Di tengah embusan angin perubahan yang menyapu Hindia Belanda pada awal abad ke-20, muncul seorang pejuang pena yang tak kenal takut, Mas Marco Kartodikromo.
Seperti api yang menyala di kegelapan, ia menjadi simbol radikalisme yang membakar semangat kebangsaan sekaligus menantang hegemoni kolonial dengan kata-kata tajam dan goresan pena yang menukik ke inti masalah. Tak bisa diabaikan, apalagi dilupakan, Mas Marco adalah jurnalis radikal yang hidup di zaman bergerak, sebuah masa ketika bangsa terjajah mulai sadar, bangkit, berserikat, dan bergerak melawan penjajahan.
Melalui tulisannya, ia bukan hanya membongkar derita rakyat Hindia di bawah kolonialisme, tapi juga berusaha menyalakan obor pengetahuan yang membuka jalan pada kesadaran nasional dan bagaimana berhimpun untuk memperjuangkan nasib.
Kisahnya tak hanya patut dikenang dan ditulis, tetapi juga menjadi inspirasi bagi setiap anak negeri yang mengingkan Indonesia berdiri tegak di atas kemanusiaan dan keadilan sosial.
Jalan hidup
Lahir pada 25 Maret 1890 di Cepu, Blora, Jawa Tengah, Mas Marco Kartodikromo berasal dari keluarga priyayi kecil yang sederhana. Ayahnya seorang pegawai rendahan di pemerintahan kolonial, sebuah latar belakang yang ironisnya justru membuka matanya terhadap ketidakadilan sistem penjajahan.
Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan pedesaan yang penuh dengan tradisi Jawa, di mana nilai-nilai seperti tepa selira (toleransi) dan pasrah bongkokan (penyerahan diri) masih kuat mengikat masyarakat. Namun, Marco kecil tak puas dengan kepasrahan itu. Di sana ia melihat bagaimana kolonialisme merampas martabat bangsanya.
Pendidikannya dimulai di Tweede Klasse School di Bojonegoro, sebuah sekolah dasar untuk bumiputera, diikuti dengan pendidikan swasta di Purworejo. Pada usia 15 tahun, ia sudah bekerja sebagai pegawai kereta api di Semarang, sambil belajar bahasa Belanda secara otodidak.
Pengalaman ini membuka pintu bagi pemahamannya tentang dunia yang lebih luas, termasuk ketimpangan antara penguasa Belanda dan rakyat pribumi. Enam tahun kemudian, pada 1911, ia pindah ke Bandung dan bergabung dengan surat kabar Medan Prijaji di bawah pimpinan Tirto Adhi Soerjo, yang dikenal sebagai bapak pers nasional sekaligus sang pemula pergerakan kebangkitan nasional.
Di sini, ia bertemu dengan Suwardi Surjaningrat (kelak Ki Hadjar Dewantara), yang turut membentuk visi politiknya. Kegagalan Medan Prijaji—akibat penangkapan dan pengasingan Tirto ke Maluku—tak mematahkan semangat Marco. Ia pindah ke Solo dan memulai karier jurnalistiknya di Sarotomo pada 1912.
Inilah titik baliknya: dari pegawai biasa menjadi aktivis. Pengalaman kerja dan pendidikan otodidak membuat Marco semakin sadar akan eksploitasi kolonial, hingga mendorongnya terlibat dalam Sarekat Islam cabang lokal sebagai administrator.
Jejak langkahnya adalah perjalanan dari kampung halaman ke arena perjuangan nasional, di mana setiap langkahnya dipenuhi dengan risiko, tapi juga harapan akan kemerdekaan.
Aktivisme politik
Mas Marco adalah nyala api yang membara di tengah badai kolonialisme. Sejak bergabung dengan Sarekat Islam di Solo, ia tak hanya menjadi administrator, tapi juga penggerak massa.
Pada 1914, ia mendirikan Inlandsche Journalisten Bond (IJB), organisasi pers pertama untuk jurnalis pribumi, yang terkait dengan pergerakan komunisme Islam melalui tokoh seperti Haji Misbach.
Organisasi ini menjadi wadah untuk menyatukan suara bumiputera melawan hegemoni Belanda. Puncak aktivismenya terjadi pada 1924, ketika ia mereformasi Sarekat Rakjat di Solo sebagai pemimpinnya, menggantikan Haji Misbach yang diasingkan ke Manokwari.
Ia menerbitkan Habromarkoto dan menghadiri kongres PKI di Kotagede sebagai perwakilan Sarekat Rakjat. Aktivitasnya mencakup mengorganisir pemogokan dan demonstrasi pada 1925-1926, yang memicu kerusuhan di Banten, Batavia, dan Jawa Tengah.
Akibatnya, ia ditangkap pada 6 September 1926 atas tuduhan menghasut kerusuhan, dan diasingkan ke kamp interniran Boven Digoel pada 1927 bersama sekitar 1.300 orang lainnya.
Di Boven Digoel, Marco tetap radikal. Ia bergabung dengan kelompok “naturalisten” yang menolak kerjasama dengan kolonial, hidup terpisah dengan istrinya.
Aktivismenya tak pernah surut, meski menghadapi pengasingan dan penyakit. Ia meninggal pada 18 Maret 1932 karena malaria di kamp itu, tapi warisannya tetap hidup: seorang pejuang yang mengorbankan segalanya demi keadilan sosial dan politik.
Pena sebagai senjata
Aktivisme jurnalistik Mas Marco adalah senjata utamanya dalam melawan kolonialisme. Ia memulai dengan menulis di Sarotomo, di mana ia berpolemik tajam terhadap pejabat kolonial, seperti mengkritik Welvaart Comissie sebagai “W.C.”—akronim yang merujuk pada jamban, menyiratkan penghisapan terhadap bumiputera.
