Anne Hathaway: Dari Hollywood ke Arena Advokasi Sosial

Di antara banyak nama besar Hollywood yang menghiasi panggung aksi sosial, Anne Hathaway menonjol bukan sekadar karena ketenaran atau gemerlap karpet merahnya. Peraih Oscar untuk Les Misérables (2012) ini telah membangun rekam jejak advokasi yang konsisten, terencana, dan—yang jarang terjadi pada selebriti—berpijak pada argumen yang serius.

Dari lobi-lobi PBB hingga lorong rumah sakit anak, Hathaway menjadikan platformnya sebagai instrumen yang nyata.

Membela hak LGBTQ+

Komitmen Hathaway terhadap hak LGBTQ+ bukan dimulai dari kalkulasi pencitraan, tapi dimulai dari keluarganya sendiri. Sejak usia 15 tahun, ia secara terbuka membela orientasi seksual saudaranya. Pada 2007, ia menjadi pembicara di gala Human Rights Campaign, salah satu organisasi advokasi LGBTQ+ terbesar di Amerika Serikat.

Lima tahun kemudian, ia dan suaminya Adam Shulman menjual foto pernikahan mereka dan menyumbangkan hasilnya kepada Freedom to Marry, kelompok advokasi legalisasi pernikahan sesama jenis, serta menyelenggarakan National Engagement Party yang mengumpulkan dana sebesar USD 500 ribu. Bagi Hathaway, ini bukan sekadar filantropi; namun juga pernyataan nilai.

Duta PBB dan Perjuangan Cuti Parental (2016–2019)

Momen paling substansial dalam kiprah advokasi Hathaway datang pada Juni 2016, ketika ia diangkat sebagai UN Women Goodwill Ambassador. Pada 8 Maret 2017, di Hari Perempuan Internasional, ia memberikan pidato keynote di Markas Besar PBB di New York yang langsung viral.

Pidatonya berfokus pada cuti parental berbayar, disampaikan bukan sebagai selebriti yang membaca naskah, melainkan sebagai ibu muda yang baru merasakan sendiri absurditas sistem yang ada. Ia menceritakan pengalamannya seminggu setelah melahirkan anak pertamanya: masih kesulitan berjalan, sepenuhnya bergantung pada suami, dan tiba-tiba terbayang fakta bahwa perempuan Amerika hanya berhak atas 12 minggu cuti tanpa gaji, sementara laki-laki sama sekali tidak mendapat hak cuti.

Bingkainya melampaui isu perempuan semata. “Untuk membebaskan perempuan, kita harus membebaskan laki-laki,” ujarnya. Ia merujuk data dari Swedia yang menunjukkan bahwa setiap bulan tambahan ayah mengambil cuti, penghasilan ibu meningkat 6,7 persen. Pidato itu juga menghasilkan komitmen konkret: Danone berjanji menerapkan 18 minggu cuti parental berbayar yang netral gender bagi 100 ribu karyawannya di seluruh dunia.

Pada 2019, Hathaway kembali ke PBB untuk berbicara kepada International Civil Service Commission, kali ini mempertanyakan PBB: “Apakah kita di PBB siap mengikuti saran kita sendiri? Apakah kita siap mengarahkan lensa kritis kesetaraan kepada diri kita sendiri?”. Ia mendesak organisasi itu untuk menerapkan kebijakan cuti parental yang setara sebelum meminta negara-negara lain melakukannya.

Kerja perawatan tak berbayar

Ketika pandemi Covid-19 menghantam dunia, Hathaway merespons bukan dengan diam, melainkan dengan memperbarui argumen advokasinya berdasarkan data yang baru.

Dalam pidatonya untuk komunitas bisnis global melalui UN Women (2022), ia menyajikan fakta yang menggetarkan: selama pandemi, perempuan di seluruh dunia mengerjakan tambahan 512 miliar jam kerja perawatan tanpa bayaran di rumah. Sementara itu, di 169 negara—sebagian besar dunia—partisipasi angkatan kerja perempuan masih berada di bawah level pra-pandemi.

