“Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”. Kata-kata Haji Oemar Said Tjokroaminoto itu menancap sangat kuat di sanubari Sukarno. Dan, akhirnya kita tahu, Sukarno melakukan dua-duanya.
Pada tahun 1920-an, ketika usianya masih belasan, Sukarno sudah menjadi penulis andal. Ia menerbitkan tulis-tulisannya lewat koran Sarekat Islam, Oetoesan Hindia. Saat itu dia menggunakan nama pena dari tokoh pewayangan, Bima.
” Aku menulis lebih dari 500 karangan. Seluruh Indonesia membitjarakannja. Ibu, jang tidak tahu tulis-batja, dan bapakku tidak pernah tahu bahwa ini adalah anak mereka jang menulisnja,” kenang Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Tulisan-tulisannya sangat agitatif, berisi seruan-seruan untuk bangkit dan bersatu menggulingkan kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme. “….sosialisme, komunisme, inkarnasi-inkarnasi Vishnu Murti, bangkitlah di mana-mana! Hapuskan kapitalisme yang didukung oleh imperialisme yang merupakan budaknya! Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada Islam agar berhasil,” tulis Sukarno di salah satu artikelnya.
Selain melalui Oetoesan Hindia, Sukarno juga sempat menjadi redaksi di koran Bendera Islam. Koran ini berdiri pada 1923 dan redaksinya dipimpin langsung oleh Tjokroaminoto. Orientasi koran ini adalah massa luas. Di sini, Sukarno bersama Mr. Sartono dipercaya menakhodai rubrik khusus yang membahas pergerakan nasional.
Sukarno juga menulis untuk koran Fadjar Asia, yang berdiri pada Januari 1923. Koran ini mengusung slogan: soerat chabar penerangan Islam tentang agama, adab dan politiek.
Sebagai penulis, Sukarno punya pijakan yang kuat. Ia tak hanya pandai menyusun kalimat, tetapi juga pembaca buku yang rakus. Referensinya bejibun. Tidak hanya itu, Sukarno selalu ”update” dengan perkembangan situasi internasional.
Di tahun 1926, sebagai aktivis muda yang dahaga gagasan, Sukarno dan kawan-kawannya mendirikan kelompok studi bernama Algemene Studie Club. Kelompok studi ini punya koran bernama Soeloeh Indonesia Muda. Koran ini dibiayai oleh Sukarno sendiri dari honorariumnya sebagai arsitek.
Di koran inilah Sukarno menerbitkan risalahnya yang sangat terkenal, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Di artikel itu Sukarno mengkritik penyakit “berpandangan sempit” dan sektarian di kalangan pergerakan anti-kolonial di Indonesia. Onghokham menyebut artikel ini sebagai wujud kejeniusan Sukarno, yang berhasil menemukan titik temu bagi tiga arus besar ideologi anti-kolonial di masa itu.
Setahun kemudian, Sukarno mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Bagi Sukarno, PNI adalah alat politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, PNI mengambil jalan radikal dan non-koperasi (menolak kerjasama dengan pihak kolonial). Pada 1928, PNI menerbitkan koran resminya, Persatoean Indonesia. Untuk memulai koran ini, Sukarno mengumpulkan donasi sebesar 500 gulden dari cabang-cabang PNI. Persatoen Indonesia ini menjadi corong PNI untuk berbicara kepada massa marhaen.
Sukarno dan PNI mengidamkan sebuah pergerakan massa yang sadar akan alasan dan tujuan perjuangannya. Karena itu, untuk memandu kesadaran massa dari onbewust (tidak sadar) menjadi bewust (sadar), peranan koran menjadi jembatannya. “Massa aksi zonder kursus-kursus, brosur-brosur, dan surat kabar, adalah massa aksi yang tidak hidup dan tidak bernyawa,” kata Sukarno.
Beberapa tulisan Sukarno di Persatoean Indonesia: “Melihat Kemuka…”, “Tempo jang tak Dapat Dikira-kirakan Habisnja”, “Indonesianisme dan pan Asiatisme”, “Kearah Persatuan, Menjambut Tulisan H.A. Salim”, “Pidato Ir Sukarno pada 15 September 1929″, “Kewajiban Kaum Intelektual terhadap Pergerakan Rakjat”, dan “Soal Pergerakan Wanita”.
Sayang, usia Persatoean Indonesia tidak panjang. Penangkapan Sukarno dan tiga kawannya di PNI, Maskoen, Soepriadinata, Gatot Mangkoepradja, menjadi penyebabnya. Struktur PNI kocar-kacir. Koran Persatoean Indonesia pun terbengkalai.
Namun, atas desakan Sukarno, koran ini terbit kembali dengan meminjam nama ‘Nyonya Soekarno’ alias Inggit Garnasih. Proses penerbitannya dikerjakan oleh Mr. Sartono dan kawan-kawan.
