Lagu Pembebasan “Buruh Tani” karya Safii Kemamang adalah sebuah fenomena. Gema lagu ini terdengar di mana-mana. Dari barisan demonstrasi, tongkrongan anak muda, konser musik independen, hingga panggung hajatan di pelosok desa.
Meski awalnya tercipta sebagai pemantik api perlawanan terhadap kediktatoran Orde Baru, lagu ini terus bermetamorfosis. Ia hidup dalam berbagai rupa genre, mulai dangdut koplo, reggae, rock, metal, orkestra, bahkan juga muncul dalam iringan suara gamelan Jawa. Pelantunnya pun beragam, dari biduan dangdut, pengamen jalanan hingga kolektif punk Marjinal.
Sejarah lahirnya lirik lagu ini sangat dramatis. Safii Kemamang mengungkapkan, Pembebasan ditulis saat ia menjadi buronan pasca peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli.
”Lirik ini saya tulis sekitar September 1996 di Polwiltabes Surabaya, saat saya mencari perlindungan dari pengejaran militer.”
Safii Kemamang, aktivis dan pencipta lagu “Pembebasan”
Kala itu, para aktivis yang terafiliasi dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) diburu secara masif dan brutal. Di Jawa Timur, mereka yang sebelumnya ditangkap tentara digiring dan ditahan di Polwiltabes Surabaya. Safii sendiri sempat diculik, namun ia melakukan aksi nekat melompat dari mobil penculiknya hingga tubuhnya babak-belur penuh luka. Sadar ditangkap militer jauh lebih berbahaya, Safii memilih meminta perlindungan ke Polwiltabes Surabaya, tempat kawan-kawannya sesama aktivis ditahan.
Safii mengatakan lagu Pembebasan tidak lahir dari ruang kosong. Inspirasi lagu itu datang dari dua hal utama. Pertama, akar agraris yang pahit. Safii tumbuh di keluarga petani miskin di sebuah desa terpencil di Lamongan, Jawa Timur. Ia menyaksikan bagaimana keluarganya bergelut dengan pertanian tadah hujan dan infrastruktur yang hancur.
Kendati mampu memanen hasil sawah dan tegalan, kesejahteraan petani di kampungnya tetap rendah karena bergantung pada tengkulak. “Kami hidup dalam kemiskinan. Jalan berlumpur, listrik belum masuk, transportasi hanya cikar, gerobak yang ditarik sapi,” kenangnya.
Kondisi itu membuat banyak warga meninggalkan desa, mencoba peruntungan di kota. Sebagian menjadi buruh pabrik, mengamen, atau bekerja serabutan di Surabaya. Orang tua Safii sendiri memilih merantau ke luar Jawa.
Safii menyadari jurang ketimpangan sosial yang lebar antara desa dan kota saat bersekolah di STM Negeri Tuban. Pindah di kota itu, kesadaran sosial dan politiknya tumbuh. Menyaksikan praktik korupsi di sekolahnya, ia mengorganisir demonstrasi pelajar. “Demonstransi kami lakukan sebanyak tiga kali,” kenangnya.
Dari situ pula Safii mulai belajar politik hingga dipercaya menjadi ketua OSIS. Di masa itu, ia kerap pergi ke Blauran, Surabaya, mencari buku-buku bekas, termasuk karya Sukarno, Di Bawah Bendera Revolusi.
Kedua, kebutuhan alat pemersatu. Akibat direpresi rezim, banyak aktivis mengalami trauma, didera demoralisasi, hingga membuat gerakan perlawanan tercerai-berai. Safii merasa perjuangan membutuhkan alat pemersatu yang bisa menjadi roh untuk membangkitkan keberanian dalam perjuangan. Ia meyakini musik adalah medium paling ampuh untuk menyatukan buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota, serta mereka yang berani melawan kediktatoran. Dari keyakinan itulah lagu Pembebasan lahir.
Tak punya gitar, diaransemen dengan mulut
Menariknya, lagu legendaris ini diciptakan tanpa alat musik. Karena tidak memiliki gitar, Safii yang pada November 1996 pulang ke Lamongan, mengaransemen melodi Pembebasan menggunakan mulut dan ketukan tangan.
“Karena tidak punya gitar, saya mengaransemennya memakai mulut, semacam beatbox,” ujarnya sambil tertawa.
Aransemen menggunakan gitar baru dilakukan pada Januari 1997, itu pun ia meminjam gitar milik pengamen di Terminal Bratang, Surabaya. ”Bisa dikatakan lagu ini pertama kali hidup di Terminal Bratang bersama kawan-kawan pengamen jalanan,” seloroh Safii yang mulai mengorganisir para pengamen jalanan dan kaum miskin kota di Surabaya sejak 1995.
Di dalam bus kota rute Bratang-Bungurasih, lagu Pembebasan menyebar cepat melalui urat nadi transportasi publik.
