Membayangkan Sjahrir Menjadi Manejer Sepak Bola

Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia, seringkali digambarkan sebagai figur yang terlalu maju untuk zamannya. Ia adalah seorang pemikir, aktivis politik, dan diplomat ulung yang punya andil besar dalam perjuangan kemerdekan dan Revolusi Indonesia. Sejarawan Harry Poeze memasukkannya salah satu begawan revolusi Indonesia.

Sejak di bangku kuliah di negeri Belanda, Sjahrir muda terpapar oleh ide-ide sosialisme. Namun, sosialisme yang dipahaminya lebih condong ke model sosialisme-demokratis. Ia meyakini bahwa sosialisme bisa berjalan beriringan dengan demokrasi dan kemerdekaan individu. Ia menyebut sosialismenya dengan cap baru: sosialisme-kerakyatan.

Jika sejarah memberinya takdir lain, anggaplah ia berdiri di pinggir lapangan sebagai manajer dari sebuah klub sepak bola, filosofi dan gaya bermain seperti apa yang akan dipertontonkan oleh pentolan Partai Sosialis Indonesia (PSI) ini?

Sosok yang dijuluki ”Bung Kecil” ini memang penggila sepak bola sejak kecil. Tahun 1920-an, saat masih tinggal di Medan, Sjahrir kecil suka bermain sepak bola. Meski berpostur kecil, ia selalu dipercaya sebagai penyerang. Saat tinggal di Bandung, Sjahrir muda bergabung dengan dua klub: Voetbalvereniging Poengkoer dan kemudian LUNO (Laat U Niet Overwinnen). Lalu, saat menjalani pembuangan di Boven Digul, bersama Hatta ia mendirikan klub sepak bola.

Total football yang demokratis

Sjahrir menolak sosialisme yang kaku, dogmatis, dan totaliter yang dipraktikkan di Uni Soviet. Baginya, sosialisme harus berjalan seiring dengan kebebasan individu dan demokrasi. Inilah kunci dari Sosialisme Kerakyatan miliknya.

Dalam konteks sepak bola, filosofi ini mendekati gaya total football yang dipopulerkan oleh Rinus Michels dan Johan Cruyff pada 1970-an, yang yang menekankan pada fleksibilitas posisi pemain, penguasaan bola (possession), dan pressing kolektif yang intens. Dalam sistem ini, setiap pemain diharapkan mampu mengisi peran pemain lain. Seorang bek bisa tiba-tiba maju menjadi gelandang, dan penyerang mundur untuk bertahan. Tujuannya adalah menciptakan superioritas jumlah di setiap area lapangan.

Dalam menyusun formasi, Sjahrir mungkin akan memilih formasi yang cair, seperti 4-3-3 yang fleksibel, kadang 4-2-3-1, atau bahkan 3-4-3, yang menuntut pergerakan konstan dan pertukaran posisi.

Dalam gaya bermain, sebagai seorang sosialis, ia akan menekankan permainan kolektif. Semua pemain adalah setara. Tidak ada pemain yang diam di posisinya. Bek tengah harus siap menjadi gelandang, dan winger harus siap masuk ke kotak penalti. Gerakan kolektif dan saling menutupi ruang adalah wajib. Namun, Sjahrir tidak akan menganulir inisiatif individu sepanjang menguntungkan secara kolektif.

Dalam relasi manajer dan pemain, ia mungkin akan mendorong relasi yang lebih egaliter. Ia tak menyukai hirarki dan kultus individu. Sjahrir sangat anti terhadap sistem yang menindas kecerdasan individu. Ia menyukai inisiatif dan kreativitas individu.

Sebagai pengusung partai kader, sebagaimana ia praktekkan pada Partai Sosialis, Sjahrir menghendaki pemain yang masuk skuadnya harus-harus yang punya talenta yang mumpuni. Talenta-talenta itu dibentuk lewat pengkaderan berjenjang sejak di akademi.

Gaya bermain: ball possesion dan umpan lambung

Sjahrir adalah seorang diplomat yang dingin, cerdas, dan efektif. Salah satu langkah paling briliannya adalah ketika ia memberikan bantuan beras kepada India di tengah blokade ekonomi Belanda. Ini adalah tindakan diplomasi kemanusiaan yang berhasil memecah isolasi Republik.

