Akhir Perjalanan Politik PSI

Partai Sosialis Indonesia (PSI) seperti meniti jalan menurun yang curam. Terbentuk hanya dua bulan pascakemerdekaan, PSI sempat menjadi partai berkuasa. Sang pendiri partai, Sjahrir, menjabat sebagai perdana menteri.

Namun, memasuki 1950-an, pesona politik PSI pelan-pelan memudar. Meski masih menempatkan beberapa kadernya sebagai menteri dan memiliki 15 kursi di parlemen, tetapi partai ini gagap memasuki era politik elektoral di zaman demokrasi liberal.

Gagal di pemilu 1955

Pada pemilu parlemen 1955, PSI hanya mendapat 753 ribu suara dari total 38 juta pemilih. Hasil itu menempatkan PSI di peringkat ke-8 dan hanya mendapat lima kursi DPR.

Pada pemilu konstituante, PSI juga babak belur. Partai yang dipimpin Sjahrir ini hanya mendapat 695 ribu suara dan 10 kursi.

Itu pun, hampir separuh suara PSI di pemilu 1955 disumbang oleh Bali dengan 226 ribu suara. Suara PSI di kota dan provinsi lain benar-benar babak belur.

Kampanye Partai Sosialis Indonesia (PSI) di Bangli, Bali jelang pemilihan umum 1955. Kredit: Howard Sochurek-LIFE

Dalam pemilu pertama itu, empat partai lain menjadi kampiun: Partai Nasional Indonesia (PNI) mendapat 57 kursi, Masyumi 57 kursi, Nahdlatul Ulama 45 kursi, dan Partai Komunis Indonesia (PKI) mendapat 39 persen.

Dengan hasil itu, PSI makin tersisih dari kekuasaan. PSI tak ikut dalam gerbong kekuasaan, dengan panji-panji kiri dan anti-imperialisme, yang dikomandoi oleh PNI.

Sekilas sejarah

Pada awalnya, Partai Sosialis merupakan gabungan dari dua partai: Partai Sosialis Indonesia (PARSI) dipimpin oleh Amir Sjarifoeddin dan Partai Rakyat Sosialis (PARAS) dipimpin oleh Sjahrir.

Namun, pada 1947, kedua partai ini berpisah karena berbeda jalan politik. Kelompok Amir bergabung dengan PKI/FDR. Sementara Sjahrir membentuk partai baru, Partai Sosialis Indonesia (PSI) pada 12 Desember 1948. Awalnya, PSI berasaskan sosialisme yang bersumber pada ajaran Karl Marx dan Friedrich Engels.

Pada 1952, asas PSI berubah menjadi sosialisme-kerakyatan, dengan penekanan pada demokrasi, humanisme, dan kesetaraan manusia.

Pada tahun-tahun itu, banyak yang menyebut PSI sebagai “partai ibu kota” karena basis politiknya terkonsentrasi di Jakarta.

Untuk menyebarkan gagasannya, PSI punya dua media corong utama: Suara Sosialis dan Sikap. Selain itu, PSI juga punya kaitan ideologis dengan koran Pedoman yang dikelola oleh Rosihan Anwar.

Kampanye Partai Sosialis Indonesia (PSI) di Bangli, Bali jelang pemilihan umum 1955. Kredit: Howard Sochurek-LIFE

Jalan partai kader

Sejak awal pendiriannya, PSI dirancang sebagai partai kader. Mereka menekankan kualitas ketimbang kuantitas. Tak mengapa jumlah kader sedikit, yang penting sadar politik dan ideologis.

Lantaran konsepsi partai itu, PSI gamang ketika memasuki gelanggang elektoral. Mereka tak terbiasa dengan rapat umum dan pidato-pidato penuh agitasi. Pintu partai mereka hanya terbuka sedikit ketika era massa sedang bergemuruh menjadi parpol.

Pada kongres 1952, PSI hanya beranggotakan 3.049 anggota penuh dan 14.480 calon anggota. PSI kalah dari PKI. Pada periode yang sama, PKI memiliki 100-an ribu anggota. Padahal, PKI baru merangkak kembali pasca represi brutal dalam peristiwa Madiun 1948.

