“Tragedi terbesar bukanlah penindasan dan kekejaman oleh orang-orang jahat, tetapi kebungkaman atas hal itu oleh orang-orang baik.” Kata-kata itu diucapkan Martin Luther King, Jr, tokoh terkemuka gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat (AS).
Kata-kata itu sangat relevan dengan reaksi dunia atas kejahatan genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Aksi solidaritas meledak di seantero negeri, terutama di Eropa dan Amerika Latin. Ini adalah salah satu aksi solidaritas terbesar dalam sejarah, selain solidaritas antiperang Vietnam pada 1960-an.
Kemarin, Angkatan Laut Israel mencegat iring-iringan kapal yang tergabung Global Sumud Flotilla (GSF), sebuah inisiatif masyarakat sipil global yang diinisiasi aktivis kemanusian dari berbagai negara untuk menerobos blokade laut Israel terhadap Jalur Gaza sembari membawa bantuan kemanusiaan.
Aksi ini melibatkan sekitar 40 kapal kecil dengan membawa 500-an aktivis dari 44 negara. Di atas kapal terdapat tokoh publik, veteran militer, selebritis, anggota parlemen, hingga aktivis lingkungan, termasuk Greta Thunberg. Bantuan yang dibawa berupa pangan, obat-obatan, hingga susu bayi.
Aksi Israel itu langsung menuai gelombang protes. Di Italia, ribuan orang langsung menggelar aksi blokade sejumlah tempat, seperti stasiun kereta api, untuk mendesak pemerintah mengambil tindakan terhadap Israel. Aksi meledak di Roma, Milan, Turin, Bologna, Naples, Genoa, dan kota-kota lain.
Bahkan, tak sedikit aksi itu berujung bentrok dengan aparat keamanan. Aksi protes itu, yang dimotori oleh kaum muda dan kelas pekerja, menunjukkan dukungan kuat rakyat Italia pada isu kemanusiaan di Palestina.
Serikat pekerja terbesar di Italia, seperti Unione Sindacale di Base (USB) dan Confederazione Generale Italiana del Lavoro (CGIL), menyerukan mogok massal nasional pada 3 Oktober 2025.
Aksi serupa juga terjadi di Prancis, Inggris, Turki, Yunani, dan berbagai tempat di dunia.
Pasang solidaritas di Eropa
Eropa menjadi salah satu panggung solidaritas terbesar untuk rakyat Palestina. Solidaritas menggema dari ruang-ruang gedung parlemen, ruang akademik, hingga jalanan.
Pada 17 Mei 2025, sekitar 500 ribu orang tumpah ruah di jalanan kota London untuk mengecam praktik genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Ini adalah aksi berskala nasional ke-27 sejak Oktober 2023.
Pada 6 September 2025, bertepatan dengan seruan “Global Day of Action for Gaza”, sekitar 300 ribu orang kembali memadati jantung kota London untuk menyuarakan penghentian aksi kekerasan terhadap warga Palestina. Angka-angka ini menjadikannya salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah Inggris dalam beberapa dekade.
Pada Mei 2025 juga, di kota Den Haag, Belanda, lautan merah diperkirakan 100 ribu orang juga membajiri kota yang juga tempat markas Mahkamah Internasional (ICJ).
Pada 27 September lalu, di kota Berlin, Jerman, lebih dari 100 ribu orang juga berkumpul untuk mendesak pemerintah mengakhiri dukungan militer terhadap Israel. Partai kiri Jerman, Die Linke, menjadi salah satu motor aksi protes ini.
Spanyol juga menjadi salah satu negara terdepan dalam membela rakyat Palestina dari praktik genosida oleh Israel. Pada Mei 2024, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, mengumumkan negaranya mengakui negara Palestina.
Pada September 2024, sekitar 200 serikat buruh dan organisasi masyarakat sipil Spanyol menggelar mogok nasional untuk mendesak penghentian segala bentuk hubungan politik, ekonomi, maupun militer dengan Israel.
Tak lama dari aksi itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengumumkan larangan ekspor senjata dan pengiriman bahan bakar melalui pelabuhan Spanyol. Terakhir, Sanchez meminta agar Israel dilarang dalam ajang olahraga. Bahkan, Spanyol mengancam tidak ikut serta dalam Piala Dunia 2026 jika ada Timnas Israel dalam ajang tersebut.
