Kekalahan Tim Nasional (Timnas) Indonesia 2-3 dari Arab Saudi pada gim pertama Grup B putaran keempat pra-Piala Dunia 2026 di Jeddah, Kamis (9/10/2) dini hari WIB, bukan sekadar hasil minor biasa. Ini adalah peluit nyaring tanda bahaya bagi skuad Garuda di bawah kepemimpinan pelatih asal Belanda, Patrick Kluivert.
Meski skor tipis, hasil ini sejatinya menunjukkan penurunan performa signifikan dibandingkan laga putaran ketiga sebelumnya. Apalagi, skuad yang didominasi 16 pemain naturalisasi dan dibina oleh sistem akademi Belanda, serta didukung 14 staf berbahasa Belanda, masih tak mampu menghindari kekalahan di markas Alap-alap Hijau.
Rapuhnya benteng pertahanan
Pertahanan Indonesia di bawah rezim Kluivert terbukti sangat rapuh. Dalam tiga laga tandang kualifikasi Piala Dunia, Indonesia selalu kalah dengan kemasukan minimal tiga gol: lima dari Australia, enam dari Jepang, dan kini tiga dari Saudi. Formasi 4-2-3-1 yang bertransisi menjadi 4-4-1-1 saat bertahan gagal membuat pertahanan jadi lebih kokoh.
Tiga gol yang bersarang ke gawang Maarten Paes, meskipun ia tampil cemerlang dengan tujuh penyelamatan krusial, adalah cerminan dari kegagalan ini. Kegagalan utama terletak pada duet lini tengah Marc Klok dan Joey Pelupessy yang tidak padu dan gagal menyaring serangan lawan, bahkan Klok kehilangan bola yang berujung pada gol pertama Saudi.
Selain itu, keputusan Kluivert menempatkan Yakob Sayuri sebagai bek sayap kanan berujung bumerang. Posisi ini kontras dengan peran menyerangnya di klub. Pelanggaran Yakob yang berbuah penalti Saudi dan kegagalannya memenangkan duel bola kedua yang berujung gol ketiga menunjukkan keputusan taktik ini kurang tepat.
Taktik “peta buta” dan salah pilih pemain
Kluivert, yang kini mencatatkan hanya 43 persen kemenangan bersama Indonesia, tampaknya masih “menerka-nerka” pendekatan dan susunan pemain terbaiknya. Ini terlihat dari penerapan taktik berbeda yang berujung kekalahan skor besar.
Pada laga melawan Saudi, setelah unggul 1-0, permainan Indonesia menjadi “peta buta”. Jarak antarlini terlalu jauh, membuat pemain Saudi leluasa memainkan umpan satu-dua dan menemukan zona kosong. Upaya distribusi bola direct sebagai antisipasi pressing Saudi juga tidak efektif, dengan akurasi umpan jauh hanya 43 persen dan tingkat kemenangan duel udara hanya 46 persen.
Kesalahan fatal Kluivert adalah “buta” pemahaman terhadap kemampuan individu pemainnya. Contoh paling nyata adalah menempatkan Ragnar Oratmangoen sebagai penyerang nomor sembilan. Padahal, di klubnya, Ragnar beroperasi sebagai gelandang box to box. Akibatnya, Ragnar tampil seperti “singa yang tersesat,” gagal melepaskan satu pun tembakan dan 17 kali kehilangan bola.
Legenda Timnas, Dede Sulaeman, bahkan menyoroti diabaikannya Rizky Ridho dan Justin Hubner yang memiliki chemistry baik di lini belakang.
Filosofi Permainan Kluivert vs STY
Kegagalan ini, yang juga mengaburkan ekspektasi tinggi banyak fans Timnas Indonesia, tak terhindarkan memunculkan perbandingan dengan pendahulu Kluivert, Shin Tae-yong (STY). Perbedaan mendasar antara kedua pelatih terletak pada filosofi, pemahaman konteks sepak bola Indonesia, dan taktik implementasi.
Di balik kekacauan taktik yang terlihat di lapangan, ambisi besar Patrick Kluivert yang mendasari adalah mencoba menerjemahkan filosofi legendaris “Total Football” ala Belanda ke dalam Timnas Indonesia.
Total Football, yang dipopulerkan oleh Rinus Michels dan Johan Cruyff, adalah sebuah konsep revolusioner yang menekankan pada fleksibilitas posisi pemain, penguasaan bola (possession), dan pressing kolektif yang intens. Dalam sistem ini, setiap pemain diharapkan mampu mengisi peran pemain lain. Seorang bek bisa tiba-tiba maju menjadi gelandang, dan penyerang mundur untuk bertahan. Tujuannya adalah menciptakan superioritas jumlah di setiap area lapangan.
