Sejak 25 Agustus 2025, jalanan di sekitar Senayan, Jakarta kembali diramaikan demonstrasi. Massa memprotes anggota DPR yang mendapatkan aneka gelimang fasilitas mewah. Aksi berlanjut dengan massa buruh yang menyuarakan tuntutannya pada 28 Agustus.
Namun di malam hari, sebuah peristiwa tragis terjadi: kendaraan taktis (rantis) Brimob melindas pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan di kawasan Pejompongan. Pengemudi ojol berusia 21 tahun itu gugur di tengah demonstrasi, dan dari peristiwa inilah lahir gelombang protes baru.
Para pengemudi ojol, yang sehari-hari mengenakan jaket hijau atau oranye, tiba-tiba menjelma menjadi kekuatan sosial-politik yang mengguncang. Mereka bergerak serempak turun ke jalan menuntut pertanggungjawaban. Yang menarik, aksi ini tidak berhenti di jam sore sebagaimana demonstrasi konvensional. Justru, mereka beraksi hingga lewat tengah malam, lalu berlanjut kembali di pagi hari. Durasi aksi yang “tidak biasa” ini mencerminkan derap kehidupan mereka. Seperti aplikasi yang selalu menyala, demikian pula ritme protes mereka, seakan tak mengenal waktu henti.
Fenomena ini menghadirkan banyak hal baru. Ini bukan sekadar kisah tentang ketidakadilan. Lebih dari itu, ia membuka mata kita terhadap lahirnya wajah baru gerakan sosial di Indonesia, yang muncul dari ruang yang mungkin sebelumnya tak kita perhitungkan, yakni para pekerja gig economy.
Dari pekerja individual ke solidaritas kolektif
Selama ini, ojol dipandang sebagai pekerja individual yang sibuk mengejar order di aplikasi, hidup dalam persaingan, dan terfragmentasi oleh algoritma. Identitas mereka adalah individu yang mengandalkan motor dan telepon selular. Tetapi, peristiwa tragis di Pejompongan mengubah mereka menjadi komunitas dengan solidaritas yang tinggi. Satu nyawa yang hilang menjadi pemicu lahirnya gerakan kolektif yang semakin kuat, hingga melahirkan perlawanan bersama rakyat. Ini merupakan transformasi penting: dari pengemudi ojol di jalan menjadi gerakan komunitas digital dan aksi nyata di lapangan. Kita menyaksikan bahwa kelas pekerja baru, yang sering disebut gig workers, ternyata tidak benar-benar tercerai berai. Mereka mampu bersatu ketika ketidakadilan terjadi.
Ritme ojol, ritme perlawanan
Jika biasanya demonstrasi berlangsung dari pagi hingga sore, atau berhenti ketika malam mulai tiba, aksi pengemudi ojol justru mengubah pola tersebut. Mereka berdemonstrasi hingga lewat tengah malam, kemudian melanjutkannya di pagi hari. Fenomena ini mencerminkan kultur kerja mereka. Ojol terbiasa bekerja “tanpa jam kerja resmi”. Mereka bisa ngetem di pinggir jalan hingga larut malam, atau menerima order di pagi buta ketika penduduk kota baru saja terbangun. Ritme ini mereka terjemahkan ke dalam protes politik: protes sepanjang waktu, seperti aplikasi yang tidak pernah mati. Inilah keunikan ojol sebagai aktor sosial. Mereka menghadirkan model aksi yang berbeda dari buruh, mahasiswa, atau aktivis LSM yang terbiasa dengan jadwal aksi lebih formal.
Dari gedung DPR hingga kantor polisi
Menarik pula memperhatikan sasaran aksinya. Mereka tidak hanya menyasar gedung DPR sebagai simbol politik yang lazim menjadi lokasi demonstrasi. Tapi juga menyasar kantor polisi, institusi keamanan yang mereka nilai bertanggung jawab langsung atas peristiwa Pejompongan. Di sini, kita melihat bahwa aksi mereka adalah demonstrasi mrnuntut keadilan, bukan sekadar demonstrasi ekonomi. Mereka tidak hanya menuntut tarif dasar lebih layak atau proteksi sosial, tetapi lebih fundamental, yakni akuntabilitas negara terhadap warga yang harusnya dilindungi. Kita tahu, selama ini mereka kerap menuntut negara untuk hadir menjadi regulator atas aplikasi ojol, namun ternyata absen sebagai pelindung hak-hak warga.
