Awan gelap pekat tengah menggelayuti panggung politik Brasil. Pemilu yang digelar pada 4 Oktober lalu mengirimkan sinyal bahaya bagi kubu kiri.
Lula da Silva, Presiden Brasil sekaligus salah satu tokoh penting gerakan kiri di Brasil dan Amerika Latin, kini berada di ambang kekalahan elektoral. Dalam pemungutan suara pada Minggu itu, Lula hanya meraih 45,16 persen suara, menempatkannya di posisi kedua.
Sementara pesaingnya, Flávio Bolsonaro, anak dari diktator fasis Jair Bolsonaro, berhasil membuat gebrakan elektoral. Ia meraih suara terbanyak dengan 47,03 persen suara.
Memang masih ada putaran kedua pada 25 Oktober mendatang. Lula da Silva dan Flávio Bolsonaro akan head to head. Berhadap-hadapan dengan pasang arus politik kanan yang sangat kuat dan terkonsolidasi, dengan lanskap politik yang sangat terpolarisasi, peluang Lula da Silva sangat tipis.
Namun, kekalahan Lula di putaran pertama sudah memantik banyak tanda tanya. Mengapa seorang presiden yang cukup populer, dengan performa ekonomi yang cukup bagus, justru seperti dihukum oleh pemilihnya?
Di bawah Lula da Silva, yang pada 2023 lalu memulai jabatan ketiganya sebagai presiden, ekonomi Brasil menunjukkan kinerja positif. Ekonomi tumbuh rata-rata 3 persen, meskipun agak melambat pada 2025 menjadi 2,3 persen. Inflasi pun tergolong rendah, hanya 4,26 persen pada akhir 2025. Angka pengangguran hanya 5,3 persen, terendah dalam sejarah negeri itu.

Mengapa capaian ekonomi yang mengesankan tidak membawa efek elektoral yang positif bagi Lula da Silva?
Jejak kinerja
Tahun 2010, ketika mengakhiri masa jabatan keduanya, Lula sangat populer. Tingkat persetujuan (approval rating) terhadap pemerintahannya mencapai 87 persen. Dia dinobatkan sebagai Presiden Brasil paling populer dalam sejarah.
Melalui program anti-kemiskinan, Bolsa Família, lebih 40 juta orang Brasil berhasil dikeluarkan dari kemiskinan. Angka kemiskinan ekstrem terpangkas dari 11,1 persen pada 2003 menjadi 4,3 persen pada 2010. Jarak ketimpangan kian menyempit.
Di bawah Lula, ekonomi Brasil tumbuh pesat. Dengan pertumbuhan di atas rata-rata 4,06 persen, periode 2003-2010 dijuluki “Masa Keemasan” atau era lonjakan ekonomi (growth spectacle). Pada 2010, ketika Lula menutup masa jabatannya, ekonomi tumbuh 7,5 persen, tertinggi selama tiga dekade.
Kekuasaan Lula kemudian dilanjutkan penerusnya, Dilma Rousseff. Sayang, ia memerintah di era berakhirnya lonjakan harga komoditas (commodity boom). Ruang fiskalnya sangat terbatas. Ditambah lagi, secara politik, ia berhadapan dengan parlemen yang dikuasai oposisi.

Akhirnya, Dilma terjungkal pada 2016. Ia digantikan oleh wakilnya, Michel Temer, seorang konservatif, yang menggiring Brasil dalam skema neoliberal. Dan sejak itu, ekonomi Brasil memasuki apa yang disebut “Dekade yang Hilang” (The Lost Decade). Ekonomi hanya tumbuh rata-rata 1 persen. Sementara angka pengangguran kembali membengkak.
Tahun 2018, ketika pemilu akan digelar, Lula bertekad untuk maju kembali. Sayang, ia dijegal dengan tuduhan korupsi yang belakangan tidak terbukti. Ia dipenjara lebih dari satu tahun. Dalam pemilu, Lula digantikan oleh Fernando Haddad, seorang akademisi Partai Buruh. Dalam pemilu itu, Jair Bolsonaro, seorang fasis dari Partai Sosial-Liberal, berhasil memenangi pemilu.
Di bawah Bolsonaro, kebijakan neoliberal semakin massif. Dia memimpin Brasil dengan manajemen buruk saat berhadapan dengan pandemi Covid-19. Akibat inkompetensi Bolsonaro, lebih dari 700 ribu warga Brasil meninggal akibat Covid-19. Selain itu, saat berkuasa, Bolsonaro mencabut semua kebijakan sosial di era Lula, termasuk Bolsa Familia. Akhirnya, pada 2022, ketika Bolsonaro akan mengakhiri masa jabatannya, Brasil kembali terjerembap ke dalam Peta Kelaparan PBB (UN Hunger Map).
