Athletic Bilbao dan Nasionalisme Kiri Basque

Sepak bola dan politik ibarat dua sisi dari koin yang sama. Sedari dulu, sejak populer pada abad ke-19, sepak bola dan politik selalu berkelindan.

Lapangan hijau hingga tribun kerap menjadi arena pertarungan ideologi yang keras, kontestasi politik, unjuk martabat sebuah bangsa, hingga perebutan identitas. Athletic Bilbao, klub sepak bola yang berbasis di wilayah Basque, bagian dari lanskap itu.

Dari segi prestasi, Atheletic Bilbao bukan klub ecek-ecek. Klub ini adalah salah satu dari tiga klub yang tidak pernah terdegradasi dari kompetisi tertinggi di Spanyol, La Liga. Perolehan trofinya juga cukup mentereng: delapan trofi La Liga, 24 trofil Copa del Rey, dan dua kali runner-up Liga Eropa UEFA.

Klub ini juga sudah melahirkan beberapa bintang, seperti duo Williams: Nico Williams dan Iñaki Williams, Unai Simón (kiper Timnas Spanyol), Daniel Vivian, dan Andoni Iraola (pelatih Liverpool).

Lahir dari kelas pekerja

Kota Bilbao, kota pelabuhan di Pais Vasco, negara Basque, merupakan pusat industri sejak abad ke-19. Banyak pencari kerja dari Inggris datang mengadu nasib di kota ini.

Orang-orang Inggris itu, yang umunya bekerja di galangan kapal dan pertambangan, berasal dari Kota Southampton, Portsmouth, dan Sunderland. Merekalah yang mempopulerkan sepak bola di Kota Bilbao.

Sementara itu, anak-anak muda Bilbao yang baru pulang menimba ilmu di Inggris juga membawa pulang sepak bola. Pada 1894, salah satu mahasisa yang baru pulang dari Inggris, Juan Astorquia, sering bermain dengan buruh-buruh asal Inggris di Limiako Hippodrome.

Para pemain Bilbao dalam foto bersama setelah pertandingan melawan pelaut-pelaut Inggris. Kredit: Dok Athletic Club

Pada 1898, Juan Astorquia dan enam kawannya yang kerap bermain di Gymnasium Zamacois mulai bermain bola di Lamiako. Mereka menamai diri Athletic Club. Tahun inilah yang dikaitkan dengan tahun pendirian Club.

Di sisi lain kota, kelompok yang berbeda juga mendirikan klub sendiri. Pada akhir 1900, Carlos Castellanos bersama sekelompok pemuda Bilbao dari kelas atas yang baru pulang dari Inggris mendirikan Bilbao Football Club.

Pada 1902, Raja Alfonso XIII yang baru naik takhta merayakan penobatannya dengan menggelar turnamen sepak bola bernama Copa de la Coronación, cikal bakal Copa del Rey. Athletic Club dan Bilbao FC sepakat melebur tim terbaik mereka untuk mengikuti turnamen itu. Tim gabungan itu dinamai Club Bizcaya. Hasilnya di luar dugaan, mereka membawa pulang trofi usai menyingkirkan Barcelona di final.

Pada 1903, kedua klub sepakat untuk merger, namanya Athletic Club dengan Juan Astorquia sebagai presidennya.

Seragam klub yang kelak menjadi identitasnya, garis merah-putih, berasal dari jersey yang dibawa pulang pekerja kapal dari Kota Sunderland di Inggris. Tidak heran, ada kemiripan jersey antara Athletic dengan Sunderland.

Menentang rezim Franco

Pada 1936, Jenderal Francisco Franco menggiring militer untuk melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Republik yang terpilih secara demokratis lewat pemilu.

Kudeta itu mendapat perlawanan dari serikat buruh, mahasiswa, organisasi kiri, dan militer yang bersetia pada panji-panji republikanisme. Kondisi itulah yang memicu perang saudara Spanyol sepanjang 1933-1936.

Wilayah otonom Basque, termasuk Kota Bilbao, tetap setia kepada Republik. Latar itu juga yang membuat mereka berseberangan dengan rezim Franco yang fasis.

Kondisi kota Guernica, sebuah kota di provinsi Biscay di Negara Basque, pasca pengeboman oleh pasukan NAZI, 1937.

Atas izin Franco, Legiun Condor milik Jerman Nazi meratakan kota suci Guernica di Basque menggunakan bom udara. Tragedi ini menewaskan ratusan warga sipil dan menginspirasi lukisan terkenal Pablo Picasso, Guernica. Setelah Guernica hancur, ibu kota Basque (Bilbao) jatuh ke tangan Franco pada Juni 1937, melumpuhkan pusat industri baja yang penting bagi logistik perang.

Puncaknya, Franco mengsung ide radikal tentang Spanyol yang bersatu dan homogen (“España Una, Grande y Libre”). Bahasa Basque dilarang di tempat umum, sekolah, dan media massa. Buku-buku berbahasa Basque dibakar. Bendera nasional Basque, Ikurrina, menjadi bendera terlarang.