Untuk itu, ia mencoba berbagai formasi, dari 4-2-3-1 hingga 4-3-3, menunjukkan upaya untuk membuat tim tidak kaku pada satu shape. Kluivert sering ingin timnya mendominasi penguasaan bola, mencoba membangun serangan dari belakang (walaupun seringkali gagal efektif). Namun, indahnya impian ini berbenturan keras dengan realitas sepak bola Indonesia saat ini.
Total Football ala Kluivert berisiko tinggi karena Indonesia belum memiliki kualitas passing, kedisiplinan posisi, dan stamina yang memadai untuk bermain dengan intensitas dan penguasaan bola tinggi selama 90 menit melawan tim-tim kuat Asia. Akibatnya, saat skema Total Football gagal, yang tersisa hanyalah lubang pertahanan besar dan risiko kebobolan skor telak (5-0 dari Australia, 6-0 dari Jepang, 3-2 dari Saudi).
Sebaliknya, filosofi STY berfokus pada bertahan rapat, transisi cepat, dan counter-attack. STY menyadari bahwa melawan klub yang levelnya lebih tinggi, seperti Jepang, Arab, maupun Australia, bermain indah dengan possession tinggi adalah ilusi yang berbahaya.
Pada praktiknya, STY sering menggunakan formasi tiga bek (seperti 3-4-3 atau 3-5-2) yang secara fleksibel bertransformasi menjadi lima bek (5-4-1) saat bertahan penuh. Lini belakang dan tengah bermain sangat rapat untuk mempersempit ruang gerak lawan di area sentral. Ini memaksa lawan melebar ke sayap, di mana pressing dan double-team lebih mudah dilakukan.
Setelah sukses merebut bola di area pertahanan (fase transisi negatif), tim diarahkan untuk segera melancarkan serangan balik cepat (fast break) atau fase transisi positif. Begitu mendapat bola, STY tidak membuang waktu dengan passing pendek yang berisiko tinggi. Ia memilih umpan lambung cepat atau terobosan akurat langsung ke sepertiga akhir pertahanan lawan, memanfaatkan momen ketika lini pertahanan lawan belum sempat kembali ke shape mereka.
Pendekatan STY berhasil menjadikan Indonesia tim yang sulit ditembus dan berbahaya dalam serangan balik, sebuah formula yang terbukti berhasil membawa tim ini ke kancah Asia dan menaikkan peringkat FIFA.
Kritik absurd para pundit
Ironisnya, sistem pragmatis STY ini seringkali diremehkan oleh sebagian pandit sepak bola di Indonesia. Pandit-pandit seperti Towel, Akmal Marhali, dan Justin Laksana kerap melontarkan kritik pedas terhadap pendekatan defensif dan counter-attack STY, seolah-olah hanya permainan menyeranglah yang ideal.
Kritik ini terasa dangkal dan mengabaikan konteks. Mereka gagal memahami bahwa sepak bola adalah soal hasil, bukan hanya estetika. Taktik STY telah terbukti efektif membawa Indonesia mencapai babak gugur Piala Asia, semi-finalis Piala Asia U-23 usai memulangkan Korea Selatan, dan memperbaiki ranking FIFA.
Para pandit ini terperangkap dalam pandangan idealis bahwa sepak bola yang benar hanyalah possession-based. Mereka gagal mengakui bahwa di level kompetitif Asia, melawan tim sekelas Jepang, Korea, atau Arab Saudi, bermain pragmatis adalah kunci bertahan hidup. Mendorong Indonesia untuk bermain terbuka tanpa fondasi teknik dan chemistry yang kuat hanyalah resep untuk kekalahan skor telak.
Kita harus fair bilang, bahwa penampilan Timnas Indoenesia hari ini, di bawah filosofi Patrick Kluiver, juga ada andil dari para triumvirat pundit di atas. Mereka yang turut membangun opini untuk menyingkirkan STY dan filosofi bermainnya, yang justru mungkin cocok untuk membangun Timnas Indoenesia di fase-fase sekarang ini.
Akhir kata, bagi kami, yang mungkin dianggap secuil suporter Indonesia, entah seperti apa filosofi permainannya, mau total footbal atau parkir bus sekalian, asalkan bisa membawa kemenangan dan mengantarkan timnas sepak bola Indonesia ke Piala Dunia 2026. Itu mimpi kami!