Pada pemilu 2022, Lula berhasil mengalahkan Bolsonaro dalam pertarungan dua putaran yang ketat. Namun, Lula memulai kekuasaan ketiganya dengan tumpuan yang rapuh: blok kiri cuma menjadi kekuatan minoritas di parlemen (hanya menguasai 25 persen kursi).
Karena itu, agar kekuasaannya bisa berjalan, Lula harus bernegosiasi dengan Centrão, yaitu blok politik tengah kanan yang transaksional, seperti MDB, Sosial-Demokratik (PSD), Progressistas (PP), União Brasil, dan Republicanos.
Hanya berselang sepekan usai dilantik, Lula sudah digoyang oleh sayap kanan pendukung Bolsonaro. Mirip penyerbuan Gedung Capitol di AS pada 11 Januari 2021, pendukung Bolsonaro juga menyerbu Istana Kepresidenan Brasil pada 8 Januari 2023.
Namun, berkat kepiawaian berpolitik, Lula bisa melalui rintangan politik itu. Selama pemerintahanya, ekonomi Brasil kembali merangkak naik: rata-rata 3 persen. Negeri Samba itu kembali masuk kelompok 10 ekonomi terbesar dunia.
Angka pengangguran juga rendah, hanya 5,3 persen. Angka itu merupakan yang terendah dalam sejarah Brasil. Sektor informal Brasil hanya 37 persen. Mayoritas pekerja tertampung di sektor informal, yang cukup terlindungi oleh UU Ketenagakerjaan. Sejak 2023 hingga 2026, upah minimum meningkat 24,5 persen.
Lalu, mengapa dengan performa ekonomi yang positif, dukungan elektoral justru menghukum petahana?
Ekspektasi yang berubah
Ada banyak penjelasan soal penyebab kekalahan Lula. Namun, ini penjelasan yang paling kuat: perubahan ekspektasi pemilih.
Selama satu dekade, dari 2003 hingga 2013, Brasil mengalami ledakan kelas menengah baru. Kombinasi dari pertumbuhan ekonomi, kebijakan anti-kemiskinan yang efektif (Bolsa Família dan Fome Zero), dan kenaikan upah minimum yang signifikan.
Secara keseluruhan, ada 78,18 persen warga Brasil yang masuk kategori kelas menengah. Sebagian besar adalah kelas menengah kategori C atau kelas menengah baru (Aspiring Middle Class) dengan pendapatan per kapita antara R$ 880 hingga R$ 3.755 per orang per bulan (sekitar Rp 2,4 juta hingga Rp 10,5 juta per kapita).
Kelas menengah baru ini punya aspirasi yang khas. Mereka tak lagi terperangkap dalam kemiskinan, mulai bergantung pada ponsel model baru, punya mesin cuci, memiliki TV layar lebar, dan setiap akhir pekan mengadakan churrasco (barbekyu khas Brasil) di halaman rumahnya.

Karena ekspektasi ekonomi yang membaik, tidak sedikit kelas menengah yang berani mengambil cicilan (parcelamento) demi memiliki IPhone dan Samsung Galaxy keluaran terbaru. Obsesi ini semakin diorkestrasi oleh kehadiran media sosial, terutama Instagram dan TikTok. Kemudahan mengakses kredit membuat 79 persen keluarga di Brasil memiliki masalah utang atau cicilan yang menumpuk.
Masalahnya, meskipun tidak lagi miskin, tetapi kelas menengah baru ini masih sangat rapuh secara ekonomi. Mereka sangat rentan terhadap guncangan ekonomi. Dan inilah yang terjadi di bawah periode ketiga Lula da Silva. Kenaikan biaya hidup menggerus kehidupan kelas menengah.
Kenaikan sewa tempat tinggal dan tarif listrik melumat pendapatan kelas menengah. Setidaknya, berdasarkan survei, ada tujuh dari 10 orang Brasil yang mengeluhkan naiknya biaya hidup. Akibat kenaikan biaya hidup, banyak gaya hidup kelas menengah yang terpaksa dikorbankan.
Eric Hoffer dalam “The True Believer: Thoughts on the Nature of Mass Movements” mengingatkan, orang-orang yang paling mudah terpikat oleh gerakan massa bukanlah kaum yang paling miskin atau tertindas secara mutlak, melainkan kaum yang frustrasi (the frustrated). Mereka adalah orang-orang yang pernah menikmati sedikit kemakmuran sebagai kelas menengah, tetapi tiba-tiba terenggut.
