Insiden Dresden: Ketika Soeharto Ditimpuk Telur dan Koran oleh Demonstran

April 1995. Di Kota Dresden, Jerman, ada peristiwa pahit yang membayangi hidup Soeharto. Meski terjadi secara cepat dan sekelebat, namun peristiwa itu cukup kuat merobek citra penguasa Orde Baru itu.

Ini bukan tentang kudeta atau krisis ekonomi, melainkan tentang lemparan telur dan gulungan koran kepada Soeharto. Inilah kisah Insiden Dresden. Soeharto, penguasa Orde Baru yang sukses menyingkirkan PKI, Sukarno dan semua musuh politiknya, dipermalukan oleh aktivis yang masih belia.

Pada April 1995, Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang terpilih sebagai mitra resmi pameran dagang prestisius, Hannover Fair. Presiden Soeharto pun dijadwalkan hadir di acara tersebut untuk membuka anjungan Indonesia.

Bayangan Soeharto kala itu akan memperoleh sanjungan dan keberhasilan. Namun, di Jerman, sejumlah aktivis menyiapkan aksi. Mereka menuding Soeharto sebagai penjahat HAM yang harus dihukum. Bagi mereka, Soeharto bukanlah “Bapak Pembangunan”, melainkan seorang pemimpin dengan catatan kelam pelanggaran HAM, terutama terkait isu Timor Timur, Aceh, dan pembungkaman oposisi.

Sejumlah aktivis lokal, bersama aktivis Amnesty Internasional dan aktivis Timor leste, berusaha menjadikan Hannover Fair sebagai panggung untuk mempermalukan Soeharto. Penolakan bahkan sampai ke telinga parlemen kota, yang mengancam akan menggelar demonstrasi besar jika sang presiden tetap datang. Kritik tak hanya menyasar Soeharto, tetapi juga Kanselir Jerman saat itu, Helmut Kohl, yang dianggap menutup mata terhadap rekam jejak tamunya demi kepentingan ekonomi.

Sejak hari pertama pameran dibuka, demonstrasi sudah membayangi. Para pengunjuk rasa terus membuntuti rombongan Soeharto dari satu kota ke kota lain, termasuk saat di Dusseldorf. Namun, puncak ketegangan baru terjadi pada 5 April 1995.

Demonstran anti-Suharto di Dresden, 1995. Kredit: x.com/SoeTjenMarching

Hari itu, Soeharto dan rombongan berencana mengunjungi Museum Zwinger di Dresden, tempat salah satu mahakarya Raden Saleh dipamerkan. Suasana terasa berbeda. Para demonstran tak lagi berkerumun di satu titik, melainkan menyamar di antara keramaian, berpenampilan layaknya turis.

Ajudan Soeharto saat itu, Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin, merasakan ada yang tak beres. Keterbatasan pengawalan dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di luar negeri, menyisakan celah keamanan yang lebar. “Saat itu pengawal resmi Pak Harto hanya tiga orang,” kenang Sjafrie dalam buku Pak Harto: The Untold Stories.

Benar saja. Ketika Soeharto berjalan, para “turis” itu mulai beraksi. Poster-poster anti-Soeharto dibentangkan, teriakan-teriakan protes menggema. Lalu, benda-benda mulai melayang. “Tidak hanya mengacung-acungkan poster, tapi ada [juga] yang melempar-lempar telur, melempar kertas, dan lainnya,” ujar Sjafrie.

Paspampres kelabakan. Surat kabar Dresdner Morgenpost melaporkan, payung segera dikembangkan demi melindungi Soeharto, ibu negara, dan menteri-menterinya dari terjangan telur.

Di tengah kekacauan itu, Luciano ‘Romano’ Valentim Conceixao, seorang aktivis asal Timor Leste, bergerak lihai mendekati Soeharto. Dalam situasi kacau itu, ia luput dari pengamatan Paspampres.

Dalam jarak tak sampai satu meter, Luciano mengambil gulungan koran dan menghantamkannya ke kepala Soeharto. Meskipun agak keras, tapi peci Suharto tak jatuh dari kepalanya. Belum pernah terjadi dalam sejarah, ada orang yang berhasil menyerang Soeharto, apalagi berhasil menggebuk kepalanya.

Soeharto dan rombongan berhasil masuk ke dalam gedung. Sementara di luar gedung, aksi demonstrasi terus berlangsung. Mereka menyiapkan aksi penghadangan kedua begitu Soeharto dan rombongan keluar dari gedung museum.

