Mark Ruffalo, aktor yang lebih dikenal sebagai Bruce Banner atau Hulk di dunia Marvel, bukan hanya superhero di layar lebar. Di luar kamera, ia adalah aktivis yang vokal, terutama soal Palestina. Suaranya lantang, konsisten, dan sering memicu perdebatan di Hollywood.
Lahir 22 November 1967 di Kenosha, Wisconsin, Ruffalo tumbuh di keluarga pekerja. Ayahnya pelukis konstruksi, ibunya penata rambut. Ia pindah ke Virginia Beach, lalu California. Di sana ia belajar akting di Stella Adler Conservatory sambil kerja sampingan jadi bartender.
Awal kariernya penuh perjuangan di teater Los Angeles. Breakthrough datang lewat drama This Is Our Youth dan film You Can Count on Me (2000). Setelah itu ia muncul di 13 Going on 30, Zodiac, Shutter Island, hingga peran ikonik sebagai Hulk mulai The Avengers (2012). Nominasi Oscar datang empat kali: The Kids Are All Right, Foxcatcher, Spotlight, dan Poor Things. Ada juga Emmy untuk I Know This Much Is True.
Meski sukses di industri hiburan, Ruffalo tak pernah lepas dari dunia aktivisme. Ia aktif melawan fracking di New York, mendirikan Water Defense untuk air bersih, dan mendukung energi terbarukan lewat The Solutions Project. Ia juga vokal soal hak LGBTQ, anti-perang, dan isu sosial lain. Bagi Ruffalo, menjadi seniman berarti berani bicara kebenaran kepada kekuasaan.
Sikapnya terhadap Palestina sudah muncul jauh sebelum 7 Oktober 2023. Sekitar 2008 ia mulai mempertanyakan narasi dominan soal konflik Israel-Palestina. Setelah memahami Nakba 1948, ia melihatnya sebagai ketidakadilan besar. Pada 2021, saat eskalasi, ia sempat meminta maaf karena menyebut “genocide” terlalu inflamasi. Namun setelah serangan Hamas dan respons militer Israel di Gaza, posisinya semakin tegas.
Ruffalo terus menyerukan gencatan senjata segera, pemulangan sandera, dan perlindungan warga sipil. Ia menekankan kemanusiaan kedua belah pihak: “Saya ingin orang Israel dan Palestina sama-sama aman.” Tapi ia menolak menutup mata terhadap penderitaan Palestina. Ia menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida, pembersihan etnis, dan kelaparan yang dibuat manusia.
Dalam video emosional, ia mengecam kelaparan di Gaza. “Ini bukan bencana alam. Ini perbuatan kriminal yang disengaja untuk membunuh penduduk sipil,” ujarnya. Ia pun mendesak pemimpin dunia, termasuk Trump dan Eropa, “Lakukan sesuatu! Keheningan kalian adalah keterlibatan.”
Ia juga ikut menandatangani surat terbuka Artists4Ceasefire, memakai pin “Artists Call for Ceasefire Now” di Oscar, dan mendukung perlindungan anggota SAG-AFTRA yang pro-Palestina dari ancaman blacklist.
Pada 2025 ia bergabung dengan lebih dari 1.000 pekerja film yang berjanji tidak bekerja sama dengan institusi film Israel yang dianggap terlibat genosida dan apartheid. Ia bahkan mendukung pendekatan “Boycott, Divest, Sanction, and Prosecute.”
Kritiknya terhadap Benjamin Netanyahu sangat tajam. Saat Jaksa ICC Karim Khan dicopot, Ruffalo menulis di X: “Kau pembunuh maniak, Benjamin Netanyahu. Kau tidak akan lari dari keadilan.” Ia juga mengecam serangan di Tepi Barat dan pembunuhan jurnalis Palestina.
Bagi Ruffalo, aktivisme ini datang dengan konsekuensi. Ia mengaku kehilangan beberapa pertemanan di Hollywood karena sikapnya. Namun ia tetap teguh. “Saya humanis. Yang terjadi di sana tidak manusiawi. Sangat menyedihkan,” katanya dalam sebuah wawancara.
Selain perhatiannya pada isu Palestina, Ruffalo juga sangat peduli dengan demokrasi dan HAM warga Amerika Serikat yang merosot di bawah Presiden Donald Trump. Dia tak segan-segan menyebut Trump sebagai penjahat, pemerkosa, dan pedofil.
”Dia adalah manusia terburuk di dunia. Kalau kita menggantungkan moral pada orang seperti ini, kita semua benar-benar dalam masalah besar. Saya mencintai negara ini, dan apa yang saya lihat di sini sama sekali bukan cerminan Amerika,” jelasnya.
Secara politik, Ruffalo pernah membagikan link dari website partai kiri AS, Democratic Socialist of America (DSA). DSA adalah partai berhaluan sosialis-demokratik yang mengendorse kandidat-kandidat progresif di pemilu AS, baik pemilihan Walikota maupun parlemen. Mereka yang melahirkan tokoh kiri, seperti Alexandria Ocasio-Cortez, Zohran Mamdani, Rashida Tlaib, Ilhan Oemar, dan lain-lain.
Ruffalo juga mendukung penuh Abdul El-Sayed, politisi muslim dan anggota SDA, yang maju sebagai calon anggota senat dari daerah pemilihan Michigan. Dalam pemilu awal pada awal Agustus lalu, Abdul El-Sayeed secara mengejutkan berhasil mengalahkan calon petahana, Haley Stevens. Padahal, Stevens Stevens bukan cuma mendapat dukungan dari pimpinan Partai Demokrat, tapi komunitas American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) yang mengucurkan dana hampir US$32 juta (sekitar Rp572 miliar) untuk kampanyenya.
Ruffalo juga mendukung perjuangan untuk kesetaraan ras dan Black Live Matters. Ia juga segelintir dari artis papan atas yang terang-terangan menunjukkan dukungannya pada pajak kekayaan demi mengatasi ketimpangan ekonomi ekstrim.
Perjalanan hidupnya, dari anak pekerja keras hingga bintang global, membentuk keyakinan bahwa platform selebritas harus dipakai untuk keadilan. Keberpihakannya pada Palestina bukan sekadar tren. Ia melihatnya sebagai bagian dari perjuangan melawan penindasan, sama seperti perjuangannya untuk lingkungan dan hak asasi.
Di tengah polarisasi, suara Ruffalo mengingatkan bahwa di balik peran superhero ada manusia yang percaya empati harus tetap hidup, bahkan saat dunia sedang pedih.