Masalahnya, karena sudah tidak masuk kategori miskin, kelas menengah baru ini tidak masuk daftar penerima bantuan sosial. Di sisi lain, posisi ekonomi mereka masih terlalu rapuh untuk disebut kelas mapan.
Bangkitnya basis pemilih kanan
Satu lagi penjelasan yang cukup penting yakni keberhasilan Bolsonaro membangun basis pendukung sayap kanan yang loyal dan agresif.
Basisnya ada dua. Pertama, bangkitnya Kristen Evangelis atau Evangelikalisme. Secara politik, mayoritas Evangelis cenderung sangat konservatif. Bahkan menjadi pendukung politik sayap kanan jauh, seperti Republik dan proyek MAGA di AS. Di Brasil, mereka menjadi basis pendukung loyal Jair Bolsonaro. Di Brasil, populasi Evangelis meningkat pesat dari sekitar 5 persen pada 1960 menjadi sekitar 35 persen pada 2022. Di parlemen, kaum Evangelis punya blok lintas partai: Bancada Evangélica.
Ada irisan antara ideologis antara Evangelis dan politik Bolsonarismo. Mereka sama-sama pro-life (anti-aborsi), anti-feminisme, anti-LGBT/pernikahan sejenis, dan mendukung definisi keluarga yang tradisional. Saat berkampanye, Bolsonaro selalu berseru: “Tuhan, Tanah Air, keluarga”. Sebuah perpaduan dari konservatisme dan patriotisme kanan (chauvinisme).
Gereja Evangelis juga menjadi bala tentara Bolsonarismo untuk menyelinap ke pemukiman kumuh padat (favela) yang selama ini menjadi basis tradisional partai kiri (Partai Buruh). Mereka tak hanya menawarkan bantuan sosial lewat gereja, tetapi juga jalan keluar religius atas berbagai persoalan yang dihadapi kaum miskin.
Kedua, Sejak 2000-an, ketika Tiongkok mulai menjadi anggota WTO, Brasil kecipratan untuk ekspor dua komoditas: kedelai dan daging sapi. Hingga 2026, sekitar 70 persen ekspor kedelai Brasil mengalir ke Tiongkok. Saat bersamaan, hampir separuh (46 persen) ekspor daging sapi Brasil juga bermuara ke Tiongkok.
Sektor agribisnis (agronegócio), terutama kedelai dan ekspor daging sapi, menyumbang sepertiga PDB Brasil. Sektor ini menciptakan rantai ekonomi yang panjang, dari perkebunan kedelai, peternakan sapi, industri pupuk, industri rumah potong hewan (frigoríficos), pabrik pakan ternak, penyedia jasa transportasi dan logistik, hingga perusahaan asuransi pertanian.
Namun, lonjakan ekspor kedelai dan daging sapi menuntut tanah yang luas. Sabana tropis yang luas diubah menjadi lahan pertanian kedelai dan peternakan sapi. Bahkan merembet pada pemanfaatan kawasan hutan hujan Amazon. Pada titik ini, kepentingan agronegócio kerap berbenturan dengan masyarakat dan kebijakan pemerintah yang melindungi lingkungan.
Di bawah rezim Bolsonaro, konflik itu berhasil diredam. Ia terang-terangan memihak kepentingan para peternak, petani, dan pengusaha agribisnis. Bolsonaro melemahkan Lembaga Pengawas Lingkungan (IBAMA), melegalisasi penggunaan berbagai jenis pestisida/herbisida, dan mengabaikan demarkasi wilayah masyarakat adat. Ia juga melindungi para peternak, petani, dan pengusaha agribisnis dari ancaman reforma agraria yang dilancarkan oleh gerakan petani tak bertanah (MST).

Situasi inilah yang menciptakan apa yang disebut “Agrobolsonarismo”, sebuah aliansi strategis antara sektor agribisnis dengan rezim Bolsonaro. Pengaruh politik mereka cukup kuat. di parlemen, para peternak dan pengusaha agribisnis membentuk blok politik yang disebut Frente Parlamentar da Agropecuária (FPA) atau yang populer dikenal sebagai Bancada Ruralista. Mereka menguasai lebih dari separuh anggota parlemen maupun Kongres.
Mereka tak hanya menyediakan basis elektoral: petani, para pekerja, hingga mereka yang menerima ceceran manfaat dari bisnis peranian kedelai dan ekspor sapi. Mereka juga menyuplai logistik dan pendanaan untuk Bolsonaro.
Dukungan besar sektor inilah yang menjelaskan mengapa Flavio Bolsonaro cukup kuat di wilayah selatan (Sul), tenggara (Sudeste), dan tengah-barat (Centro-Oeste). Suaranya sangat dominan di daerah kota kecil/pinggiran dan pedesaan.