Dari jalanan, lagu ini merambah kampus tempat Safii kuliah, Universitas Dr. Soetomo (Unitomo). “Pembebasan mulai dinyanyikan kawan-kawan pengamen Bratang dalam acara Refleksi Budaya Politik Orde Baru 1997 di Unitomo pada malam tahun baru 1998,” ujar Safii.
Sejak saat itu, Pembebasan makin sering berkumandang. Dari kalangan PRD, yang pertama kali belajar menghafal dan menyanyikan lagu ini adalah kader dari kampus Unitomo. Memasuki Maret 1998, Pembebasan menjadi penyemangat saat gelombang aksi mahasiswa di Surabaya mulai tumpah ke jalan, terutama dalam demonstrasi gabungan mahasiswa Unitomo dan Untag di depan kampus Unitomo. Perlahan namun pasti, lagu ini menjalar ke berbagai kampus.
Menurut Safii, Pembebasan kian dikenal luas ketika dinyanyikan dalam kongres pembentukan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).
Jangan ubah liriknya
Safii secara terukur menyusun lirik Pembebasan dengan menekankan urgensi persatuan lintas sektor: buruh, tani, mahasiswa, hingga kaum miskin kota sebagai elemen kunci penggerak perjuangan.
Ia pun mengungkap lirik asli, sekaligus membedah makna di balik bait-bait lagu Pembebasan.
Bait pertama:
Buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota
Bersatu-padu rebut demokrasi
Gegap-gempita dalam satu suara
Demi tugas suci yang mulia
Safii menjelaskan, bait ini lahir dari keprihatinan atas hilangnya demokrasi di Indonesia, terutama sejak rezim Soeharto berkuasa. Oleh karena itu, program prioritas gerakan rakyat adalah merebut kembali ruang demokrasi. Tugas mulia ini hanya dapat terwujud melalui persatuan kokoh antara elemen rakyat yang tertindas.
“Tugas ini hanya bisa dilakukan apabila ada persatuan dan kesatuan antargerakan rakyat tertindas seperti buruh, petani, mahasiswa dan kaum miskin kota yang dipimpin oleh kaum buruh,” terangnya.
Bait kedua:
Hari-hari esok adalah milik kita
Terbebasnya massa rakyat pekerja
Terciptanya tatanan masyarakat sosialis sepenuhnya
Bait ini mengandung harapan akan masa depan. Perjuangan yang dilakukan hari ini adalah upaya untuk menyambut hari esok, sebuah masa di mana praktik penghisapan dan penindasan terhadap rakyat pekerja telah dihapuskan.
”Inilah cita-cita ideal yang harus diwujudkan, menghancurkan Orde Baru yang kapitalistik-militeristik dan menggantinya dengan Orde Sosialis,” terang Safii tentang visi tatanan masyarakat baru yang tercantum dalam lagunya.
Bait ketiga:
Marilah kawan, mari kita kabarkan
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
Marilah kawan, mari kita nyanyikan
Sebuah lagu tentang pembebasan.
Safii mengungkapkan bait penutup ini merupakan seruan agar keyakinan akan pembebasan harus terus disebarluaskan ke seluruh lapisan masyarakat. Menyadari betapa berat menghancurkan sistem yang menindas, ia menekankan perjuangan harus dilakukan dengan semangat totalitas dan kegembiraan.
”Perjuangan ini harus dilakukan dengan sukacita. Berjuanglah seperti orang yang sedang menari dan menyanyi,” tuturnya.
Safii mengungkapkan kegembiraannya melihat lagu Pembebasan kini diterima oleh lintas generasi dan berbagai lapisan sosial. Ia memberikan apresiasi mendalam bagi siapa saja yang membawakan ulang lagu tersebut dalam beragam genre. Baginya, fenomena ini membuktikan bahwa Pembebasan adalah karya yang fleksibel; liriknya mudah diingat, nadanya sederhana, namun mampu memantik spektrum emosi mulai dari melankolis, romantis, hingga semangat yang membara.
”Saya senang karena lagu ini bisa dimainkan dalam semua genre musik dan dinikmati semua lapisan masyarakat,” ujar Safii yang belajar gitar saat masih sekolah di Tuban.
Meski mengapresiasi kreativitas aransemen, namun Safii menyayangkan maraknya perubahan lirik Pembebasan dalam berbagai versi baru. Bagi dia, mengubah lirik bukan sekadar urusan estetika, melainkan mengubah semangat dan cita-cita yang terkandung di dalamnya.
Ia menegaskan bahwa sejak awal, Pembebasan diciptakan sebagai instrumen perlawanan terhadap sistem kapitalistik dan militeristik. Maknanya melampaui isu sektoral buruh atau petani semata. Lagu ini, ungkap Safii, adalah suara bagi seluruh massa rakyat yang tertindas.
Itulah sebabnya ia keberatan jika lirik asli Pembebasan diubah, misalnya dengan menyisipkan frasa “masyarakat sejahtera” atau “Indonesia baru tanpa Orba”, karena hal itu dianggap merusak roh dan ideologi asli lagu tersebut.
