“This machine surrounds hate and forces it to surrender.” Begitulah tulisan yang terukir di banjo Pete Seeger. Bukan sekadar hiasan. Itu adalah pernyataan hidupnya.
Di tengah gemuruh Amerika yang penuh ketimpangan, perang, dan ketakutan, seorang pria bertubuh tinggi kurus dengan banjo di tangan memilih menyanyi. Bukan untuk menghibur semata, melainkan untuk mengajak orang-orang berdiri, bergandengan tangan, dan berani berkata: dunia ini bisa lebih baik.
Pete Seeger lahir pada 3 Mei 1919 di New York dari keluarga musisi dan intelektual. Ayahnya seorang ahli musik klasik yang pernah dekat dengan gerakan kiri. Seeger muda meninggalkan Harvard setelah dua tahun. Ia memilih jalan lain: naik kereta barang, menumpang mobil, berkeliling negeri, mengumpulkan lagu-lagu rakyat, lagu kerja, dan himne dari para pekerja.
Di perjalanan itulah ia bertemu Woody Guthrie. Pertemuan itu seperti petir di langit. Dari Guthrie ia belajar bahwa lagu bisa menjadi senjata yang lembut sekaligus tajam.
Pada 1940 ia bersama Guthrie dan kawan-kawan membentuk Almanac Singers. Mereka menyanyi di aula serikat pekerja, di pertemuan petani, di mana saja suara rakyat dibutuhkan. Lagu-lagu mereka tentang persatuan buruh, tentang keadilan.
Setelah perang dunia kedua, Seeger dan teman-temannya membentuk The Weavers. Tiba-tiba mereka menjadi bintang. “Goodnight Irene” menduduki puncak tangga lagu. Namun kejayaan itu cepat pudar.

Di era McCarthy, nama Seeger masuk daftar hitam. Ia dipanggil ke House Un-American Activities Committee. Ketika ditanya tentang afiliasi politiknya, ia menolak menjawab. Bukan karena takut, melainkan karena menurutnya pertanyaan itu tidak pantas diajukan kepada warga Amerika. Ia hampir dipenjara, kariernya terhambat bertahun-tahun. Tapi banjonya tidak pernah diam.
Dari masa gelap itu lahir beberapa karya paling abadi. Bersama Lee Hays, ia menulis “If I Had a Hammer” pada 1949. Lagu yang sederhana namun penuh kekuatan: jika aku punya palu, aku akan memukul peringatan; jika aku punya lonceng, aku akan membunyikan kebebasan; jika aku punya lagu, aku akan menyanyikan cinta di antara saudara dan saudari di seluruh negeri. Puluhan tahun kemudian lagu ini menjadi nyanyian gerakan hak-hak sipil. Peter, Paul and Mary membawanya ke tangga lagu, tapi semangat aslinya tetap milik Seeger.
Ada juga “Where Have All the Flowers Gone?”. Ide itu datang saat ia setengah tertidur di pesawat. Tiga baris dari sebuah novel Soviet berubah menjadi lagu yang memutar pertanyaan pahit: ke mana perginya bunga-bunga? Dipetik gadis-gadis. Ke mana perginya gadis-gadis? Menikah. Ke mana perginya pria-pria? Pergi perang. Kapan mereka akan belajar? Lagu ini menjadi salah satu himne anti-perang Vietnam yang paling menyentuh.
Lalu “Turn! Turn! Turn!”. Seeger mengambil ayat dari Kitab Pengkhotbah, menambahkan satu kalimat penutup yang menjadi inti pesan: “a time for peace, I swear it’s not too late.” The Byrds membawanya ke puncak tangga lagu, tapi jiwa lagunya tetap milik penyanyi banjo itu.
Dan tentu saja “We Shall Overcome”. Seeger bukan pencipta asli lagu itu, tetapi ia yang mengubah “will” menjadi “shall”, yang membawanya ke Highlander Folk School, yang menyanyikannya di hadapan Martin Luther King Jr., yang membuatnya menyebar ke seluruh gerakan hak-hak sipil. Di barisan panjang orang-orang kulit hitam dan putih yang berjalan bergandengan, lagu itu menjadi napas bersama.

Aktivisme Seeger tidak berhenti di panggung. Ia berjuang bersama pekerja, mendukung gerakan hak-hak sipil, menentang perang Vietnam dengan keras, bahkan pernah menyanyikan “Waist Deep in the Big Muddy” di televisi nasional meski sempat disensor. Di usia senja, perhatiannya beralih ke Sungai Hudson yang tercemar. Bersama istrinya Toshi, ia membangun kapal sloop Clearwater. Ia berlayar di sungai yang kotor itu, menyanyi, mengajak orang melihat, dan menuntut sungai itu kembali bersih. Hari ini Hudson jauh lebih sehat, dan Clearwater masih berlayar.
Pete Seeger tidak pernah menganggap dirinya pahlawan. Ia lebih suka disebut “penyanyi profesional musik amatir”. Ia percaya partisipasi adalah agama. Ia ingin lagu-lagu berada di bibir orang banyak, bukan hanya di telinga mereka. Hingga usia 94 tahun, sebelum meninggal pada 27 Januari 2014, ia masih menyanyi. Bahkan di inaugurasi Obama, ia berdiri di tangga Lincoln Memorial, menyanyikan “This Land Is Your Land” bersama Bruce Springsteen.
Nyanyian protes Pete Seeger bukan tentang kemarahan semata. Ia tentang harapan yang keras kepala. Tentang keyakinan bahwa satu suara, satu banjo, dan sekumpulan orang biasa yang menyanyi bersama, mampu mengelilingi kebencian dan memaksa kebencian itu menyerah. Di zaman yang masih penuh ketidakadilan, lagunya tetap hidup. Tinggal kita yang memutuskan: maukah kita ikut menyanyi?










