Kisah Para Menteri Termiskin dalam Sejarah Indonesia

Dalam sejarah panjang Republik Indonesia, jabatan menteri sering dikaitkan dengan kekuasaan, fasilitas negara, dan kesempatan memperkaya diri.

Namun, di antara deretan nama yang pernah duduk di kabinet, ada beberapa sosok yang justru memilih jalan sebaliknya. Mereka hidup sederhana, menolak kemewahan, dan meninggalkan jejak integritas yang kuat. Kisah mereka menjadi pengingat bahwa Republik ini pernah punya pejabat bermental republiken: jabatan untuk mengabdi kepada kepentingan publik.

Berikut kisah tujuh tokoh yang kesederhanaannya tercatat dalam berbagai sumber sejarah dan kesaksian.

Haji Agus Salim

Haji Agus Salim adalah diplomat ulung, ahli bahasa yang menguasai sembilan bahasa asing, tokoh pergerakan kemerdekaan lewat Sarekat Islam, dan Menteri Luar Negeri pada masa-masa krusial revolusi kemerdekaan. Ia menjadi wajah Indonesia di berbagai forum internasional.

Meski menduduki jabatan tinggi, Agus Salim tidak pernah memiliki rumah sendiri. Sepanjang hidup, ia dan keluarganya hidup berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain di Jakarta dan sekitarnya.

Kondisi rumah yang ditinggali sering sempit dan sederhana. Dalam acara resmi kenegaraan, jas yang dikenakannya kerap terlihat kumal dan topinya bukan barang baru.

Kisah paling menggetarkan terjadi ketika salah seorang anaknya meninggal dunia. Karena tidak memiliki uang untuk membeli kain kafan, Agus Salim dengan tenang mengambil taplak meja dan kain kelambu bekas untuk membungkus jenazah anaknya. Ketika ada yang menawarkan bantuan uang agar bisa membeli kafan yang lebih layak, ia menolak. “Simpan saja uang itu untuk yang masih hidup dan memerlukan. Anak saya ini tidak memerlukan apa-apa lagi,” ujarnya.

Dari kisah hidup Haji Agus Salim lahir kutipan Leiden is lijden, memimpin itu menderita.

Bagi Agus Salim, memimpin adalah menderita. Ia wafat pada 4 November 1954 dalam kondisi sederhana dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta dengan upacara kenegaraan.

SK Trimurti

Surastri Karma Trimurti adalah pejuang kemerdekaan, wartawati, aktivis perempuan dan buruh, serta Menteri Perburuhan perempuan pertama Indonesia (1947–1948). Ia dikenal sebagai pembela hak-hak pekerja. Setelah tidak lagi menjabat, Trimurti menunjukkan sikap yang sangat konsisten terhadap kesederhanaan.

Sebagai menteri, Trimurti mendapat gaji Rp 750 per bulan. Padahal, sebagai penulis, dia bisa mengumpulkan Rp 3.000 untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya selama sebulan. Ketika menjabat, saat mengisi beberapa acara, Trimurti kerap memakai sendal.

Trimurti juga menolak ketika mendapat tawaran sebuah rumah besar yang berlokasi di muka Istana Pakualaman. Sebuah tawaran yang menurutnya tak pantas di tengah situasi politik dan ekonomi yang gawat karena agresi militer Belanda. Ia memilih tinggal di rumah sederhana di Jalan Kramat Lontar dengan alasan ingin lebih dekat dengan masyarakat kampung dan rakyat biasa. Di masa tuanya, Trimurti menghabiskan hari-hari di rumah kontrakan yang sempit di Bekasi. Di rumah itu hampir tidak ada benda mewah atau berharga.

Yang paling menonjol hanyalah sebuah lukisan besar bergambar Presiden Sukarno yang sedang menyematkan Bintang Mahaputra V kepadanya. Ia meninggal dunia pada 20 Mei 2008 dalam usia 96 tahun di RSPAD Gatot Soebroto. Hingga akhir hayatnya, Trimurti tetap memilih hidup dalam keterbatasan dan menolak kenyamanan yang ditawarkan oleh statusnya sebagai mantan pejabat tinggi.

Ir. Sutami

Ir. Sutami adalah Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang menjabat selama sekitar 14 tahun, melewati era Presiden Sukarno dan Presiden Soeharto. Ia mengawasi berbagai proyek infrastruktur besar.

Meski memegang jabatan yang sering disebut “lahan basah”, Sutami dikenal sebagai menteri termiskin dalam sejarah Indonesia. Rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, dibeli dengan cara mencicil dan baru lunas mendekati masa pensiun. Atap rumah itu pernah bocor. PLN bahkan pernah memutus aliran listrik di rumahnya karena keterlambatan membayar tagihan.

Ketika sakit parah menjelang akhir hayatnya pada November 1980, Sutami sempat enggan dirawat di rumah sakit karena khawatir tidak mampu membayar biaya pengobatan. Pemerintah akhirnya turun tangan.

Ia menolak menggunakan fasilitas negara secara berlebihan dan lebih memilih berjalan kaki atau naik ojek saat meninjau proyek di daerah terpencil. Sutami meninggal dalam kondisi yang jauh dari kata kaya, meski pernah memegang kendali proyek-proyek nasional selama hampir satu setengah dekade.