Narasi keadilan rakyat kecil
Gerakan ojol menyingkap wajah lain dari persoalan sosial kita. Pengemudi ojol adalah gambaran pekerja rentan dengan penghasilan tidak pasti, biaya operasional tinggi, dan jaminan sosial minim. Mereka bukan pekerja formal dengan serikat dan kontrak kerja jelas, melainkan pekerja tanpa kepastian hukum yang seringkali hanya dianggap “mitra aplikasi”. Ketika salah satu dari mereka menjadi korban, kemarahan yang muncul bukan semata-mata menuntut pertanggungjawaban atas kematian tragis itu. Lebih jauh, ia adalah simbol dari krisis kehadiran negara di tengah rakyat kecil. Ojol adalah wajah dari jutaan orang yang bekerja keras setiap hari, tetapi nasibnya seakan digantungkan pada algoritma perusahaan teknologi, ditambah lemahnya perlindungan negara. Aksi mereka adalah tuntutan agar negara tak hanya menjadi penonton, atau sekadar regulator. Negara harus hadir sebagai pelindung.
Kekuatan gerakan ojol
Aksi ojol juga memperluas definisi demokrasi jalanan. Selama ini, ketika mendengar kata “demonstrasi”, yang terbayang adalah mahasiswa dengan almamater, buruh dengan serikat, atau aktivis LSM dengan spanduk. Kini, hadir aktor baru: pekerja ojol, bagian dari gig economy, yang sehari-hari akrab dengan aplikasi dan teknologi. Kehadiran mereka membuktikan bahwa demokrasi jalanan tidak lagi eksklusif. Demokrasi kini ditempati juga oleh pengemudi ojol, generasi yang melek digital, namun ketika diperlakukan tidak adil, mampu mengubah jaringan digital menjadi kekuatan nyata di jalan.
Mereka memikili ekosistem digital yang kuat. Ojol terbiasa berkomunikasi melalui grup WhatsApp, Telegram, atau komunitas internal aplikasi. Jaringan ini memungkinkan mobilisasi yang cepat dan efektif. Dalam waktu singkat, ribuan pengemudi bisa bergerak ke titik aksi. Inilah keunikan lain dari gerakan ojol, di mana solidaritas digital mampu bertemu gerakan di lapangan. Aksi mereka adalah kombinasi dari dua dunia: teknologi dan jalanan. Dan, kombinasi ini sangat berpotensi menjadi model baru gerakan sosial ke depan.
Cermin untuk kita semua
Apa yang bisa kita pelajari dari gerakan ini? Pertama, bahwa solidaritas bisa lahir dari kelompok yang selama ini dianggap individualis. Kedua, bahwa demokrasi jalanan tidak lagi monopoli mahasiswa atau buruh, tetapi terbuka bagi siapa saja yang merasakan ketidakadilan. Ketiga, bahwa negara harus sadar, ketika perlindungan terhadap warga abai, maka rakyat akan mencari jalannya sendiri. Kematian seorang pengemudi ojol di Pejompongan bukan hanya soal korban. Ia adalah cermin betapa rapuhnya perlindungan negara terhadap rakyat kecil, dan betapa kuatnya rakyat ketika bersatu.
Gerakan ojol 28 Agustus 2025 adalah momentum penting dalam sejarah sosial kita. Ia menunjukkan wajah baru demokrasi jalanan Indonesia, yakni demokrasi yang lebih cair, lebih luas, lebih digital, dan lebih berakar pada pengalaman sehari-hari rakyat kecil. Ketika kita melihat ribuan ojol memenuhi jalanan, menuntut keadilan dengan aksi tanpa batas waktu, kita sebenarnya sedang melihat refleksi atas satu pertanyaan mendasar: apakah negara benar-benar hadir untuk melindungi warganya, atau justru menjadi sumber ketidakadilan itu sendiri?
Di balik jaket hijau dan oranye, kita tidak hanya melihat pekerja ojek online. Kita melihat rakyat kecil yang sedang menagih janji keadilan. Dan, selama pertanyaan itu belum terjawab, jangan heran bila ojol akan terus “online” bergerak di jalanan, bukan hanya di aplikasi.










