya menyuarakan idealisme kiri, tapi juga menghidupkannya. Dengan rambut pirang gondrong acak-acakan dan janggut yang dibiarkan tumbuh, Ippig jauh dari citra pesepak bola necis masa kini. Kehidupannya di luar lapangan sama radikalnya.

Setiap kali memasuki lapangan, Volker akan mengangkat kepalan tangannya ke arah para penggemar St. Pauli, yang banyak di antaranya adalah teman-teman dekatnya, karena ia sendiri tinggal di squat Hafenstraße. Ia tak segan mengambil cuti dari sepak bola untuk berdemonstrasi, bekerja di panti asuhan untuk anak-anak disabilitas, dan bahkan pernah berhenti sementara untuk bergabung dengan brigade pekerja di Nikaragua. Ia adalah perwujudan dari keyakinan klub.

Namun, sisa dari kisah ini tidak begitu ceria. Sebagaimana nasib banyak simbol kontrakultur (lihat saja kaus Che Guevara atau logo palu-arit Soviet), St. Pauli, terutama motif tengkorak dan tulang bersilang ikoniknya, telah menjadi komoditas fesyen. Maknanya telah terdilusi, simbolismenya kehilangan kekuatan aslinya. Bahkan Ippig sendiri telah menyuarakan kekecewaannya.

Pada tahun 1981, saat Ippig bergabung, rata-rata penonton St. Pauli hanya 1.600 orang. Kini, di puncak popularitasnya, stadion berkapasitas 29.000 itu selalu penuh. Akibatnya, hubungan antara tim dan komunitas lokal mulai terkikis. Ippig berkomentar pedas:
“Millerntor [stadion St. Pauli] dulu adalah laboratorium luar ruangan untuk sepak bola Jerman… Kini, semuanya hanya orkestrasi; yang tersisa hanyalah mitos, kabut tebal, dan omong kosong.”

Kisah St. Pauli menjadi bukti bahwa hubungan otentik antara politik kiri dan sepak bola semakin sulit dipertahankan di abad ke-21. Uang dan kekuasaan telah mengubah simbol-simbol perlawanan radikal menjadi barang dagangan pencetak laba.

Bruno Bartolozzi menyerahkan sumbangan dari Inter Milan kepada EZLN, di caracol Oventic, Chiapas.

Meskipun begitu, masih ada beberapa percikan api. Javier Zanetti, legenda Inter Milan asal Argentina, menggunakan statusnya untuk membangun hubungan antara klubnya dengan kelompok Zapatista di Meksiko. Ia mendanai proyek olahraga, air, dan kesehatan untuk membantu perjuangan mereka “mempertahankan akar dan memperjuangkan cita-cita.” Lilian Thuram, pemegang rekor penampilan terbanyak untuk Timnas Prancis, pernah dengan sengaja mengundang 80 imigran tunawisma untuk menonton laga Prancis vs Italia pada 2006, sebagai protes terhadap kebijakan imigrasi negaranya yang kontroversial.
Namun, mungkin contoh terkuat dari pesepak bola kiri modern adalah Oleguer Presas, mantan bek Barcelona dan Ajax. Ia adalah, dan tetap menjadi, pejuang kemerdekaan Catalunya.

Lahir dan besar di Catalunya, Oleguer memandang Barcelona lebih dari sekadar klub sepak bola; ia adalah representasi sebuah bangsa. “Bagi saya, Barcelona adalah perwujudan sebuah negara, mewakili identitas dan budaya Catalan,” katanya. Ia menolak bermain untuk Timnas Spanyol, dan lebih memilih mewakili timnas tak resmi Catalunya. Pemegang gelar sarjana ekonomi ini kerap bersepeda ke tempat latihan, menghindari mobil sport mewah yang digemari rekan-rekan setimnya yang jutawan.

Dengan pensiunnya Oleguer, Lucarelli, dan Zanetti, apakah era pesepak bola yang sadar sosial dan vokal secara politik telah benar-benar berakhir?

Pesepak bola abad ke-21 adalah individu yang sangat terlindungi dan terisolasi. Mereka tidak diizinkan memiliki pandangan tentang apa pun yang bisa menyinggung sponsor dan menghentikan aliran uang. Gaji yang luar biasa besar membuat mereka terlepas dari dunia luar, terutama dunia kelas pekerja yang dulu menjadi urat nadi permainan ini.

Di Inggris, era Thatcherisme pada 1980-an melahirkan jenis pesepak bola yang lebih kaya dan berkuasa, meninggalkan ikon-ikon kiri seperti Bill Shankly dan Brian Clough jauh di belakang. Mereka melesat ke era baru mobil sport dan rumah-rumah mewah, era yang membuat klub radikal seperti St. Pauli hanya menjadi emblem di kaus modis.

Kini, pahlawan sosialis terdekat yang dimiliki sepak bola Inggris dalam beberapa tahun terakhir mungkin adalah Paul Jewell, seorang manajer yang memiliki kura-kura peliharaan bernama Trotsky.

Meskipun klub seperti Livorno masih menunjukkan bahwa politik kiri dapat memainkan peran penting, namun pemain profesional yang bersedia angkat bicara tentang keyakinan politik mereka semakin langka. Standarnya mungkin sudah terlalu tinggi bagi pesepak bola modern untuk menjadi seorang sosialis yang berkomitmen, atau tekanan dari agen dan sponsor membuat mereka tak bisa berkata apa-apa.

Apa pun keyakinan Anda, kita bisa sepakat pada satu hal: kita mungkin tak akan lagi melihat sosok seperti Volker Ippig, Lilian Thuram, atau Cristiano Lucarelli dalam waktu dekat. Dan karena itu, sepak bola telah kehilangan sebagian jiwanya.

Artikel ini ditulis oleh Ben Cullimore, dan diterjemahkan dari https://thesefootballtimes.co/

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Indonesia Butuh “Rent Kontrol”

Indonesia Butuh “Rent Kontrol”

Di media sosial viral video seorang warga memperlihatkan iklan rumah di kawasan

Next
Sesat Nalar Fadli Zon dalam Narasi Tulis Ulang Sejarah

Sesat Nalar Fadli Zon dalam Narasi Tulis Ulang Sejarah

Aksi Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang tengah menuliskan ulang sejarah nasional

You May Also Like
Total
0
Share