Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) mengutuk keras tindakan represif aparat Brimob yang melindas pengemudi ojek online (ojol) menggunakan kendaraan taktis (rantis) dalam demonstrasi di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (28/8) malam. Akibat aksi tersebut, seorang pengemudi, Affan Kurniawan (21), tewas, dan satu lagi korban mengalami luka-luka.
Atas peristiwa tersebut, Ketua SPAI, Lily Pujiati menuntut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo segera menghentikan tindakan represif kepada rakyat agar tidak ada lagi yang jatuh korban.
“Kami juga menuntut Kapolri bertanggung jawab atas jatuhnya korban meninggal dunia dan luka-luka,” kata Lily.
Atas tragedi ini, SPAI menyerukan agar seluruh pengemudi ojol bersatu dan merapatkan barisan, untuk terus mengawal kasus ini hingga tuntas dan diselesaikan secara adil.
“Kami juga mohon dukungan masyarakat dalam memantau perkembangan peristiwa ini agar tidak terjadi lagi tindakan kekerasan yang menimbulkan korban,” lanjutnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan Forum Kebangkitan Ojol Indonesia (FKOI). Melalui pernyataannya, mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk memecat Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Komandan Brimob sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tragedi ini.
“Copot Kapolri, Kapolda Metro Jaya, dan Komandan Brimob sebagai pertanggungjawaban atas tragedi ini,” tegas Sultan Ardy, mewakili Forum Kebangkitan Ojol Indonesia (FKOI).
Dalam video rekaman yang beredar luas di media sosial, terlihat jelas rantis Brimob melindas pengemudi ojol. Tampak mobil berjenis Barracuda tersebut masih terua melaju walaupun korban terkapar di jalan. Di berbagai plarform media sosial, warganet beramai-ramai mengecam peristiwa tragis tersebut.
Kejadian pelindasan pengemudi ojol itu terjadi setelah mahasiswa dan massa mengambil alih aksi yang sebelumnya dihelat kelompok buruh di Gedung DPR, Senayan. Massa yang terdiri dari berbagai elemen, termasuk pengemudi ojol, memprotes aneka fasilitas dan tunjangan mewah yang diterima anggota DPR.