Di lapangan, gaya bermain tim Sjahrir akan merefleksikan kecerdasan diplomasi ini. Timnya tidak akan bermain kick-and-rush radikal, sebuah gaya yang mungkin disukai oleh “kaum nasionalis radikal” atau “komunis” yang menuntut perlawanan fisik langsung. Sjahrir justru akan fokus pada penguasaan bola mutlak (ball possession), dengan akurasi umpan di atas 90 persen. Ini adalah cara untuk menguras energi dan kesabaran lawan.

Lalu, ketika lawan lengah dan menciptakan ruang di lini belakangnya, timnya Sjahrir akan mengirim umpan terobosan yang tak terduga, bak umpah terobosan ”bantuan beras” yang menerobos blokade Belanda terhadap Republik Indonesia. Umpan terobosan mematikan dari sudut yang tidak disangka-sangka, menembus pertahanan gerendel lawan, dan menjebol gawan mereka.

Ketika dikritik karena terlalu moderat dalam negosiasi dengan Belanda, Sjahrir sebenarnya sedang menggunakan meja perundingan sebagai alat untuk mendapatkan pengakuan politik. Di sepak bola, ia akan dicerca karena dianggap bermain over-passing atau lambat. Namun, tujuan akhirnya tercapai: dengan memaksa lawan mengejar bola, Sjahrir secara halus membuat lawan mengakui dominasi taktis timnya.

Tragedi Partai Kader

Ironi terbesar Sjahrir adalah kesuksesan sebagai diplomat berbanding terbalik dengan nasib Partainya, PSI. Ia mendirikan PSI sebagai partai kader, yang berisikan segelintir intelektual yang idealis dan berkesadaran politik tinggi. Alhasil, dalam medan elektoral Pemilu 1955, PSI gagal total.

Manajer Sjahrir akan mengulangi kesalahan yang sama dalam merekrut pemain. Ia akan selalu memilih skuad elit intelektual. Ia hanya akan memilih pemain yang memenuhi standar idealisnya: cerdas, berintegritas, dan memahami filosofi permainan secara mendalam.

Namun, dalam liga yang membutuhkan kedalaman skuad, stamina, dan daya tarik massa (popularitas), tim PSI Sjahrir akan menjadi tim yang bermain paling indah dan ideal. Sayangnya, mereka terlalu eksklusif. Jumlah kader (pemain) terlalu sedikit untuk menghadapi kerasnya jadwal liga panjang (Pemilu 1955). Akibatnya, timnya akan keteteran dengan keterbatasan energi, apalagi jika diterpa badai cedera, jika terpaksa mengikuti musim kompetisi yang panjang dan kompetitif. Apalagi jika timnya bermain di banyak kompetisi.

Pada akhirnya, Manajer Sjahrir, sang maestro taktik yang idealis, akan tersingkir dari panggung utama. Ia kalah bukan karena filosofinya salah, tetapi karena ia gagal menerjemahkan idealismenya menjadi kekuatan massa.

Mereka meninggalkan warisan berupa cetak biru permainan cerdas dan etis. Namun, mereka tidak pernah memenangkan trofi yang gemerlap. Sjahrir, baik di politik maupun di sepak bola, adalah seorang seorang arsitek sekaligus piawai bersiasat. Namun, pendiriannya yang keras dan keteguhannya pada taktik, membuatnya juga meredup di tengah hingar-bingar massa merayakan trofi/kemenangan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Pramoedya dan Kritiknya terhadap Sistem Pertahanan Kita

Pramoedya dan Kritiknya terhadap Sistem Pertahanan Kita

Indonesia adalah “negara laut utama” yang ditaburi dengan

Next
Cara Cape Verde, Negeri Terkecil di Dunia, Lolos ke Piala Dunia

Cara Cape Verde, Negeri Terkecil di Dunia, Lolos ke Piala Dunia

Di tengah Samudra Atlantik, terhampar gugusan 10 pulau vulkanik dengan populasi

You May Also Like
Total
0
Share