Hathaway tidak berhenti di diagnosis. Ia menyerukan kepada para pemimpin bisnis untuk menempatkan perempuan di jantung pemulihan ekonomi, menegaskan bahwa selama bias budaya yang secara otomatis melabeli pekerjaan perawatan sebagai “pekerjaan perempuan” tidak dibenahi, tidak ada recovery yang benar-benar inklusif.

Dalam pidato yang sama, ia membunyikan alarm yang lebih keras: pada laju kemajuan saat ini, dibutuhkan 300 tahun lagi untuk mencapai kesetaraan gender. “Saya harap kita semua sepakat bahwa tiga abad adalah waktu yang terlalu lama,” ujarnya. Angka itu bukan retorika—ia bersumber dari laporan UN Women sendiri, dan Hathaway menggunakannya sebagai argumen bahwa pendekatan tambal sulam tidak lagi memadai.

Time’s Up dan solidaritas perempuan Hollywood

Pada 2018, Hathaway bergabung bersama lebih dari 300 perempuan di industri hiburan untuk mendirikan inisiatif Time’s Up, sebuah gerakan untuk melindungi perempuan dari pelecehan dan diskriminasi di tempat kerja. Ini bukan sekadar pernyataan solidaritas pasca-#MeToo; Time’s Up juga mendirikan dana bantuan hukum untuk membantu perempuan, terutama yang bekerja di sektor berpenghasilan rendah, dalam menghadapi kasus pelecehan. Hathaway juga secara konsisten mengkritik Hollywood sebagai ruang yang tidak setara dan menyerukan lebih banyak peluang profesional bagi perempuan di industri film.

Anak-anak, lingkungan, dan IWD 2026

Di luar isu gender, Hathaway mendedikasikan perhatiannya pada anak-anak yang sakit parah sebagai anggota dewan The Lollipop Theatre Network—organisasi nirlaba yang menghadirkan pemutaran film untuk anak-anak yang dirawat di rumah sakit karena penyakit kronis. Ia juga mendukung St. Jude Children’s Research Hospital dan terlibat dalam kampanye Nike Foundation untuk meningkatkan kesadaran tentang pernikahan anak, serta menarasikan dokumenter Girl Rising (CNN, 2013) tentang pendidikan anak perempuan di tujuh negara. Pada 2021, ia menyerahkan kendali akun Instagramnya kepada aktivis lingkungan Elsa Mengistu sebagai bagian dari kampanye #ReclaimingOurTime, menunjukkan kesadaran tentang siapa yang sering tidak mendapat ruang di panggung lingkungan hidup.

Komitmen itu terus berlanjut hingga 2026. UN Women mengumumkan bahwa Hathaway menjadi tokoh utama dalam acara peringatan International Women’s Day di Markas Besar PBB pada Maret 2026—melanjutkan satu dekade keterlibatannya sebagai Goodwill Ambassador dalam momen yang secara global disebut sebagai tahun kritis bagi kesetaraan gender, menyusul tinjauan 30 tahun Deklarasi Beijing.

Advokasi sebagai komitmen

Apa yang membedakan Hathaway dari banyak selebriti yang melakukan gerakan advokasi adalah konsistensi dan kedalaman argumennya. Ia tidak sekadar mencantumkan nama pada petisi atau muncul di gala amal. Selama hampir satu dekade sebagai Goodwill Ambassador, ia membangun posisi yang dapat dipertahankan dan terus diperbarui berdasarkan data: dari cuti parental berbayar (2017), mendesak PBB menerapkan standarnya sendiri (2019), hingga kerja perawatan tak berbayar pasca-pandemi (2022).

Setiap pidatonya bukan pengulangan, melainkan respons terhadap realitas yang berubah. Dalam kata-katanya: “Setiap generasi harus menemukan utaranya sendiri.” Hathaway tampaknya akan terus berusaha melakukan persis seperti itu.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Cara Kuba Bertahan dari Krisis dan Blokade Ekonomi

Cara Kuba Bertahan dari Krisis dan Blokade Ekonomi

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali bersikap agresif terhadap

Next
Janji Manis Jakarta, Realitas Pahit di Papua

Janji Manis Jakarta, Realitas Pahit di Papua

Di balik janji-janji manis otonomi khusus (otsus) dan gemerlap pembangunan

You May Also Like
Total
0
Share