Pada 1914, ia mendirikan Doenia Bergerak di Solo, surat kabar yang menjadi corong propaganda nasional, dengan edisi pertama pada 31 Januari 1914. Di sini, ia menggunakan bahasa Melayu rendah yang mudah dipahami rakyat, penuh satire dan permainan kata yang tidak biasa, untuk menyerang otoritas kolonial.
Tulisannya dimuat di berbagai media seperti Pantjaran Warta, Sinar Djawa (kemudian Sinar Hindia), Persatoean Hindia, dan Hidoep. Kritiknya sering memicu persdelict (delik pers), hingga menyebabkan penahanan berulang: pada 1915, Mei 1917-Januari 1918, April-Oktober 1920, dan Desember 1921-Desember 1923.
Selama di penjara, ia menulis roman seperti Mata Gelap (tiga jilid, selesai 1916) dan Student Hidjo (1919), yang diterbitkan oleh Masman en Stroink di Semarang. Novel Student Hidjo dilarang oleh Balai Pustaka karena dianggap merusak citra kolonial dan memicu perlawanan.
Di Salatiga pascapembebasan, ia mendirikan perpustakaan umum dan menerbitkan Hidoep, menserialkan Babad Tanah Djawa dari perspektif pribumi.
Jurnalismenya memicu gerakan kebebasan pers pertama pada 1915, yang menentang undang-undang persdelict. Marco adalah pelopor yang mengubah pers menjadi alat “perang suara” melawan media kapitalis, mengajak jurnalis mengungkap kebenaran meski berisiko.
Pemikiran radikal
Pemikiran Mas Marco adalah fondasi radikalisme nasional yang mendalam, memadukan kritik terhadap kolonialisme dengan visi kebangsaan inklusif. Ia melihat nasionalisme bukan sebagai konsep abstrak, tapi konstruksi praktis melalui narasi bersama tentang ketidakadilan dan aspirasi kemerdekaan.
Menggunakan istilah seperti “inlander”, “anak Hindia”, atau “boemipoetra”, ia mempromosikan “sama rata sama rasa”—persamaan dan solidaritas lintas etnis, termasuk antara pribumi dan Tionghoa, melawan penindasan bersama.
“Sekarang telah njata bahwa orang-orang Tjina di Hindia sini djoega merasa dapat tindesan seperti kita b.p. dari itu apakah boekan seharoesnja kita b.p. dan Tionghoa mesti bekerdja bersama-sama goena menghilangi tindesan-tindesan itoe … Ingat kalau kita bisa bekerdja bersama-sama tentoe bisa lebih koeat dan berdjalan lebih tjepat.”
Sinar Hindia, 8 Agustus 1918.
Ia menolak nasionalisme sempit, yang membangun bangsa dalam sekat sempit bernama suku, agama, maupun ras, tetapi selalu menekankan persatuan sebagai kunci perlawanan. Terhadap kolonialisme, Marco menganggapnya sebagai bagian inheren dalam sistem kapitalisme yang menghisap rakyat.
“Ingat! Bahwa Gupermen itu suatu vereeniging, kemampuannya orang-orang dagang, yaitu orang yang mencari untung! Keuntungan mana yang didapat dari kita bumiputra. Dari sebab kita anak Hindia ini digunakannya mencari keuntungan, maka kita tinggal kurus kering, sebab darah kita di KOKOP dan daging kita dimakan oleh orang-orang yang buas!”
Sinar Djawa, 26 Maret 1918
Ia mengkritik program seperti Indie Weerbaar, yang menggiring anak-anak muda bumiputera dijadikan tentara kolonial.
Dalam Student Hidjo, ia menghantam sikap “kebelandaan”—kesombongan, kekejaman, dan superioritas Belanda di Hindia, yang justru kontras dengan sikap orang-orang Belanda di Eropa yang lebih rendah hati.
“Kalau di negeri Belanda, dan orang-orangnya cuma begini saja keadaannya, apa seharusnya, orang Hindia musti diperintah oleh orang Belanda?”
Student Hidjo, halaman 50
Soal pers, Marco melihatnya sebagai alat politik untuk membangkitkan kesadaran, bukan netral tapi terkait kekuasaan. Ia mendorong jurnalis memilih bacaan tak bias dan mengekspos kebenaran, seperti dalam puisinya yang menggambarkan wartawan menghadapi hukuman demi keadilan.
“Djadi journalist djaman sekarang/Berani dihoekoem dan diboeang/Karena dia orang jang mesti menendang/Semoea barang jang malang melintang.”
Politik baginya terikat dengan keadilan sosial; organisasi seperti Sarekat Rakjat adalah sarana aksi massa. Ia juga mengamati proletarisasi petani (kromo menjadi buruh), menuntut perbaikan tanpa analisis marxis penuh, dan merevisi sejarah seperti Babad Tanah Djawa untuk merebut narasi dari kolonial.
Takashi Shiraishi, dalam bukunya An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926 (1990), melihat radikalisme Marco sebagai bagian dari “zaman bergerak” di mana orang Indonesia mengartikulasikan kesadaran baru melalui surat kabar, rapat, dan pemogokan.
Di era modern, visi Marco tetap relevan. Ia mengajak membangun masyarakat egaliter, di mana pengetahuan adalah senjata melawan penindasan. Mas Marco bukan sekadar tokoh sejarah; ia adalah panggilan untuk bergerak, menggugah kita agar tak pernah diam di hadapan ketidakadilan.