Safii mengaku sering kali tidak tuntas saat menyimak cover lagu miliknya sendiri karena adanya distorsi lirik tersebut. Ia menyatakan menyukai semua versi musiknya, tapi menolak perubahan liriknya.
”Jujur saja, setiap mendengar atau melihat video lagu Pembebasan, biasanya saya hanya menonton sampai bagian ‘buruh, tani, mahasiswa… hari-hari esok adalah milik kita’. Setelah itu saya berhenti karena faktor lirik yang berubah,” ungkapnya.
Ia hanya akan menonton hingga tuntas, bahkan berulang kali, jika penyanyinya tetap setia pada lirik asli.
Safii mengakui kekeliruan lirik ini terjadi karena saat pertama kali diluncurkan tidak ada kontrol ketat atas penyebarluasannya. Dampaknya, lirik menjadi bias dan berubah-ubah di tengah masyarakat. Kini, ia meminta ada upaya kolektif untuk meluruskan kembali pesan yang sempat “bengkok” dari lagu bersejarah tersebut.
Pembebasan milik publik
Meski lagu Pembebasan populer dan banyak dinyanyikan ulang, Safii mengaku tidak terlalu memikirkan royalti maupun hak cipta. Sejak awal, ia memang tidak berminat mengurus aspek legalitas tersebut meski banyak pihak menawarkan bantuan.
“Karena lagu ini saya buat berdasarkan kebutuhan objektif dan subjektif revolusi di Indonesia, biarkan lagu ini menjadi hak publik.”
Safi’i Kemamang, aktivis dan pencipta lagu “Pembebasan”
Ia cuma berpesan, jika ada musisi atau kelompok yang mendapatkan keuntungan komersial dari lagu tersebut, sebaiknya turut disumbangkan untuk mendukung gerakan pembebasan rakyat tertindas.
Selain itu, lanjut Safii, para musisi atau kelompok yang membawakan ulang lagu tersebut harus tetap mencantumkan namanya sebagai pencipta dan tidak mengubah lirik asli. Safii berharap lagu karyanya memiliki nasib yang sama seperti lagu komunis dunia, Internationale, atau lagu anti-fasis Italia, Bella Ciao.
Lagu perjuangan lain
Selain Pembebasan, Safii juga menulis sejumlah lagu lain. Salah satunya adalah Obor Revolusi yang menjadi Mars Gerakan Pemuda Kerakyatan (GPK), organ semi-legal PRD. Liriknya menyerukan semangat yang tak padam:
Kini obor sudah kita nyalakan
Tergenggam di kedua belah tangan
Tak mungkin lagi kita padamkan
Semangat api juang perlawanan
Tak gentar kita terus melangkah
Tak berhenti walau darah tertumpah
Perdamaian untuk kaum tertindas
Perlawanan untuk para penindas
Reff:
Bergerak, bersatu
Rapatkan barisanmu
Hancurkan semua lawanmu
Bergerak, bersatu
Merebut demokrasi
Menatap matahari esok pagi.
Selain itu, ia juga menciptakan Untukmu Kawan, Papua, lagu berbahasa Portugis berjudul Avante Camarada dan lainnya.
Safii sempat berencana masuk dapur rekaman bersama para pengamen Surabaya untuk merekam lagu-lagu tersebut. Namun rencana itu tertunda akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya beberapa waktu lalu. “Semoga tahun ini bisa terealisasi,” ujarnya.
Sebagai seorang Marxis, Safii menegaskan bahwa karya-karyanya merupakan hasil dialektika antara pengalaman hidup dan kesadaran sosial. Latar belakangnya sebagai anak petani di Lamongan hingga persentuhannya dengan kemiskinan kota, terutama di Surabaya, menjadi fondasi kuat dalam lirik-liriknya.
Ia juga menegaskan peran penting PRD sebagai organisasi pelopor dalam membentuk pengetahuan teoritis dan landasan ideologinya.
Baginya, periode perlawanan terhadap Orde Baru, khususnya setelah peristiwa 27 Juli 1996, adalah fase krusial di mana para aktivis muda harus memilih jalan keberanian demi mempertahankan cita-cita demokrasi.
“Semua kawan-kawan yang terlibat saat itu pasti setuju dengan pendapat saya bahwa perjuangan melawan rezim kapitalistik-militeristik Orde Baru merupakan perjuangan yang sangat heroik yang diselimuti kebahagiaan sekaligus penderitaan. Bahagia karena berjuang di jalur yang benar melawan ketidakbenaran. Penuh penderitaan karena harus mengorbankan kepentingan individu, keluarga, harta, dan nyawa, terlebih pasca peristiwa 27 Juli 1996, di mana anak-anak muda revolusioner yang mencita-citakan kebebasan harus hidup dalam ketidakbebasan karena berstatus sebagai buronan politik militer Orde Baru,” papar Safii.
Dalam perjalanan hidupnya, Safii menyatakan akan menjadi Marxis hingga akhir hayat. “Semoga saya tetap menjadi seorang Marxis hingga akhir hayat nanti,” pungkasnya.