Athletic Club pun terdampak. Mereka dilarang mengubah nama klub yang berbau asing menjadi berbau Spanyol. Dari sinilah muncul nama Atlético Bilbao. Banyak pemain Bilbao yang melarikan diri ke Amerika Latin.

Perlawanan

Sejak 1912, Athletic Club menerapkan sebuah kebijakan yang tak tertulis di anggaran dasar mereka: Cantera. Intinya, Athletic Club hanya boleh merekrut pemain yang lahir di wilayah Basque Raya atau yang ditempa di akademi sepak bola wilayah tersebut.

Di bawah rezim Franco, aturan itu menjadi simbol perlawanan. Ketika identitas Basque dilarang, ada tim sepak bola yang menghadirkan orang-orang Basque dan identitasnya di lapangan hijau. Stadion San Mamés, markas Athletic Bilbao, menjadi ruang bebas untuk mengekspresikan identitas Basque.

Pemain Athletic dalam parade juara di bawah tekanan dan agenda “Spanishisation” rezim Franco.

José Antonio Aguirre, Lehendakari (semacam jabatan presiden wilayah Basque) yang juga bebas pemain Athletic Bilbao, punya ide untuk membentuk Timnas Basque. Nama timnya, Selección Euskadi atau Euzkadiko Selekzioa. Selain menggalang dana untuk membiayai evakuasi anak-anak Basque yang melarikan diri ke luar negeri, kehadiran Timnas Basque menjadi sarana untuk mengkampanyekan identitas Basque.

Pada November 1975, rezim fasis Franco resmi berakhir. Setahun kemudian, dalam laga derby antara Athletic Bilbao vs Real Sociedad, kapten Athletic Bilbao José Ángel Iribar berlari ke tengah lapangan membawa bendera Ikurriña.

Suporter progresif

Pada 1981, enam tahun pasca berakhirnya rezim Franco, suporter Athletic Bilbao mengorganisir diri. Mereka mendirikan kelompok suporter bernama Herri Norte Taldea (HNT). Dalam bahasa Basque, itu berarti kelompok rakyat utara.

HNT sangat terpapar oleh Marxisme dan sosialisme. Selain sangat anti-fasis dan menolak rasisme, mereka juga mengusung nasionalisme Basque. Mereka menuntut kemerdekaan penuh wilayah Basque dari Spanyol.

Tahun 1980-an, ketika banyak aktivis ETA (Euskadi Ta Askatasuna), kelompok bersenjata yang memperjuangkan kemerdekaan Basque, ditangkap, suporter HNT melakukan aksi solidaritas.

Pada 1995, mereka bekerja sama dengan SOS Racismo, organisasi anti-rasisme yang aktif di Spanyol, dalam mengorganisir sebuah rally besar bertajuk “Demi para imigran dan melawan rasisme dalam sepak bola.”

HNT juga aktif menggalang front anti-fasis dengan berbagai kelompok suporter di Eropa. Di La Liga maupun ajang Eropa, HNT sering bentrok dengan suporter sayap kanan, seperti Real Madrid dengan Ultras Sur, Atletico Madrid dengan Frente Atletico, atau klub luar negeri seperti Spartak Moskow.

Suporter Herri Norte Taldea membentangkan spanduk dukungan untuk Donbas, sebuah wilayah di Ukraina yang menuntut pemisahan.

Sejak ikut kompetisi La Liga pada 1929, Athletic Bilbao belum pernah terdegradasi. Menariknya, sukses itu diraih meskipun Athletic Bilbao teguh berlapis baja menerapkan prinsip ”La Cantera”, yakni kewajiban memakai pemain domestik di wilayah Basque.

Sebuah survei El Mundo pada 1990-an menunjukkan, 76 persen suporter Athletic Bilbao lebih memilih klubnya terdegradasi ketimbang menanggalkan prinsip ”La Cantera”. Sebuah ekspresi politik yang sudah sangat mengeras.

Phil Ball, komentator sepak bola sekaligus penulis buku Morbo: The Story of Spanish Football, pernah menyebut masyarakat Basque sebagai orang-orang atavistik. Dalam segala hal, mereka adalah pembenci segala yang berbau Madrid, terutama Real Madrid. Tentu saja, kebencian itu bersifat historis. Ada kaitannya dengan penderitaan rakyat Basque di bawah kediktatoran fasis Franco.

Begitulah sepak bola. Memang tak bisa dipisahkan dengan politik. Dengan politik, sepak bola menjadi lebih bergairah, lebih emosional, dan meledak-ledak.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Problem MBG itu Sistemik

Problem MBG itu Sistemik

Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan, hingga Mei 2026,

Next
10 Fakta Hari Lahir Sukarno

10 Fakta Hari Lahir Sukarno

Di India, hari lahir Mahatma Gandhi, Bapak Bangsa India, dirayakan sebagai hari

You May Also Like
Total
0
Share