Ali Alatas mengacungkan jari tengah. Kredit: x.com/@gataakara

Namun, Sjafrie berhasil mengevakuasi Soeharto lewat pintu lain dan langsung naik mobil biasa. Tapi tidak demikkan dengan rombongan para menteri. Mereka tetap menumpangi bus. Nah, bus yang ditumpangi Menteri Luar Negeri, Ali Alatas, tertahan oleh demonstran. Dalam kepungan demonstran, Ali Alatas, menteri yang selalu tampak tenang ketika muncul di TVRI, mengacungkan jari tengah ke arah demonstran. Sial, aksinya itu terekam kamera dan menjadi saksi sejarah atas kejadian memalukan itu.

Soeharto, yang dikenal selalu tenang, dilaporkan sangat kesal. Kemarahan itu memuncak ketika bendera Merah Putih yang berkibar di depan Hotel Kempinski, tempatnya menginap, diturunkan setengah tiang oleh para aktivis.

Kemarahan rezim

Insiden Dresden benar-benar memukul Soeharto. Ia merasa dipermalukan di panggung dunia. Pada 13 April 1995, di atas Pesawat Kepresidenan yang siap bertolak ke Tanah Air, Soeharto berbicara ke media. Di momen itulah, ia mengeluarkan kata-kata: “Wong edan, sinting.”

Kabar penghinaan di Dresden dengan cepat sampai ke Jakarta dan menyulut amarah para petinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Reaksi mereka khas Orde Baru, mencari kambing hitam di dalam negeri.

Letnan Jenderal Soeyono, Kepala Staf Umum ABRI, tanpa ragu menunjuk tiga nama sebagai biang kerok: Sri Bintang Pamungkas, Goenawan Mohamad, dan Yeni Rosa Damayanti. Ketiganya adalah figur yang dikenal kritis terhadap rezim. Sri Bintang baru saja mendirikan partai oposisi Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI), Goenawan Mohamad adalah pimpinan majalah Tempo yang dibredel setahun sebelumnya, dan Yeni adalah aktivis mahasiswa.

Sjafrie Sjamsoeddin mengawal Suharto ke Bosnia, 1995. Kredit: x.com/defenceview

“Keterlaluan yang luar biasa,” hardik Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal R. Hartono. “Kalau ada orang Indonesia yang mendukung demonstrasi di Jerman, itu kurang ajar namanya,” timpal Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung.

Reaksi paranoid ini menunjukkan betapa rezim tidak siap menerima kritik dari panggung internasional. Mereka lebih memilih menyalahkan musuh politik di dalam negeri ketimbang merefleksikan alasan sebenarnya di balik protes tersebut.

Citra runtuh, komandan diganti

Insiden Dresden lebih dari sekadar lemparan telur dan timpukan koran. Untuk pertama kalinya, aura sakral dan tak tersentuh Soeharto berhasil dicoreng di depan mata dunia. Peristiwa ini menunjukkan bahwa di luar negeri, di mana kontrol represifnya tak berlaku, Soeharto hanyalah seorang pemimpin kontroversial yang bisa disambut dengan cemoohan.

Dampaknya terasa langsung di lingkaran dalam kekuasaan. Tak lama setelah kepulangan Soeharto, tongkat komando Paspampres berpindah dari Brigjen Jasril Jacub ke Mayjen Sugiono. Sjafrie Sjamsoeddin pun dimutasi dari posisi strategisnya sebagai Komandan Grup A Paspampres.

Insiden Dresden menjadi pengingat bahwa citra yang dibangun dengan pencitraan dan tekanan bisa runtuh oleh aksi perlawanan kecil sekalipun. Peristiwa ini adalah salah satu retakan awal di tembok kokoh Orde Baru, sebuah pertanda bahwa kekuasaan absolut memiliki batas terutama ketika berhadapan dengan kebebasan di negeri orang.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Akhir Perjalanan Politik PSI

Akhir Perjalanan Politik PSI

Partai Sosialis Indonesia (PSI) seperti meniti jalan menurun yang curam

Next
Dari Sel Penjara ke Istana Negara: 10 Kisah Presiden yang Pernah Dibui

Dari Sel Penjara ke Istana Negara: 10 Kisah Presiden yang Pernah Dibui

Jalan menuju kursi presiden tak selamanya bertabur karpet merah

You May Also Like
Total
0
Share