Agoes Moesin Dasaad, Donatur Perjuangan Sukarno

“Uang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang,” begitu ungkapan yang kerap kita dengar. Ini pula yang diperlukan dalam perjuangan: butuh banyak sumber daya, termasuk uang.

Dalam perjuangan kemerdekaan, aktivitas pergerakan banyak disokong oleh donatur yang kerap bekerja di belakang layar. Mereka menyerahkan sebagian harta benda untuk mendukung cita-cita bersama. Salah satu dari donatur itu adalah Agoes Moesin Dasaad, seorang pengusaha yang menjadi donatur perjuangan Sukarno.

Siapa Dasaad?

Dasaad adalah seorang pengusaha yang berjaya di tahun 1930-an dan 1940-an. Agoes Moesin Dasaad lahir pada 25 Agustus 1905 di Jolo, Filipina. Ayahnya seorang guru agama asal Lampung, sementara ibunya berasal dari Bengawan, Sulu, Filipina.

Pada usia satu tahun, keluarganya merantau dan menetap di Lampung. Pendidikan dasarnya diselesaikan di Lampung pada tahun 1918, setelah itu ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Dagang di Singapura hingga 1922, dan sempat magang selama satu tahun sebagai asisten pemegang buku di perusahaan Loa Mock & Coy.

Dasaad adalah seorang otodidak sejati. Ia memulai bisnis dari perdagangan hasil bumi, membeli komoditas dari kawasan Lampung dan Bengkulu, lalu mengangkutnya ke Palembang untuk dikirim ke Jawa, Singapura, dan Filipina. Pada tahun 1930-an, Dasaad juga terjun ke bisnis perkapalan dan kemudian menjadi importir alat-alat manufaktur.

Perusahaannya melebarkan jaringan operasi hingga ke Asia Tenggara dan Zanzibar di Afrika pada 1941, dengan cabang di Betawi, Bangil, Surabaya, Cirebon, Solo, Lampung, Palembang, dan Bengkulu.

Pada tahun 1941, Dasaad juga membeli pabrik tekstil Kantjil Mas dari pengusaha Jerman di Bangil, Jawa Timur, dan mengembangkannya bersama Abdul Ghany Aziz dengan kredit dari Javansche Bank.

Sejarawan Mestika Zed mencatat, Dasaad menyandang gelar sebagai salah satu miliuner asal Sumatera sampai tahun 1942, dan namanya dikelompokkan sebagai pengusaha pribumi terbesar di era penjajahan Belanda. Konglomerasinya, Dasaad Moesin Concern, menjadi salah satu entitas bisnis paling berpengaruh di Nusantara kala itu.

Donatur Sukarno

Sukarno bertemu Dasaad pertama kali pada 1931. Dalam autobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), Sukarno bercerita: “Pagi-pagi ketika aku berjalan keluar dari penjara sebagai orang bebas, seorang laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya, memasukkan ke genggamanku uang 400 rupiah begitu saja, karena dia tahu aku tak punya uang.” Orang misterius itu tak lain adalah Dasaad.

Sejak pertemuan itulah persahabatan keduanya terjalin erat. Dasaad menjadi sandaran finansial Sukarno dalam banyak kesempatan. Dalam buku biografi Sukarni berjudul Sukarni Dalam Kenangan Teman-temannya (1986) karya Sumono Mustoffa, tercatat bahwa Dasaad memberi bantuan paling sedikit 5.000 hingga 10.000 gulden, yang kemudian dibagi-bagikan kepada kawan-kawan yang membutuhkan biaya.

Membantu Republik

Kontribusi Dasaad tidak berhenti pada kantong pribadi Sukarno. Jauh lebih besar dari itu, ia turut serta secara langsung dalam kelahiran Republik. Dasaad adalah satu-satunya pengusaha yang tidak berlatar belakang Tionghoa, Arab, maupun India yang duduk di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Posisinya bukan sekadar nama. Menurut MPB Manus dalam Tokoh-tokoh Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (1993), Dasaad menjadi ketua komisi pemungutan suara untuk memilih bentuk kerajaan atau republik dalam perdebatan tentang bentuk negara yang akan didirikan. Ia juga duduk sebagai anggota panitia keuangan dan perekonomian BPUPKI.

Setelah kemerdekaan diproklamasikan, Dasaad kembali menunjukkan kesetiaannya. Pada September 1945, ia mendonasikan dana sebesar 100 ribu gulden kepada Sukarno sebagai dukungannya pada pembentukan negara Republik Indonesia. Angka yang luar biasa besar untuk ukuran zaman itu. Ia pun menjadi donatur penting bagi Palang Merah Indonesia (PMI) yang baru berdiri pada 17 September 1945.

Setia hingga akhir

Persahabatan Dasaad dan Sukarno bukan persahabatan yang luntur diterpa perubahan zaman. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945, bisnis Dasaad menurun, namun hubungan kedekatan dengan Sukarno tetap berjalan.

Bahkan ketika roda sejarah berbalik dan Sukarno mulai terkucil setelah peristiwa G30S dan Supersemar, Dasaad tak beranjak. Menurut Oei Hong Kian dalam Peranakan yang Hidup dalam Tiga Budaya dan Rosihan Anwar dalam In Memoriam: Mengenang Yang Wafat (2003), setiap dokter gigi Oei Hong Kian hendak memeriksa kesehatan Sukarno di Istana, selalu ada Johannes Leimena dan Dasaad di sisinya.

Agoes Moesin Dasaad meninggal dunia pada 11 November 1970 dalam usia 65 tahun. Namanya jarang tercetak tebal dalam buku sejarah sekolah, namun perannya nyata. Tanpa dukungan finansial seperti yang ia berikan, roda perjuangan kemerdekaan niscaya berputar jauh lebih berat. Sukarno sendiri mengabadikannya dengan kalimat yang tak terlupakan: “Seorang kapitalis-sosialis yang paling kaya di Indonesia dan kawanku yang rapat.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Sukarno dan Kritik Kapitalisme

Sukarno dan Kritik Kapitalisme

Dalam historiografi Indonesia, Sukarno sering diposisikan semata sebagai orator

Next
Jejak Sukarno di KAA 1955

Jejak Sukarno di KAA 1955

Selama 40 menit Sukarno berpidato, tidak kurang dari 10 kali tepuk tangan

You May Also Like
Total
0
Share