Pengangguran dan Ketimpangan Gender

Di banyak sudut Indonesia, dari gang-gang padat di Medan hingga perumahan baru di pinggiran Manado, pengangguran bukan sekadar statistik yang muncul di layar presentasi pemerintah. Ia adalah jeda yang memaksa, sebuah ruang kosong yang tiba-tiba menganga di tengah kehidupan seseorang.

Kehilangan pekerjaan membawa luka ekonomi, tekanan mental, stigma sosial, bahkan retaknya hubungan rumah tangga. Namun ada satu sisi yang jarang kita bahas dengan jujur: bagaimana pengangguran memperdalam ketimpangan gender, baik di rumah maupun di tempat kerja.

Dalam penelitian sosiolog Aliya Rao di Amerika Serikat, yang menjadi dasar buku Crunch Time, ia menemukan pola yang terasa sangat akrab bagi banyak perempuan Indonesia: ketika laki-laki kehilangan pekerjaan, keluarga mengerahkan seluruh energi untuk membantu mereka bangkit kembali. Tetapi ketika perempuan yang menganggur, responsnya jauh berbeda: lebih sunyi, lebih dingin, dan sering kali lebih menuntut.

Rumah: Ruang pertama tempat ketimpangan mengeras

Cheryl Stanley, nama samaran seorang perempuan yang diwawancarai Rao, menggambarkan perubahan itu dengan getir. Ketika ia masih bekerja, suaminya sering berbagi tugas rumah tangga. Namun begitu ia menganggur, semua itu lenyap. “Sekarang aku di rumah, dia bahkan tidak terpikir untuk membantu,” katanya.

Cerita Cheryl bukan pengecualian. Dalam banyak keluarga, termasuk di Indonesia, pengangguran perempuan dianggap sebagai “kesempatan” untuk kembali ke dapur, mengurus anak, atau merapikan rumah. Seolah-olah kehilangan pekerjaan otomatis mengembalikan mereka ke peran domestik yang dianggap “alami”.

Rao menyebut adanya model budaya tentang “pencari kerja ideal”, yang dalam imajinasi banyak keluarga adalah laki-laki. Seorang pria yang menganggur dianggap harus segera kembali bekerja. Karena itu, ia diberi waktu khusus untuk mencari lowongan, ruang kerja kecil di rumah, bahkan dukungan emosional dari pasangan.

Sebaliknya, perempuan yang menganggur tidak dianggap sedang menghadapi krisis yang perlu segera diatasi. Mereka tidak diberi ruang atau waktu untuk fokus mencari pekerjaan. Keluarga menganggap mereka sudah “punya banyak hal untuk dikerjakan di rumah”. Bahkan perempuan yang sebelumnya menjadi pencari nafkah utama pun sering diperlakukan seolah-olah pekerjaan mereka sekadar tambahan.

Fenomena ini terasa sangat dekat dengan realitas Indonesia. Banyak perempuan yang kehilangan pekerjaan di sektor ritel, garmen, atau pariwisata selama pandemi, misalnya, justru dibebani pekerjaan domestik berlipat ganda. Mereka tidak hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga kehilangan identitas profesional yang selama ini mereka bangun.

Tempat kerja: Bias yang bekerja dalam senyap

Ketimpangan itu tidak berhenti di rumah. Di tempat kerja, pengangguran massal sering kali mempercepat proses peminggiran perempuan.

Penelitian Alexandra Kalev terhadap ratusan organisasi, lembaga, dan perusahaan di Amerika Serikat menunjukkan pola yang mencolok: ketika perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja, posisi yang pertama kali dipangkas adalah posisi yang banyak diisi perempuan dan laki-laki kulit berwarna. Bukan karena mereka ditargetkan secara langsung, tetapi karena prosedur yang mengutamakan masa kerja dan jenis jabatan secara struktural merugikan kelompok tersebut.

Di Indonesia, pola serupa muncul dalam banyak industri. Dalam jurnalisme, misalnya, perempuan sering kali tidak diberi akses yang sama terhadap promosi atau liputan prestisius. Ketika perusahaan melakukan efisiensi, mereka yang dianggap “kurang strategis”—sering kali perempuan—lebih mudah tersingkir.

Michelle Curtis, seorang jurnalis Inggris dalam penelitian Rao, memilih mengambil paket pengunduran diri sukarela setelah melihat bagaimana perempuan sedikit lebih tua darinya dipaksa keluar. Ia ingin pergi dengan martabat, bukan menunggu sampai ia juga dianggap “tidak layak”.

Cerita Michelle menggema di ruang redaksi Indonesia, di pabrik-pabrik garmen, di kantor-kantor startup yang gemerlap. Perempuan sering kali berada di posisi yang lebih mudah digeser, lebih mudah diabaikan, lebih mudah dilepaskan.

Di bawah kapitalisme modern, bekerja bukan hanya soal gaji. Ia adalah identitas, sumber harga diri, dan ukuran moralitas. Mereka yang bekerja keras dianggap layak dihormati; mereka yang menganggur sering dipandang gagal, bahkan sebelum mereka sempat menjelaskan apa yang terjadi.

Karena itu, pengangguran bukan hanya kehilangan pekerjaan—ia adalah kehilangan legitimasi sosial. Dan ketika perempuan mengalaminya, bias gender membuat luka itu semakin dalam.

Di Indonesia, perempuan yang menganggur sering dianggap “lebih wajar” untuk kembali ke rumah. Laki-laki yang menganggur dianggap krisis; perempuan yang menganggur dianggap kembali ke kodrat. Padahal, banyak perempuan adalah tulang punggung ekonomi keluarga, baik secara langsung maupun melalui pekerjaan informal yang tidak pernah tercatat.

Menghadapi masa depan kerja yang berubah

Ketika dunia membicarakan bagaimana kecerdasan buatan akan menghapus pekerjaan, mengubah industri, dan mengguncang ekonomi, kita sering lupa bahwa dampaknya tidak akan netral gender. Jika pola lama dibiarkan, perempuan akan kembali menjadi kelompok pertama yang tersingkir.

Karena itu, pembicaraan tentang masa depan kerja harus memasukkan satu pertanyaan mendasar: siapa yang paling rentan ketika pekerjaan hilang? Jawabannya, seperti yang ditunjukkan penelitian Rao dan pengalaman banyak perempuan Indonesia.

Pengangguran bukan hanya masalah ekonomi. Ia adalah cermin yang memperlihatkan bias-bias yang selama ini kita biarkan hidup. Dan jika kita ingin membangun masyarakat yang lebih adil, kita harus berani menatap cermin itu—dan mengubah apa yang kita lihat.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Politik Agraria Bung Hatta

Politik Agraria Bung Hatta

Indonesia dijuluki negara agraris, tetapi lebih dari 60 persen petaninya adalah

Next
Membaca Bencana Aceh dari Tangis Mualem

Membaca Bencana Aceh dari Tangis Mualem

Wawancara Najwa Shihab dengan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem hanya

You May Also Like
Total
0
Share