Jejak Perlawanan Bersama Wiji Thukul

Dalam momentum ulang tahun ke-63 Wiji Thukul pada 26 Agustus lalu, ingatan saya kembali menembus ruang dan waktu, menuju sebuah masa yang telah berlalu lebih dari tiga dekade: tahun 1994. Bagi saya, tahun itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan sebuah titik penting dalam perjalanan hidup. Saat itu saya masih bekerja sebagai buruh pabrik di PT Queen Ceramics, Semarang. Sebagai buruh, kehidupan sehari-hari saya tidak jauh dari rutinitas kerja, upah, persoalan di tempat kerja, dan berbagai keterbatasan yang dihadapi pekerja.

Namun, perjumpaan dengan dunia pergerakan buruh bersama para mahasiswa perlahan membuka ruang kesadaran yang baru. Saya mulai memahami bahwa persoalan yang dialami buruh bukan semata-mata persoalan individu, melainkan bagian dari persoalan sosial yang lebih besar. Dari sanalah saya mulai mengenal berbagai bentuk perjuangan, termasuk bagaimana suara kaum kecil dapat disampaikan melalui tulisan, diskusi, aksi, dan tentu saja seni.

Di tengah perjalanan itulah saya menginjakkan kaki di rumah Wiji Thukul. Bagi saya, pertemuan dengan Thukul bukan sekadar pertemuan dengan seorang penyair. Ia adalah perjumpaan dengan seseorang yang mampu mengubah kegelisahan dan kemarahan menjadi kata-kata, gambar, serta karya yang memiliki daya gugah. Rumah sederhana itu kemudian menjadi salah satu ruang yang ikut membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan, terhadap ketidakadilan, dan terhadap arti sebuah perlawanan.

Di sanalah saya belajar merajut perlawanan melalui seni, mulai dari menggambar, melahirkan terbitan alternatif, hingga menorehkan seni cukil kayu yang menyuarakan jeritan nurani. Thukul mengajarkan saya bahwa seni bukanlah sekadar keindahan, melainkan senjata paling ampuh untuk meruntuhkan kebisuan.

Poster-poster yang memuat kutipan puisi Wiji Thukul dipamerkan dalam acara “Bertemu Wiji Thukul” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu, 30 Agustus 2026.

Suara yang mengguncang kampus

Suatu hari, beberapa aktivis mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menjemput saya untuk bertolak ke Solo demi menghadiri diskusi di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS). Bagi seorang buruh pabrik, melangkah ke arena akademik untuk membahas situasi politik adalah pengalaman yang menciutkan nyali. Rasa rendah diri sempat menggelayut pekat di dada.

Namun, ketegangan itu seketika lebur saat Thukul menempati kursi pembicara. Suasana riuh mendadak sunyi ketika tepukan tangannya memecah udara, disusul suaranya yang sumbang namun penuh daya:

“Apa guna punya ilmu tinggi
kalau hanya untuk mengibuli
Apa guna banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu…..

Semua orang tersentak. Mata para mahasiswa terpaku pada sosok Thukul, seolah sedang menggugat nurani mereka sendiri. Suasana kian membara saat bait-bait berikutnya meluncur:

“Di mana-mana
moncong senjata berdiri gagah
kongkalikong dengan kaum cukong
Di desa-desa
rakyat dipaksa menjual tanah
Tapi, tapi, tapi, tapi dengan harga murah”

Jika para mahasiswa tersentuh jiwanya oleh bait itu, bagi saya, nyanyian tersebut adalah api yang membakar habis rasa rendah diri saya. Bait-bait itu menyuntikkan kesadaran baru: saya bukan sekadar buruh pabrik biasa, melainkan bagian dari kekuatan sejarah yang menentang tirani Orde Baru.

Langkah itu kian mantap. Bersama Thukul, kami terjun langsung dalam pengorganisiran buruh hingga puncak pemogokan PT Sritex pada akhir 1995. Harga yang harus dibayar amatlah mahal; hantaman popor senjata militer meremukkan mata Thukul hingga buta sebelah.

Namun, Thukul bukanlah manusia yang kenal kata menyerah. Ia terus melantunkan syair-syair perlawanan, bergerak mengorganisir rakyat di bawah panji Partai Rakyat Demokratik (PRD) pascatragedi 27 Juli 1996. Ia membangun komite-komite rakyat secara bergerilya di bawah tanah, merajut jaringan yang tak mampu dipadamkan oleh penguasa.

Poster-poster yang memuat kutipan puisi Wiji Thukul dipamerkan dalam acara “Bertemu Wiji Thukul” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu, 30 Agustus 2026.

Warisan abadi Wiji Thukul

Pada Agustus 1997, takdir mempertemukan kami kembali di Tangerang ketika Thukul ditugaskan menjadi kurir penghubung sel-sel bawah tanah. Malam itu, di tengah pekatnya malam, saya, Thukul, Bimo Petrus, dan Lulu bercengkerama dalam diskusi hangat tentang arah perjuangan bangsa.

Ketika ditanya soal hari ulang tahunnya, Thukul menjawab dengan kalimat yang terpatri abadi di ingatan saya:

“Untuk apa merayakan ulang tahun? Ulang tahun hanya bermakna bagi orang yang sudah tidak ada, dan orang itu meninggalkan warisan.”

Sebelum fajar menyingsing, di tengah peralihan tugas kurir bersama Bimo Petrus, Thukul menitipkan pesan mendalam tentang arti sebuah pengorbanan:

“Perjuangan melawan tirani memang membutuhkan pengorbanan. Jika ada yang hilang atau gugur, jangan dicari jasadnya. Teruskanlah perjuangannya, perlawanannya, karena di sanalah kita akan menemukan jiwanya.”

Potongan puisi legendaris tahun 1994 dari Wiji Thukul ini mengingatkan kita akan kekuatan sejati kelas pekerja.

Menyapa yang hilang

Menyongsong 30 Agustus sebagai Hari Korban Penghilangan Paksa Internasional hati saya terpanggil untuk menyapa kawan-kawan yang hingga kini masih dirindukan keberadaannya—khususnya Wiji Thukul, Bimo Petrus, Herman Hendrawan, dan Suyat. Untuk mereka, untaian sajak ini saya kirimkan:

Istirahatlah…

Istirahatlah dengan tenang, kawan.
Lihatlah, kami masih berdiri tegak,
menggenggam semangatmu
dalam derap perlawanan.

Kami tahu,
kau tak suka kami meratapi kepergianmu.
Kau lebih suka melihat keteguhan kami
menyusuri jalan pembebasan rakyat.

Kawan,
ragamu memang tak lagi bersama kami,
napasmu tak lagi berbaur dengan napas kami.
Namun,
semangatmu telah mengalir dalam darah kami,
menuntun langkah kami
untuk terus berjalan.

Kawan,
istirahatlah dengan tenang…

Kami akan terus membuka jalan pembebasan.
Kami tak akan tumbang,
sebelum kebebasan menjadi kenyataan.
Kami tak akan lelah,
sebelum rakyat meraih kemenangan.

Istirahatlah dengan tenang, kawan.
Perjuanganmu akan terus kami lanjutkan.(1998)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Nyanyian Protes Pete Seeger

Nyanyian Protes Pete Seeger

Di tengah gemuruh Amerika yang penuh ketimpangan, perang, dan ketakutan, seorang

Next
Mengapa Negara Enggan Mencari Wiji Thukul?

Mengapa Negara Enggan Mencari Wiji Thukul?

Wiji Thukul merupakan salah satu dari 13 aktivis yang dihilangkan secara paksa

You May Also Like
Total
0
Share