Meredupnya politik Sang Meteor

Politik Sjahrir menjulang sejak memimpin PNI Baru pada 1932. Pasca proklamasi Kemerdekaan, dia ditunjuk sebagai perdana menteri dari 1945-1947. Ia mendapat julukan “Sang Meteor”.

Namun, sejak 1950-an, politik Sjahrir mulai meredup. Namanya kian pudar, terpinggirkan oleh ramainya debat konstituante dan jatuh-bangun kabinet, tenggelam dalam gemuruh slogan revolusi.

Tak lama kemudian, hubungan Sjahrir dan Sukarno memburuk. Puncaknya, Sumitro Djojohadikusumo, seorang kader PSI, terseret kasus korupsi. Ia sempat diperiksa dua kali (pertama pada 26 Maret 1957; kedua tanggal 6-7 Mei 1957) oleh Corps Polisi Militer (CPM). Pada 8 Mei 1957, ketika akan dipanggil ketiga kalinya dan berpotensi ditahan, Sumitro melarikan diri ke Sumatera.

Belakangan diketahui, Sumitro ikut serta dalam petualangan PRRI di Sumatera. Pada 15 Februari 1958, PRRI dideklarasikan di Padang, dan Sumitro didaulat menjadi Menteri Perhubungan dan Pelayaran Kabinet PRRI.

Tokoh-tokoh PRRI: Kolonel Dahlan Djambek, Burhanuddin Harahap, Ahmad Husein, Sjafruddin Prawiranegara, Kolonel Maludin Simbolon, dan Muhammad Sjafei. Kredit: Wikipedia

Sebelum deklrasasi itu, Sjahrir dan sejumlah pimpinan PSI di Jakarta berusaha mencegah Sumitro. Namun, usaha itu sia-sia. Menjelang 1960, PSI menjatuhkan skors pada Sumitro dan mengeluarkan pernyataan ketidaksepahamannya dengan PRRI.

Peran Sumitro dalam PRRI menyeret ke PSI ke mulut jurang. Pada 17 Agustus 1960, PSI dan ormasnya dibubarkan. Tak lama setelah pembubaran PSI, Sjahrir ditangkap dan dijadikan tahanan politik pada 16 Januari 1962. Begitulah PSI dan Sjahrir mencatatkan akhir perjalanannya.

Meski begitu, setelah Orde Baru berkuasa, mantan kader PSI seperti membentuk jejaring intelektual. Sejumlah orang bekas PSI, seperti Soebadio Sastrosatomo, Sudjatmoko, dan generasi muda seperti Marsilam Simanjuntak dan Rahman Tolleng, terus menyebarkan gagasan sosialisme PSI.

Total
0
Shares
Comments 2
  1. Bgm kabar dengan Badan Pekerja pengaktifan kembali partai sosialis indonesia, apakah masih berjejak? siapa2 saja anggotanya, bgm dg struktur kepengurusan PSI Pendidikan, siapa2 sj Dewan pakarnya dan apakah masih ada kelompok diskusi yg concern dengan faham sosialis?

  2. Bagaimana dengan Badan Pekerja Pengaktifan kembali Partai Sosialis Indonesia, apakah msh exist atau sdh tdk berjejak lagi, Bagaimana pula dengan struktur kepengurusan PSI Pendidikan, siapa2 Dewan pakarnya, dan terakhir apakah ada grup diskusi yang concern membahas tentang faham sosialis di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Kader PRD Hilang Diculik: Bimo Petrus, Sang Penyala Api Perlawanan

Kader PRD Hilang Diculik: Bimo Petrus, Sang Penyala Api Perlawanan

Petrus Bima Anugerah, akrab disapa Bimo/Bimpet oleh kawan-kawannya, lahir di

Next
Insiden Dresden: Ketika Soeharto Ditimpuk Telur dan Koran oleh Demonstran

Insiden Dresden: Ketika Soeharto Ditimpuk Telur dan Koran oleh Demonstran

April 1995

You May Also Like
Total
0
Share