Siauw Giok Tjhan

Siauw Giok Tjhan adalah tokoh Tionghoa-Indonesia yang pernah menjabat Menteri Negara Urusan Minoritas pada masa Kabinet Amir Sjarifuddin. Ia aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan pembelaan hak-hak minoritas. Kesederhanaannya tercatat dengan detail.

Saat dilantik sebagai menteri, Siauw belum mendapatkan mobil dinas. Ia datang ke Istana dengan menaiki andong (kereta kuda). Karena andong dilarang memasuki halaman Istana, ia turun dan berjalan kaki masuk ke kompleks Istana. Ia juga tidak mendapat rumah dinas. Demi menghemat pengeluaran uang negara, Siauw memilih tinggal di gedung kementerian di Jalan Jetis, Yogyakarta, dan tidur di atas meja tulis.

Dalam kehidupan sehari-hari, ia hanya mengenakan kemeja lengan pendek (sering berwarna putih), celana drill, dan sepatu sandal. Penampilannya yang sangat bersahaja membuatnya berkali-kali dianggap sebagai orang biasa atau bahkan “kere” oleh petugas administrasi ketika hendak menemui pejabat atau direktur bank. Ia dikenal sangat disiplin untuk tidak menggunakan milik umum bagi kepentingan pribadi dan keluarganya.

Djuanda Kartawidjaja

Djuanda Kartawidjaja adalah Perdana Menteri Indonesia dan tokoh di balik Deklarasi Djuanda 1957 yang menegaskan wilayah perairan Indonesia sebagai satu kesatuan. Ia dikenal sebagai teknokrat dan negarawan berintegritas tinggi.

Kesederhanaan Djuanda tercermin pada ketegasan memisahkan urusan pribadi dan negara. Ia menolak menggunakan anggaran publik untuk kepentingan keluarga dan enggan memakai pengawalan secara berlebihan. Ketika kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) diberlakukan, Djuanda tidak memberi tahu keluarganya terlebih dahulu agar tidak ada yang memanfaatkan informasi tersebut untuk kepentingan pribadi.

Cucu-cucunya kemudian menceritakan bagaimana kakek mereka selalu menempatkan amanah rakyat di atas kenyamanan pribadi. Meskipun tidak hidup dalam kemiskinan ekstrem seperti beberapa tokoh lain, integritas dan penolakannya terhadap pemanfaatan jabatan menjadikan Djuanda sebagai contoh pejabat yang bersih dan bersahaja.

Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara adalah Bapak Pendidikan Nasional, pendiri Taman Siswa, dan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama Indonesia. Ia dikenal melalui semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Meski berasal dari keluarga bangsawan dan pernah menjabat menteri, Ki Hajar memilih hidup sederhana. Ia tidak segan membeli perabot rumah tangga bekas dari pelelangan atau dari teman. Beberapa barang di rumahnya berasal dari tokoh lain, termasuk Sukarno, dan ia tetap mengingat asal-usul barang tersebut. Rumahnya di Yogyakarta didesain terbuka bagi masyarakat.

Ia menolak hidup mewah dan tetap dekat dengan rakyat. Kesederhanaan ini sejalan dengan filosofi pendidikannya yang menekankan kemerdekaan lahir dan batin serta pengabdian tanpa pamrih. Ki Hajar Dewantara konsisten dengan sikap tersebut hingga akhir hayatnya pada 1959.

Baharuddin Lopa

Baharuddin Lopa adalah jaksa yang tegas, pernah menjabat Menteri Kehakiman dan HAM serta Jaksa Agung pada masa Presiden Abdurrahman Wahid. Ia dikenal sebagai penegak hukum yang ditakuti koruptor karena integritasnya.

Lopa menjalani hidup yang sangat sederhana. Ia melarang keluarga menggunakan mobil dinas untuk kepentingan pribadi dan sering naik angkutan umum di akhir pekan. Telepon dinas di rumahnya selalu dikunci. Ia menolak semua parsel dan hadiah.

Untuk merenovasi rumah sederhananya di Makassar, ia menabung receh di celengan. Karena tabungan belum cukup, ia membuka usaha kecil berupa wartel dan sewa PlayStation di samping rumahnya di Jakarta. Saat membeli mobil, Lopa menolak harga istimewa yang ditawarkan dan memilih mencicil mobil termurah dengan harga pasar yang wajar.

Ia juga pernah menyuruh menyedot kembali bensin yang diisikan orang lain ke mobil dinasnya karena bukan haknya. Lopa membuktikan bahwa pejabat tinggi bisa tetap hidup bersahaja sambil menegakkan hukum dengan tegas.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Pemblokiran Rekening Koordinator AMPB Dinilai Langgar Hukum

Pemblokiran Rekening Koordinator AMPB Dinilai Langgar Hukum

Koalisi menilai pemblokiran tersebut melanggar hukum, membatasi akses nasabah

Next
Sliman Mansour, Seniman Perlawanan Palestina, Berpulang

Sliman Mansour, Seniman Perlawanan Palestina, Berpulang

Mansour dikenal melalui karya-karya yang merekam kehidupan, penderitaan,

You May Also Like
Total
0
Share