Pada September 2025, salah satu aksi terbesar terjadi di Madrid, ketika lebih dari 100 ribu pengunjuk rasa memadati jalanan untuk memprotes keberadaan Tim Israel-Premier Tech dalam ajang balap sepeda Vuelta a España.
Aksi solidaritas untuk Palestina juga meledak di Dublin (Irlandia), Kopenhagen (Denmark), Stockholm (Swedia), Jenewa (Swiss), dan banyak tempat lainnya.
Tak hanya di gedung parlemen dan jalanan, aksi solidaritas Palestina juga berlangsung di hampir semua stadion sepak bola di Eropa, di hampir semua liga, dari Celtic FC di Glasgow, hampir semua klub di Ligue 1 Prancis, klub seperti Bayer Munich dan St Pauli di Jerman, hampir semua klub di La Liga, dan sejumlah klub di Premier League Inggris. Bahkan, liga terbesar di Eropa, UEFA Champions League, bergemuruh dengan aksi solidaritas Palestina di setiap pertandingannya.
Dari panggung hiburan, solidaritas juga menggema. Dari Dua Lipa (Inggris), Emma Watson (Inggris), Emma Watson (Inggris), Jonny Greenwood (Inggris), Carice van Houten (Belanda), Cillian Murphy (Irlandia), Nicola Coughlan (Irlandia), Tilda Swinton (Skotlandia), dan masih banyak tokoh lain yang berderet panjang jika disebutkan.
Solidaritas Palestina di Amerika Latin
Amerika Latin, yang berjarak sekitar 10-14 ribu km dari Palestina, juga bergemuruh aksi solidaritas untuk Palestina. Solidaritas tidak hanya di negara yang selama ini jadi sekutu lama, seperti Kuba dan Venezuela.
Salah satu yang paling unik adalah Kolombia. Selama 75 tahun, Kolombia menjadi sekutu Israel di Amerika Latin. Israel menjadi penyuplai senjata dan pelatihan militer untuk tentara Kolombia. Kedua negara juga berjejaring soal investasi dan perdagangan. Di PBB, Kolombia selalu menentang resolusi yang merugikan Israel.
Namun, semuanya berubah sejak 2022, ketika Gustavo Petro terpilih sebagai presiden. Saat ini, Kolombia menjadi negara yang paling getol mengecam genosida Israel di Palestina. Tak hanya menghentikan impor senjata dan kerjasama militer, Petro juga pernah memutus hubungan diplomatik Kolombia dengan Israel pada 2024.
Pada Sidang Umum PBB, akhir September lalu, Petro tak hanya terangan-terangan menyebut praktik ”genosida” di Palestina, tetapi juga menyebut Netanyahu sebagai penjahat kemanusiaan. Ia bahkan mengusulkan pembentukan pasukan internasional untuk membebaskan Palestina dari kolonialisme Israel.
Tak hanya politik, aksi protes jalanan untuk mengecam genosida Israel juga terjadi di Bogota, Ibu Kota Kolombia.
Negara kedua adalah Meksiko. Sama seperti Kolombia, negara ini juga sekutu lama Israel. Namun, titik balik terjadi pada 2023, ketika Claudia Sheinbaum, terpilih sebagai presiden. Meski punya darah Yahudi, Claudia mengambil langkah politik progresif.
Di bawah pemerintahannya, Meksiko menjadi salah satu negara Amerika Latin, selain Chile, yang menyerukan agar Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menyelidiki dugaan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel. Meksiko juga turut mendukung proposal Afrika Selatan yang membawa Israel ke Mahkamah Internasional (ICJ) untuk tuduhan genosida.
Pada awal September lalu, lebih dari 180 ribu warga Meksiko berkumpul di alun-alun utama kota Mexico City, Zócalo, untuk menghadiri konser musik sekaligus bersolidaritas untuk Palestina. Para artis yang tampil tak henti-hentinya berteriak ”Palestina libre” di sela-sela konser solidaritas itu.
Tentu saja, itu aksi solidaritas Palestina terbesar tak hanya di Meksiko, tetapi se-Amerika Latin. Aksi ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.
Selain Meksiko dan Kolombia, solidaritas terhadap Palestina juga dilakukan di Venezuela, Brasil, Argentina, Chile, dan Uruguay.
