Wawancara Najwa Shihab dengan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem hanya berlangsung singkat, 15 menit. Tetapi waktu yang singkat itu terasa seperti membuka pintu menuju ruang batin seorang pemimpin yang sedang memikul beban bencana yang terlalu besar untuk diungkap dengan kata-kata. Bukan hanya melalui kalimatnya, melainkan juga jeda, tatapan, air mata yang ditahan, dan tubuh yang sesekali menegang menahan luapan emosi.
Membaca Mualem dalam wawancara itu seperti membaca Aceh yang sedang terluka. Ia bukan sekadar mewakili wajah pejabat, tapi juga wajah seorang ayah yang melihat anak-anaknya tenggelam dalam banjir yang tak lagi sekadar banjir. Air yang menggenangi rumah-rumah warga bukan air biasa. Mualem mengisahkan bagaimana air itu pekat dan kotor sehingga membuat kulit warga gatal-gatal dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.
Namun ada satu detail yang paling mengguncang, matinya hewan-hewan melata seperti ular besar, biawak, dan hewan sungai lainnya. Hewan-hewan yang biasanya menjadi symbol of resilience, tahan, keras, dan justru nyaman hidup di lingkungan basah dan liar kini ditemukan mati bergelimpangan. Ini adalah tanda ekologis bahwa air yang menerjang rumah warga bukan lagi air alami, melainkan air yang terkontaminasi limbah tambang, erosi hutan, sisa eksploitasi yang selama ini dianggap normal. Kini gelombang air itu kembali dalam bentuk bencana.
Dalam psikologi lingkungan, ada konsep bernama ecological grief, jenis duka yang muncul ketika manusia melihat alam yang selama ini melindungi mereka perlahan mati. Ketika Mualem bercerita tentang ular-ular besar yang mati, sesungguhnya ia tidak sedang membicarakan hewan. Dia sedang membicarakan keruntuhan ekosistem dan ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia. Jika hewan yang paling adaptif pun tumbang, maka manusia sedang berada dalam bahaya yang jauh lebih besar.
Dari sisi komunikasi nonverbal, tangisan yang ia tahan dan suaranya yang sesekali pecah menunjukkan adanya beban emosi yang mengendap lama. Dalam teori Ekspresi Emosi Paul Ekman, ketika seseorang menahan air mata namun membiarkan getaran suaranya terdengar, itu menunjukkan emosi yang sangat kuat: campuran antara kekecewaan, marah, dan berharap. Mualem terlihat mencoba tegar, tetapi bahasa tubuhnya terlihat tergetar kuat. Tangan menggenggam lutut, napas berat, mata yang bergerak cepat mengungkapkan bahwa ia sudah berada di batas kemampuan psikologisnya.
Dan, di tengah segala emosi yang meletup itu, ia mengucapkan kalimat yang menjadi inti dari wawancara: Jangan berharap pada manusia. Berharaplah pada Allah.
Ini bukan sekadar kalimat religius. Dalam psikologi krisis, ini disebut coping mechanism transendental, sebuah bentuk pertahanan mental ketika seseorang merasa tidak lagi dapat mengandalkan struktur sosial dan politik. Dengan kata lain, ia sedang berkata: manusia terlalu sering mengecewakan. Terlalu banyak janji, terlalu banyak retorika, terlalu sedikit kerja nyata. Menaruh harapan pada Allah merupakan bentuk stabilitas ketika sistem gagal menyediakan rasa aman.
Namun sisi lain dari kalimat itu juga mengandung kritik halus yang tajam. Ia seolah berkata kepada para pemegang kekuasaan: Jangan buat rakyat bergantung pada kalian jika kalian tak sanggup bekerja.
Hal itu ditegaskan lagi ketika ia menantang para kepala daerah, para pemimpin, para pejabat yang selama ini hanya hadir dalam upacara tetapi hilang ketika rakyat tenggelam:
“Jangan cengeng. Jangan menyerah. Kalau tidak sanggup, mundur. Balik kanan. Lepas jabatan.”
Dari perspektif komunikasi politik, pernyataan ini adalah bentuk direct confrontation, kritik terbuka terhadap kepemimpinan yang lemah. Mualem menggunakan retorika moral bahwa kekuasaan bukan karpet merah, bukan ruang ber-AC, bukan sekadar tanda tangan di atas kertas. Kekuasaan adalah tempat pertama yang harus diinjak saat banjir, bukan tempat pertama yang ditinggalkan saat bencana datang.
Di sisi nonverbal, ketika Mualem mengucapkan kalimat ini, tubuhnya condong ke depan. Ini adalah bahasa tubuh assertive leadership, sikap seseorang yang sedang memikul tanggung jawab sekaligus menuntut hal yang sama dari orang lain. Ia tidak sedang marah; ia sedang memanggil nurani para pejabat lain agar berhenti menjadi penonton.
Wawancara ini sebetulnya membuka kepada publik bahwa bencana Aceh bukan hanya masalah cuaca. Bukan curah hujan ekstrem semata. Ini adalah konsekuensi dari puluhan tahun eksploitasi tambang, deforestasi, dan penjarahan sumber daya yang kini kembali sebagai air lumpur pekat yang membawa racun.
Ketika ular dan biawak mati, itu adalah tanda bahwa alam sedang memprotes. Ketika kulit warga gatal dan iritasi, itu tanda air telah terkontaminasi. Ketika banjir merendam rumah hingga dada, itu tanda sistem pencegahan bencana tidak bekerja. Ketika pemimpin menangis, itu tanda bahwa kegagalan struktural telah mencapai puncaknya.
Meski begitu, di antara air mata itu, ada satu hal yang masih terasa: keberanian untuk terus berdiri. Dalam teori psikologi resiliensi pemimpin, tangisan bukanlah tanda kelemahan, tapi tanda bahwa seseorang justru memiliki empati dan keterikatan emosional yang kuat pada rakyatnya. Pemimpin yang tidak peduli tidak akan pernah menangis. Pemimpin yang tidak terikat tidak akan pernah bicara dengan suara yang bergetar.
Yang kita lihat pada diri Mualem adalah pemimpin yang sudah melihat terlalu banyak penderitaan rakyatnya, dan ia tidak ingin berpura-pura kuat. Ia ingin jujur bahwa Aceh sedang berada di tepi jurang, tetapi juga ingin menegaskan bahwa ia tidak akan mundur sedikit pun.
Wawancara itu terasa seperti pesan dari seorang bapak kepada anak-anaknya: “Kalian tidak sendiri. Saya di sini. Saya tidak akan meninggalkan kalian.”
Dan, dalam dunia yang penuh pejabat yang sibuk pencitraan, kalimat itu terasa jauh lebih kuat daripada pidato-pidato panjang di podium.
Dalam 15 menit yang singkat itu, Mualem telah menunjukkan bahwa kejujuran emosional kadang lebih penting daripada data, bahwa air mata pemimpin bisa lebih jernih daripada laporan bencana, dan sebuah jeda napas bisa lebih lantang daripada sirene peringatan.
Aceh memang sedang tenggelam. Tapi pemimpinnya masih berdiri, bersandar pada Sang Pencipta, dan memanggil semua pejabat lain untuk tidak lagi bersembunyi di balik jabatan. Karena ketika air berubah menjadi bencana, ketika kulit warga perih karena bersentuhan dengan banjir, dan ketika alam tak lagi mampu melindungi manusia yang merusaknya, itu berarti kita sudah kehabisan waktu untuk pura-pura tidak melihat kenyataan.










