Politik Diplomasi Beras Sjahrir

Pada 1946, Indonesia yang baru merdeka masih terseok-seok. Kondisi politik belum stabil, sementara ekonomi masih memburuk. Kas pemerintah masih sangat tipis, diimpit inflasi dan dijepit blokade laut ketat oleh tentara Belanda yang menutup jalur ekspor dan impor.

Berhadap-hadapan situasi buruk itu, pemimpin republik tak kehabisan akal. Sutan Sjahrir, Perdana Menteri kala itu, membuat terobosan yang mengejutkan untuk menerobos blokade laut Belanda: diplomasi beras.

Ceritanya begini. Pada 1946, India yang masih berjuang untuk merdeka tercekik oleh kelaparan. Pada 1943, di Bengal, ada 2 juta hingga 3,8 juta jiwa yang meninggal karena kelaparan. Perang Dunia II dan bencana kekeringan yang menjadi pemicu kelaparan itu. Situasi itu berlanjut hingga 1945-1946.

Sjahrir mendengar kabar itu. Sebagai responsnya, pemerintah Indonesia bersedia mengirim 500 ribu ton beras untuk India. Selain pertimbangan kemanusiaan, bantuan ini juga punya target politik menerobos blokade laut Belanda.

Saat itu, sektor pertanian di dalam negeri masih berjuang untuk bangkit. Banyak infrastruktur dan irigasi yang rusak di zaman Jepang. Selain itu, kondisi keamanan juga belum stabil. Meskipun demikian, menurut hitungan Sjahrir, petani Indonesia masih bisa memproduksi beras berkisar 5-7 juta ton.

”Jikapun tidak ada surplus beras, saya pikir rakyat kami bersedia memberikan 500 ribu ton beras ditukar dengan tekstil. Saya rasa lebih dari wajar RI berbuat apa yang mungkin guna meringankan situasi pangan di India. Kami bersimpati terhadap rakyat India dan akan menyambut dengan baik terwujudnya hubungan ekonomi dan rohani antara RI dan India sebagai negara-negara merdeka,” kata Sjahrir kepada wartawan The Free Press Journal dari India.

Perdana Menteri Indonesia Sutan Sjahrir sedang memeriksa kapal laut India Empire Favour yang akan memuat bantuan beras dari Cirebon untuk diangkut ke India. kredit: ANRI

Tawaran baik Sjahrir direspons India. Pada 27 Juli 1946, utusan khusus pangan India, KL Punjabi dan PM Sjahrir menandatangani perjanjian bersama untuk menyepakati bahwa Indonesia menyediakan gabah dan pemerintah India menyediakan kapal untuk mengangkutnya.

Akhirnya, pada 20 Agustus 1946, beras pertama dari Indoensia, sejumlah 9.000 ton, diberangkatkan dari Probolinggo, Jawa Timur, menuju India. Pengiriman lainnya melalui pelabuhan Cirebon. Sebagian besar beras itu berasal dari berbagai tempat di Jawa.

Ketika beras-beras yang diangkut oleh kapal India dan dikawal oleh Inggris itu mulai mengalir keluar Indonesia, Belanda marah bukan kepalang. Mereka merasa seperti kecolongan. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Berita tentang bantuan beras ini segera menyebar. Surat kabar di Bombay memberitakan tawaran Sjahrir dengan nada kagum. Jawaharlal Nehru, pemimpin India saat itu, menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus dukungan moral kepada perjuangan Indonesia.

Dampak politiknya luar biasa. Diplomasi beras membuka pintu pengakuan dan simpati internasional. India kemudian menjadi salah satu pendukung kuat kemerdekaan Indonesia. Nehru mengundang delegasi RI ke Asian Relations Conference di New Delhi pada Maret–April 1947. Sjahrir sendiri hadir dan berbicara di forum itu, menempatkan Indonesia di panggung Asia yang sedang bangkit.

Langkah itu memperlemah posisi diplomasi Belanda dan memperkuat argumen republik di mata dunia bahwa mereka adalah pemerintahan yang sah dan bertanggung jawab.

Lebih dari itu, diplomasi beras menunjukkan gaya Sjahrir yang khas: tenang, rasional, dan visioner. Ia tidak hanya mengandalkan senjata atau pidato berapi-api, tetapi menggunakan sumber daya nyata sebagai alat politik. Ia mengubah beras menjadi senjata diplomasi yang elegan, tetapi mematikan bagi narasi kolonial.

Hari ini, kisah itu jarang diingat. Padahal, di tengah keterbatasan dan ancaman, Sjahrir berhasil membalik keadaan. Diplomasi beras adalah bukti bahwa bahkan dalam kondisi paling sulit, politik yang cerdas, elegan dan berjiwa besar mampu mengubah peta politik.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Romo Mangunwijaya dan Mimpi Indonesia yang Antifasis

Romo Mangunwijaya dan Mimpi Indonesia yang Antifasis

Lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, pada 6 Mei 1929, ia tumbuh dalam keluarga guru

Next
Salah Diagnosa Kepala BGN yang Baru

Salah Diagnosa Kepala BGN yang Baru

Mobil yang rusak tidak bisa melaju hanya dengan mengganti sopir, melainkan

You May Also Like
Total
0
Share