Penjelasan lain
Ada juga yang memberikan penjelasan lain. Pertama, seperti gaya politik sayap kanan jauh (far-right) di mana saja, mereka berhasil memaksimalkan isu korupsi dan keamanan sebagai isu dominan dalam debat politik publik. Meskipun Flavio Bolsonaro bukan sosok yang bersih, dan ia terlibat banyak skandal dugaan korupsi, pencucian uang, pemerasan, dan penggelapan pajak, tetapi ia berhasil menjadikan sentimen anti-korupsi untuk memojokkan Lula da Silva dan barisan Partai Buruhnya.
Yang kedua, Lula da Silva, yang sudah berusia 80 tahun, dianggap terlalu tua untuk menduduki jabatan presiden yang ketiga kali. Usia Lula sama dengan Joe Biden ketika maju untuk masa jabatan kedua (terpaksa mundur dan digantikan oleh Kamala Harris). Isu usia memicu perdebatan sengit soal kesanggupan fisik, daya ingat, dan regenerasi politik.
Lula dengan bangga tidak membawa ponsel ke mana-mana, sementara penetrasi internet di Brasil mencapai 86,9 persen dan terdapat sebanyak 150 juta pengguna aktif media sosial. Padahal, faktor usia harusnya jadi dalih bagi Lula untuk memaksimalkan kampanye digital, termasuk medsos.
Kondisi berbeda justru dimanfaatkan Flavio Bolsonaro, yang baru berusia 45 tahun. Melalui medsos, ia tak berhenti berseru-seru “Brasil Vai Vencer!” (Brasil Akan Menang!). Ia berbelanja tiga kali lipat lebih tinggi dari Lula untuk kampanye digital.
Kubu Flávio Bolsonaro mendominasi ruang medsos dengan memanfaatkan algoritma agresif, jaringan influencer politik digital (seperti Nikolas Ferreira), dan narasi anti-kiri (antipetismo) yang sangat memikat pemilih muda yang frustrasi dengan situasi ekonomi dan keamanan saat ini.

Peluang remontada
Meskipun hampir semua survei kini mengunggulkan Flavio untuk memenangi putaran kedua, tetapi segala kemungkinan bisa terjadi. Lula da Silva, aktivis buruh penggemar sepak bola itu, pasti tahu betul dengan remontada.
Dan peluang Lula untuk remontada ada pada perempuan. Kaum perempuan mewakili 52,48 persen pemilih. Dalam putaran pertama, 44 persen perempuan memilih Lula da Silva, sementara Flavio hanya mendapat 35 persen.
Seharusnya, jika bicara keberpihakan pada perempuan, Lula punya peluang untuk unggul dengan jarak sangat lebar di kalangan pemilih perempuan. Penyebabnya, kampanye Lula dan PT justru lebih pro kesetaraaan gender, perlindungan perempuan dari kekerasan, dan pemberdayaan ekonomi perempuan.
Sebaliknya, Flavio Bolsonaro maupun ayahnya, Jair Bolsonaro, punya rekam jejak yang buruk terhadap perempuan. Jair Bolsonaro dikenal bermulut seksis dan kerap opensif terhadap perempuan. Ia juga mempromosikan anti-feminisme. Bagi Bolsonaro dan anaknya, keluarga suci yang dipimpin laki-laki sebagai kepala rumah tangga adalah keluarga ideal yang dikehendaki oleh Tuhan.
Pada kampanye putaran pertama, Flavio cukup mengecoh banyak pemilih perempuan. Ia tiba-tiba muncul di televisi, ditemani istri, dua anak perempuan, dan ibunya, lalu berucap: “Semua orang tahu ayahku (maksudnya, Jair Bolsonaro). Tetapi anak perempuanku, istriku, dan ibuku yang membuat aku begini adanya.”
Dengan memakai wajah istri, ibu, dan dua anak perempuannya, Flavio membingkai dirinya berbeda dengan ayahnya. Sebaliknya, ia lebih peduli pada perempuan. Faktanya, Flavio Bolsonaro kerap mengeritik Lei Maria da Penha, semacam UU Anti Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).
Jika Lula bisa memaksimalkan pemilih perempuan, termasuk menggerakkan mereka ke kotak suara, tentu saja peluang remontada itu bukan tidak mungkin.
Hanya memang, kalau pun berhasil memenangi pemilu, jalan pemerintahan Lula tidak akan semulus tiga periode sebelumnya. Ia akan memerintah di tengah kepungan sayap kanan jauh yang mendominasi Kongres (DPR dan Senat).
Mari kita tunggu hasil pemilu putaran kedua.