Gejolak di kampus-kampus AS
Sejak 2024 lalu, kampus-kampus di AS bergolak oleh aksi-aksi solidaritas Palestina. Mahasiswa di universitas-universitas terkemuka seperti Columbia University, UCLA, Harvard, Yale, dan banyak lainnya, mendirikan kemah protes di halaman kampus. Kemah-kemah ini menjadi pusat organisasi, diskusi, dan mimbar bebas. Aksi ini disebut Gaza Solidarity Encampment.
Dalam beberapa kasus, protes meningkat menjadi pendudukan gedung, seperti di Hamilton Hall di Columbia University, yang kemudian diganti namanya sementara menjadi “Hind’s Hall” (mengacu pada Hind Rajab, seorang gadis kecil Palestina yang terbunuh di Gaza).
Pada Mei 2024, referendum divestasi digelar di DePaul University menghasilkan 91 persen suara mendukung divestasi. Pada bulan yang sama, terjadi mogok kerja oleh pekerja akademik di kampus-kampus California, dimulai di UC Santa Cruz, diikuti UC Davis dan UCLA, menuntut divestasi dan amnesti bagi mahasiswa yang didisiplinkan.
Tidak tanggung-tanggung, lebih dari 3.000 mahasiswa dan pekerja akademik ditangkap aparat keamanan karena aksi-aksi ini. Ternyata, aksi-aksi di kampus AS menjalar ke negara lain, seperti di Australia (dimulai di Universitas Sydney), Kanada (termasuk Universitas McGill), hingga ke negara-negara seperti Meksiko, Jepang, dan Afrika Selatan.
Solidaritas Palestina di Australia dan Selandia Baru
Australia juga menjadi salah satu panggung aksi solidaritas terhadap Palestina.
Pada Agustus 2025, aksi besar-besaran di Sydney Harbour Bridge menarik perhatian global. Jumlah peserta diperkirakan antara 100 ribu hingga 300 ribu orang, memadati jembatan ikonik tersebut. Aksi juga terjadi di 40 kota di seluruh Australia, termasuk Melbourne dan Brisbane.
Pada September, pemerintah Australia di bawah kepemimpinan Partai Buruh mengakui negara Palestina.
Tetangga Australia, Selandia Baru, juga tak ketinggalan dalam aksi solidaritas ini. Pada September 2025, sekitar 20 ribu orang berpartisipasi dalam pawai pro-Palestina di Auckland, kota terbesar di Selandia Baru.
Kesimpulan
Gelombang solidaritas global untuk Palestina, yang kini membentang dari Eropa, Amerika Latin, hingga Asia Pasifik, menandai sebuah titik balik dalam sejarah gerakan solidaritas kemanusiaan. Apa yang dulu kerap dianggap isu “jauh di Timur Tengah” kini berubah menjadi simbol perlawanan universal terhadap kolonialisme dan genosida.
Gerakan solidaritas Palestina hari ini mengingatkan pada gema sejarah: gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan, gelombang anti-perang Vietnam, hingga perjuangan dekolonisasi abad ke-20. Namun, skala, keragaman, dan keberaniannya menandai babak baru, bahwa globalisasi bukan hanya tentang pasar dan modal, melainkan juga tentang globalisasi perlawanan dan solidaritas rakyat lintas bangsa.
Di satu sisi, Israel semakin kehilangan legitimasi moral di mata publik dunia. Di sisi lain, Palestina kian mendapat pengakuan politik dan moral dari masyarakat internasional. Memang, hasilnya belum bisa ditebak, sebab Israel yang disokong AS masih kukuh mempertahankan kebijakan kolonialnya terhadap Palestina.
Namun, satu hal yang bisa dipetik: rasa kemanusiaan telah dibangunkan dari tidur lelapnya dan mulai menatap cakrawala baru tentang dunia yang lebih adil dan damai.
Terakhir, kita mau bertanya, ketika gelombang solidaritas bergemuruh di berbagai belahan dunia, dari aksi jalanan, seruan BDS, hingga pemogokan umum, mengapa Indonesia, negeri muslim terbesar di dunia, sepertinya sepi-sepi saja? Mengapa kampus-kampus Indonesia terasa sepi dengan aksi solidaritas Palestina?