Keluar dari penjara, Sukarno tidak berhenti menulis. Dengan kekuatan penanya, ia kembali menghantam kekuasaan kolonial melalui artikel berjudul “Sendi dan Azas Pergerakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia”. Penguasa kolonial yang dibuat gerah, lalu membredel koran Persatoean Indonesia.
Pada 1931, sebagian bekas anggota PNI mendirikan partai baru: Partai Indonesia (Partindo). Azas dan garis politik Partindo tidak berbeda jauh dengan PNI. Begitu keluar dari penjara, Sukarno segera bergabung dengan partai bentukan Mr. Sartono ini.
Pada 1932, Partindo menerbitkan koran baru bernama Fikiran Ra’jat. Di koran ini Sukarno bertindak sebagai pemimpin redaksinya. Terbit sekali seminggu, koran politik ini mengambil slogan: Kaoem Marhaen! Inilah Madjallah Kamoe!
Sukarno menyebut Fikiran Ra’jat sebagai ‘madjallah politik popoeler”. Alasannya, koran ini memang diperuntukkan untuk pembaca luas di kalangan marhaen dan umum. Karena itu, pilihan kata dan penyusunan kalimat dalam koran itu dibuat sederhana, ringan, enak dibaca, dan mudah dipahami oleh rakyat jelata.
Edisi pertama Fikiran Ra’jat terbit pada 15 Juni 1932. Di koran ini, Sukarno banyak menorehkan penananya. Antara lain: “Maklumat Bung Karno kepada Kaum Marhaen Indonesia”, “Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi”, “Socio Nationalisme dan Socio Demokrasi”, “Orang Indonesia Tjukup Nafkahnja Sebenggl Sehari”, “Kapitalisme Bangsa Sendiri”, “Djawaban Saja pada Sdr. M. Hatta”, “Sekali Lagi, Bukan Banjak Bitjara, Bekerdjalah, tetapi Banjak Bitjara, Banjak Bekerdja”, “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx”, “Reform Actie dan Doels Actie”, “Bolehkah Sarekat Sekerdja Berpolitik?”, “Marhaen dan Marhaeni, Satu Massa Actie”, “Membesarkan Fikiran Rakjat”, Azas-azas Perdjuangan Taktik”, dan “Marhaen dan Proletar”.
Menariknya, tak hanya mencerahkan pikiran rakyat dengan aksara, Sukarno juga membuat karikatur. Hampir setiap edisi Fikiran Ra’jat disertai gambar karikatur. Dan pembuatnya adalah Sukarno sendiri. Ia memakai nama samaran Soemini.
Selain Fikiran Ra’jat, Sukarno juga menerbitkan kembali Soeloeh Indonesia Muda. Namun, berbeda dengan Fikiran Ra’jat, koran Soeloeh Indonesia Moeda lebih diperuntukkan sebagai koran teori. Sasarannya lebih diprioritaskan ke kalangan kaum terpelajar dan pemimpin pergerakan.
Dalam menulis, Sukarno suka memperkokoh daya argumentasinya dengan memamerkan banyak kutipan dari beragam pemikir. Ia juga menyuguhkan data-data untuk menambah bobot argumentasinya. Pilihan diksinya selalu memilih kata-kata yang kuat, heroik, dan terdengar intelek: revolusi, pergerakan nasional, kolonialisme, imperialisme, dan lain-lain.
Dia juga kerap bermain metafora, repetisi, dan kadang hiperbolik. Misalnya, Sukarno menggambarkan imperialisme seperti Dasamuka, raksasa berkepala sepuluh dalam kisah Ramayana. Dia juga menganalogikan kemerdekaan itu seperti jembatan. Dia juga yang menciptakan istilah ”segobang” untuk menggambarkan kondisi ekonomi rakyat yang meranggas.
Sukarno juga suka bermain hiperbolik untuk membangkitkan tekad rakyat. ”Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2½ sen sehari,” tulis Sukarno.
Dari banyak goresan pena Sukarno, ada dua yang sangat menggungcang tatana kolonial pada masanya: Indonesia Menggugat dan Mencapai Indonesia Merdeka. Indonesia Menggugat merupakan pledoi yang ditulis oleh Sukarno di dalam ruang pengap dan lembap penjara Bantjeuy, Bandung, ketika sedang berhadap-hadapan dengan pengadilan kolonial.
Sementara itu, risalah Mencapai Indonesia Merdeka ditulis oleh Sukarno pada 1933, di sebuah tempat bernama Pangalengan, Bandung. Artikel panjang tak ubahnya sebuah manifesto politik, yang berusaha membentangkan arah dan jalan yang harus ditempuh oleh revolusi Indonesia menuju kemerdekaan sejati.
Risalah itu berbuntut penangkapan. Pada 1 Agustus 1933, Sukarno ditangkap lagi. Sempat menjalani kurungan di penjara Sukamiskin, dia kemudian dibuang ke Flores, Ende, Nusa Tenggara Timur.










